
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Dilan mendengarkan cerita gadis itu dengan seksama dan sengaja merekamnya. Dirinya merasa kasihan dengan para tawanan disana. Salah apa mereka hingga dijadikan korban dalam jaringan itu? Belum selesai Dilan mendengar cerita dari gadis itu, para pria bertubuh besar datang dengan membawa makanan.
Sungguh tak terduga oleh Dilan. Dilan mengira, mereka akan diberikan makanan ala kadarnya. Tapi ternyata, makanan mereka sungguh menggiurkan lidah dan memenuhi standar gizi yang diterapkan oleh pemerintah.
"Masih ada rasa kemanusiaannya juga mereka, makanannya empat sehat lima sempurna 6 luar biasa!" serunya dalam hati sambil cengengesan.
Mereka diberikan jatah makan satu per satu. Tak ada yang bersuara ketika mendapatkan makanan itu. Hingga gadis yang tadi menimbang berat badannya mencoba melarikan diri. Terjadi aksi kejar-kejaran disana.
"Percuma mau lari kayak apa, kita pasti akan tertangkap juga!" seru gadis di sebelah Dilan lagi.
"Makanlah! Nikmati sisa umur kita dengan mensyukuri apa yang ada di hadapan kita saat ini," imbuhnya.
Dilan tersenyum kecut mendengarnya. Bahkan dia belum tahu nasibnya besok akan seperti apa, tapu kata-kata bijaknya mengingatkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Mereka semua makan dalam hening. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang beradu mendominasi ruangan bawah tanah itu. Dilan menunggu malam agar bisa berkomunikasi dengan kawanannya.
Selagi menunggu, Dilan memperhatikan area sekitarnya. Mulutnya komat kamit seperti membaca mantra. Menghitung jumlah tawanan yang ada disana. Melihat keadaan tawanan yang bisa dijangkau matanya.
Lalu memperhatikan atap ruangannya. Menerawang mencoba membayangkan jalan keluar yang akan diambilnya ketika bisa lolos. Dia terduduk dengan bersandar di tembok. Suasana yang sangat hening menyadarkannya, ada suara gemericik air yang sepertinya itu dari arah atas.
Dilan mencoba bertanya pada gadis di sebelahnya, "Hei, kamu namanya siapa? Kita belum kenalan!"
"Mudrikah. Biasa dipanggil Rika. Kamu sendiri?"
"Dilan. Oh ya, kamu dengar suara gemericik air dari, atas?"
Rika mengangguk, "Aku tidak tahu di atas apa. Tapi memang aku mendengarnya."
Dilan mengangguk. Dia tak bisa mengetahui keadaan di atas. Perut Dilan tiba-tiba mulas, "Kalau mau buang hajat, bagaimana?"
"Tinggal teriak minta diantar ke kamar mandi saja, mau aku contohkan?"
Dilan mengangguk. Rika memanggil penjaga dan memberitahukan mereka bahwa Dilan ingin buang air. Dilan diantarkan ke kamar mandi oleh penjaga itu. Kesempatan baginya untuk mengamati keadaan sekitar.
__ADS_1
Malam pun tiba, Dilan mengikuti perannya. Saat disuruh makan, dia akan makan, saat akan disuruh tidur dia akan tidur. Dilan memastikan semuanya sudah tertidur dan penjaga tak akan menyambangi ruangan mereka, barulah dia mulai beraksi.
Dia mencoba melakukan panggilan menggunakan jam tangan pintar yang dibuat oleh Rio. Barang-barang mereka semua serba terkoneksi dengan kawanan mereka satu sama lain.
"Gimana, Lan? Betah?" sahut Rio dari ujung suara itu.
"Betah gundulmu! Buruan bergerak, ah! Sudah ada titik terang lho, ini."
"Sabar dong, man! Kami lagi mengatur strategi nih! Selain meringkus kan kami juga harus bisa menyelamatkan sandera."
Dilan mulai bercerita tentang apa yang didengarnya. Ericko yang telah mendengar percakapan Dilan dan Rika, mengangguk ke arah Rio tanda setuju. Dilan mengulang kembali ceritanya hingga selesai. Tak ada secuil pun yang terlewat dari mulutnya. Semua kata meluncur dengan indah untuk mengungkap kebenaran.
"Gue minta sama kalian sebelum bertindak, cari tahu lingkungan yang mengelilingi gudang tua ini. Gue mendengar gemericik air dari arah atas. Entah ada apa di atas, gue nggak tahu pasti soal itu. So, cari tahu dulu. Siapa tahu nanti kita memang butuh jalan pintas," terang Dilan sambil tetap berbisik.
"Iya, bawel!"
"Oke, gue ngantuk! Gue mau istirahat." Dilan mengakhiri sambungan komunikasinya dengan Rio. Mulai memejamkan mata menikmati kesempatannya untuk tidur meskipun dalam keadaan genting.
Pagi datang membangunkan orang dari mimpi-mimpinya. Memberikan harapan bagi yang memohon dengan sungguh-sungguh. Seperti kemarin siang dan malam, penjaga itu memberikan sarapan bagi para tahanannya.
Selesai makan, Dilan mengamati satu per satu wajah orang-orang yang menjadi korban penculikan itu. Nampak sayu, lesu, dan pasrah. Kesedihan lebih mendominasi menguasai aura mereka ketimbang sikap pasrah yang ada. Saat tengah hanyut dalam buaian perasaan kesedihan itu, Rika memanggil penjaga.
Dia ingin ke kamar mandi. Rika diantarkan penjaga ke kamar mandi. Entah apa yang terjadi, saat Rika kembali mata sebelah kanannya sudah membiru. Sudut bibirnya masih mengeluarkan sedikit darah. Dan dia diseret oleh penjaga yang mengantarkannya.
Dilan miris melihat hal itu. Seorang perempuan sampai mengalami kekejaman seperti itu? Hukuman apa yang pantas untuk mereka? Sungguh dzolim sekali jaringan penculikan itu.
"Kamu nggak papa, Rika?" tanya Dilan.
Rika tersenyum kecut, "Nggak papa, kok."
"Kenapa bisa, begitu?"
"Mencoba kabur, gagal. Aku bisa menasehati kamu. Tapi, aku juga ingin bebas, Lan!"
Dilan mengangguk, "I know, tapi sabar. Allah pasti membantu hamba-Nya pada saat yang tepat."
__ADS_1
"Tapi, kapan?" tanya Rika dengan nada yang naik satu oktaf.
"I don't know. Tapi itu pasti akan terjadi."
Rika memilih diam tak menjawab ucapan Dilan. Tak ada kepastian dalam hal ini. Jadi, Rika menganggap semuanya hanya harapan kosong yang tak akan pernah terwujud.
Kemudian dua orang penjaga datang lalu membuka ruangan gadis yang kemarin menimbang berat badan. Gadis itu meronta-ronta kembali. Mencoba bernegosiasi agar dirinya tak dieksekusi. Tangisan gadis itu semakin melengking ketika ditarik paksa masuk ke sebuah ruangan.
Dilan mulai gusar, kawanannya tak kunjung memberi kabar kapan mereka akan bergerak. Belum cukupkah informasi yang diberikannya kemarin?
Saat tenggelam dalam pikirannya, ada seorang pria berkacamata datang bersama pria lainnya yang biasa dipanggil Bang Jack. Mereka ikut masuk ke dalam ruangan dimana gadis itu berada. Dilan semakin gusar. Apakah sekarang mereka akan memulai rencananya?
Jeritan dan lengkingan suara seorang gadis terdengar sangat jelas di telinga semua penghuni penjara iru. Namun tiba-tiba saja suara itu lenyap.
"Oke Dilan, fokus!" kata Dilan pada dirinya sendiri. Mencoba menghubungi kawanannya tapi entah kenapa tidak bisa tersambung.
"Kemana sih, mereka?"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Othor nggak minta lebih kok dari kalian. Cukup 4 tulisan itu saja. Hi-hi-hi... 😘😘😘
Dua episode dulu ya. Mulai hari ini sampai seterusnya, othor upnya agak lama. sekitar tiga hari sekali dan itu hanya satu episode. Karena othor jadi panitia pelatihan MU angkatan kedua. Yang bidan pasti tahu apa itu MU. Dimohon bersabar menahan rindu up dan rindu pada othor (othor kepedean. emang ada yg merindukan? wkwkwk)
__ADS_1