Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Sandi Atbash


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Para tersangka kasus penjualan organ itu digelandang di kantor Polres. Penyidikan langsung dilakukan oleh pihak Polres. Ericko dan Rio hanya memantau dari cctv. Pria bercodet itu masih tak mau buka suara sedikitpun.


Kapolres Doni menyambangi Rio dan meminta maaf karena terlambat memberikan bantuan. Itu ia lakukan karena tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Dia juga ingin sekali kasus ini segera terungkap, tapi mengingat usaha anak buahnya yabg selalu gagal, membuatnya harus lebih berhati-hati dalam menentukan langkah ke depannya.


Rio menerima permintaan maaf itu. Dia juga meminta maaf karena telah berpikiran buruk pada Kapolres Doni. Berpikir bahwa pihak kepolisian tidak berada di pihak yang sama seperti mereka.


Hari pertama penyidikan mereka tak mendapatkan keterangan apapun dari pria bercodet yang diketahui namanya adalah David. Dia masih tidak mau buka mulut untuk membeberkan siapa yang menyuruhnya. Membuat para intel itu sedikit kehilangan kesabaran. Ericko dan kawanannya masih setia mengikuti proses penyidikan.


Ericko mencoba masuk dan bertatap muka dengan David. Duduk berhadapan dengannya dan membentuk kebisuan yang sempurna. Hanya dentingan jam berjalan memutar mengikuti porosnya yang terdengar disana.


"Apa kau mengenal, Kalena?" tanya Ericko.


David malah tertawa lebar mendengar pertanyaan Ericko. Kalena, gadis yang mati mengenaskan karena mengetahui sebuah rahasia besar. Dia diutus oleh seseorang untuk menghabisi nyawanya. Tawa David membuat Ericko ingin mencekik lawan bicaranya itu. Namun, pepatah pernah mengatakan, saat dirimu menghadapi orang pintar, kau harus lebih pintar darinya. Jika dirimu dihadapkan dengan orang bodoh kau harus lebih bodoh darinya. Dan jika yang dihadapanmu adalah orang gila maka kau harus lebih gila darinya.


Ericko menekan amarahnya agar mendapatkan titik terang kasus kematian Kalena. Dia diam dengan tangan menyilang di dada. Tatapannya lurus menuju mata David. Begitu pula dengan David, dia juga diam seribu bahasa. Tidak ingin membocorkan apapun tentang kematian Kalena.


Dilan yang berada di ruang kontrol melihat sesuatu yang aneh dengan David. Sedari tadi, jari-jari David yang berada di bawah meja bergerak dengan lincah. Dilan memperhatikannya dengan seksama, gerakan jari David berulang! Seperti membentuk sebuah clue untuk Ericko. Namun, sayangnya Ericko tidak menyadari hal itu. Atau mungkin ingin memberitahu yang sebenarnya tapi tidak bisa, karena takut ketahuan? Entahlah!


Dilan mengingat kata-kata bijak semenjak dia tergabung dalam BIN. Jangan pernah percaya 100% pada orang lain kecuali pada dirimu sendiri. Membuatnya berpikir, mungkin disini ada mata-mata sehingga David hanya memberikan gerakan jari sebagai kode.Dilan segera mencari pulpen dan kertas. Dia mulai duduk dengan posisi menutupi cctv di ruangan kontrol itu.


Kertas itu dia tumpangkan ke paha kakinya. Tangannya yang satu menyangga kepala dengan sedikit di miringkan. Tangan kanannya berada di bawah meja dan mulai mencatat gerakan jari David. Dilan hanya berharap, Ericko masih mau berlama-lamaan di dalam sana.


Setelah Dilan memastikan semuanya sudah dicatat, dia memberitahu Ericko agar keluar dari ruangan itu. Dilan juga segera meninggalkan ruang kontrol. Rio baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan Komandan Doni. Mereka segera berpamitan untuk pulang.


Dilan memberikan secarik kertas itu kepada Ericko. Membuat Rio dan Ericko mengernyit kebingungan. Dilan memberi kode untuk diam dengan meletakkan jari telunjukkan ke tengah bibir. Dilan menunjukkan sesuatu, mobil mereka dipasangi alat penyadap. Dia tahu karena cctvnya terhubung ke ponselnya.


"Habis ini rapel jatah, ah!" ucap Rio berpura-pura membuka obrolan agar tidak mencurigakan.


"Iya deh iya yang punya istri, kita mah jomblo ya, Lan?" sahut Ericko.

__ADS_1


"Dih, gue udah bakalan drop out dari dunia perjombloan kali! Kan ada Intan! Weeek ...."


Dilan dan Rio sama-sama tertawa. Membuat Ericko kesal.


"Sialan lo pada!"


"Hahaha, udah sih, Fenni kan ada!"


Ericko hanya terdiam ketika mendengar nama Fennita. Gadis yang selalu mencari perhatiannya itu adalah anak dari mantan bos Kalena. Apakah dia harus menggunakan Fennita untuk mengungkap kebenaran? Tapi itu bukan gayanya. Dia akan mencari tahu sendiri kebenarannya.


Ericko dan teman-temannya tidak kembali ke basecamp sementara mereka. Mereka masih curiga bahwa ada yang hendak membelot. Buktinya, mobil mereka dipasangi alat pelacak dan alat penyadap. Untung saja Dilan adalah ahli IT yang dapat diandalkan.


Dengan kepiawaian Dilan, alat penyadap itu berhasil dibuang. Sementara alat pelacak sudah diporakporandakan oleh Dilan dengan mengubah titik koordinatnya. Sekarang mereka memilih pergi ke hotel dan menginap disana. Lebih aman untuk membahas rencana mereka selanjutnya. Ericko memperhatikan gerakan tangan David yang berhasil Dilan gambar. Mempelajari dengan seksama kode itu.


"Ini sandi atbash. Dia merangkai kata menggunakan santi itu." Ericko segera mencari pulpen dan kertas untuk merangkai huruf itu lagi.


Setelah beberapa saat berkutat dengan kode itu, Ericko berhasil merangkai sebuah kata.


"Tuh, kan! Misi kita kali ini bakalan panjang. Kalian mikir nggak sih, kalau Komandan Bambang tahu akan kayak gimana akhirnya?" kata Rio cepat.


"Kita harus cari tahu siapa yang menyuruh David dalam hal ini dan tentang kematian Kalena. Ini pasti ada hubungannya. Lan, siapa yang masang alat pelacak dan penyadap di mobil kita?" tanya Ericko.


Dilan langsung melemparkan ponselnya ke arah Ericko. Menyuruh Ericko dan Rio melihat sendiri siapa pelakunya. Dia sudah lelah karena sedari tadi mengutak utik mainan itu. Dia memeluk guling empuk itu sambil tersenyum.


"Intan, ayok kencan dalam mimpi!" katanya langsung memejamkan mata. Tidak mempedulikan sorot mata kedua temannya.


Ericko dan Rio menertawakan tingkahnya. Setelah Dilan terlelap, Rio ikut merebahkan diri di samping Dilan. Tertinggal Ericko sendirian.


"Tidur, Rick!"


"Hmm ... duluan! Gue belum bisa tidur," terang Ericko.

__ADS_1


Dia membaca kembali pesan dari David yang berhasil diungkapnya.


***


Sementara di lain tempat, seseorang yang sangat disegani oleh anak buahnya mendapatkan berita tidak mengenakkan telinganya. Membuat amarah yang selama ini terkubur rapi bangkit kembali dan membakar semuanya. Pria itu melemparkan barang di sekitarnya ke tembok hingga remuk kehilangan bentuk aslinya.


"Dasar an*jing bodoh! Bisa-bisanya dia tertangkap!" ucapnya sarkas. Mencengkeram sisi meja dengan kuat karena marahnya yang meluap-luap.


"Bagaimana tindakan kita selanjutnya, Tuan?" tanya asisten pria itu.


"Bunuh dia, aku tidak mau tahu caranya bagaimana! Aku tidak membutuhkannya lagi!" titah pria itu pada sang asisten.


Asisten pria itu mengangguk dan segera pamit meninggalkan pria yang masih diliputi kemarahan itu.


"Aku harus segera menyusun rencana baru. Aku tidak mau usahaku untuk mencapai kekayaan abadi hancur karena satu kesalahan. Ya, aku harus segera melaksanakan rencanaku yang selanjutnya."


Pria itu berbicara sendiri dengan tatapan mematikan. Dingin dan sangat kejam, itulah tatapan yang tergambar dari netra coklat itu.


.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2