Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Ketahuan lagi


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Rio sengaja menarik earphone yang dengan setia melekat pada telinga Ericko. Membuat Ericko terganggu akan sikap Rio. Ericko baru menyadari ada seorang perempuan yang sedari tadi berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh makna. Ericko menoleh pada Rio.


"Ganggu saja sih, Yo!" kata Ericko hendak memakai earphone miliknya lagi. Rio mencegahnya, lalu memberikan isyarat menggunakan telunjuk tangan kanannya.


"Hai, kita bertemu kembali, bukan?" kata Fennita tersenyum sunringah menatap Ericko.


"Ada yang mau kenalan," ucap Rio.


Ericko berdecak, "Kan yang ngebet punya gandengan si Dilan, bukan Gue, Yo!"


Fennita kini mengerti situasinya. Ternyata oh ternyata, pria yang bisa membuatnya panas dingin itu adalah teman dari suami sepupunya. Semakin mudah untuk dirinya mengetahui tentang pria itu. Fennita menghela nafasnya lalu berbalik duduk bersebelahan dengan Naomi.


Ericko sedikit melirik gerakan Fennita yang pergi menjauhinya. Dia memejamkan matanya dan bersidekap. Fennita menunjuk Ericko dari sebelah Naomi.


"Cowok dingin itu temen Bang Rio?" tanya Fennita yang masih bisa didengar oleh Ericko.


"Iya Fen, dia teman Abang, kamu gak mau kenalan?"


Fennita mendengus kesal. "Dah lah, susah mau ngajak kenalan dia. Ketemu di bus diajak kenalam saja melengos, apalagi ini? Lihat sendiri kan tadi gimana cueknya dia sama Fenni?"


Dilan, Rio, Naomi, dan Intan saling berpandangan. Mengisyaratkan seperti mengerti sesuatu tapi masih dalam proses berpikir.


"Ini Mas Freez yang kamu bilang, kamu jatuh cinta pada pandangan pertama itu?" teriak Intan terlalu bersemangat. Membuat Fennita ingin menangis karena sahabatnya itu baru saja membocorkan rahasianya.


Baru pertama kali bagi Intan yang biasanya selalu bisa menjaga rahasia apapun. Tapi kali ini, Intan dengan lantang menyuarakan isi hati Fennita. Membuat semburat merah menjalari pipi Fennita. Ericko yang mendengar hal itu menjadi sedikit salah tingkah.


"Ooo ... jadi Erick sudah tahu kalau yang di foto itu Fennita? Makanya dia nolak untuk dikenalin? Gitu, Rick?" tanya Rio.


Bukannya menjawab pertanyaan Rio, Ericko malah membuang wajah ke sembarang arah. Fennita memperhatikan gerak-gerik Ericko yang membuat jantungnya menari-nari dengan cepat. Sungguh, Ericko ingin kabur dari situasi pelik macam itu. Dia lebih suka di dalam posisi yang menantang ketimbang harus dihadapkan dengan perjodohan atau dikenalkan dengan perempuan.


"Tetap Kalena yang ada dihatiku. Tak ada yang bisa menggantikannya untuk saat ini. Dia masih menjadi ratu hati ini." batin Ericko.

__ADS_1


Intan dan Dilan bercengkrama saling mengenal diri mereka masing-masing. Fennita, Rio, dan Naomi bercanda dan bertukar cerita tentang keluarga mereka. Ericko hanya diam mendengarkan ocehan para manusia yang mengelilinginya. Ericko melihat jam tangannya, sebentar lagi waktu CFD akan berakhir.


Ericko berdiri dan berjalan meninggalkan mereka. Fennita hanya bisa memandang punggung yang bidang itu pergi menjauh dari jangkauan matanya. Rio mengajak semuanya untuk pulang, karena mereka menggunakan sepeda, otomatis Intan dan Fennita tak mendapatkan tumpangan.


"Bonceng berdiri di belakang mau?" tanya Dilan menawarkan tumpangan.


Intan melihat Fennita seakan meminta persetujuan. Fennita mengangguk dan tersenyum.


"Fen, Abang boncengan sama Kak Naomi saja deh, Kamu bawa sepeda Abang." Rio memberikan saran bagi Fennita.


Naomi memukul lengan suaminya dengan keras, "Kamu lupa anak ini gak bisa naik sepeda?"


"O iya, Abang lupa!"


Fennita tertawa dengan ekspresi Rio yang selalu melotot sambil meringis. Rio melihat ke arah Ericko, dan dengan cepat Ericko balas menatap Rio.


Ericko menggeleng sebelum Rio mengutarakan maksud hatinya. Fennita yang melihat itu semakin bersedih, dia berpikir Ericko benar-benar tak menyukai dirinya. Salah apa dirinya hingga membantunya pun enggan?


"Fenni pulang naik taksi saja, Kak Nom, ketemu di rumah ya? Bye semua," ucap Fennita. Dia mulai berjalan menyusuri trotoar menuju halte busway terdekat dari GBK.


Fennita merasa ada yang mengikutinya dari belakang, dia segera menghentikan langkahnya dan menoleh. Tak ada siapa-siapa, hanya dirinya yang berjalan sendirian. Ada ibu-ibu di belakangnya jauh dan berlawanan arah dengannya. Fennita takut jika itu anak buah Zamroni lagi. Fennita kembali berjalan menyusuri trotoar, lalu dia menoleh cepat sehingga mengetahui siapa yang mengikutinya.


Fennita bernafas lega setelah tahu siapa yang membuntutinya. Bukan, bukan orang suruhan Zamroni yang mengikutinya, melainkan pria dingin yang selalu membuatnya ingin terus berada di dekatnya. Ya, Ericko mengikuti Fennita.


Ericko yang ketahuan menguntit perempuan berambut sebahu itu menjadi salah tingkah kembali.


"Ketahuan lagi" gumamnya dalam hati.


Dia mendengus kesal karena mau saja menuruti permintaan Rio dan Naomi. Fennita kembali berjalan, membiarkan Ericko agak menjaga jarak di belakangnya. Meskipun berjarak, tapi mereka masih bisa saling mendengarkan dan saling menyahut jika terjadi obrolan.


"Ngapain ngikutin aku? Bukannya aku ini pengganggu untukmu?" tanya Fennita agak keras.


Ericko berjongkok dan mengambil daun kering yang berjatuhan. Lalu merobeknya sedikit demi sedikit sambil berjalan di belakang Fennita.

__ADS_1


"Disuruh sama Rio dan Naomi," alasannya pada Fennita.


"Kenapa mau kalau itu bikin kamu tersiksa?"


Ericko diam tak menjawab pertanyaan Fennita. Iya juga ya? Kenapa Ericko mau membuntuti Fennita? Ah, satu lagi, saat di terminal mengapa Ericko bisa menolongnya? Seharusnya jika tidak peduli dan jangan melibatkan diri sekecil apapun pada orang itu. Hal itu akan memicu harapan yang lebih.


"Aku kasihan sama Intan yang harus berdiri di belakang, pasti capek," tutur Ericko.


Jawaban paling konyol yang diberikan oleh seorang Ericko. Mengapa sekarang dia peduli dengan Intan? Padahal sebelumnya, dia sama sekali tak peduli dengan Intan, kenalan saja belum untuk apa peduli?


Fennita tersenyum kecut mendengarkan alasan Ericko. "Ooo ... tertarik sama Intan rupanya, sampai rela sepedanya dipakai sama Intan dan dia jalan kaki."


Ericko mengernyitkan dahi mencerna pernyataan Fennita. Ingin dia membalasnya, tapi tak jadi. Dia lebih memilih tidak memberikan pernyataan agar Fennita semakin kesal.


Rio dan rombongannya lewat memakai sepeda dan melambaikan tangan pada Fennita dan Ericko.


"Rick, titip jagain anak orang, ya! Jangan cuma raganya doang, hatinya juga!" teriak Rio.


"Digandeng, Rick. Kalau hilang orang yang pertama diinterogasi kamu, lho," sahut Dilan.


Persahabatan yang kompak, saling mendukung dalam segala hal. Termasuk saling support untuk hal pembulian. Ericko mengepalkan tangannya ke arah dua pria bersepeda itu. Naomi dan Intan juga memberikan semangat pada Fennita.


"Gunakan waktu sebaik mungkin untuk PDKT, Cinta," teriak Intan.


.


.


.


**Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip**


__ADS_2