
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Ericko POV
"Woy!" suara yang khas itu mengagetkanku.
Suara yang tak selalu kudengar tapi cukup familiar di telingaku. Naomi mengejutkanku dengan cukup sempurna. Hingga aku terlonjak kaget dan hampir memecahkan gelas yang telah kosong itu.
"Ngapain ngalamun?"
Aku hanya mengulas senyum singkat lalu menunduk. Malu mengatakan bahwa baru saja aku iba dengan Fennita, gadis periang yang selalu saja menyusahkanku dengan kehadirannya.
"Mulai tertarik ya dengan, Fenni?"
"Ngaco!"
Jawabku cepat. Membantah dan mematahkan tuduhan yang Naomi tujukan untukku. Namun Naomi masih berdalih bahwa ada rasa ketertarikan antara aku dan Fennita. Mesti itu setipis benang.
Mungkinkah?
Wallahu alam bi showaf
Aku juga tidak mengerti akan diriku. Ketika aku yang membuntutinya ketahuan olehnya, entah mengapa aku seperti penguntit yang tertangkap basah.
Sejak kapan penyamaranku bisa dibongkar dengan mudah oleh gadis menyebalkan itu?
Bukankah selama ini aku adalah orang terbaik dalam hal bersembunyi?
Entahlah.
Aku juga tak tahu mengapa aku begini. Dan malam ini, aku sangat merasa kasihan melihatnya. Duduk dan makan sendirian dengan tatapan mata kosong. Seperti orang yang dalam tekanan terlalu berat.
Bukan kah gadis itu sangat periang?
Lalu apa yang sekarang mataku tangkap?
"Hey, Rick! Apa rasa empati mu telah menguar entah kemana? Dia butuh teman!"
Seperti itulah kata hatiku. Dan lagi, langkah kaki ku yang mengendap tiba-tiba saja membuatnya terkejut hingga tersedak. Sontak aku memberikan air minum yang ada ditanganku untuknya.
Dua kali aku ketahuan olehnya. Seakan dia memang memiliki insting khusus dalam merespon kehadiranku.
"Woy! Ngelamun lagi! Nakutin, ih!" Naomi mengejutkanku lagi.
Aku tertawa sumbang menanggapinya. Jika Naomi menemuiku itu artinya ada yang ingin dia tanyakan. Pasti ini ada hubungannya dengan Rio. Dan tebakanku tak pernah meleset!
__ADS_1
"Misinya luar negeri lagi?" tanya Naomi dengan wajah sendu.
Begitu lah wanita, mereka selalu mengkhawatirkan kami. Ya, alasan mereka mengkhawatirkan kami adalah karena tugas kami sangat berbahaya.
Badan yang menaungi kami adalah lembaga non kementrian. Dan diri kami adalah mata rajawali yang sangat vital keberadaannya. Berhasil tak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tak dicari, mati tak diakui merupakan motto hidup kami. Sungguh miris dan tragis. Tapi itulah janji kami kepada NKRI.
Aku masih ingat saat Rio meminang Naomi. Dia mengungkapkan jati dirinya sesungguhnya. Wanita terpilih yang siap menjaga rahasia kami, bungkam seribu bahasa jika ada yang mengorek informasi tentang diri kami. Hanya sedikit orang terdekat kami yang tahu siapa dan apa pekerjaan kami.
"Dalam negeri tapi bisa jadi ke luar negeri. Jalan-jalan ..." jawabku cepat.
Naomi tersenyum dan mengangguk, "Jagalah diri kalian, pulang dengan selamat dan utuh."
Pesan yang selalu Naomi gaungkan saat kami akan berangkat dalam misi yang entah berapa lama. Aku tak pernah menjawab pertanyaannya satu ini. Aku saja tidak bisa menjamin keselamatan diriku sendiri, bagaimana jika aku menyanggupinya?
Kami hanya berusaha menjaga agar nyawa kami tetap utuh saat pulang.
"Targetnya susah untuk diketahui keberadaannya. Kami bekerja sama dengan polisi dan juga TNI."
"New Mission, kasus apa?" tanyanya lagi.
"Perdagangan organ. Banyak laporan orang hilang di daerah x. Yang hilang bukanlah orang dengan pesakit ataupun orang tua. Banyak anak-anak, remaja, serta dewasa. Polisi mengungkapkan ada kejanggalan dalam kasus ini jika hanya orang hilang," tuturku jujur pada Naomi.
"Orang hilang akan bisa diketemukan dengan harapan yang ... yah, kecil. Namun pasti ada wujud nyata. Kali ini tidak, hilang berarti tinggal nama selamanya tanpa diketahui keberadaannya. Ditambah kasus mutilasi yang marak terjadi, polisi mendapati bahwa organ vital di tubuh mereka pasti ada yang hilang."
Naomi mengangguk seakan paham akan yang ku ucapkan. Rio datang dan ikut nimbrung di tengah-tengah obrolan kami.
Jengah aku selalu melihat kemesraan mereka. Ingin seperti mereka? Pasti! Tapi sama siapa? Orang Kalena saja sudah di surga. Dasar dua orang yang tak peka dengan penyandang jomblo baru ini!
Mereka berdua hanya tertawa kecil menanggapi ucapanku. Hingga mereka berdua membisikkan sesuatu ke telinga masing-masing. Membuatku menaruh curiga terhadap mereka.
"Kalian fokus saja ke misi kali ini, setiap misi dari kalian pasti lah sulit. Biar misi yang satu ini aku yang handle, Bang," ucap Naomi.
Aku mengerutkan keningku sejenak. Ingin bertanya misi apa? Filling ku tak terlalu enak untuk ini.
"Secret! New mission!" jawabnya seakan tahu arti tatapan tajam nan menyelidik dariku.
Aku mencoba mencari tahu lewat tatapan Rio. Damned! Mereka berdua memang suami istri yang kompak dalam segala hal. Dan pasti ini ada hubungannya dengan Fennita.
"Buka hati, Rick!" ucap Rio syarat makna.
Aku menunggu kata selanjutnya dari dia. Tapi tak kunjung diungkapkannya.
"Kalian berniat menjodohkanku dengan, Fenni?"
Pertanyaan menggelitik dan bodoh baru saja meluncur dengan sempurna tanda pembatas. Membuat suami istri itu saling pandang dan cengengesan.
__ADS_1
Aku tertawa sumbang lalu menggeleng mantap. Aku masih tak ingin menerima perempuan lain menggantikan Kalena. Meskipun kenangan kami sedikit, tapi dia mampu merajai hatiku.
"No!" Aku pergi meninggalkan mereka berdua.
"Oke lo boleh nolak tapi kalau Allah berkehendak, lo bisa apa?"
Kubiarkan mereka berteriak. Bergabung dengan Dilan yang sedang mempelajari sebuah data.
Data yang baru saja kami dapatkan dari kantor. Sore tadi aku mendapatkan telepon dari Komandan Bambang.
"Suruh Rio atau Dilan kesini untuk mengambil data. Kalian pelajari terlebih dahulu. Jika sudah menentukan strategi segera berangkat! Jangan menggangguku karena aku akan cuti seminggu," kilahnya saat aku hendak menanyakan sesuatu.
"Siap, Ndan!" jawabku.
"Oh ya periksa saldo kalian, karena aku mengirimkan hadiah untuk kalian!" perintahnya bertambah lagi.
"Siap!"
"Kalian nggak mau tanya Komandan ganteng kalian ini mau pergi kemana?"
"Siap! Izin bertanya Ndan, pergi untuk urusan apa dan dengan siapa?" tanyaku menyutujui permintaannya.
Dan bodohnya aku adalah ... mengapa hal ini kutanyakan? Dan jawabannya adalah ...
"Kepo, Lo!"
Aku langsung mendengus kesal karena ulah Komandang Bambang.
Aku telah duduk berdampingan bersama Rio dan Dilan untuk mempelajari informasi yang kami terima. Keheningan menyeruak memenuhi ruangan yang kami tempati. Ruang kerja Rio adalah rumah kedua bagi kami.
Segala peralatan cadangan kami ada di ruangan ini. Naomi memang istri yang dapat diandalkan untuk menjaga rahasia sebesar ini. Dia selalu mengunci ruangan ini ketika kami pergi.
Dilan mulai beranjak untuk menyapa "istrinya" -komputer dengan segala peralatan canggihnya. Mencoba mencari titik lokasi yang akan kami kunjungi nantinya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip