Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Pencalonan


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Lima hari setelah pertemuan di restoran, Zamroni disibukkan dengan pencalonannya. Berkas sudah diterima, tes kesehatan telah dilakukan, pelaporan harta juga tidak ada masalah entah bagaimana caranya bisa bersih, dan sekarang dirinya disibukkan dengan masa kampanye.


Masa kampanye yang dilakukan secara terbuka ini harus bersih dari embel-embel uang kaget, atau bantuan berupa sembako. Isnaeni sebenarnya malas untuk membantu suaminya kampanye, karena jujur dia lebih suka Zamroni menjadi pengusaha dibandingkan harus terjun ke dunia politik.


Dunia politik, adalah dunia yang di dalamnya terdapat ilmu atau seni untuk meraih kekuasaan secara konstitusional dan nonkonstitusional. Perkembangan dunia politik di negeri kita sendiri sangatlah penuh intrik. Kilik sana sini itu sudah menjadi hal yang wajar dan lumrah, seperti orang yang mengadu jangkrik.


Fennita sama sekali tidak ingin ikut campur dalam masa kampanye itu, malah yang terlihat aktif adalah Ericko. Dia merasa heran dengan sikap Ericko, menjiwai sekali pria itu hingga ikut terjun dalam pemilihan papahnya. Tak mau ketinggalan, Alex dan Dion Sanjaya, juga ikut meramaikan acara kampanye itu.


Alex dan Dion tidak suka dengan keberadaan Ericko yang sepertinya semakin akrab dengan keluarga Zamroni. Alex menelepon orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang Ericko.


Dion mendekati Fennita yang sedang sendirian meniup kopi. Fennita sebenarnya malas untuk meladeninya, tapi dia masih punya sopan santun. Mereka sedang di tempat ramai yang banyak orang, sehingga gerak-gerik mereka pasti mendapatkan sorotan. Ericko yang melihat mereka sedang berdua di sudut ruangan, merasa tidak ikhlas.


Ada rasa yang sedang berkobar di hatinya. Rasanya panas dan seperti terbakar. Meskipun dia menangkap sorotan mata Fennita yang tidak suka akan kehadiran Dion, tapi dia tetap tidak suka Fennita berdekatan dengan pria lain. Dia mencari celah untuk sedikit menepi dari Zamroni, berusaha mendekati tempat Fennita dan Dion.


Saat sudah berhasil, dia langsung mengambil kopi yang ada di tangan Fennita.


"Makasih ya sayang, kopinya udah ditiupin. Love you ...." Ericko langsung menyeruput kopi itu.


Sedangkan Fennita, sekarang sedang berusaha bangkit dari lembah terdalam dari hati Ericko. Dia harus segera sadar bahwa ini adalah kepura-puraan sebelum terluka lagi untuk kesekian kalinya.


Seberapapun keras usaha Fennita untuk menyembunyikan perasaannya itu, tetap saja Ericko menangkap guratan merah muda yang menjalari pipi Fennita. Tidak tahu kenapa, mulutnya ingin mengucapkan kalimat itu. Dan sekarang, hatinya juga sedang dijalari gelenyar yang membuatnya seperti tersengat.


Dion tidak suka dengan keromantisan mereka. Dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Erick dan Fenni.


"Bisa nggak ngomongnya agak dibatasi? Nggak usah pakai love you, love you segala deh, Mas. Sakit kalau udah kembali sadar dan tahu bahwa ini cuma settingan." Fennita mengingatkan akan ucapan Erick.


Erick mengulum senyumnya sembari berkata, "Bangun tiap malam, sholat tahajud, dekati Allah, Insyaallah kamu nanti bisa memiliki hati orang yang kamu cinta. Kopinya enak, buat Mas ya, sayang?" goda Erick.


Fennita mencoba menahan senyumnya saat digoda oleh Erick. Tapi tidak bisa, dia tertawa kecil saat mendengar panggilan sayang itu begitu lembut dan samar-samar terdengar tulus ditelinganya. Jika saja Fennita tahu isi hati Erick, dia akan balas menggodanya.


"Ini acaranya sampai kapan, Mas?" tanya Fennita.


Ericko mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. "Kenapa? Kamu jenuh?"


"Iya," jawabnya singkat.


"Ya udah, Mas temenin disini biar nggak jenuh," ucap Ericko sambil melirik memperhatikan wajah Fennita.


"Ngapain ditemenin? Kalau mau balik kesana jadi tim suksesnya papah ya silahkan aja, sih!"


Ericko menggeleng, "Papah udah banyak yang nemenin, yang belum ada temennya tuh anaknya. Makanya Mas milih nemenin kamu."

__ADS_1


Perasaan Fennita benar-benar dibuat kalang kabut oleh Ericko. Makna akan kecemburuan, tapi masih samar untuk muncul ke permukaan.


"Kenapa? Takut kalau aku dideketin Dion lagi?"


Ericko menyeruput kopi lagi untuk menutupi kegugupannya. Dia tidak menjawab pertanyaan Fennita. Bisa besar kepala Fennita jika tahu memang dia tidak suka ada pria lain di dekatnya.


"Jawab, ih!" paksa Fennita.


Ericko malah tertawa mendengarnya. "Apa sih, sayang?"


"Hih! Jawab!"


"Apanya?"


"Kamu takut kalau aku dideketin Dion?"


Ericko kembali tidak menjawab pertanyaan Fennita. Dia dipanggil oleh Zamroni melalui lambaian tangan. Membuatnya harus segera kembali mendekat pada Zamroni.


"Mas kesana dulu, dipanggil papahmu lagi, tuh. Jagain kopinya Mas, ya?"


Ericko berjalan meninggalkan Fennita dan kembali bergabung dengan Zamroni. Dia mencuri-curi pandang pada Fennita yang juga melihat ke arahnya.


Acara kampanye telah usai. Zamroni bersama Isnaeni dan timnya langsung menuju lokasi bencana banjir yang ada di Cirebon. Sedangkan Fennita memilih untuk pulang ke rumah. Dion kembali mendekatinya.


Zamroni berpesan kepada Ericko untuk mengantarkan Fennita pulang ke rumah Rio dan Naomi. Dia tidak ingin anak semata wayangnya diantarkan pulang oleh Dion. Dia masih sakit hati dengan dugaannya bahwa Alex ingin mengkhianatinya.


"Sama Dion kan bisa, Om ...," keluh Dion sedikit kesal.


"Kamu kan harus ikut Om ke Cirebon. Ingat, kamu juga bagian tim sukses. Kalau Erick kan hanya relawan yang membantu Om dalam kampanye." Zamroni menuturkan alasannya.


Dion mendengus kesal, Ericko tersenyum penuh kemenangan tanpa harus adu mulut dulu dengan pria itu. Mereka menuju mobil masing-masing. Ericko menarik tas Fennita untuk mengikuti langkahnya.


Dia mendekati Zamroni dan Isnaeni lalu menyalami mereka. "Hati-hati Om, Tan, semoga acaranya lancar. Yang, salaman dulu."


Ericko memberi perintah pada Fennita. Mau tidak mau Fennita menurutinya, karena banyak sorot kamera mengarah pada Fennita.


"Hati-hati Mah, Pah. Kabari Fenni kalau sudah sampai."


Zamroni dan Isnaeni mengangguk, Ericko banyak membawa perubahan besar pada diri Fennita. Perubahan ke arah yang lebih baik.


Erick mengemudikan mobilnya menuju rumah Rio. Berbeda dari drama di dalam mobil sebelum-sebelumnya, kini mereka lebih luwes untuk saling bercanda.


"Lapar nggak, Fen?" tanya Erick.

__ADS_1


"Hmm? Kenapa? Kamu lapar?"


Ericko mengangguk. Fennita menyodorkan kopi yang sejak tadi ditentengnya.


"Cie yang jaga amanah dari aku," goda Erick.


"Dih! Apaan sih? Eh, kamu belum jawab pertanyaan aku, ya?"


"Yang mana?" tanya Erick berpura-pura lupa.


Fennita menghela napasnya sedikit kesal, "Kamu cemburu aku dideketin Dion?"


"Eh, makan seblak mau nggak? Aku tahu tempat seblak yang enak lho, yang. Eh Fen, maksudku."


Fennita sudah menduganya, Ericko tidak akan menjawab pertanyaannya. Lihat saja sekarang, Ericko menghindari pertanyaannya dengan mengalihkan pembicaraan ke topik lain.


"Terserah!" jawab Fennita.


Ericko tersenyum senang melihat Fennita uring-uringan. Dia gemas dengan sikap Fennita satu ini. Dia membiarkan Fennita diam membisu sambil membuang muka melihat ke sisi kiri jendela.


Tangan Ericko menyalakan musik yang ada di mobilnya. Terdengar dengan keras lagu milik Didi Kempot dengan judul ketaman asmoro. Fennita yang tidak tahu artinya hanya diam dan mendengarkan Erick sedikit menyenandungkannya.


Opo iki sing jenenge (Apa ini yang namanya)


Wong kang lagi ketaman asmoro? (Orang yang sedang jatuh cinta)


Prasasat ra biso lali (Seperti tidak bisa lupa)


Esuk awan bengi tansah nggodo ati (Pagi siang malam selalu menggoda hati)


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2