Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Gila


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Erick meninggalkan Fennita dengan kekesalan yang sangat ingin membuncah. Ide gila baru saja terlontar dari mulut Fennita. Enak saja dia ingin pergi dari kehidupan Erick dengan begitu mudahnya. Dia harus menahan kekesalannya karena tugas memanggil.


Rio sudah berulang kali ditelepon oleh Dilan agar segera menuju bandara. Dia tidak tahan dengan panggilan yang beruntun mengganggunya itu. Akhirnya dia mematikan ponselnya untuk sementara waktu. Agar Dilan tidak mengganggunya.


"Sumpah! Heran gue sama Fenni, masa dia nyuruh kami sama-sama saling menghilang? Kalau nggak sengaja ketemu harus cepat-cepat menghindar! Edan itu bocah!" gerutu Erick pada pria di sampingnya.


"Ha? Kok Fenni bisa ngomong gitu kenapa awalnya?"


"Tante Is, nyuruh gue menjauhi Fenni, beliau takut kalau nantinya orang tua gue tau kalau Fenni anak pembunuh dan menolak Fenni. Gila! Jauh banget mikirnya! Gue aja belum sampai kesitu!"


Rio menayar belakang kepala Ericko. Heran dengan ucapan kawannya satu ini. Ya pasti semua orang tua akan begitu lah! Orang tua akan selalu berpikir jauh ke depan tentang kehidupan anaknya. Itu adalah hal yang wajar dan sepatutnya. Memang berbeda dengan dirinya ataupun Ericko. Mereka hanya berpikir bagaimana menyelesaikan masalah saat ini.


"Yang gila lo, Rick! Pasti semua orang tua mikirnya gitu. Siapa sih yang pengen lihat anaknya menderita?"


Ericko mencebik ucapan Rio. Menurut pemikirannya, Isnaeni terlalu khawatir dengan sesuatu yang belum pasti terjadi. Pokoknya dia akan mengganggu Fennita hingga wanita itu dengan tulus ingin menyerahkan hatinya kembali padanya. Jodoh tidak jodoh, harus jodoh! Itulah isi kepala Erick saat ini.


Mereka meninggalkan rumah sakit X menuju bandara. Hari ini mereka akan kembali ke Jakarta membawa hasil tangkapan mereka. Siap mencecari target mereka dengan berondongan pertanyaan. Sangat banyak, harus dijawab cepat, dan jujur.


Komandan Bambang menginjak kaki Rio dan Erick karena terlambat datang. Membuat pesawat yang mereka tumpangi mengalami keterlambatan dari jadwal yang telah ditentukan. Melakukan tindakan pendisiplinan dengan lari mengelilingi ruang tunggu bandara dan menyanyikan lagu Garuda Pancasila.


"Mumpung pilotnya ngajak delay, kalian olahraga dulu sana! Keliling ruang tunggu sambil nyanyi Garuda Pancasila, sebanyak lima putaran!"


Ericko dan Rio menjawab dengan siap dan sikap tegas. Lalu mereka mulai melakukan hukuman itu. Membuat banyak pasang mata tertawa melihat mereka. Ada yang mencibir bahwa itu adalah untuk menaikkan popularitas channel sosial media mereka.


Membuat Rio dan Ericko semakin keras mengumandangkan lagu itu. Agar getaran cibiran itu tidak sampai ke gendang telinga mereka, diproses sehingga menghasilkan suara.


"Gara-gara ngawal orang bucin, gue apes kena hukuman mulu!" umpat Rio sambil berlari.

__ADS_1


Ericko hanya tertawa mendengar ucapan sahabatnya. Menyusahkan sekali dirinya hingga membuat kawannya mendapatkan hukuman. Begini rasanya menjadi orang yang selalu mendambakan akan hadirnya.


Mereka telah selesai menjalani hukuman itu. Kini pesawat mereka siap lepas landas meninggalkan kota Balikpapan. Kenangan yang terukir sangatlah penuh rasa. Ada rasa suka karena berhasil melaksanakan misi mereka. Ada duka karena membuat beberapa orang terluka.


Erick mendapatkan tempat duduk di samping Zamroni. Membuat suasana tegang kembali. Zamroni masih merasa kesal kepada Erick yang berhasil menipunya. Hingga dia memutuskan untuk diam dan menikmati gumpalan awan yang menerpa pesawat itu. Sekarang yang harus dipikirkannya adalah bebas dulu dari jerat hukum.


"Om, tante Is dan Fenni sudah sadar. Mereka bersama tante Mar di rumah sakit X," kata Ericko membuka obrolan dengan Zamroni.


"Sadar? Memang mereka kenapa?" tanya Zamroni cemas.


"Mereka sudah tahu kasus skandal kematian Kalena dan juga penjualan senjata secara ilegal ini."


Zamroni lupa bahwa istri dan anaknya ada di Balikpapan untuk bertemu dengannya. Ia tertunduk lesu mendengarkan kabar yang Erick sampaikan. Dia belum bisa mengetahui keadaan anak dan istrinya. Mereka pasti sangat terpukul hingga masuk ke rumah sakit. Ini semua salah Erick! Dia yang membuatnya terjebak seperti ini!


"Ini salahmu! Kamu yang membuatku terjebak!" ucap Zamroni belum menyadari kesalahannya.


Erick hanya diam tidak mau berkomentar. Terserah jika memang dia yang disalahkan dalam hal ini. Dia hanya mengungkap kebenaran yang ada. Hanya menjalankan kewajibannya sebagai penegak keadilan di negeri ini.


Erick menjawabnya dengan sebuah anggukan. Setelah ini, akan ada masanya dimana Alex akan dikejar-kejar oleh masalah. Erick akan memastikan sendiri bahwa Alex juga harus menerima hukuman seperti Zamroni. Erick memutarkan video rekaman yang dilakukan Alex. Membuat Zamroni semakin panas karena memang Alex telah menjebaknya.


Zamroni bersumpah tidak akan mau berurusan lagi dengan Alex. Ternyata persahabatan yang selama ini mereka jalani bukanlah sebuah persahabatan yang murni. Banyak intrik di dalamnya. Hingga salah satu menjadi korban karena didera oleh rasa kecewa yang teramat sangat.


Pesawat sudah mendarat dengan sempurna di Bandara Soekarno Hatta. Seperti biasa, para awak media sudah siap mencecari para tahanan dan penegak hukum itu dengan banyak pertanyaan.


"Pak Zamroni, apakah benar Pak Alex Sanjaya tidak terlibat dalam kasus ini? Mengingat kartu yang Anda bawa namanya bukan nama Anda. Melainkan Alex S Jaya." tanya salah seorang wartawan perempuan berambut hitam dan ikal itu.


Zamroni ingin menjawab tapi dicegah oleh Bambang. "Kita nanti akan panggil Pak Alex Sanjaya sebagai saksi, teman-teman wartawan. Apakah ada kaitannya atau tidak, bisa kita ketahui nanti."


"Lalu apa langkah selanjutnya, Ndan?" tanya wartawan lainnya.

__ADS_1


"Yang pasti, kami dan pihak kepolisian akan menuntaskan kasus ini terlebih dahulu. Selanjutnya biar pengadilan yang bicara. Oke teman-teman, wawancara eksklusif akan di gelar di Metro Jaya. Kalian bisa datang langsung ke sana."


Banyak wartawan yang kecewa, tidak bisa leluasa melontarkan pertanyaan yang akan menjadi bahan mentah sebuah berita itu. Semua stasiun tv menyorot kasus Zamroni Malik. Yang mana dia adalah dalang pembunuhan sang sekretaris dan anggota forum Red Fox.


Zamroni langsung digelandang menuju Metro Jaya. Dia mulai dicecar berbagai pertanyaan oleh penyidik handal milik negara ini. Hingga dia bertemu dengan David di dalam tahanan. David menyapa seniornya itu dengan senyuman kejam.


"Halo, senior! Apa kabar?" tanya David.


Zamroni menjadi terpancing emosi melihat David ternyata memang masih hidup. Dimana dia selama ini?


"Baji*ngan kurang ajar! Ternyata kau masih hidup?" Zamroni mengepalkan tangannya siap meninju David.


Tangan David lebih cekatan. Dia langsung menangkis pukulan dari Zamroni. "Eits, tenang dong! Kita ngobrol, yuk! Tapi kurang satu nih anggotanya. Kira-kira nanti dia nyusulin kita disini nggak, ya?"


David sedang membicarakan seseorang yang mereka kenal. Orang itu juga merupakan teman dalam hal licik dan kejahatan. Pasti yang mereka maksud adalah Alex Sanjaya. Enak saja pria itu masih terus berkeliaran dengan tenang, sedangkan merena sudah berada di dalam bui.


Ya, Alex harus menyusul mereka. Bambang dan anak buahnya harus bisa menjebak Alex hingga bisa dijerat dengan hukum yang berlaku.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2