
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Mereka bercengkrama menikmati kesunyian malam di atas Gunung Sumbing. Dominasi suasana bahagia sangat kental terasa. Intan melihat jam tangannya. Ternyata sudah tengah malam, dia sudah mulai mengantuk. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur di masing-masing tenda. Meninggalkan Ericko dan Fennita yang masih harus membahas sesuatu.
Erick, Dilan, dan Rio sudah sepakat bahwa mereka tidak akan melanjutkan pendakiannya. Karena mengingat prakiraan cuaca yang akan terjadi besok. Hal itu bisa mereka ketahui dari kecepatan angin yang berhembus. Dan mereka sudah puas menikmati keindahan Gunung Sumbing walau hanya sampai di pos satu.
Mereka juga memikirkan para wanita yang tidak pernah naik gunung. Karena sebenarnya, naik gunung itu tidak semudah yang dibayangkan. Harus ada persiapan mental dan fisik yang kuat. Pemanasan olahraga adalah salah satu cara yang biasa digunakan untuk melatih fisik.
Dilan dan Rio menyusul istri mereka masing-masing. Mereka berpesan pada Ericko agar bisa mengendalikan dirinya. Mengingat mereka belum memiliki hubungan halal. Dan satu hal lagi, mereka sedang berada di alam terbuka. Takut jika ada yang tidak setuju dengan ulah mereka.
Ericko berjanji untuk tidak macam-macam dengan Fennita. Dia hanya ingin membahas sesuatu yang bersifat pribadi dengan calon permaisurinya itu.
"Besok langsung ke Banyuurip ya, Yang? Ketemu sama ibu." Erick memakaikan jaketnya lagi ke pundak Fennita.
Udara dingin yang begitu akrab sudah menyapa kulit. Membuat mereka harus menghangatkan tubuh. Fennita memikirkan permintaan Erick itu. Jujur, dia belum siap bertemu dengan keluarga Ericko.
Bagaimana jika nanti dia mendapatkan penolakan?
Bagaimana jika dia diusir oleh keluarga Ericko?
Bagaimana jika dia dicibir oleh semua keluarga dan para tetangga Ericko seperti saat di Jakarta?
Hal itu membuat Fennita melamun. Kepalanya sedikit pusing memikirkan bagaimana nanti pertemuannya dengan keluarga Erick. Takut dan trauma atas penolakan adalah hal yang menyakitkan. Ericko membuyarkan lamunannya. Menanyakan kembali permintaannya.
"Mas ..., aku ..., agak takut kalau sekarang. Bisa nggak ketemu ibu nanti-nanti saja?" pinta Fenni dengan mata memancarkan aura memelas.
"Nggak bisa! Memang kenapa sih? Takut apa?" tanya Erick.
"Gimana nanti kalau ibu mengusirku dari rumah? Gimana kalau ibu menentang hubungan kita? Gimana kalau ...," ucap Fennita dengan wajah sangat khawatir.
Ericko tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa pemikiran Fenni sempit seperti itu? Dia berdahem dan siap menceramahi Fennita.
"Kamu waktu di Windusari nontonnya sinetron, ya? Ketemu saja belum kok sudah takut hal-hal yang belum pasti! Coba mikirnya yang positif-positif aja. Kalau ibu setuju gimana?" tanya Erick mengubah pertanyaan Fennita dengan kalimat tanya positif.
Fennita menatap mata Erick. Sungguh, tatapan yang sangat dalam, penuh pengharapan, dan cinta. Fennita menarik napas panjang lagi dan memejamkan matanya sebentar. Dia menoleh lagi ke arah Ericko.
__ADS_1
"Oke, aku siap ketemu ibu," ucap Fennita penuh keyakinan.
Ericko tersenyum senang. Permintaannya dikabulkan oleh sang idaman. Besok dia akan membawa Fennita bertemu dengan ibunya. Mengenalkan mereka berdua secara nyata. Berharap akan ada restu nantinya.
Fennita menanyakan sosok ibu Erick. Menanyakan apa yang ibunya suka ataupun tidak suka. Yang bisa membuatnya marah dan cara meredam amarahnya. Erick menjawab secara singkat. Ia mau Fennita mengenal sendiri ibunya seperti apa.
Fennita bingung harus membawakan apa untuk ibu Erick. Tidak ada persiapan sama sekali baginya untuk bisa mengambil hati sang calon mertua. Dia juga bingung harus memakai apa untuk besok.
"Ya pakai baju ganti kamu lah! Penting sopan. Udah sih Yang, jangan terlalu khawatir." Ericko mencoba menenangkannya.
"Ih kamu mah ngomongnya gampang!" balas Fenni kesal karena Ericko menggampangkan pertanyaannya.
"Lhah, kok marah? Maksud Mas, tenang aja. Ibu bukan tipe modis yang segala sesuatunya diukur dari apa yang kamu pakai. Nanti kita belikan sesuatu kalau sudah turun." Ericko melihat jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul satu.
Erick menyuruh Fennita untuk kembali ke tenda dan tidur. Mengumpulkan tenaga untuk besok turun gunung. Dan menyiapkan mental untuk bertemu dengan ibu Ericko. Ericko menyuruh Fennita melupakan sejenak kegelisahan hatinya.
Mereka kembali ke tenda masing-masing. Mencoba untuk menenggelamkan pikiran untuk tidur. Erick tersenyum senang atas apa yang terjadi hari ini. Dia patut bersyukur memiliki lingkungan pertemanan yang saling mendukung dalam hal kebajikan. Selalu mengingatkan jika melenceng dari agama dan norma yang berlaku.
"Kawin ..., kawin ..., bentar lagi aku kawin ...," ucap Ericko menirukan nada lagu milik Project Pop.
"Manis banget sih kamu, Mas. Selalu bisa membuat aku mabuk kepayang! Cuma kamu yang bisa membuatku sedih, marah, dan kembali ceria hanya dalam satu waktu. Matur nuwun, Sayang." Fennita mengatakannya dengan wajah sudah seperti tomat rebus. Dia tetap malu meskipun Erick tidak mendengar ucapannya.
Pagi sudah akan menyambut dunia. Semburat jingga sudah terlukis jelas di langit. Erick membangunkan Fennita dan menyuruhnya untuk melaksanakan Subuh terlebih dulu. Waktu menunjukkan lima lebih sepuluh menit. Erick mengucurkan air untuk Fennita berwudhu.
Fennita melaksanakan salat di dalam tenda. Erick sudah membereskan tenda miliknya. Fennita sudah selesai salat. Dia menghampiri Erick yang sedang duduk bersila di tanah. Erick menepuk tanah di sebelahnya, menyuruh Fenni duduk.
"Yang lain pada belum bangun, Mas?" tanya Fennita sambil mengikat rambutnya.
"Belum, biarin aja. Lihat langit itu, disana terlukis wajah kamu." Erick mulai meluncurkan gombalan mautnya.
Fennita menahan tawanya. Baru kali ini dia melihat sisi lain Ericko yang pandai menggombal.
"Lihat juga semburat jingga itu, sama kayak warna pipimu yang kalau digodain sama Mas, langsung nyembul keluar!" kata Erick sambil tersenyum.
Fennita tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia tertawa senang karena ucapan Erick. Ah, bahagianya pasangan ini. Tiba-tiba saja ada yang melemparkan sandal ke punggung Erick. Siapa lagi kalau bukan pengganggu?
__ADS_1
Dilan dengan tangan menyangga dagu, melihat malas ke arah mereka. Yang pengantin baru dia, tapi kenapa Erick yang lebih romantis? Ericko melemparkan sandal itu kembali ke pemiliknya.
"Apa, sih? Ganggu aja!" sewot Erick pada Dilan.
"Enek gue dengernya! Fen, hati-hati buaya jantan lepas dari kandangnya," ucap Dilan keluar dari tenda dan menggeliat manja.
"Dingin ternyata!" ucap Dilan lagi.
Ericko heran dengan otak Dilan. Kadang encer sekali, tapi kadang juga lemot. Dia bertanya mereka sekarang ada dimana? Dilan menyeringai, dia lupa bahwa sekarang sedang ada di Sumbing.
"Kalian ikut balik ke Banyuurip, kan?" tanya Ericko.
Dilan mengangguk. Dia membuka tenda Rio dan berniat merecokinya. Tapi sayang sekali, niatnya batal ketika melihat adegan ciuman di dalam tenda itu.
"Ya Allah ya karim ..., sakit mata gue! Pas buka tenda lihatnya orang lagi gombal, ini niat mau ganggu malah indehoy! Dahlah, balik kandang lagi!"
Dilan langsung masuk lagi ke dalam tendanya. Ericko dan Fennita hanya tertawa menyaksikan kejengkelan Dilan. Rio dan Naomi heran dengan kawannya satu itu. Seperti orang kurang jatah.
"Dia kenapa, sih?" tanya Rio.
"Nggak dikasih jatah kali!" jawab Erick.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Double kok, yang satu ntar malam. Ayo2 lindungi mamas Erick. caranya lihat di beranda, ada carnaval toon, klik. Lalu masuk ke aula kehormatan, cari judul Dari Misi Turun Ke Hati, sumbangin bintang yang banyak!