
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Ericko sudah ditunggu oleh Komandan Bambang, Rio, dan juga Dilan. Mereka akan membahas ide yang baru saja didapatkan oleh Erick. Mereka duduk saling berhadapan di meja makan. Menampilkan wajah paling serius.
Erick menceritakan pertemuannya dengan David. Membuat mereka semakin penasaran dengan isi ide itu. Erick mengungkapkan tentang kematian, dan dia akan memancing hal itu untuk menakuti Alex. Bagaimana caranya?
"Kita buat dia ketakutan dengan kematian. Hadapkan saja dia pada hal itu. Pasti nanti dia akan sangat ketakutan. Yo, Lan, gue butuh bantuan kalian untuk merancang sebuah teknologi yang canggih. Tolong rakitkan gue sebuah bom dengan bentuk microphone. Barang itu nantinya yang akan gue gunakan untuk menakuti si Alex," jelas Ericko mengungkapkan rencananya.
"Bom mini maksud, lo? Tapi daya ledaknya kecil, Rick. Paling beberapa anggota tubuh yang hancur." Rio menjelaskan pengetahuannya tentang bom.
Komandan Bambang tidak setuju dengan ide bawahannya. Dia ingin mengadili Alex seperti Zamroni dan David. Jadi, dia tidak ingin Alex terluka, bahkan sampai meninggal. Dia mencoba bernegosiasi dengan Ericko, agar bisa menemukan sebuah cara yang agar tidak sampai membuat target terbunuh.
Kepala Ericko kembali berdenyut. Bagaimana tidak? Baru saja dia menemukan sebuah cara untuk menangkap Alex, malah disuruh mengubahnya lagi. Komandannya ini memang suka sekali membuat dia pusing. Dilan dan Rio tinggal mengikuti instruksi Erick, jika idenya lanjut maka mereka akan mulai bekerja.
Komandan Bambang mendapatkan telepon dari seseorang. Menyuruhnya untuk segera kembali ke kantor. Ada hal penting yang harus disampaikan Ketua BIN kepadanya. Dia menyerahkan rencana itu kepada Erick. Dia menyetujui apapun asal tidak sampai membuat target meninggal.
"Enak banget jadi komandan, tinggal nyuruh doang! Kepalaku hampir pecah mikir caranya, dengan gampang dia bilang nggak setuju. Bantuin mikir, kek!" ucap Erick kesal.
"Siapa? Kami? Bantuin lo mikir? Nggak ah! Males! Kepala gue isinya cuma Intan aja! Kabarin kalau udah fix rencananya." Dilan beranjak dan menuju kamarnya.
Begitu juga dengan Rio, "Gue balik dulu, adik gue bangun, Rick! Bisa berabe kalau nggak segera ketemu pujaannya. Lo pasti bisa nemuin caranya, gue pokoknya bakal semangatin lo terus! Semangat! Gue pamit, assalamu'alaikum!"
Rio secepat kilat menghilang ketika pintu tertutup. Membuat Ericko semakin kesal. Itulah kawannya, selalu menyerahkan perencanaan strategi yang susah kepadanya. Sama seperti komandan!
Dia memutar otaknya kembali, mencoba mencari cara lain. Bukannya menemukan ide lain, malah wajah Fennita dengan berbagai ekspresi lewat lalu lalang di depannya.
"Ya Allah ..., astaghfirullahal 'adzim ..., kenapa wajahmu selalu membayangi pikiranku? Bantuin Mas dong, Fen. Munculnya nanti malam aja, ya? Kita ketemuan di alam mimpi, sekarang Mas kerja dulu. Oke?" kata Erick berbicara sendiri.
Dilan yang berada di ambang pintu mengernyit heran. Sudah tidak waraskah sahabatnya itu? Lalu dia berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Ericko ketus.
"Nggak! Nggak papa, sekarang peningkatan kemampuan pacaran lo hebat ya? Malah jadi ngomong sendiri. Ih, ngeri!"
Dilan berbalik meninggalkan Ericko. Membuat Ericko mengeluarkan kata umpatan kepada Dilan. Dia perlu tempat yang sepi dan tenang agar bisa mendapatkan ide itu. Akhirnya dia turun ke bawah basecamp. Tempat dimana semua peralatan mereka ada disana. Menyentuhnya perlahan dan duduk di salah satu kursi.
Menghirup napas dalam-dalam dan mengulanginya beberapa kali. Dia mulai berpikir cara yang diminta oleh Komandan Bambang. Satu jam, dia masih belum mendapatkan apapun. Dua jam, dia mulai mengambil kertas kosong dan pulpen. Tapi tidak menulis apapun disana.
Tiba-tiba saja memasuki tiga jam dia mendapatkan ide itu. Dia menepuk jidatnya dengan keras. Bagaimana otaknya bisa setumpul itu sekarang? Apa karena kelakuan bucin itu membuat otaknya setumpul lututnya?
Tinggal diakali saja idenya tadi. Buat seolah-olah itu adalah bom sungguhan. Dia segera menghubungi Rio. Tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk menunda ide itu. Sayang sekali panggilannya mendapat penolakan. Dia mencobanya lagi, tapi tetap mendapatkan penolakan.
Erick baru teringat akan ucapan Rio. Adiknya bangun dan harus segera bertemu dengan pujaannya. Dia baru paham dengan maksud Rio. Itulah resikonya berkawan dengan pria beristri. Tidak bisa diganggu gugat ketika sang adik bangun dan minta bertemu idamannya.
"Dasar! Enak sekali dia! Lhah, aku? Mendam rindu iya! Nggak bisa ketemu iya! Tahu dia ada dimana aja, nggak! Bukan maen! Au ah! Tidur!"
Ericko segera pergi ke kamarnya dan mengiatirahatkan otak dan hatinya. Sepertinya dia akan meminta cuti setelah misi selesai mengikuti ucapan David.
Fennita dan Isnaeni sepakat untuk mengganti nomor ponsel mereka. Bukan apa-apa, saat ini mereka hanya ingin menepi dan mencari kedamaian. Fennita menjalani hari-harinya dengan kesederhanaan. Dia bukan lagi gadis yang bergelimang harta. Dia sekarang menjadi gadis biasa yang harus terbiasa dengan keadaan prihatin. Jika dulu dia sering lupa melaksanakan salat, maka kini berbalik. Dia akan dibangunkan oleh mamahnya ketika kumandang adzan terdengar.
Jungkir balik kehidupan Fennita, dari anak manja yang tidak tahu urusan dapur dan kini dia harus ikut bergelut di dapur. Mbah Jum dan Mbah Am membantu Isnaeni berjualan bakso dan mie ayam. Karena berada di daerah pegunungan, membuat mereka sedikit kesulitan berbelanja daging. Isnaeni harus turun ke bawah dan menuju pasar untuk bisa mendapatkan daging.
Fennita memperhatikan cara membuat adonan mie yang dajarkan oleh Mbah Am. Karena dia tidak pernah memegang alat dapur, membuatnya sedikit canggung. Mbah Am dan Mbah Jum sampai menertawakannya.
Ini adalah hari pertama Isnaeni akan membuka warung. Dia tidak membuat porsi banyak, karena baru permulaan. Fennita pukul tujuh sudah berada di tempat praktik Qory untuk belajar menjadi dokter yang sesungguhnya.
Pagi yang luar biasa, Fenni sudah disambut dengan orang terluka yang terkena sabit. Darah mengucur sedikit deras dari jemari ibu itu. Bisa dipastikan dia adalah petani sayur, karena menurut keterangannya dia sedang berada di sawah. Fennita yang belum bisa mengerti bahasa Jawa agak tergagap ketika ditanya.
Tangannya masih bergetar atau tremor ketika menjahit luka itu. Membuat Qory menahan tawanya.
__ADS_1
"Bisa! Pasti bisa!" ucap Qory memberi semangat.
"Iya, Mbak!" jawab Fennita.
Butuh waktu hampir setengah jam untuk menjahit luka yang tidak seberapa lebar itu. Qory bisa memakluminya, adiknya baru belajar. Pukul sepuluh jam praktinya selesai, dia kembali ke rumah untuk membantu mamahnya.
Seperti biasa, hari pertama warung buka belum banyak yang tahu. Membuat suasana masih sepi. Berharap ada yang datang dan membeli. Sungguh pengalaman hidup yang berarti dan sedikit keras.
"Kalau nggak ada yang beli gimana, Mah?" tanya Fennita.
Isnaeni membalasnya dengan senyum tulus, "Kenapa? Kalau nggak ada yang beli ya berarti rezeki tetangga kita. Bagikan ke mereka, kita minta reviewnya."
"Lhah, nggak rugi, Mah?" tanya Fennita lagi.
Isnaeni menggeleng, "Tidak usah takut rugi, Fen. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Tidak melulu berbentuk uang, kita masih bisa bicara saja sebuah rezeki. Jangan takut kita tidak punya uang."
"Iya, Mah." Fennita terharu melihat mamahnya yang begitu legowo dalam menerima keadaan. Membuatnya juga harus semakin semangat menjalani kehidupannya sekarang.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip