Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Lagi Jatuh Cinta Kali!


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Ericko hanya diam dengan tatapan kosong, "Entah lah, Yo! Gue mulai ragu apakah Kalena benar dibunuh atau memang dia bunuh diri?"


"Jangan patah semangat, kawan! Gue berada di pihak yang benar. Dan gue gak akan membela om gue kalau dia benar terlibat dalam kasus kematian Kalena. Menurut Bang Jon, tanpa meninggalkan sidik jari apapun. sangat rapi dan profesional," katanya sambil memandang ke arah Ericko.


Ericko tetap bergeming. Kejujuran yang diungkapkan Rio sedikit mengobati kegundahan hatinya.


"Gue harus mulai darimana untuk mengungkap kasus kematian Kalena yang sangat abu-abu ini, Yo?" tanyanya pada Rio. Seakan-akan tidak ada harapan lagi untuk bisa mengungkap kebenaran.


"Mulai dari misi kita sekarang, Rick. Entah kenapa feeling gue bilang bahwa misi kita sekarang bakalan mengungkapkan banyak hal yang tersembunyi. Lo tahu kan kalau tebakan gue hampir selalu, benar?"


Ericko mengangguk kembali, menikmati secangkir kopi yang sangat menenangkan jiwanya.


"Gimana dengan, Fennita?" tanya Rio yang berhasil membuat Ericko mengerutkan keningnya.


"Kenapa tiba-tiba bahas, Fennita?"


"Karena dia cerita ke Naomi karena lo meluk dia!"


Blush


Wajah Ericko dijalari semburat merah merona yang membuat suhu tubuhnya naik beberapa derajat.


"Gue cuma nenangin dia yang lagi nangis, Yo. Gak lebih!" bantahnya.


"Terus kenapa muka lo merah kalo memang gak ada apa-apa?"


Ericko memilih menghindari pertanyaan Rio. Dia menyimpan gelas sisa kopinya ke bak cuci piring dengan tetap bergeming. Dilan yang baru saja bangun menatapnya heran.


Dilan berhenti tepat di depannya lalu menyentuh dahi Ericko dan membandingkan dengan dahinya sendiri.


"Nggak panas kok wajahnya merah, ya?" tanya Dilan pada dirinya sendiri.


Ericko langsung terbirit meninggalkan keduanya. Masuk dalam kamar dan menghela nafas lega.

__ADS_1


"Dia kenapa, Yo?"


"Lagi jatuh cinta kali," jawab Rio dengan senyum penuh arti.


"Sama siapa? Kan Kalena udah di surga." Dilan mengambil cangkir kopi Rio dan ikut menyesapnya.


"Ya sama yang masih hidup lah, Fennita mungkin?"


Dilan menatap Rio bingung. Karena setahu Dilan, Ericko akan selalu menghindari Fennita.


Mereka bertiga bersiap berangkat ke kota x sesuai instruksi yang diberikan oleh komandan mereka. Mulai menjalankan aksi tersembunyi di tengah hiruk pikuk kota yang menyala.


Mereka berunding dengan kepolisian dan TNI setempat guna membantu mereka dalam mengungkap misteri ini. Sepakat untuk melakukan tugas masing-masing. Kali ini tugas mereka cukup jelas dan ringan. Hanya melakukan pengintaian dan membantu penyergapan. Selebihnya akan ditangani oleh pihak kepolisian.


Rio memimpin operasi kali ini. Menyusun strategi bersama tim nya untuk menuju keberhasilan misi. Ericko akan menyamar sebagai tukang ojek online. Dilan akan dipasang sebagai mangsa. Sedangkan Rio akan menjadi warga biasa di lingkungan sekitar guna menyelidiki gerak-gerik target mereka.


"Kenapa gue yang dijadiin umpan, sih?" protes Dilan pada Rio.


"Karena lo yang paling tampan, Lan!" puji Ericko penuh arti. Dilan hanya mencebiknya.


Hampir dua minggu penuh mereka melakukan pengintaian. Namun belum ada petunjuk tentang misi mereka. Mereka tak mudah berputus asa. Mereka sabar menunggu hingga petunjuk itu datang pada mereka.


Saat Ericko mengantarkan makanan di kawasan x, dia mencurigai sebuah mobil berwarna abu-abu yang berhenti di gudang tua. Ada sekitar tiga orang berpakaian serba hitam membawa karung besar. Ericko penasaran dengan isi yang ada di balik karung itu.


Dengan berpura-pura mencari alamat, dia mencoba mendekati gudang tua yang dijaga oleh dua orang pria itu. Dia mengamati keadaan sekitar. Gudang tua yang dipenuhi rongsokan barang bekas. Sedangkan Rio dan Dilan mengamati dari jauh.


Ericko tetap tenang saat bertanya. Bersikap biasa saja, tapi matanya menjelajahi setiap sudut yang ada. Matanya memang diciptakan tajam seperti elang. Dia menemukan sepatu high heels tepat di bawah rongsokan barang bekas tersebut.


Dia tidak tahu, sepatu itu termasuk dalam barang yang dirongsokan atau memang milik seseorang yang sengaja terjatuh disana? Hidung Ericko terlalu tajam untuk mencium sesuatu itu. Dia sedikit mengendus untuk memastikannya saat mendekati tempat itu.


"Salah alamat! Harusnya ke arah kiri sebelum pertigaan!" jawab salah seorang pria.


"Oh, berarti ini saya putar balik ya, Bang?" jawab Ericko pura-pura bingung.


"Iya, ini kau putar balik lalu ketemu pertigaan lurus saja. Jangan kau belok-belok lagi!"

__ADS_1


"Terima kasih, Bang. Pamit dulu, terima kasih bantuannya. Mari ..."


Ericko masih melirik gudang tua itu. Pandangannya masih tertuju pada high heels yang menurut Ericko masih baru. Saat naik ke atas motor, dirinya menangkap sesosok perempuan yang dengan wajah ketakutan menggedor-gedor jendela kaca yang terletak di sebelah kiri bangunan itu.


"Eh suara apa tuh, Bang?" tanya Ericko.


"Bukan apa-apa! Cepat pergi dari sini!" hardik pria tersebut. Membuat Ericko segera bergegas pergi.


Dia mengajak Dilan dan Rio untuk bertemu dan berdiskusi dengan apa yang dilihatnya. Mereka sepakat untuk bertemu di malam hari. Di sebuah tempat yang sudah disewa oleh Rio untuk basecamp sementara mereka.


Ericko menceritakan tentang apa yang dilihatnya. Tentang penemuan sepatu dan sesosok perempuan yang menjerit. Mereka memiliki pemikiran yang sama. Mengapa gudang tua yang dijadikan tempat rongsokan itu harus dijaga?


"Oke, kita lancarkan aksi kita berikutnya. Lan, tunjukkan pesonamu, Brother!" ucap Rio dengan seringaian licik.


Dilan mengangguk. Jujur kali ini dirinya cukup gugup. Menjadi umpan bukanlah sesuatu yang bagus. Tapi dia harus ingat, tugasnya saat ini adalah untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.


Esoknya mereka sepakat melancarkan aksi mereka. Memasang umpan dan menunggu mangsa memakannya. Dilan berjalan setiap hari melewati gudang tua itu. Indra penciumannya pun menangkap bau yang tak asing. Hari pertama Dilan masih aman, hati kedua Dilan mulai dilirik oleh penjaga itu. Hati ketiga, Dilan mulai ditanyai tentang tempat tinggalnya. Dan tepat di hari ke empat, Dilan diculik!


Dia dibawa oleh dua orang pria dengan cara dimasukkan karung dan dibius terlebih dahulu. Rio dan Ericko sudah mulai was-was. Berharap Dilan memberikan informasi bagi mereka. Rio menghubungi petugas kepolisian setempat agar turut membantu.


Dilan telah sadar dari pingsannya. Dia melihat keadaan sekitar. Merasa pening karena efek obat bius itu. Dia melihat hanya dirinya seorang di dalam sana. Namun dirinya dikejutkan oleh suara jeritan perempuan. Dilan menoleh mencari sumber suara.


"Makan!" Seorang pria melemparkan roti padanya. Tepat saat pria itu berbalik, Dilan langsung menembakkan obat bius yang telah dirakit oleh Rio di balik arlojinya. Tepat mengenai tengkuk pria tersebut.


Bruk!


.


.


.


Like


Komen

__ADS_1


Vote


Tip


__ADS_2