Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Setoples Mete


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Isnaeni hampir tiba di terminal kota Jakarta. Dia mencoba merenung sebentar, lalu mematikan ponselnya. Dia mengganti kartu sim ponsel yang lama. Untung saja masa aktifnya masih lama. Banyak pesan masuk di nomor ponsel yang lama. Salah satunya adalah dari iparnya. Tidak lama kemudian, dia menghubungi Zumarnis. Mengatakan bahwa dirinya ada di Jakarta.


Zumarnis yang saat itu sedang bertemu dengan klien merasa terkejut dengan panggilan yang masuk. Dia meminta izin untuk menerima panggilan masuk di ponselnya. Hatinya lega mengetahui keadaan adik iparnya baik-baik saja. Dia menyuruh Isnaeni untuk duduk menunggu di terminal. Lalu menyuruh Naomi untuk segera menjemput tantenya itu.


Hampir satu jam lamanya Isnaeni menunggu di terminal. Naomi datang dengan berlari dan terengah-engah. Isnaeni sampai tertawa melihat keponakannya satu itu. Naomi memeluk dan menyalami tantenya. Dia rindu dengan semuanya.


"Fenni mana, Tante?" tanya Naomi mencari sepupunya.


"Nggak ikut, dia ada kerjaan disana," terang Isnaeni pada Naomi.


Lalu mereka memilih untuk segera masuk ke mobil terlebih dahulu. Zumarnis sudah menunggu mereka di rumah. Naomi mengemudikan mobil menuju rumah mamahnya. Kembali berkutat dengan kemacetan. Ia menggunakan kesempatan itu untuk bertanya pada tantenya.


"Tante, sekarang kalian tinggal dimana?" tanya Naomi polos, padahal dia sudah tahu dari Rio dimana Fennita.


"Di desa, Nom. Alhamdulillah disana masyarakatnya pada baik." Isnaeni membuka pesan yang masuk ke ponselnya.


"Desa? Desa mana, Te? Naomi ikut, dong! Kangen sama Fenni," rengek Naomi layaknya anak kecil.


"Izin dulu sama suami, jauh dari kota, emang Naomi bisa hidup di desa? Masuknya aja jauh lho, Nom."


"Bisa lah, Te! Memang dimana sih?"


"Magelang." Isnaeni menyuruh Naomi untuk menepi sebentar ke sebuah supermarket. Dia ingin mencari sesuatu.


Naomi menunggu tantenya di dalam mobil. Dia memberitahu suaminya bahwa dia sekarang bersama dengan Isnaeni. Mereka sedang menuju rumah Zumarnis. Membuat Rio langsung tancap gas menuju rumah mertuanya itu. Dia ingin berbicara soal Fennita dan Erick.


Tantenya kembali ke mobil dengan membawa barang belanjaan yang banyak. Membuat Naomi bertanya-tanya, untuk apa itu semua? Mobil kembali melaju ke jalan raya. Kali ini naomi memilih jalan pintas agar cepat sampai rumah.


"Tante, Magelangnya mana? Maksudnya nama desanya!" tanya Naomi semangat.

__ADS_1


Isnaeni hanya menjawabnya dengan senyuman. Ia masih enggan memberitahu dimana tempat tinggalnya saat ini. Ia masih ingin menenangkan dirinya, dan dia juga tidak ingin membuat keluarganya di desa terganggu dengan kehadiran orang kota Jakarta. Ia memilih menanyakan hal lain kepada Naomi.


Menanyakan sudah sejauh mana program hamil yang dilakukannya. Naomi menjawab setiap pertanyaan dari tantenya, mereka begitu antusias membahas tentang prgogram hamil. Mobil Naomi sudah memasuki halaman parkir rumah mamahnya. Dan Zumarnis sudah menyambut mereka dengan antusias penuh senyuman.


Zumarnis merentangkan tangannya untuk memeluk adik iparnya itu. Isnaeni bukan hanya ipar baginya, lebih dari itu. Ia sudah menganggap Isnaeni seperti sahabat dan adik kandungnya sendiri. Ia menangis haru memeluk Isnaeni.


"Kamu kenapa pergi ninggalin, Teteh? Kamu udah nggak sayang lagi sama, Teteh?"


Isnaeni hanya tersenyum, "Bukan begitu, Teh. Iis hanya pengen hidup damai."


"Udah, masuk dulu!" Zumarnis menyuruh Isnaeni masuk. Naomi membawa barang belanjaan yang dibeli oleh tantenya.


Tak lama, Rio datang. Menyalami tantenya dan menanyakan kabar Fennita. Isnaeni yang dari desa tidak membawa apa-apa, mengambil hasil belanjaannya dan memasakkan sesuatu untuk mereka. Setelah berkutat di dapur, jadilah masakan itu. Zumarnis sampai tidak enak hati padanya. Isnaeni memasak ayam ungkep kesukaan iparnya.


Mereka makan terlebih dahulu, setelahnya mereka berbincang. Isnaeni mengungkapkan bahwa dirinya masih ingin di desa. Masih trauma atas perlakuan warga Jakarta. Ia juga menyampaikan ingin bertemu dengan suaminya.


"Besok minggu depan, Intan menikah, Tan. Fennita nggak tahu, kan?" terang Naomi.


"Ha? Beneran, Nom? Alhamdulillah ..., sama pacarnya itu?" tanya Isnaeni sedikit terkejut.


"Nggak bisa, Teh. Dia harus menggantikan sepupunya jadi dokter." Semua yang mendengar terkejut dan bengong saat mendengar bahwa Fennita menjadi dokter.


Mereka bersyukur, kejadian itu memberikan banyak hikmah dan juga berkah. "Ya sudah, aku seminggu ini disini dulu, deh. Nanti biar aku kasih tahu Fenni."


Rio mencoba mengungkapkan rencanaya bersama Dilan untuk mempertemukan Fennita dan Ericko. Dia meminta persetujuan dari tantenya, karena tidak mau nanti urusannya semakin kusut. Isnaeni tampak merenung dan memikirkan permintaan Rio. Ia meminta waktu pada Rio untuk bisa memikirkan hal itu. Rio setuju, dia akan memberikan waktu satu hari sebelum hari akad Intan dan Dilan.


Mereka telah sampai di rumah tahanan. Zamroni sangat bahagia sekali bisa bertemu dengan istrinya itu. Mereka bercengkrama dengan hangat. Zumarnis mengusap air matanya yang sudah hampir terjatuh. Bahagia melihat Isnaeni tetap mau mendampingi adiknya yang tersandung masalah.


"Teteh kenapa nangis?" tanya Zamroni.


"Nggak, nggak papa. Teteh senang lihat kalian akur. Is, makasih udah mau jadi pendamping dia saat susah dan senang. Kamu sih, Zam! Bandel banget! Udah tua masih aja salah pilih temen! Untung anakmu nggak jadi nikah sama Dion! Lihat tuh beritanya!" ungkap Zumarnis mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya.

__ADS_1


Isnaeni hanya tersenyum mendengar ucapan iparnya. Ia menyodorkan rantang yang dibawanya. Membukakannya untuk Zamroni dan menyiapkan segalanya. Naomi dan Rio melihat hal itu. Perhatian yang syarat akan keromantisan.


"Tuh, lihat tante Is, suami makan disiapin, Yank!" protes Rio.


Naomi mengernyit, "Memang selama ini aku nggak begitu? Hmm?"


"Ya begitu sih, tapi kan nggak tiap hari kamu masak, Yank!" Rio masih saja tak ingin kalah.


"Makanya dirumah saben hari! Aku bakalan masak sehari tiga kali," jawab Naomi tak ingin kalah.


Rio semakin gemas jika melihat Naomi uring-uringan. Inner beauty dari Naomi langsung memancar begitu saja.


Isnaeni meminta waktu berdua dengan Zamroni, membuat yang lain harus keluar terlebih dahulu. Dia menceritakan semua tentang kehidupannya di desa. Menceritakan segala aktivitas Fennita. Dan kegundahan hatinya tentang Ericko.


"Bukannya kamu yang lebih tahu isi hati anak kita, Mah? Papah sudah tidak ingin salah langkah lagi, kalau menurut Papah, biarkan mereka bertemu dan menyelesaikan masalah yang ada. Fenni juga punya hak untuk memilih. Kita sudah terlalu mengekang hidupnya sejak kecil," terang Zamroni saat istrinya menanyakan pendapat tentang Ericko.


Isnaeni tersenyum, dia menanyakan apakah Ericko sering mengunjunginya? Zamroni mengatakan jarang karena mengingat pekerjaannya. Isnaeni mengeluarkan sesuatu dari dalam tas makan itu. Satu toples kaca kecil berisi mete goreng dengan taburan bawang.


Isnaeni menitipkan setoples mete itu pada suaminya. Berpesan hanya boleh dibuka oleh Ericko. Membuat Zamroni tertawa, "Apakah ini pertanda kamu setuju Fennita sama Erick?"


"Mmm ..., seperti kata Papah, Mamah menyerahkan semua pada mereka berdua. Mamah hanya bisa memberi kesempatan. Semoga memang ada akhir yang indah untuk mereka berdua," jawab Isnaeni.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2