Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Hadiah


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Windusari.


Fennita dan Isnaeni geleng kepala mendengarkan acara debat presiden itu. Alex memang benar-benar manusia paling tidak punya hati. Bisa-bisanya dia mempunyai rencana untuk melegalkan undang-undang tentang penjualan organ. Membunuh saudaranya sendiri demi mendapatkan harta warisan. Menjual senjata milik negara secara ilegal. Apakah akal Alex masih sehat saat ini? Sepertinya jawabannya tidak!


Isnaeni ingin menemui suaminya yang masih berada di dalam tahanan. Mengetahui kabarnya secara langsung. Dia memberitahu Fennita bahwa besok dia akan berangkat ke Jakarta. Membuat anaknya itu ingin ikut, tapi Fennita teringat akan tanggung jawabnya.


"Diundur kek, Mah. Jangan besok, nunggu Mbak Qory pulang dari kota," rengek Fennita.


"Nunggu Qory pulang dari kota ya lama, Nduk. Sudah, biarkan Mamahmu pergi sendiri. Kamu sama Mbah di rumah." Mbah Am membujuk Fennita yang sedang merengek seperti anak SD.


"Fenni kan yo kangen kalih Papah, Mbah ...," ucap Fennita yang sudah bisa menggunakan bahasa jawa halus, yang artinya dia juga kangen dengan papahnya.


Isnaeni tersenyum dan menjelaskan keadaan ekonomi yang mereka punya saat ini. "Kita itu tidak tahu besok akan terjadi apa, Fen. Makanya Mamah sebisa mungkin tidak terlalu sering menggunakan uang tabungan yang ada. Mamah cuma jenguk papah aja kok. Kalau kita berdua berangkat, coba hitung berapa biaya untuk pulang pergi? Kamu ..., kangen sama papah, atau ..., sama yang lain?"


Isnaeni menggoda putrinya. Mbah Jum dan Mbah Am yang mendengar ikut tersenyum. Wajah Fenni merona merah seperti menggunakan blush on.


"Yang lain siapa sih, Mah? Nggak ada!" bantah Fenni.


"Intan mungkin, atau Naomi. Kan bisa saja kamu kangen mereka, memang kamu pikir Mamah akan mengarah ke siapa?" balas Isnaeni.


Fennita menjadi malu sendiri. Dia mengira bahwa mamahnya akan menggodanya, mengatakan bahwa dia sedang merindukan sosok pria dingin dari kutub utara itu. Siapa lagi jika bukan, Mas Erick?


Ternyata dia salah dugaan, bahkan dia tidak ingat bagaimana kabar sahabat dan sepupunya itu. Pikirannya terlalu penuh sesak oleh pria dingin itu. Apakah mungkin dia bisa bertemu dengan Erick? Bukankah dia selalu menjadi pria misterius untuk mengungkap kejahatan?


Kemungkinan bertemu sangat kecil. Dia menggelengkan kepalanya sendiri. Kenapa dia terus menerus kepikiran tentang Erick? Akhirnya dia memilih pergi dan menyendiri di dalam kamar. Dia tidak ingin melihat mamahnya sedih karena masih saja memikirkan Erick.


Isnaeni mendapatkan tatapan tajam dari kedua budhenya. Mengisyaratkan bahwa mereka butuh jawaban. Isnaeni menceritakan kisah cinta Fennita yang harus menepi sebelum layar berkembang. Dia menjelaskan alasan mengapa melakukan hal itu pada kisah cinta anaknya, karena dia tidak ingin melihat Fennita terluka.


"Nduk, menurute Budhe langkahmu iku keliru. Fennita iku ora ono sangkut paute karo masalahe bojomu. Yo bener nek sing mateni iku bojomu, tapi opo yo Fenni ngerti?" ucap Budhe Am. (Nak, menurut Budhe langkahmu itu keliru. Fennita itu tidak ada sangkut pautnya terhadap masalahnya suamimu. Ya benar kalau yang membunuh itu suamimu, tapi apa ya Fenni ngerti?)


"Nggih enten sangkut paute to, Budhe. Sing gawe masalah iku bapake Fenni, lho. Saumpami Fenni ditolak kalih keluargane sing kakung pripun?" jawab Isnaeni. (Ya ada sangkut pautnya to, Budhe. Yang membuat masalah itu bapaknya Fenni, lho. Seumpama Fenni ditolak sama keluarganya yang laki-laki gimana?)


"Ojo mung mandeng wong soko jobone thok, Nduk. Ngetio atine! Durung mesthi sing mbok kuatirke iku kedadean karo Fenni. Opo wes tau ketemu keluargane sing kakung?" Budhe Jum ikut menyanggah pemikiran Isnaeni. (Jangan hanya melihat orang dari luarnya saja, Nak. Lihatlah hatinya! Belum tentu yang kamu khawatirkan itu terjadi sama Fenni. Apa sudah pernah ketemu keluarganya yang laki-laki?)

__ADS_1


"Dereng nate, Budhe." Isnaeni mencoba memikirkan ucapan kedua orang tua itu. (Belum pernah, Budhe.)


"Nah, coba beri mereka kesempatan, Is. Biarkan mereka belajar dewasa untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kadang, rasa sakit dan kecewa itu malah semakin membuat kita kuat. Itu kan yang kamu alami saat pertama berumah tangga dengan Zamroni?" seru Budhe Am.


Isnaeni menghela napasnya. Suami dan kedua budhenya memberikan saran yang sama. Dia beranjak menghampiri Fennita di dalam kamar. Dia melihat punggung Fennita yang naik turun seperti sedang menangis. Dia masuk dan mengejutkan Fennita.


"Kamu nangis, Nak?" tanya Isnaeni melihat wajah sembab anaknya.


Fennita langsung memeluk Isnaeni dengan erat. Kembali menumpahkan air mata di pundak mamahnya. Meminta maaf secara berulang-ulang kepada sang mamah. Membuat Isnaeni menyadari langkahnya yang salah. Ya, secara tidak sengaja malah dia sendiri yang melukai hati putrinya.


"Kamu kangen sama, Erick?" tanya Isnaeni sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah Fennita.


"Maafin Fenni, Mah. Karena belum bisa melupakan Mas Erick, hiks ...," jawab Fennita masih tersedu.


Isnaeni menghapus air mata yang masih saja curi-curi kesempatan untuk jatuh membasahi wajah ayu anaknya. "Mamah yang harusnya minta maaf, Fen. Tidak seharusnya Mamah mengambil langkah jauh seperti ini."


"Maksud Mamah, apa?" tanya Fenni sambil menghapus air matanya.


Isnaeni hanya tersenyum dan meninggalkan putrinya. "Tidur, Fen. Besok kamu harus mengantarkan Mamah ke terminal. Mamah mau siap-siap dulu."


"Mas Erick ..., kamu apa kabar?" tanyanya entah dimana orang yang menjadi lawan bicaranya.


***


Erick dan kawannya sudah berada di markas besar. Mereka dalam posisi siap. Komandan Bambang mendampingi Presiden dan kepala BIN di sisi kanannya. Menghampiri ketiga anak buahnya dan tersenyum puas dengan kinerja mereka.


Presiden mengucapkan selamat atas hasil kinerja mereka. Kepala BIN memberikan sedikit kalimat pembuka, lalu dilanjut dengan pemberian hadiah. Bukan main-main hadiah yang akan mereka terima. Pangkat mereka akan dinaikkan menjadi kepala bagian, dan bukan sebagai staff lapangan lagi. Mereka saling lirik seakan tidak mau menerima hadiah itu.


"Izin bicara, Ndan!" Rio ingin mengutarakan maksud hatinya.


Kepala BIN mempersilahkannya. "Ya, Yo. Silahkan!"


"Saya menolak dijadikan kepala bagian, Ndan. Saya ingin tetap menjadi staff lapangan saja! Mohon dipertimbangkan!" ucap Rio lantang.


Kepala BIN mengernyit, "Apa kalian berdua juga sama seperti Rio?" tanya Kepala BIN.

__ADS_1


"Siap! Ya, Ndan!" jawab Erick dan Dilan kompak.


Komandan Bambang memijit pelipisnya. Bagaimana bisa dia mengasuh tiga anak bodoh sekaligus? Naik pangkat kok ditolak mentah-mentah!


"Oke, lalu kalian mau hadiah apa?" tanya Kepala BIN.


Erick mengangkat tangannya terlebih dahulu, "Izin, saya minta cuti panjang selama tiga bulan!"


"Izin, saya minta segera direstui untuk menikahi putri Komandan Bambang!" ujar Dilan tak mau ketinggalan.


"Izin, saya ingin berlibur ke Inggris selama satu minggu dan itu dibiayai oleh kantor!" pinta Rio dengan begitu semangat.


Dilan dan Erick menginjak kaki Rio. Enak sekali permintaannya, merugikan kantor iya! Presiden dan Kepala BIN tertawa mendengar permintaan tiga pria itu. Tapi, Presiden mengabulkannya. Beliau juga memberi hadiah bagi ketiganya, memberikan tiket liburan ke Bali selama satu minggu, biaya ditanggung oleh Presiden, dan masih mendapatkan uang saku masing-masing lima juta rupiah.


"Untuk Dilan, minta restunya jangan ke saya! Sama komandanmu yang guantengnya hanya satu persen ini!" ucap Kepala BIN.


"Kok cuma satu persen, Ndan? Yang 99 persennya kemana?" tanya Komandan Bambang yang sudah akan meroket dibilang ganteng.


"99 persennya? Juelek buanget ..., Hancur!" ucap Kepala BIN.


Mereka menahan tawa karena komandannya diejek oleh atasannya. "Oke, saya ucapkan selamat atas keberhasilan misi kalian. Hadiah di acc! Segera selesaikan laporan!" Ketua BIN pergi bersama Komandan Bambang.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2