
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Isnaeni bertemu dengan Intan yang sudah nampak ayu dengan balutan kebaya warna putih. Riasannya terlihat natural dan memancarkan aura kecantikan sejati dalam dirinya. Senyum bahagia mengembang di bibirnya. Membuat yang dekat dengan calon mempelai wanita itu ikut merasakan bahagia.
Intan sangat senang bisa melihat Isnaeni, sekaligus merasa sedih karena tidak dapat bertemu dengan sahabatnya. Isnaeni memberikan kotak hadiah pada Intan. Dia menyampaikan pesan Fennita bahwa tidak dapat hadir dalam acara penting itu.
"Tante sekalian pamit, maaf nggak bisa menyaksikan akad nikah kamu. Tante baru dapat kabar dari Fennita, kalau neneknya yang ada di desa jatuh dari ranjang. Tante khawatir, jadi maaf ya, Tan," ucap Isnaeni cemas bercampur sedih.
"Yah ..., memang nggak bisa ditunda tante?" tanya Intan memohon.
Isnaeni menggeleng, "Tante pulang naik pesawat, jadi ini tante diburu waktu. Sekali lagi, maaf ya, Intan. Semoga acaranya lancar."
Intan akhirnya mengikhlaskan Isnaeni pulang. Zumarnis menghampiri mereka. Memberikan amplop untuk Isnaeni. Berpesan agar segera kembali ke Jakarta. Isnaeni menolak uang itu, tapi Zumarnis tetap memaksa. Isnaeni diantarkan oleh sopir menuju bandara.
***
Erick dan Rio sudah sampai di basecamp. Mencari sesuatu yang tertinggal di bangunan itu. Setelah menemukan barang yang dicari, mereka bergegas kembali menuju rumah Komandan Bambang. Bisa-bisanya sikap ceroboh Dilan muncul di saat penting dan genting seperti itu.
Erick menanyakan tentang Isnaeni dan Fennita kepada Rio. Yang ditanya hanya asyik menjawab iya dan tidak. Membuat Erick geram dan menjambak rambut Rio. Begitulah dua pria dewasa itu ketika sedang saling gemas. Mereka akan saling jambak satu sama lain.
"Lo kalo ditanya, jawab yang bener dong, Yo!" seru Erick karena Rio tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Apa sih, Sayang?" jawab Rio mesra.
"Lo tahu keberadaan tante Is dan Fennita?" tanya Erick lagi.
Rio hanya cekikikan dan mengembalikan pertanyaan itu. Erick kembali menjambak rambutnya dengan keras. Dia malah tertawa puas melihat wajah Erick yang dipenuhi rasa penasaran. Suka sekali Rio menyiksa batin Erick dengan rasa kepo maksimal.
Rio mengalihkan pembicaraannya. Dia menanyakan jalur pendakian Gunung Sumbing jika lewat Temanggung. Erick merasa sebal, sebab dia belum mendapatkan jawaban pasti dari pertanyaannya. Tapi dia curiga, mengapa mereka ngotot ke Windusari? Ada apa dengan desa itu?
__ADS_1
Erick menjelaskan rute pendakian yang akan mereka tempuh. Dia menanyakan siapa saja yang akan ikut naik, mengingat Gunung Sumbing adalah gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah. Pasti jalur yang akan dilewati juga tidak semudah jalur gunung lain untuk mencapai puncak. Jika ingin lewat Temanggung, mereka akan lewat jalur Cepit Parakan. Disana ada tiga pos yang akan dilalui. Waktu tempuh mencapai puncak kurang lebih tujuh jam. Itupun tergantung kecepatan berjalan.
"Yang ikut siapa aja?" tanya Erick.
"Ya kita berlima lah, gue, lo, bini gue, bini Dilan, sama Dilan." Rio menyebutkan satu per satu jumlah orang yang akan ikut.
"Gila! Katanya lagi promil? Malah bininya dibawa ke gunung! Gimana, sih?" tanya Erick sewot.
Rio berdecak, "Dia yang ngebet!" jelas Rio.
"Gini aja deh, kita nggak usah sampai puncak. Di pos tiga kita istirahat bentar terus turun. Kasihan yang perempuan, mana mereka nggak pernah naik gunung lagi. Suaminya pada gendeng kali ya, nurutin kemauan istrinya begitu aja!" ucap Erick.
Rio hanya menyeringai lebar. Mereka telah sampai di rumah komandannya. Penghulu hanya menunggu mereka berdua karena mas kawin yang tertinggal. Ericko mengedarkan pandangannya mencari sosok Isnaeni. Naomi yang melihatnya celingukan menanyakan siapa yang dia cari.
"Tante Is, kok nggak ada ya, Nom?" tanyanya.
"Tante Is udah pulang," terang Naomi.
Rio menahan tawanya. Sebucin itu sahabatnya sekarang. Tenang-tenang dulu, Rick. Nanti dibantu ketemu sama Fennita, kok!
"Saya terima nikah dan kawinnya Intan Putri Kuswandi binti Bambang Kuswandi dengan mas kawin logam mulia sepuluh gram dan uang tunai sepuluh juta rupiah dibayar tunai!" Dilan mengucapkan kalimat ijab qobul itu dalam satu kali napas dan lantang.
Para saksi menyatakan sah sebagai suami istri. Membuat Dilan gembira dan berteriak, "Aku akhirnya nikah!"
Para kerabat dan teman dekat yang hadir menyaksikan tertawa melihatnya. Akhirnya mereka sah sebagai pasutri baru. Acara dilanjutkan dengan foto bersama dan makan-makan.
Erick kembali menyendiri. Naomi dan Rio mendekatinya. Mereka menyodorkan makanan dan minuman untuk Ericko. Tapi sepertinya percuma, dia tidak melirik sedikitpun makanan itu. Naomi mencoba membesarkan hatinya. Berharap Ericko sejenak melupakan lara hatinya.
"Kalau lo ketemu Fennita, bakalan lo apain dia?" tanya Naomi penasaran.
__ADS_1
"Gue ajak nikah!" jawab Erick yakin.
Rio dan Naomi tersenyum mendengar jawaban itu.
"Sepupu lo jahat banget sih Nom sama, gue? Kenapa dia yang hanya gue kenal singkat, malah membekas dalam di hati? Setiap detik gue ingat sama dia. Setiap apapun yang gue lakukan pasti ingat sama dia. Kira-kira dia kayak gue nggak, sih?" tanya Erick.
"Tanya sendiri sama hati lo, dan kroscek ke dia saat kalian ketemu. Balik ke basecamp gih, siap-siap buat besok ke Windusari. Lanjut Gunung Sumbing." Rio memberikan kunci mobilnya agar bisa digunakan Erick.
Erick pamit pada semuanya untuk kembali ke basecamp. Hati dan pikirannya tidak baik, dan dia butuh tidur. Hari ini, dia harus melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan Isnaeni. Tidak bisa mengetahui kabar pujaan hatinya.
Setelah sampai basecamp dia langsung merebahkan dirinya di ranjang. Memejamkan mata dan tertidur. Entah berapa lama dia tertidur hingga melewatkan salat ashar dan maghrib. Dia terbangun malam hari. Dia sampai beristighfar berulang kali karena kelalaiannya.
Erick menyiapkan barangnya setelah salat isya'. Hanya membawa barang-barang penting untuk pulang ke rumah dan keperluan naik gunung. Dia duduk termenung sendirian di basecamp. Benar-benar sepi berada sendirian di dalam sana. Biasanya ia bercanda dengan Dilan, kini ia merasa sedikit kehilangan.
"Coba kamu disini, menemaniku, dan status kita sudah halal, pasti akan sangat berbeda rasanya. Fen, kamu dimana? Kapan kita akan bertemu? Mbak Othor, tolonglah segera pertemukan kami, readersmu bisa ngamuk kalau makin dipanjang-panjangin!" ucap Ericko entah pada siapa.
Dia melihat foto Fennita yang ada di instagram. Ikut tersenyum melihat berbagai ekspresi yang ada di galeri itu. Rindu itu memang sangat berat. Sungguh menyiksa batin dan raganya. Tidak adakah kemungkinan lagi untuk bisa melihat wanita agresif yang berhasil mencuri hatinya itu? Dia hanya bisa berdo!a dan berpasrah. Menghela napas dan kembali untuk tidur.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Siapkan hati, episode selanjutnya apa? You know what! 😅😅