
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Isnaeni masih terbaring dan baru saja mendapatkan perawatan infus dan pemberian oksigen untuk memulihkan keadaannya. Zumarnis berhasil menemukan keberadaan iparnya saat rekaman perintah pembunuhan Kalena itu diperdengarkan. Hingga tiba-tiba saja Isnaeni pingsan.
Dia membantu Fennita untuk membawa Isnaeni ke rumah sakit. Lalu setelahnya tidak melihat kemana perginya keponakannya itu. Sudah hampir satu jam tapi Isnaeni belum juga sadar dari pingsannya. Dokter mengatakan bahwa Isnaeni mengalami syok berat, hingga butuh waktu untuk bisa sadar.
Zumarnis melihat kotak putih itu dan membukanya. Dia menangis, ternyata iparnya akan merayakan ulang tahun untuk Fennita bersama adiknya.
"Ya Allah, Zam ..., kenapa kamu bisa terjerat kasus berat seperti ini? Lihatlah istrimu, dia sangat percaya dengan semua yang telah kamu lakukan. Tidak sedikitpun menaruh curiga terhadapmu."
Fennita masuk ke ruang perawatan mamahnya. Berjalan lemas dan terjatuh ikut pingsan. Membuat Zumarnis terkejut dan meminta pertolongan tenaga medis. Fennita juga mendapatkan perawatan yang sama seperti mamahnya.
Rio yang mendapatkan kabar dari mertuanya langsung meluncur ke rumah sakit X. Diantar oleh salah satu temannya yang bertugas di Polresta Balikpapan dengan menggunakam motor. Tak berselang lama, Rio sudah berada di halaman parkir rumah sakit. Dia mengucapkan terima kasih pada temannya. Langsung masuk dan menanyakan kamar Isnaeni dan Fennita.
Rio yang baru saja tiba langsung mengirim gambar Fennita dan tantenya yang terbaring di bed rumah sakit kepada Ericko. Dia mendengar cerita Intan yang mengatakan bahwa Ericko sedih dan memilih untuk menyendiri di hotel.
Me : Gue di rumah sakit. Lo nggak mau jengukin calon mertua sama calon istri? 😁
Erick : Fennita dan tante Is sudah sadar belum?
Rio mengernyitkan dahinya. Dia merasa Ericko memang benar-benar kacau. Ditanya apa jawabnya apa, tidak nyambung!
Me : Belum, lo nggak pengen nemenin Fennita? Gue laper pengen makan Rick! 😁
Erick : Kalau gue kesana, mereka bakal nerima kehadiran gue nggak?
Me : Coba aja dulu, turuti kata hatimu, lo juga sakit kan lihat Fenni begini?
Erick sudah tidak membalas pesan Rio lagi. Tapi, setelah lima menit Erick langsung muncul di kamar Fennita.
"Buju buset! Cepet amat! Naik apa lo? Pesawat jet?" tanya Rio heran. Butuh waktu dari kamar hotel menuju rumah sakit X.
"Owh, gue tahu, lo nggak balik ke hotel tapi ngikutin omongan Intan, kan?" cecar Rio.
"Ck! Buruan sana makan! Keburu dia bangun!" Ericko mendorong tubuh Rio untuk segera keluar dari ruang Fennita.
Dia duduk di hadapan Fennita. Memperhatikan wajah lelah itu. Ingin menggenggam tangannya, tapi takut jika nanti sadar dan malah membuat Fennita semakin marah padanya. Hati dan pikirannya sangat kacau, hingga akhirnya dia hanya diam mengamati wajah Fennita.
__ADS_1
"Bisakah pertemuan kita diputar kembali? Dengan keadaan yang sangat indah dan tidak ada kata terluka? Maaf telah melukaimu, maaf membuatmu kacau seperti ini. Maaf."
Fennita sadar dari pingsannya, Erick segera memencet bel pasien untuk memberitahukan keadaan Fennita pada tenaga medis. Dokter dan perawat datang memeriksa keadaan Fennita lalu mencatat hasilnya.
"Alhamdulillah, Kak Fennita sudah sadar. Jangan banyak aktivitas dulu ya, Kak. Kakak butuh istirahat," terang dokter muda itu.
Fennita hanya mengangguk lemah dan tersenyum. "Makasih ya Dok."
"Sama-sama, tolong nanti Kak Fennita disuapi makanannya ya, Bang. Untuk pemulihan," perintah dokter itu pada Ericko.
"Ya, Dok."
Dokter dan perawat itu pergi meninggalkan ruangan Fennita. Menyisakan dua orang itu. Ericko tidak tahu harus memulai percakapan dari mana, Fennita pun masih enggan untuk bicara dengan Erick. Hingga akhirnya kebisuan menyelimuti ruangan itu dengan sempurna.
"Mau ..., makan sekarang?" Ericko mencoba menawarkan makanan itu.
"Tidak, terima kasih. Tolong keluar dari kamarku. Aku ingin istirahat," ucap Fennita tanpa memandang Erick dan sangat datar.
Erick tidak bisa menolak permintaan itu, dia tidak ingin Fennita semakin terluka. Dia mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan kamar Fennita. Saat hendak membuka pintua, dia menoleh lagi.
"Kalau butuh Mas, telpon aja. Mas ada di depan."
Fennita kembali membuka matanya. Melihat Erick sudah tidak ada di ruangannya. Dia ingin ke ruangan mamahnya, mengetahui keadaannya disana. Dia mencoba untuk duduk, tapi dirasa sangat berat. Tubuhnya masih sangat lemas.
Dia berusaha sekuat tenaganya. Dan akhirnya berhasil untuk duduk. Membuka ponselnya untuk mencari tahu perkembangan berita yang ada. Tangannya berhenti ketika menemukan wawancara eksklusif yang dilakukan oleh Alex Sanjaya. Memutar video itu dan melihatnya dengan seksama.
"Tidak, saya tegaskan sekali lagi, saya tidak ada kaitannya dengan kasus Zamroni. Saya sudah memperingatkannya, tidak usah aneh-aneh dalam menjalankan usaha bisnis. Tapi, sepertinya Zamroni sudah sangat serakah hingga ikut acara seperti itu. Sangat merugikan negara!" tegas Alex Sanjaya.
"Lalu, bagaimana dengan kartu anggota dengan nama Alex S. Jaya? Bukankah itu artinya Alex Sanjaya?" tanya seorang reporter.
Alex tersenyum menanggapi pertanyaan itu, "Alex Sony Jaya, Alex Slamet Jaya, atau siapapun itu lah, bisa saja kan? Pokoknya saya tegaskan, saya tidak terlibat apapun."
"Bagaimana dengan pencalonan pak Zamroni, Pak Alex?"
"Itu kewenangan dari KPU, tapi ya bisa dipastikan akan gugur, lah!"
"Apakah ada niatan Anda maju PilPres, Pak?"
__ADS_1
"Tergantung, jika KPU masih memberikan kesempatan sebelum pemilihan, saya akan maju. Negeri ini butuh pemimpin yang jujur, adil, dan tegas."
Banyak pertanyaan yang dilontarkan para pemburu berita itu, hingga Alex menyuruh juru bicaranya untuk menengahi hal tersebut. Alex langsung pamit dari hadapan media.
Fennita meremas sprei rumah sakit hingga lusuh. Mendengarkan pengakuan Alex yang membuat hatinya panas. Benarkah papahnya terjerumus dalam hal ini sendirian? Tanpa campur tangan Alex? Dia tidak percaya dengan semua penuturan Alex. Dia merasa Alex berbohong.
Ericko masuk kembali dan melihat Fennita sedang duduk sambil memegang ponselnya. Dia kembali duduk di samping bed, tangannya meraih makanan yang disediakan untuk Fennita. Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Fennita.
"Makan dulu," ucapnya tanpa melihat mata Fennita.
"Tadi aku kan nyuruh kamu keluar, ngapain disini lagi?" bantah Fennita sekuat tenaga.
Ericko tidak menjawabnya, dia mengarahkan sendok berisi makanan itu ke depan mulut Fennita. "Setidaknya jangan buat dirimu terkapar lemah seperti ini."
Fennita tertawa sumbang mendengarnya. Bukankah dia adalah orang yang membuatnya terkapar seperti itu? Erick meletakkan kembali sendok itu.
"Mungkin kamu akan marah dengan semua ini, keadaan ini, dan juga aku. Tapi, coba pikir baik-baik, kalau tidak ada kejadian ini apakah kamu tahu kebusukan papahmu? Kejahatan, kelicikan, dan keserakahannya? Apa kalian akan tahu? Tidak!"
Ericko melihat air mata Fennita kembali meleleh. Dia mengambil tisu dan mencoba menghapusnya. Tapi tangannya ditepis oleh Fennita.
"Aku memang salah telah membohongi kamu dan mamah, aku juga salah karena memviralkan berita itu, aku minta maaf. Makanlah, kalau kamu memang tidak ingin melihatku, aku akan pergi."
Tidak ada sahutan apapun dari mulut Fennita. Sehingga Ericko memutuskan untuk pergi. Meninggalkan piring itu di atas pangkuan Fennita, berpesan agar memulihkan tenaganya.
"Cepatlah sehat, mamah sudah sadar. Kamu harus kuat demi beliau. Dan ..., hatiku juga lemah melihatmu sakit. Aku pamit."
Ericko melangkah meninggalkan kamar Fennita menuju kamar Isnaeni.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip