
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Zamroni berada di sebuah lapangan golf bersama seorang pria muda yang usianya tak beda jauh dari Fennita. Hanya beda satu tahun lebih tua dirinya dibandingkan dengan Fennita.
Permainan golf nya cukup bagus di lapangan yang menyuguhkan rumput hijau nan luas itu. Giliran Zamroni. Dia mengambil ancang-ancang untuk memukul bola golf masuk dalam lubang yang menjafi incarannya.
Pokk!
Bola putih itu telah dipukul menggunakan stick golf berbahan baja dan grafit itu. Kurang beberapa senti saja bola itu masuk ke lubang yang dituju.
"Ha-ha-ha. Kurang dikit, Om!" seru pemuda itu.
"Iya, Yon. Om nggak sehebat kamu," timpalnya.
Dion Sanjaya, seorang pebisnis muda anak dari Alex Sanjaya. Cukup memiliki ketampanan yang mampu menggetarkan jiwa perempuan yang melihatnya, tapi tidak berlaku untuk Fennita. Perempuan itu selalu saja menolaknya dan mengacuhkan keberadaannya.
"Nanti malam ajak papahmu untuk makan malam bersama keluarga kami, Yon. Kita bicarakan rencana perjodohan."
"Siap, Om! Akhirnya ... Dion senang bisa bertemu dengan Fennita lagi. Nanti biar Dion ikat dia om, biar gak lari terus seperti tikus!"
"Ha-ha-ha. Kamu jadi kucingnya biar bisa menangkapnya!"
Mereka melanjutkan permainan mereka. Hingga tak terasa terik matahari semakin menyengat kulit mereka. Terasa seperti terbakar akibat sengatan itu.
Mereka memutuskan untuk menyudahi permainan itu, dengan kemenangan di tangan Dion. Saat akan keluar dari arena golf, Zamroni bertemu dengan saingan yang akan menjadi lawannya di PilPres nanti.
"Wah-wah-wah ... banyak waktu luang nih, Pak Zam?" tanya seorang pria yang mungkin usianya tak terpaut jauh dengan Zamroni.
Dia adalah Yunus Ahmadi, salah satu pesaing terberatnya di PilPres nanti. Dia merupakan pesaing terberatnya karena dia sudah memiliki massa di PilGub. Ya, Yunus Ahmadi pernah ikut pencalonan PilGub, tapi kalah suara dari lawannya masa itu. Dan sekarang Pak Yunus ingin maju dalam PilPres. Tapi, itu tak akan menyurutkan niat Zamroni yang ingin menduduki kursi Presiden negara ini.
"Ah, apa kabar, Pak Yunus? Iya, lagi menikmati waktu luang sama calon mantu sebelum nanti saya disibukkan dengan dunia kepresidenan," jawab Zamroni dengan menyelipkan celaan bagi Yunus.
Yunus mengepalkan tangannya mencoba menstabilkan emosinya. Lalu mendekat ke arah telinga Zamroni, membisikkan sesuatu yang membuat Zamroni tak bisa menguasai dirinya dan langsung melayangkan tinju padanya dan mengakibatkan tragedi pemukulan.
__ADS_1
Dion mencoba melerai pertengkaran yang terjadi. Mengingatkan Zamroni kemungkinan adanya awak media disana dan bisa menghancurkan semuanya.
Dion membawa tubuh tua Zamroni segera menjauh dari Yunus sebelum ada pukulan yang melayang ke pipinya lagi.
Awak media memang selalu tahu momentum yang tepat untuk meramu berita menjadi hangat. Baru dua jam sejak meninggalkan lapangan golf, saat Zamroni telah memasuki kawasan rumahnya, suasana menjadi riuh. Banyak awak media yang menyambangi rumahnya guna mendapatkan konfirmasi atas tragedi pemukulan seorang pengusaha sukses kelas atas.
Zamroni kalang kabut mencari jalan masuk ke rumahnya sendiri. Dia tidak membawa satupun bodyguardnya. Dia tak siap dengan cecaran pertanyaan dari awak media. Sekarang dirinya sedang bermain kucing dan tikus dengan para awak media itu. Hingga ia meminta bantuan kepolisian dan menelpon bodyguardnya untuk segera mensterilkan kediamannya.
Butuh waktu hingga awak media benar-benar pergi dari rumahnya. Dia menggunakan waktu itu untuk berselancar di dunia maya. Memang dirinya telah dijebak oleh Yunus. Saat ini dirinya tengah menyaksikan wawancara singkat yang dilakukan Yunus di depan awak media.
"Tidak, luka ini tidak seberapa. Mungkin tadi memang Pak Zamroni ingin bercanda tapi kelewat kuat, ha-ha-ha." Yunus memberi keterangan yang seakan-akan membenarkan bahwa dirinya telah dipukul oleh Zamroni.
"Apakah Anda akan melaporkannya, Pak?" tanya salah seorang wartawan.
"Tidak! Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak akan melaporkan beliau. Beliau sama sekali tidak salah! Kami memang kalau sudah bercanda lupa dengan dunia nyata. Oke teman-teman, cukup sampai disini dulu. Saya masih ada perlu. Wassalamualaikum," pamitnya pada awak media.
Darah Zamroni seketika mendidih mendengarkan penuturan Yunus. "Jadi ini memang rencanamu untuk menggulingkan, ku?"
"Tak apa, lihat nanti pembalasan yang akan ku berikan untukmu!"
"Aku lelah! Biarkan aku istirahat, masaklah yang enak! Kita akan kedatangan calon besan nanti malam, paham?" perintah Zamroni pada istrinya.
Isnaeni hanya mengangguk mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh lagi. Yang sekarang dia pikirkan adalah perasaan Fennita. Akan seperti apa nanti perasaan anak semata wayangnya itu jika Papahnya tetap memaksanya menikah dengan Dion?
"Ngapain melamun disini? Cepat sana masak!"
"Iya Pah, iya. Tidurlah dan tenangkan pikiranmu." Isnaeni beranjak dari kamar menuju dapur. Memikirkan menu yang akan dia sajikan nanti malam untuk tamunya. Segera melihat isi kulkas yang lengkap dengan bahan makanan segar.
Dengan piawai, dirinya ingin membuat puding buah dengan saus fla siram sebagai dessert. Lalu menyiapkan bahan untuk membuat steak wagyu.
Dibantu dengan beberapa ART nya dia memasak makanan itu. Berkutat di dalam dapur modern yang dilengkapi peralatan canggih nomor satu di negeri ini.
*****
__ADS_1
Adzan Maghrib mengusik telinga Fennita, membuatnya terbangun dari tidur siangnya. Fennita segera turun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Ia melepas semua baju yang menempel di tubuhnya, lalu masuk ke dalam bathup.
Merendam seluruh tubuhnya kecuali kepalanya. Bermain dengan busa yang dihasilkan sabun cair miliknya. Harum semerbak memenuhi ruangan itu. Hingga ia lupa waktu untuk segera beranjak dari rutinitasnya.
Dia telah menyelesaikan ritual mandinya, segera berganti baju dan hendak tidur kembali. Dia terlalu malas untuk keluar dari kamarnya. Tentu saja niatnya tidak berjalan mulus. Ada yang mengetuk pintunya lagi.
"Siapa?" tanyanya.
"Mamah, Fen."
"Fenni ngantuk, Mah. "
"Tolong buka sebentar, Sayang," mohon Isnaeni dari luar. Mau tak mau Fennita akhirnya membukakan pintu untuknya.
"Gantilah bajumu, dan sedikit memoles wajahmu. Segera turun ke bawah karena kita kedatangan tamu," tutur Isnaeni lembut.
"Meskipun kamu tidak suka dengan tamu kita, tapi adab menerima tamu adalah menghormati dan menyapa dengan tulus orang yang datang bertamu ke rumah kita."
Fennita mendengus kasar dan menutup pintu kamarnya kembali. "Mamah tunggu di bawah ya, Nak!" kata Isnaeni setengah berteriak.
Fennita menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan sikap orang tuanya. Jika ada pintu keluar darurat, maka Fenni akan menuju pintu itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip