
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Ericko menghela napas berat. Meletakkan ponselnya kembali di saku celana. Menghidupkan mesin mobil dan keluar dari terminal bus. Sekarang dia harus fokus untuk kasus Alex. Dia harus bisa menyingkirkan pikiran tentang Fennita. Dia akan meminta petunjuk pada Sang pemilik hati yang kekal.
Dia sadar, langkahnya belakangan ini terlalu memaksakan kehendaknya. Ia menuju basecamp karena disana sudah ada Komandan Bambang dan yang lainnya. Setelah berkutat dengan kemacetan, ia sampai di basecamp. Rio dan Dilan aktif memegang ponsel.
Komandan Bambang sedang menghubungi seseorang. Dilan yang melihatnya langsung melemparkan botol minum ke arah punggungnya. Tepat mengenai punggung yang terkena lemparan botol kaca guna melindungi Fennita.
Dia meringis kesakitan. Dilan langsung beranjak dari kursi dan menarik kaos Ericko. Lebam biru jelas tergambar disana.
"Emang ya, kalau udah cinta banget, mau sakit kayak apapun juga bakalan dilakuin. Udah diobati belum?" tanya Dilan sangat perhatian.
Ericko mengambil botol minum itu dan membalas pukulan Dilan bertubi-tubi. Rio yang melihat hal itu tertawa senang.
"Hei-hei-hei! Kalian itu seperti anak kecil! Ngapain sih?" seru Komandan Bambang.
"Tuh, Ndan. Punggung Erick lebam karena kena lemparan botol kaca, demi apa? Demi melindungi Fennita," terang Dilan.
Ericko berdecak, "Lo sekarang kayak paparazi ya, Lan? Kok sampai tahu mendetail banget!"
"Jelas! Intan kan tahu semua!"
Komandan Bambang menyela pembicaraan yang tidak ada manfaatnya itu. Rio beranjak dari kursinya menuju luar basecamp. Ada seseorang yang harus dia jemput. Orang yang nantinya akan membantu misi mereka.
Tak berselang lama, Rio datang bersama ketua KPU, Bang Yus. Mereka berjabat tangan dan sedikit bertukar kabar. Lalu membahas rencana yang akan datang. Bang Yus memaparkan jadwal yang akan dilakukan oleh KPU. Menjelaskan bahwa masa kampanye tinggal satu minggu lagi.
"Jadi besok Alex akan menjalani tes kesehatan di RS X. Tergantung dari hasil pemeriksaan itu dan penghitungan harta kekayaan, jika semuanya oke, dia pasti bisa maju," terang Bang Yus pada semuanya.
"Dia itu ambisius, Yus! Lihat saja nanti. Jika ada hasil yang memberatkannya pasti dia akan main uang! Pikirannya itu, ada duit semua beres. Semua-semua bisa dibeli dengan uang," jawab Komandan Bambang.
Bang Yus tertawa, "Perlu dikasih shock therapy dia, Bams!"
Ericko, Dilan, dan Rio tertawa mendengar komandannya dipanggil Bams. Seperti vokalis band Samsons saja.
"Mirip sama Bams Samsons, Kan?" tanya Komandan Bambang menaik turunkan alisnya dengan menyeringai lebar.
"Iya! Kalau dilihat dari dari lubang kancing!" jawab Bang Yus cepat.
__ADS_1
"Hish! Kau ini!" jawab Komandan Bams. "Aku ini dulu jadi pemenang lomba mirip Bams, lho!"
"Ck! Ngimpi! Mirip sama Pak dhe Marwoto!" bantah Bang Yus tidak terima.
Ericko dan yang lainnya semakin terpingkal-pingkal. Kenapa bisa mereka mendapatkan komandan yang selalu merasa dirinya terlalu tampan? Tapi, komandannya inilah yang selalu perhatian pada anak buahnya. Jika mereka kesulitan dalam misi, pasti dia datang membawa bantuan pecahan petunjuk.
Kalau ada anak buahnya dalam bahaya, pasti dibantu olehnya. Bawahannya patah hati juga dia tahu. Itulah keistimewaan si Bams. Selalu sayang dengan bawahannya, meski mengungkapkannya dengan cara yang aneh dan tidak biasa.
"Jadi, Rick, gimana rencanamu?" tanya Komandan Bambang.
Ericko bersedekap di depan dada, "Kita ikuti saja alur yang dimainkannya, nanti saat debat calon presiden adalah waktu pembalasan yang tepat untuk hal ini. Saya akan pastikan dia tidak akan bisa mengelak lagi! Ini janji saya!" ucap Ericko penuh ambisi.
Bang Yus, Komandan Bambang dan lainnya saling pandang tidak mengerti maksud ucapan Ericko. Dia tidak mengatakan dengan gamblang bagaimana caranya mengungkap kejahatan Alex Sanjaya.
"Bukan kita yang memaksanya mengaku di depan umum. Tapi dia akan mengakuinya sendiri," imbuh Ericko.
"Maksudnya gimana sih, Rick?" tanya Rio.
"Nanti dia sendiri yang akan mengaku di depan umum. Dia sendiri yang akan membongkar semua kebusukan yang telah dia lakukan. Mulai dari kasus hilangnya ahli waris sah keluarga Sanjaya, keterkaitannya dia dengan Red Fox dan kematian Kalena, pertemanannya dengan Zamroni, hingga penjualan organ yang dia lakukan bersama David. Dengan ikhlas dia akan mengungkapkannya sendiri. Aku hanya butuh alat yang bisa membuat dia ketakutan." Ericko tersenyum kejam membayangkan apa yang akan dia lakukan terhadap Alex nantinya.
"Sepertinya aku harus berkonsultasi dengan David dalam hal ini. Oh ya, Ndan, Satpam yang membocorkan rahasia tentang jati diriku apa sudah diproses atasan?" tanya Erick.
Komandan Bambang sampai lupa bahwa kemarkn, dia dan Zumarnis meninggalkan sesuatu di Jakarta. Kasus tentang satpam itu. Komandan Bambang menghubungi bawahannya, menanyakan tentang masalah itu. Betapa terkejutnya dia mengetahui fakta yang ada.
Satpam itu adalah mantan seorang snipper asal Singapura. Bawahannya mengatakan bahwa satpam itu memiliki dendam dengan Ericko. Namun, Komandan Bambang bingung, dendam apa? Karena setahu Komandan Bams, Ericko tidak pernah membuat masalah. Bawahannya juga tidak tahu soal itu. Penyelidikan terhadap satpam itu baru mencapai tahap awal.
Komandan Bambang mengatakan semua yang didengarnya. Ericko mengangguk paham, dia memang merasa bahwa satpam itu seperti menyembunyikan sesuatu.
"Apa ini ada hubungannya dengan misi kita yang lalu?" Rio mencoba mengaitkan misi terakhir mereka di Singapura.
"Ada yang punya foto satpam itu?" tanya Ericko.
Komandan Bambang membuka galeri foto di ponsel pintar miliknya. Kebiasaan yang selalu dilakukannya saat menangani kasus adalah memotret semua dokumen yang berhubungan dengan tersangka. Alasannya cukup masuk akal, karena bila dokumen yang asli hilang, dia masih punya salinannya.
Ericko melihat foto di ponsel komandannya. Dia menelengkan kepalanya ke kiri, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Kalau kecurigaanku benar, maka satpam itu adalah saudara dari pengawal yang kutembak. Mungkin kakak atau om dari pengawal itu?" ucap Ericko berhasil mengingat wajah pengawal yang ditembaknya di hotel.
__ADS_1
Dilan dan Rio mencoba mengingatnya, tapi ingatan mereka sangat tumpul. Mereka tak mampu membayangkan wajah pengawal yang sudah mati.
"Oke, biar diurus sama si anu, kau fokus saja sama Alex. Aku tidak mau gagal lagi lho, Rick. Jadi, pastikan rencanamu itu memiliki taraf keberhasilan 98 persen. Paham?" tanya Komandan Bambang.
"Siap, paham!"
"Hati gimana hati?" tanya Komandan Bams lagi.
Ericko memanyunkam bibirnya. "Ajur, Ndan! Remuk! Mamah Fennita nyuruh mundur pakai ngebut."
Dilan dan Rio memeluk sahabatnya itu. Saling merangkul dan berbagi kesedihan.
"Alhamdulillah, aku udah punya Naomi," ucap Rio.
"Aku juga bentar lagi punya Intan," imbuh Dilan.
"Alhamdulillah, teman kita masih jadi pemenang lomba dalam urusan patah hati!" ucap Rio dan Dilan kompak.
Komandan Bambang dan Bang Yus tertawa mendengarnya. Alih-alih ingin menghibur sahabatnya yang sedang bersedih karena patah hati, malah mengeluarkan ucapan yang menyayat hati. Nasibmu Rick, punya sahabat tidak punya akhlak begitu. Ada sahabat sedang sedih karena patah hati, ini malah dipameri pasangan masing-masing.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Jum'at berkah, jangan lupa sedekah! Tidak usah takut akan kekurangan harta, karena ada Yang Maha Kaya bersama kita.
Sugeng enjing, lur. Semangat Makaryo.
__ADS_1