
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Sidang perdana Zamroni dan David atas kasus pembunuhan Kalena digelar. Seperti janjinya, Isnaeni dan Fennita akan mendampingi Zamroni saat persidangan. Disana juga ada Papah Kalena yang datang dari Bandung. Seperti janjinya, Papah Kalena tidak menuntut apapun. Keluarga sepakat bahwa menyerahkan ke pengadilan adalah keputusan yang tepat.
Jaksa penuntut umum menyuruh Zamroni dan David menceritakan apa yang telah mereka lakukan terhadap Kalena. Yang mengikuti persidangan itu, beberapa diantara mereka ada yang memojokkan David dan Zamroni. Hingga hakim harus menertibkan mereka. Sidang berjalan hampir dua jam. Keputusan akhir akan disampaikan tiga hari lagi dalam persidangan.
Zamroni dan David dibawa kembali ke dalam tahanan. Banyak yang mencibir ulah mereka. Mengatakan tidak punya hati, tidak pantas mendapatkan maaf dari keluarga korban, dan ada yang mengatakan bahwa seharusnya mereka mendapatkan hukuman mati. David dan Zamroni hanya diam tidak menanggapi apapun. Para wartawan yang sudah lapar akan berita, langsung mencecari mereka saat keluar dari pengadilan.
Hal yang serupa juga dialami oleh Isnaeni dan Fennita. Bahkan, mereka menerima perlakuan kasar dari masyarakat. Mendapatkan lemparan batu yang tepat mengenai kening Isnaeni. Ericko ingin menolong, tapi teringat akan percakapan terakhir di telepon, akhirnya Rio yang membawa tantenya ke klinik untuk diobati dan Ericko menertibkan pelaku yang melempar batu itu.
Menyesakkan memang, bisa melihat tanpa dapat bertegur sapa. Sakit yang tak berdarah. Dia hanya ingin menghormati keinginan Isnaeni. Sampai rumahpun, Isnaeni dan Fennita mendapatkan hal yang makin tidak mengenakkan. Warga tempat tinggal sementaranya itu menginginkan mereka untuk angkat kaki dari rumah itu. Alasannya adalah karena tidak ingin Isnaeni dan Fennita membawa dampak buruk untuk lingkungan itu.
Rio sampai harus bersitegang demi membela tante dan sepupu iparnya itu. Namun, Isnaeni menghentikan aksi Rio.
"Kita mengalah saja, Tante akan bereskan barang-barang dulu. Fen, kamu bereskan milik kamu, Nak." Isnaeni tidak ingin didebat. Beranjak ke kamar dan mulai membereskan barang-barangnya. Dia menghubungi seseorang, entah siapa.
Fennita memeluk mamahnya dari belakang, "Mah, kita mau tinggal dimana?"
Isnaeni menoleh dan tersenyum, "Dimana saja, asalkan kita tetap berdua, Fen. Beginilah nasib orang yang tidak diinginkan, sudahlah, tidak perlu dibahas. Kita temui papah sebentar untuk pamit. Lalu kita keluar dari kota ini."
"Kita mau kemana, Mah?"
Isnaeni menggeleng, dia juga belum tahu akan melangkahkan kaki kemana. Dia masih memiliki bayangan akan kembali kemana, tapi dia juga takut akan adanya penolakan. Dan yang jelas, dia sudah tidak bisa bertahan di Jakarta karena desakan dari warga yang menyuruhnya pergi.
"Beresin saja dulu. Kita pikirkan nanti."
Fennita mengangguk menuruti keinginan mamahnya. Dia segera membereskan barangnya dan menemui Rio.
"Kalian tinggal di rumahku saja, atau ke rumah mamah. Disana lebih aman," kata Erick.
"Tergantung mamah, Bang."
"Kamu ..., sama Erick ..., gimana?" tanya Rio pelan dan hati-hati.
__ADS_1
Fennita tersenyum sedih mengingat nasib percintaannya. Sekalinya jatuh cinta, malah mendapatkan kenangan yang nano-nano rasanya.
"Tolong sampaikan maaf ke dia, Bang. Maaf mamah ngomongnya kasar."
"Kamu sendiri gimana? Masih cinta sama dia?" desak Rio.
Belum sampai Fennita menjawab, Isnaeni sudah muncul dari kamarnya. Mereka menghentikan pembicaraan itu. Meninggalkan rumah dan menitipkan kunci ke Rio.
"Bilang ke mamah terima kasih, maaf merepotkan, dan sampai jumpa lagi jika masih ada kesempatan," ucap Isnaeni sambil memegang bahu Rio.
"Lhoh, Tante Is sama Fenni ke rumah Rio aja, atau ke rumah mamah, deh," balas Rio mulai khawatir karena tantenya mengucapkan salam perpisahan.
Isnaeni menggeleng. "Kami sudah tidak ingin lagi merepotkan keluarga kalian. Rio bisa tolong antar Tante ke om Zam? Kami ingin menemuinya sebentar."
Rio mengangguk, dia mau mengantarkan tantenya karena berharap masih punya waktu untuk mencegah kepergian tantenya. Akhirnya mereka menuju rutan X. Bertemu dengan Zamroni sebentar. Saat yang tepat untuk Rio memberitahu mertuanya.
"Lalu kamu mau pergi kemana, Mah?" tanya Zamroni.
Isnaeni menggeleng, "Belum tahu, Pah."
"Sudah Pah, jangan sedih. Mungkin, Mamah tidak bisa mendampingi sidang Papah berikutnya. Papah jaga kesehatan ya? Mamah akan kesini setiap sebulan sekali. Dan menghubungi Papah tiap dua minggu sekali. Nggak papa, kan?"
Zamroni memegang tangan istrinya, "Terima kasih, jaga diri kalian juga. Fen, jagain Mamah ya, Nak?"
"Siap, Bos!" Mereka tertawa kecil karena hal itu.
Isnaeni dan Fennita menolak diantarkan Rio. Sedangkan Zumarnis sedang terjebak macet. Hingga akhirnya, Rio tidak dapat mencegah kepergian mereka. Dia hanya mengikuti taksi yang ditumpangi oleh tantenya. Mereka sampai di bandara. Rio memberitahu mertuanya lokasinya saat ini.
Kesempatan bagi Isnaeni untuk menghilang dari Rio. Membuat pria itu kehilangan jejak. Isnaeni dan Fennita segera keluar lagi dari bandara menuju terminal bus. Entah kemana tujuan mereka, yang ada di kepala Isnaeni adalah tidak merepotkan saudara iparnya terus menerus.
Isnaeni langsung membeli tiket bus menuju Yogyakarta. Fennita mengernyitkan dahinya, memang mamahnya punya sanak saudara disana? Mengapa tujuannya Yogyakarta?
"Mah, kita mau ke Jogja?" tanyanya.
__ADS_1
Isnaeni tersenyum dan membelai rambutnya, "Kita turun di Jogja, ganti bis menuju Magelang."
"Kita sebenarnya mau kemana, sih?"
Isnaeni sudah selesai membeli tiket dan segera naik ke bus. "Mamah sudah tidak ingin merepotkan bibimu. Kita harus bisa mandiri, Nak. Kita akan tinggal di desa, yang jauh lebih bisa menerima kita, mungkin."
"Ya tapi, apa Mamah punya saudara disana?" tanya Fennita lagi.
"Kakekmu itu asli Magelang. Saudara kakek masih ada yang disana. Mamah masih punya uang untuk nanti mengontrak rumah ataupun membelinya. Harga di desa pasti jauh lebih murah."
Isnaeni dan Fennita sudah berada di dalam bus. Mereka akan menuju Magelang. Menata kembali hidup mereka disana. Mencari kedamaian dalam hidup bermasyarakat. Isnaeni mematikan ponselnya. Dia juga menyuruh Fennita melakukannya. Takut jika nanti bisa dilacak oleh ipar ataupun keponakannya.
Bus berangkat pukul empat sore, dan sekarang masih kurang setengah jam. Membuat Isnaeni harap-harap cemas bisa ditemukan oleh iparnya. Dia berharap tidak ada yang mencari kepergiannya.
Tinggal sepuluh menit lagi, bus mereka akan berangkat. Penumpang dengan tujuan kota yang sama sudah naik dan duduk dengan rapi di kursi mereka masing-masing. Benar dugaan Isnaeni, keponakan dan iparnya itu sangat gigih dalam hal mencari. Padahal dia sudah mengecohnya mati-matian. Tapi kenapa Rio dan Zumarnis bisa ada di terminal? Apakah dia kurang handal dalam hal bersembunyi?
Isnaeni bisa melihat Rio berlari menuju salah satu bus. Zumarnis juga berlari kecil menuju bus jurusan Bandung. Dia berdo'a dalam hati agar tidak ketahuan. Sopir bus sudah mulai memanaskan mesin bus, kernet bus mulai menyuruh penumpang yang masih di luar agar segera masuk karena bus akan segera berangkat menuju kota tujuan.
Rio dan Zumarnis masih belum menemukan Isnaeni dan Fennita.
"Fix di bus jurusan Bandung nggak ada, Mah! Apa mungkin mereka tidak menuju Sukabumi?"
Zumarnis tersadar akan sesuatu, "Cari bus menuju Semarang dan Jogja, Yo!"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip