
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Setelah kepergian Fennita, Erick sering menyendiri. Terkadang, mengamati foto Fennita yang dia miliki. Tersenyum sendiri sambil mengatakan bahwa dia sangat rindu. Kapan mereka akan bertemu lagi? Dia menyuruh seseorang untuk melacak keberadaan Fennita dan Isnaeni, tapi sudah dua hari ini belum juga ada informasi yang bisa membuat hatinya lega.
Padahal bidang mereka adalah ahlinya dalam hal seperti itu. Mencari, mengintai, dan menemukan, tiga hal yang mahir dilakukan oleh seorang intel. Usaha lain yang dia lakukan adalah bermunajat kepada Allah. Menyerahkan keputusan terbaik untuk urusan jodohnya pada Sang Khaliq.
Sidang Zamroni dan David yang kedua harus diundur karena suatu alasan yang tidak dapat diungkapkan. Membuat mereka harus menunggu kembali hukuman yang akan mereka terima.
Minggu mulai bergulir. Zamroni dan David kembali menghadapi persidangan. Kali ini mereka akan mendengarkan putusan hakim. Proses persidangan berjalan cepat karena pihak keluarga korban, yaitu Kalena, tidak menuntut apapun dari mereka. Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka Zamroni dan David dihukum maksimal dua puluh tahun penjara.
Mereka hanya bisa pasrah dengan putusan hakim. Sudah tidak akan protes hukuman yang diterima. Minggu depan, Zamroni dan David akan mulai menghadapi persidangan lagi, untuk kasus Red Fox. Alex juga akan dihadirkan dalam persidangan itu sebagai saksi. Ericko berpesan pada David dan Zamroni agar tidak terpancing apapun dengan perkataan Alex. Jika Alex menyangkal, Erick menyuruh mereka untuk membiarkannya saja.
Erick mulai dipusingkan dengan cara membekuk Alex. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan Zamroni dan David. Erick bertemu dengan Zamroni, seperti biasa dia akan bersikap penuh takdzim pada lelaki tua itu. Menyalaminya dengan penuh hormat dan menanyakan kabarnya. Hari ini Erick membawakan makanan dan kopyah untuk Zamroni. Berharap bisa berguna untuknya.
"Terima kasih, Rick. Kamu ..., belum bisa menemukan Fennita dan mamahnya?" tanya Zamroni yang bisa melihat kerinduan dari sorot mata Erick.
Erick menggeleng, "Belum Om, Erick juga belum serius nyari. Masih sibuk memikirkan cara untuk menjebak Alex agar tidak bisa mengelak lagi. Sebenarnya Erick sudah mendapatkan cara, tapi kurang greget jika itu untuk menggertak Alex. Karena Om tahu sendiri kan, Alex bagaimana?"
"Om sangat paham dengan baji*ngan itu. Dia itu bakalan punya banyak alasan untuk selalu lolos dari jerat hukum," terang Zamroni.
"Itulah yang sedang menjadi pikiran Erick, Om tahu tidak apa yang ditakuti Alex?"
Zamroni berpikir tentang hobi Alex, hal yang tidak disenangi olehnya, dan semua hal tentang Alex. Tapi, dia tidak pernah melihat Alex takut akan sesuatu. Alex selalu bisa mengatasi apapun keadaan yang terjadi dengan sangat baik. Tidak pernah sekalipun menampakkan ketakutannya.
Zamroni menggeleng karena memang tidak mendapatkan jawaban apapun. Membuat Ericko menghembuskan napas ingin menyerah. Tapi sekali lagi, dia harus tetap optimis bahwa kasus ini bisa terselesaikan dan memberikan hukuman yang adil bagi pelakunya. Erick memutar otaknya, perlu teman bicara untuk memecahkan cara menakuti Alex.
__ADS_1
Erick meminta bertemu David. Mungkin pria satu itu bisa membantunya. Karena memang Ericko akui, otak David benar-benar cerdas dalam bidang apapun. Dia saja merasa sedikit minder jika dibandingkan dengan kemampuan David.
Zamroni kembali ke tahanan, berpesan pada Erick agar segera menemukan Fennita dan Isnaeni. David datang dengan wajah yang sangat bercahaya. Memakai kopyah hitam dan sekarang ada rambut yang tumbuh memanjang di dagunya.
"Assalamu'alaikum," sapa Ericko dengan senyum senang melihat perubahan David.
"Wa'alaikum salam, apa kabar lo?" tanya David.
"Baik, Alhamdulillah. Lo sendiri?"
"Alhamdulillah baik, yakin lo baik-baik aja? Hati lo nggak sakit? Kan Fenni pergi ninggalin, lo! Ha-ha-ha." David menertawakan Ericko.
"Ledek aja terus! Jangan bahas hati gue dulu. Nanti makin berdarah di dalam. Gue mau tanya tentang Alex," ucap Ericko.
David mengernyitkan dahinya, Alex? Kenapa lagi dengan itu orang? David menunggu kalimat lanjutan yang hendak ditanyakan Ericko. Pertanyaan Ericko masih sama seperti yang ditanyakannya pada Zamroni, apa yang ditakuti oleh Alex? Tidak mungkin seseorang terlalu berani akan semua hal, mereka akan memiliki kelemahan.
Ericko kembali mengajukan pertanyaan kepada David. Bukan soal Alex lagi, melainkan tentang bom. Entah kenapa, dia ingin sedikit mengulik benda itu. Karena David lebih berpengalaman dari dia, maka dari itu dia bertanya.
"Bom apa yang paling unik yang pernah lo buat? Atau pernah lo lihat mungkin?" tanya Ericko.
"Ha? Kenapa jadi nanya bom? Bukannya tadi pengen bahas Alex?" jawab David bingung karena topik pembahasan mereka yang melenceng.
Ericko berdecak, "Jawab aja sih! Siapa tahu nanti pas gue jadi tero ris Fennita muncul lagi."
David tertawa terbahak-bahak. Dia tahu Ericko tidak baik-baik saja. Pikirannya tidak fokus untuk menuntaskan satu masalah. Isi kepalanya bercabang kemana-mana.
__ADS_1
David menjawab pertanyaan tentang bom itu. David pernah melihat sendiri seorang temannya yang juga pembelot merakit bom yang sangat sulit. Bentuknya sangat mini alias kecil. Bom dalam bentuk microphone. Sepertinya Rio akan mendapatkan tugas yang membuat matanya menjadi juling jika Ericko ingin membuat bom tersebut.
"Rick, fokusin pikiran lo ke misi dulu. Cepat-cepat selesaikan kasus ini. Ambil cuti panjang, cari Fennita sampai ketemu. Kalau belum ketemu juga, gue jitak kepala lo! Urusan cari mencari, intai mengintai bagi seorang intel itu perkara kecil, bro! So please, focus!" David memberikan nasihat kepada Ericko.
Ericko tersenyum dan mengangguk. Ya, benar kata David, dia harus bisa memfokuskan pikiran dan hatinya untuk misi ini. Dia pamit dari hadapan David.
"Rick, kalau kamu tidak menemukan ketakutan Alex, coba ubah pertanyaanmu. Apa yang ditakuti oleh semua manusia?" ucap David sesaat sebelum kembali menuju ruang tahanan.
Ericko seperti disadarkan oleh sesuatu. Mengapa dia berpikir sangat sempit hanya memandang satu objek? Mengapa dia tidak mengubah pola pikirnya seperti yang David katakan? Betapa bodohnya dia. Oke, dia sudah tahu jawabannya. Dia segera bergegas ke basecamp dan menyusun rencana bersama Komandan Bambang dan kawannya.
Satu hal yang ditakuti oleh semua manusia. Hal yang pasti terjadi dan dialami oleh manusia itu sendiri. Kematian adalah jawaban dari kegundahan Erick. Semua orang akan mati, dan jika kita tidak mempersiapkannya dengan baik maka ketakutan akan merajai semuanya.
Perbincangan dengan David menghasilkan sesuatu untuk menuntaskan misinya. Tinggal menyusun rencana dengan matang dan tiba saatnya untuk eksekusi.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Happy weekend ya gaiiis, eh telat ya ngucapinnya? 😁😁. Tuntas ya janji othor tiap minggu. Oke, othor mau nyicil laporan akhir tahun, bye semuaaa. Jangan lupa kasih kopi buat othor atau kembang mawar buat mbak Fenni dan mas Erick.