
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Naomi dan Intan meminta izin kepada Isnaeni agar Fennita diperbolehkan untuk ikut naik Gunung Sumbing. Isnaeni mengembalikan keputusan pada anaknya.
"Gue nggak punya peralatan naik gunung," ungkap Fennita.
"Udah kami siapin!" jawab Rio, Dilan, Naomi, dan Intan bersamaan. Erick sampai tersedak mendengar kekompakan mereka. Jadi ternyata carrier bag itu akan diberikan ke Fenni?
"Gue izin dulu sama sepupu gue yang dokter," kata Fennita mengungkapkan alasannya lagi.
"Biar nanti Mamah yang bilang ke Qory," jawab Isnaeni.
"Tapi nanti Mamah gimana? Nggak ada yang bantu merawat Mbah Am."
Qory datang mengucapkan salam. Membuat semua menjawab dan menoleh. Isnaeni menjawab kegundahan hati Fennita.
"Ikut sama mereka, Fen. Mamah bisa dibantu sama Qory, kok. Iya kan, Ry?" tanya Isnaeni sembari mengedipkan sebelah matanya.
Qory yang baru saja datang hanya menjawab dengam bingung dan terbata-bata. Ericko menyela pembicaraan yang ada. Dia butuh ke toilet. Isnaeni menyuruh Fennita menunjukkan jalannya.
"Kok Fenni lagi sih, Mah?" keluh Fennita yang merasa seperti diberikan kesempatan untuk berdua dengan Erick.
"Tunjukkan saja jalannya kalau kamu nggak mau nganterin," ucap Erick sedikit kecewa dengan sikap Fennita. Apakah dia tidak senang bertemu dengannya?
Akhirnya dengan berat hati Fennita mengantarkannya. Bukan apa-apa, dia belum siap berdua saja dengan Erick. Hari yang sungguh sangat mengejutkan dan dia belum ada perbekalan untuk bertahan dari badai rindu. Saat melewati kamar Mbah Am, Fennita dipanggil. Dia menyuruh Erick untuk belok ke kanan dan mencari sendiri toiletnya. Tak berselang lama, Erick kembali melintasi kamar Mbah Am. Melihat Fennita begitu sabar dan lembut dalam memperlakukan neneknya, membuatnya tersenyum.
Dia mengamati hal itu hingga tidak sadar bahwa Mbah Am melihatnya. Dia dipanggil masuk ke dalam kamar. Seperti biasa, Erick akan menyalami seseorang yang lebih tua darinya dengan penuh hormat dan sikap tunduk. Ternyata bukan hanya Mbah Am yang disana, ada Mbah Jum yang sedang menumbuk daun seledri agar bisa digunakan sebagai obat penurun tensi. Mbah Am dan Mbah Jum lebih senang meminum obat dari bahan alam.
"Sopo iki jenenge, Fen?" tanya Mbah Am. (Siapa ini namanya, Fen?)"
Fennita menjadi perantara perkenalan para neneknya dan Ericko.
"Erick, Mbah. Mbah e gerah nopo?" jawab Erick memakai bahasa jawa. (Erick, Nek. Nenek sakit apa?)
Mbah Jum dan Mbah Am tersenyum senang mengetahui siapa yang datang. "Oalah, iki to sing jenenge Erick? Sing gawe putune Simbah nangis amergo kangen?" ucap Mbah Jum yang berhasil membuat pipi Fennita merona merah. (Oalah, ini toh yang namanya Erick? Yang membuat cucunya Nenek nangis karena rindu?)
__ADS_1
Erick menatap Fennita, seakan meminta jawaban. Fennita memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa malu karena ucapan Mbah Am. "Fenni nangis karena Erick, Mbah?" tanya Erick sambil terus menatap Fenni.
"Iya! Ternyata yang ditangisi seganteng ini. Kalau tahu seganteng ini, mamahnya Fenni tak suruh nikahkan dari dulu! Bukan malah melarangnya!" jawab Mbah Jum.
Erick tertawa mendengar hal itu. "Mbah Am, gerah nopo?" (Mbah Am, sakit apa?)
Mbah Am dan Mbah Jum yang masih terpesona oleh wajah tampan Erick tidak menggubris pertanyaannya. Hingga Fennita mengulangi pertanyaan Erick.
"Ganteng yo, Yu Jum. Gagah! Mbah e darah tinggi, hipersensi!" jawab Mbah Am. (Ganteng ya, Mbak Jum. Gagah! Nenek darah tinggi, hipersensi!)
Fennita berdecak karena Mbah Am salah sebut. "Hipertensi, Mbah."
"Kalau hipersensi tuh dia Mbah, cucu Mbah kalau dekat sama Erick bawaannya sensi alias uring-uringannya kelewatan." Ericko melirik wajah Fennita.
"Ya itu, lah. Wes madhang, Nang? Nek durung ayo ndang madhang. Pengen lawuh opo? Golekno lawuh, Fen!" perintah Mbah Am.
(Ya itu, lah. Sudah makan, Nak? Kalau belum ayo cepetan makan. Pengen lauk apa? Carikan lauk, Fen!)
Erick tersenyum. Dia mengatakan bahwa sudah makan. Senang sekali dia bisa diterima di tengah-tengah keluarga Fennita. Dia berharap semoga Mbah Am segera sembuh. Berpesan kepada Mbah Jum agar menjaga kesehatan.
"Iyo, Simbah jogo kesehatan. Kapan mriki maneh kaleh keluarga Nang, Erick?" tanya Mbah Jum menggoda Erick. Fennita mengingatkan batasan Mbah Jum.
Erick melihat ke arah wajah Fennita sebentar. Lalu menjawab dengan penuh keyakinan, "Seminggu malih, Mbah. Nyuwun tulung, Fennita dijogo kagem Erick. Ampun enten piyayi kakung nyedaki piyambakipun."
(Seminggu lagi, Mbah. Minta tolong, Fennita dijaga untuk Erick. Jangan sampai ada lelaki mendekatinya.)
"Mas ...," rengek Fennita meminta Erick menghentikan ucapannya
Hati Fennita sedang berbunga. Ucapan Erick selalu saja mampu membuatnya melayang di udara. Mbah Jum dan Mbah Am menunggu janji Erick. Fennita menarik kaos Erick agar segera keluar dari kamar.
"Apa?" jawab Ericko dengan pertanyaan.
"Nggak usah ngasih harapan yang terlalu sulit untuk diwujudkan terhadap orang tua." Fennita mengatakannya dengan menggeram.
"Siapa yang ngasih harapan sih? Mas beneran lho ngomong begitu." Erick tidak mau kalah berdebat dengan Fennita.
__ADS_1
Mbah Jum dan Mbah Am menjadi penonton untuk mereka berdua. Mereka tertawa cekikikan melihat perseteruan berbau romantis itu. Seakan sedang nonton sinetron, mereka terhanyut akan dialog Erick dan Fennita. Yang diperhatikan tidak sadar bahwa mereka jadi bahan tontonan.
"Sana, sana, sana, keluar!" usir Fennita.
Mbah Jum dan Mbah Am tidak setuju jika Fennita bersikap seperti itu kepada tamu. Mereka memperingatkannya, harus lebih halus terhadap tamu apalagi itu seorang pria. Karena bagaimanapun seorang wanita harus tetap menghormati pria. Fennita mengulangi permintaannya agar Erick meninggalkan kamar neneknya dengan sopan. Tujuan Fennita melakukan hal itu agar ceramah Mbah Jum dan Mbah Am berhenti.
"Apa sih? Aku masih pengen ngobrol lho sama simbah," kata Ericko.
"Mau ngomong apa lagi sih, Mas?" geram Fennita dengan suara sehalus sutra. Fennita menggiringnya keluar.
"Mas kan pengen lebih dekat sama simbah, Yang!" goda Erick yang berhasil membuat Fennita tersipu malu.
Fennita mencebik ucapan Erick. Dia tetap menggiring Erick keluar dari kamar itu dan memperingatkannya agar tidak memanggilnya dengan sebutan itu. Sudah lama sekali dia tidak mendengar sebutan itu. Sungguh, Erick telah berhasil mengobrak abrik benteng pertahanan hatinya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Mas!" Fennita menatapnya tajam.
Erick menghela napasnya. Dia berniat bercanda, tapi malah membuat hati Fennita marah. Dia mencoba meminta maaf pada Fennita.
"Oke, maaf, Fen. Bukan maksud Mas ...," ucapan Erick dipotong begitu saja oleh Fennita.
"Udah sih, sana gabung lagi sama yang lain!" ucap Fennita dengan wajah kesal.
Erick melaporkannya pada Mbah Jum dan Mbah Am. Dia mengadu layaknya anak kecil yang dimarahi oleh ibunya. Meminta perlindungan dari orang yang lebih sayang padanya. Fennita membungkam mulutnya. Menarik kaos Ericko dan menyeret langkah Erick menuju kawan-kawannya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Lunas yaaa