Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Red Fox


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Flash back On


Alex mendapatkan e-mail dari Red Fox, lalu dia menyuruh orang itu untuk merahasiakan hal itu dari Zamroni. Dia tidak mau kehilangan kesempatan emas hanya untuk berbagi dengan Zamroni.


Dia juga mendapat telepon langsung dari sahabatnya yang juga anggota Red Fox, yang berada di belahan negara lain. Dia bisa memastikan bahwa Zamroni tidak menerima e-mail itu.


Flash back Off


Setelah makan siang usai, Alex langsung kembali ke perusahaannya, Sanjaya Corp. Warisan leluhur keluarga Sanjaya, yang seharusnya tidak dimilikinya karena status Alex adalah anak angkat. Sekarang Alex yang menjadi penguasa gedung bertingkat itu. Dan dia akan tetap mempertahankannya sampai akhir hayatnya.


Singkat cerita, anak kandung dari pemilik Sanjaya Corp menghilang saat menangani bisnis di Singapura. Hilang tanpa jejak begitu saja, membuat Sanjaya harus segera mencari pengganti untuk ahli warisnya. Dan tentu saja, Alex yang mendapatkannya. Sejak saat itu dia mulai mengembangkan bisnis dan mengepakkan sayap di semua bidang. Termasuk yang ilegal.


Alex baru saja mendapatkan e-mail dari sebuah forum. Dia tersenyum senang dan memang berniat menyembunyikan berita itu dari Zamroni. Forum yang isinya adalah sindikat penjualan senjata secara ilegal. Alex adalah bagian dari anggota forum itu. Alex lebih dulu bergabung dan telah memiliki kartu identitas dari forum itu, sedangkan zamroni belum.


Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota tetap disana. Salah satunya adalah ikut dalam pertemuan forum selama enam kali dan berhasil menjual senjata selundupan sebanyak tiga ribu buah. Zamroni belum memenuhi syarat itu, jadi dirinya tidak bisa mengikuti forum jika tidak bersama Alex.


"Jangan sampai Zamroni tahu soal ini, senjata yang dilelang berjumlah sedikit tetapi harganya sungguh fantastis! Aku harus bisa mendapatkannya untuk mengeruk keuntungan yang lebih!" ucap Zamroni pada orang kepercayaannya.


"Lagi pula, bisnisku tentang penjualan organ sedang tidak stabil. David gagal mengelola bisnis menggiurkan itu. Hmm, siapkan segalanya. Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini." Alex tersenyum kejam sambil menatap jendela kaca ruangannya.


Orang kepercayaannya mengangguk dan pamit dari ruangan itu. Dia segera melaksanalan tugas dari tuannya. Seseorang yang Zamroni tanam dalam perusahaan Alex memberitahunya soal itu. Sehingga membuat Zamroni marah.


"David Anandito, akankah kamu hadir dan berjumpa lagi denganku? Aku ingin berjumpa denganmu, aku sudah merindukanmu. Aku tahu kamu belum mati, Ha-ha-ha."


Terdengar tawa kejam dari dalam ruangan itu. Membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya merinding.


***


Komandan Bambang dan para anak buahnya sudah berkumpul di basecamp. Mereka akan membahas tentang undangan forum Red Fox itu. David juga ikut mendengarkan rencanya yang mereka susun. Komandan sendiri yang memimpin jalannya rapat itu.


"Lan, seperti biasa siapkan peralatan yang diperlukan untuk misi kali ini," perintah Komandan Bambang.


Dilan menganga mendengar ucapan komandannya, selalu dia sendiri yang berpikir alat apa yang dibutuhkan. Padahal ini adalah pertama kalinya bagi mereka ikut forum itu. Jadi mereka belum memiliki gambaran sama sekali.


"Alatnya apa saja, Ndan?" tanya Dilan membuat kepala Komandannya berdenyut. Kenapa bisa dia memiliki anak buah yang lama sekali berpikirnya?


David hanya tersenyum kecut mendengarnya, melihat itu Komandan Bambang bertanya padanya.


"Kenapa? Kalau nggak mau bantu nggak usah disini!" seru Komandan Bambang.


"Kalau butuh bantuan, ngomong!" balas David.

__ADS_1


Ericko, Rio, dan Dilan hanya menyaksikan pemandangan itu. David akhirnya ikut duduk di samping Dilan.


"Aku akan menjelaskan mekanismenya. Jadi, check in anggota biasanya akan dilakukan sehari sebelumnya. Mereka mencocokkan wajah yang ada pada data mereka dan yang hadir saat itu. Setelah itu baru akan mendapatkan sebuah gawai. Gawai itu sudah disesuaikan dengan bahasa masing-masing anggota. Dimana nantinya, gawai itu akan kita gunakan sebagai alat pesan senjata ilegal itu.


Gawai itu akan menampilkan harga terendah, harga penawar, hingga final. Yang dilelang adalah senjata-senjata terbaru, perkiraanku Alex akan mengincar sebuah misil yang sangat terbatas jumlahnya. Aku yakin, karena harganya sangat fantastis, tapi mampu memberikan keuntungan maksimal baginya," jelas David sambil memperhatikan wajah mereka satu per satu.


Ericko memejamkan matanya sebentar, "Kita butuh alat yang bisa membuat penawaran hanya bisa dilakukan satu orang. Alias memblokir akses lainnya."


David mengangguk, "Lan, kamu harus bisa menciptakan alat yang dapat menyebarkan virus tanpa harus memprogram di gawai itu. Karena masing-masing gawai akan dipegang anggota masing-masing."


Dilan mengacak-acak rambutnya sendiri. Pusing dengan alat yang harus diciptakannya. Karena selama ini dia belum pernah membuat alat yang seperti itu.


"Siapkan juga dana untuk hal ini. Karena saat kalian menawar dan sudah deal, maka setelahnya kalian harus menyerahkan uangnya," jelas David lagi.


"Urusan duit udah disiapin sama camernya dia!" sahut Rio.


Ericko melemparkan bantal sofa ke arah Rio, "Camer gundulmu!"


"Lhah, emang iya, kan? Meskipun pura-pura? Eh, tapi gimana kalau jadi beneran ya? Ha-ha-ha. Judulnya sinetron yang cocok targetku, calon mertuaku!"


Dilan dan Rio langsung tertawa. Ericko membiarkan mereka tertawa hingga mendapat teguran dari Komandan Bambang.


"Rio, kau buat wajah palsu dari si kunyuk itu. Supaya nanti Erick bisa masuk ke forum itu." Komandan Bambang mengatakan hal itu dengan menunjuk wajah David.


"Siap!" jawab Rio.


Dia sudah kehilangan kesabarannya untuk menunggu kabar dari Fennita. Dengan cepat dia menghubungi nomor ponsel Fennita, tapi diabaikan seperti biasa.


"Hmm ..., susah banget sih dapat maaf dari kamu, Fen. Nggak kasihan apa sama aku?" celetuknya sambil melihat ponsel itu.


Dia mengetik pesan untuk Fennita.


Me : Sudah sampai rumah, belum?


Dia menunggu balasan dari Fennita. Harapannya semakin pupus karena tidak ada balasan dari Fennita. Dia kembali mengetik pesan.


Me : Yang


Tidak ada balasan lagi.


Dia menghembuskan napas kesal. Akhirnya dia menggunakan cara terakhirnya. Dia melacak koordinat Fennita lewat salah satu postingannya di media sosial. Dia melihat Fennita sedang berada di kafe.


"Di kafe? Sama siapa?"

__ADS_1


Dia mencoba menghubungi Fennita kembali. Tetap sama, tidak diangkat. Ericko merasa ada yang hilang dari diri Fennita. Gadis itu seperti tidak lagi peduli terhadapnya. Membuatnya sedikit kehilangan akan kehadiran Fennita dalam hidupnya.


Salah dia sendiri membuat hati gadis itu sakit. Salah dia sendiri tidak bisa menjaga ucapannya. Salah dia sendiri selalu mengabaikan kehadiran Fennita, sekarang gantian dia yang dibalas.


Seperti mendapatkan karma atas apa yang dilakukannya, sekarang otaknya sedang memikirkan Fennita.


Ngapain ke kafe?


Sama siapa dia di kafe?


Kenapa nggak balas pesanku satupun?


Apa aku harus menyusulnya?


Kalau dia makin marah gimana?


Tapi aku penasaran!


Begitulah kiranya pertanyaan yang muncul silih berganti di benak Ericko. Dia mencoba menghubungi Fennita kembali.


"Halo, Assalamualaikum," sapa suara wanita di ujung sana.


"Waalaikum salam, kemana aja sih? Ditelponin nggak diangkat-angkat!" jawab Ericko sambil marah-marah.


"Gak usah ngamuk-ngamuk! Lagi sama temen, udah kan? Aku mau balik!" ketus Fennita dari ujung telepon itu.


"Sama temen? Cewek atau cowok?"


"Emang kenapa? Kepo! Udah ya, aku mau balik!"


"Tunggu! Aku jemput kamu! Tungguin aku, jangan kemana-mana!"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Bau-bau gosong karena cemburu, nih!


__ADS_2