Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Rick, What Happend with You?


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


ERICKO POV


Sedangkan aku dan Rio mencoba mencari salah seorang informan yang akan segera kami temui lewat informasi tersebut.


"Got it!" seruku sambil mengembangkan senyum.


"Kita akan berangkat besok," lanjut Rio dan kami pun mengangguk setuju.


Kami menyudahi diskusi malam itu. Ternyata sudah larut. Kami yang hendak pulang berpapasan dengan mertua Rio -Tante Zumarnis. Tante Mar datang bersama adik laki-laki Naomi -Yusa. Seperti biasa kami akan berbincang sebentar lalu pulang.


"Tumben Mamah malam-malam kesini, ada apa?" tanya Rio.


"Gitu? Mertua datang ditumben-tumbenin?" sahut Tante Zumarnis. Rio menggaruk tengkuknya yang mungkin tak gatal. Dia seperti terlihat kikuk.


Aku dan Dilan menyalami tante Zumarnis dan melakukan tos dengan Yusa. Fennita keluar dari kamar tamu dan menyalami tante Zumarnis.


"Kok Fenni bisa disini sih, Sayang?" tanyanya pada Fennita.


Fennita menyeringai menunjukkan deretan giginya, "Kabur dari rumah, Bi."


"Kenapa lagi? Papah masih suka maksa Fenni nikah sama anaknya Alex?"


Fennita mengangguk. Tante Zumarnis menggelengkan kepala tanda ketidaksetujuannya terhadap tindakan Papah Fennita.


"Zamroni memang keterlaluan! Anak sendiri juga! Main paksa seenaknya! Nanti Bibi bantu biar papahmu sadar, Sayang." Fennita mengangguk sambil memeluk bibinya.


Eh, tapi tunggu!


Aku pernah mendengar nama Zamroni. Tapi siapa dia?


Apakah aku mengenalnya?


Namanya tak asing kudengar. Aku mengerutkan kening sambil berpikir keras tentang nama Zamroni.


Aku membelalak tak percaya setelah mengingat siapa pemilik nama tersebut. Mungkinkah nama lengkap tante Zumarnis adalah Zumarnis Malik?


Sama dengan Zamroni Malik? Pemilik Malik Group?


Itu artinya, Fennita adalah anak Zamroni Malik?


Damned!


Aku menyisihkan diriku dari mereka. Mulai mengeluarkan ponsel pintarku. Mencoba peruntungan dengan berselancar di dunia maya, mengorek informasi tentang Zamroni Malik.


Bukan hal yang sulit bagiku untuk menemukan segala informasi tentang Malik Group. Dan ternyata memang benar adanya, bahwa Fennita adalah anak pemilik Malik Group dan tante Zumarnis adalah kakak pemilik perusahaan yang cukup tersohor itu.

__ADS_1


Tapi, mengapa Rio tak mengatakan jika dirinya mengenal Zamroni, yang notabene adalah om dari pihak Naomi?


Apakah dia sengaja menyembunyikannya dariku?


Atau dia ingin melindungi Zamroni dari kecurigaanku?


Atau dia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum memberi tahuku?


Aku pilih pertanyaan yang terakhir. Aku sangat percaya pada Rio. Tak mungkin dia mengkhianati kami.


Dilan memanggilku untuk segera pulang. Aku menoleh dan mengangguk ke arahnya. Saat kami berpamitan dengan tante Zumarnis, dua orang bertubuh besar masuk tanpa permisi dan membuat keributan.


"Budhe tolongin Fenni, Budhe," keluhnya saat kedua orang tersebut hendak membawanya pulang.


Rio menjadi tameng terdepan dalam hal ini. Aku hanya melihatnya saja. Tak ada niat sedikit pun membantunya. Entahlah! Mungkin aku kecewa dengan kenyataan yang baru saja ku ketahui adanya.


"Nggak usah pakai otot juga kali, Bang!" seru Rio pada orang itu.


"Kenape? Kagak terime lo, Tong?" bentaknya pada Rio.


"Buju busyet! Lo kira lo siape berani ngebentak gue begitu?


"Fennita, pulang!" seru orang yang satunya lagi.


Fennita berlindung di ketiak tante Zumarnis. Persis seperti anak SD yang sedang dimarahi oleh ayahnya.


Dilan mengamankan terlebih dahulu tante Zumarnis, Yusa, dan Naomi. Fennita berhasil diraih oleh pria kedua. Entah apa yang menggerakkanku untuk ikut membantunya.


"Jangan kasar sama wanita, Om!" panggilku pada pria kedua itu.


Aku menarik dengan keras tangan Fennita. Mungkin akan sakit. Bukan mungkin lagi, pasti itu sakit sekali. Pria kedua itu melotot ke arahku. Siap melampiaskan amarah yang merajai dirinya.


"Kan saya sudah bilang jangan kasar sama wanita. Kasihan lho tangannya bisa lecet!"


"Banyak omong!"


Pria itu melayangkan tinjunya kepadaku. Aku berhasil menghindar. Begitu pun dengan Rio. Dan saat pria itu hendak menyerang kembali, aku langsung memukul bagian hidungnya dengan cukup keras. Mungkin bisa saja patah.


Pria itu mengerang kesakitan. Rio pun sudah jengah lalu menendang dengan sangat keras bagian vital pria yang pertama. Aku dan Rio sama-sama meringis.


"Mau aku laporkan polisi?" tawar Rio pada kedua orang tersebut. Tanpa menjawab sang tuan rumah mereka lagi terbirit-birit.


Fennita terlolong melihat kami dengan cepat memberi hadiah pada para pengacau itu. Dilan datang dari arah dalam.


"Mana! Mana orang tadi!"


"Telat!" jawabku dan Rio kompak. Begitulah Dilan, sok ingin membantu. Padahal ku tahu pasti, dia sengaja tak membantu kami dan hanya menjadi penonton di belakang sana.

__ADS_1


Naomi dibantu dengan Yusa membersihkan gelas yang pecah dan barang-barang yang dihancurkan oleh kedua orang tadi. Sementara tante Zumarnis menelepon seseorang dan berulang kali menggeram.


Aku yakin, yang sedang dihubunginya adalah Zamroni Malik -Papah Fennita.


"Yang ngumpetin tuh, siapa? Nggak ada yang ngumpetin Fenni disini. Dia ke rumah Naomi karena dia butuh perlindungan yang harusnya dia dapat darimu, Zam! Sekali lagi orang-orangmu berani mengacaukan rumah anak dan menantuku, aku sendiri yang mendatangimu dan kuseret kamu dari rumah sampai ke kantor polisi!"


Benar-benar perempuan pemberani tante Zumarnis. Berlaku tegas meskipun dengan adiknya sendiri.


Tante Zumarnis berbicara dengan Fennita, "Pulang dulu. Papah nggak akan berani macam-macam sama kamu. Bibi akan membantu kamu."


"Janji ya, Bi? Bibi satu-satunya harapan Fennita." Tante Zumarnis mengangguk.


"Rick! Tolong antarkan Fenni pulang, ya? Bisa kan bantu, Tante?"


Why? Kenapa harus aku? Ada Dilan, ada Rio. Kenapa namaku yang disebut? Duh!


Aku mengangguk ragu. Sedangkan Rio dan Naomi cekikikan di belakangku. Sepertinya new mission mereka akan segera dimulai. Tapi aku akan teguh pada pendirianku. Apalagi masih ada yang mengganjal di hatiku tentang Zamroni.


Akhirnya dengan terpaksa pun aku mengantarkannya pulang. Sekaligus ingin memastikan sesuatu.


Kami berada dalam satu mobil. Aku sebagai pengemudi dan Fennita duduk di sampingku. Gadis yang biasanya ceria dan banyak bicara tiba-tiba menjadi gadis pendiam.


"Ehm ... Fen," ucapku penuh kecanggungan.


Wait! Kenapa aku mesti merasa canggung? Hei, Rick! Sadar!


Tapi Fennita tak menjawabku. Aku menoleh sebentar untuk memastikan keadaannya, ternyata dia sedang menghadap samping dengan bahu naik turun. Aku mendengar samar-samar seperti sebuah isakan.


Kutepikan mobil yang ku kendarai, lalu ku sentuh bahunya. Dan ternyata dia sedang berderai air mata.


"Jangan lihat ... hiks ... hu-hu-hu ... aku malu, Mas," ucapnya.


Entah keberanian apa yang menjalari hatiku, tiba-tiba saja kurengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.


Rick, what happend with you?


.


.


.


**Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip**


__ADS_2