
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Zumarnis memberikan wejangan pada Fennita agar menjadi wanita yang lebih anggun di hadapan Ericko. Menurutnya, keponakannya satu itu terlalu mencolok mengejar-ngejar Ericko. Membuar Ericko menjadi risih dengannya.
Zumarnis berpesan agar lebih kalem. Harus bisa menjaga dan mengendalikan sikap saat bersama Ericko. Dianggap sok jual mahal juga terserah, biar Ericko tidak risih dengannya. Fennita mendengarkan dengan seksama semua arahan bibinya itu.
Pukul sepuluh pagi, mereka berjanji bertemu di salah satu restoran dengan gaya khas negeri sakura. Suasana Jepang nampak terasa saat memasuki area restoran. Bunga sakura berwarna pink yang ada di halaman, pakaian pramusaji yang bertugas, sampai detail desain interiorpun menyerupai rumah orang Jepang.
"Ingat ya Fen yang tadi Bibi bilang, kalem. Oke?" kata Zumarnis.
"Siap, Bi!" jawab Fennita cengengesan.
"Ya sudah, kamu tunggu dulu disini. Bibi mau ketemu sama temen Bibi dulu."
Fennita mengangguk. Zumarnis segera keluar untuk bertemu dengan seseorang. Teman lama yang masih sering dia hubungi dan temui. Mereka sudah janjian di restoran itu untuk membahas sesuatu.
Tidak lama orang yang ditunggunya datang bersama seorang pemuda tampan. Wajahnya agak pucat karena sedang tidak enak badan. Zumarnis mengirim pesan untuk menemuinya di meja nomor lima. Tetapi pria itu menolak, dia melihat ada yang mencurigakan.
Beruang Lucu : Lihat arah jam sebelas dan arah jam tiga. Mereka mencurigakan. Segera pindah ke ruang VIP nomor delapan.
Begitulah isi pesan yang masuk ke ponsel Zumarnis. Siapa sebenarnya Zumarnis ini? Kenapa yang mengirim pesan padanya adalah beruang lucu? Bukankah beruang lucu itu nama samaran Komandan Bambang?
Komandan Bambang bersama Ericko sudah berada di sebuah ruangan VIP nomor delapan. Seorang wanita yang usianya hampir sama seperti Komandan Bambang memasuki ruangan itu. Ericko sampai melongo melihat siapa yang datang.
Tante Zumarnis, mertua Rio, kakak dari Zamroni Malik, sedang berada di tengah-tengah antara dirinya dan Komandan Bambang.
"Agen M?" tanya Ericko menoleh pada komandannya.
"Yup! Cerdas sekali sih ganteng!" terang Tante Mar.
Zumarnis, adalah seorang agen hantu angkatan pertama. Sering satu misi dengan beruang lucu alias Komandan serta liliput atau kita kenal dengan David.
"Rick, tolong jaga rahasia ini. Rio dan Naomi tidak boleh tahu siapa tante. Paham?"
Ericko mengangguk. Tante Mar memberikan sebuah rekaman yang merekam dengan jelas kejadian sewaktu Alex dan Zamroni bertemu. Dia mendengarkannya dengan seksama.
"Itu percakapan antara Zamroni dan Alex," tutur Zunarnis. Tangan Ericko bergetar saat akan memutarnya, dia membaca basmallah perlahan dan memutar rekaman itu.
"Aku akan mencari dukungan yang besar untukmu, tapi saat nanti kamu terpilih, kamu harus mengikuti semua instruksiku. Aku ingin kamu melegalkan perdagangan organ," kata seorang lelaki pertama yang diyakini Ericko itu adalah Alex.
"Baiklah, aku setuju akan hal itu. Aku juga akan memperjualbelikan aset negara. Nanti hasilnya kita bagi dua. Setuju?" jawab pria yang satunya. Ericko mengira itu adalah suara Zamroni.
"Sedang apa kamu disana, Len? Apa kamu menguping pembicaraan kami?"
"Eee ... anu ..." jawab suara seorang perempuan yang begitu familiar di telinga Ericko. Ya itu adalah suara Kalena.
"Ada apa, Len? Apakah ada sesuatu yang urgent? Ada sesuatu yang harus kamu sampaikan kepada atasanmu?" kini suara Alex terdengar kembali.
"Ss ... saya ingin ... "
"Apa kamu mendengar apa yang kami diskusikan, Len?" tanya Zamroni memotong ucapan Kalena.
"Pulanglah Len, terlalu larut jika kamu menunggu kami. Saya dan bos mu masih ingin berlama-lama disini," terang Alex seakan tahu apa yang ingin Kalena sampaikan.
"Bagaimana kalau dia macam-macam, Lex?" tanya Zamroni.
__ADS_1
"Tenanglah kawan, dia tak akan berani membeberkannya!"
"Bagaimana dengan pencalonanku nantinya, Lex? Aku tetap gusar. Aku takut rencana kita porak poranda,"
"Hmm ... lakukanlah sesuatu jika memang dia mulai mengancam rencana kita, Zam. Sudahlah, kita cukupkan saja ngobrol kita. Pulanglah dan tenangkan dirimu. Istrimu pasti senang menyambutmu."
"Oke, bantu aku melakukannya kalau aku mengalami kesulitan!"
"Iya, tenang saja. Oh ya bagaimana kabar, Fennita?"
Terfengar suara Zamroni twrtawa.
"Kenapa? Masih niat untuk menjodohkan Fennita dengan Dion?"
"Tentu saja, dua perusahaan besar akan bersatu menjadi satu? Bukankan itu akan menjadikan terobosan yang luar biasa?"
"Baiklah, kalau begitu. Kita atur nanti bagaimana baiknya."
Rekaman itu berakhir, Ericko mengepalakan tangannya tanda menahana amarahnya. Mengetahui kenyataan bahwa Alex dan Zamroni memang merencanakan sesuatu yang buruk, baik itu kepada Kalena maupun kepada negara.
Zumarnis memutarkan rekaman yang kedua. Saat dimana Kalena mengundurkan diri dari kantor Malik Grup.
"Kopi saya mana, Len?" tanya Zamroni.
"Oh, mungkin baru dibuatkan OB pak, coba nanti saya konfirmasi lagi," jawab Kalena.
"Terus kenapa laporannya hanya kamu peluk, begitu? Atau kamu mau saya peluk?"
"Saya ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini, Pak."
"Halo, Liliput! Lakukan tugasmu! Bunuh gadis bernama Kalena. Ikuti dia dan buat seolah-olah dia memang bunuh diri. Aku menyewamu dari Alex Sanjaya, bayaranmu akan aku transfer setelah kau berhasil mengirimkan bukti bahwa dia telah mati!"
Rekaman kedua telah berakhir. Ericko sudah mulai tidak bisa menahan amarahnya. Wajahnya menjadi merah karena mendengarkan kenyataan yang tersembunyi. Komandan Bambang memberikan air kepadanya.
"Tenangkan dirimu kalau kau masih ingin misi ini selesai," ucap Tante Mar.
"Kenapa mereka tidak langsung ditangkap?" tanya Ericko.
"Tidak semudah itu menangkap mereka. Mereka akan mudah kabur. Tujuan dari kamu berpura-pura menjadi tunangan Fennita adalah agar kamu bisa memberikan kami informasi segala sesuatu tentang Zamroni dan Alex. Kita pecah dulu persahabatan mereka." terang Komandan Bambang.
"Ya sudah, ayo kita temui Fennita. Kasihan dia terlalu lama menunggu." Zumarnis dan Ericko hendak melangkah.
"Eh, kita itu baru saja ketemu lho. Nggak mau minta tanda tangan Daniel Craig?" tanya Komandan Bambang.
Zumarnis tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Ericko menahan tawanya sekuat tenaga.
"Mukamu itu nggak ada mirip-miripnya sama Daniel Craig! Kamu mah kudanil!" balas Zumarnis.
Tawa Ericko meledak ketika mendengar Zumarnis memanggil komandannya kudanil. Membuat Komandan Bambang sedih dan menirukan cara jalan kudanil.
"Dah lah, kudanil mau balik kandang dulu! Hei Ratu Dugong, aku serahkan Elang Jawa untuk bertemu dengan Sakura. Katakan padanya bahwa ini hanya hubungan palsu. Bye! Tapi kalau mau beneran, serahkan saja sama hati mereka masing-masing! Hahaha. Awas kudanil lewat, kudanil lewat!"
Zumarnis dan Ericko semakin tertawa melihat komandannya berjalan. Sampai keluar dari ruangan itu, dan berjalan normal. Komandan Bambang mengamati sekitar dan melihat dua orang yang dicurigainya sebagai mata-mata masih duduk disana sambil waspada.
"Muleh! Muleh! Ora bakalan intuk informasi opo-opo nek kerjamu ngono iku! (Pulang! Pulang! Nggak bakalan dapat informasi apa-apa kalau kerjamu begitu!)" sindir Komandan Bambang dan berlalu meninggalkan restoran.
__ADS_1
Ericko dan Zumarnis menuju ruang VIP nomor satu. Letaknya ada di paling ujung. Dadanya tiba-tiba berdebar tidak karuan. Napasnya tiba-tiba seperti orang sesak. Dia segera menyembunyikan respon tubuhnya, malu jika terlihat oleh Zumarnis.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Teka tekinya kebongkar semua ya hehehe. oke othor akan umumkan 5 orang pemenang yang beruntung pada give away kali ini.
Hadiah sudah dikirimkan ke alamat kalian masing-masing.
Siti Masriha
Diniari Sulistyowati
Badriyah
Nurul Mawaddah
Safitri Khairunnisa
Selamaaaat.
__ADS_1
Give away berikutnya nanti kalo novel ini tamat dan ada novel baru. Khusus buat pengikut setia cerita othor dari awal