Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Zumarnis


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Dengan bantuan Bibi Mar, Fennita bisa mengulur waktu pertunangannya dengan Dion. Membuatnya bisa menyusun strategi untuk lepas dari rencana konyol papahnya itu. Bibi Mar berpesan kepada Fenni agar mengikuti skenario yang telah dibuatnya. Dan sekarang, Fenni sedang melakukan lakonnya sebagai anak penurut.


Bukan hal yang mudah melakukan hal itu. Karena pada dasarnya, Fenni adalah anak yang pembangkang pada papahnya. Bukan tanpa sebab Fenni menjadi seperti itu. Papahnya suka sekali memaksakan kehendaknya terhadap Fenni sedari kecil. Hal itulah yang membuat Fenni menjadi pemberontak dan pembangkang.


Fenni sekarang lebih bebas bepergian karena menuruti permintaan papahnya, yaitu harus dikawal oleh Dion. Awalnya dia ingin menolaknya, karena dia berpikir pasti akan sangat membosankan kalau terus diikuti oleh pria tengil seperti Dion. Tapi, saat Fenni berkonsultasi dengan Bibi Mar saran sebaliknya malah harus ia lakukan. Yaitu setuju dengan syarat papahnya. Dan memang ucapan Bibi Mar tepat, sekarang dia menjadi lebih bebas untuk keluar.


Bibi Mar melakukan perannya dengan sangat baik. Dia selalu membuat ragu Zamroni-- papah Fennita.


"Kamu fokus aja dulu sama pencalonanmu, urusan pertunangan Fennita serahkan pada tetehmu ini dan juga istrimu. Lelaki nggak usah ikut repot ngurusinnya. Penting duit di dompet sama ATM mu ngalir aja!" kata Bibi Mar ketika berkunjung ke rumah Fenni.


Zamroni mengulum senyumnya, setuju dengan ucapan Zumarnis. Langkah Zumarnis kembali mengalami keberhasilan. Fenni dan Naomi sampai geleng kepala menyaksikan sendiri kepiawaian Zumarnis dalam menghipnotis Zamroni agar percaya padanya.


"Bibi memang terbaik, Kak!" kata Fenni


"Hiya, dong! Mamahnya siapa dulu!" jawab Naomi sambil cekikikan.


Zumarnis mencoba menaburkan bumbu racikan hasutan pada adiknya itu.


"Laki-laki lain di atas Dion itu masih banyak lho, Zam! Kenapa harus Dion yang skillnya pas-pasan sih?"


"Bagiku, Dion yang terbaik!"


"Sempit mikirmu! Aku punya satu kenalan anak muda, temannya Rio. Namanya Ericko, anaknya sopan, cerdas, dan bisa diandalkan dalam segala situasi."


Fennita dan Naomi saling melempar pandangan. Bingung dengan rencana yang disusun oleh Zumarnis. Karena di awal, mereka hanya sepakat untuk menggagalkan pertunangan itu dengan menjebak Dion dengan perempuan lain. Tapi kali ini Zumarnis malah melibatkan Ericko.


Apakah Ericko tahu tentang rencana ini?


Apakah Ericko akan setuju jika dirinya dijadikan alat untuk menggagalkan pertunangan Fenni dan Dion?


Entahlah, tugas mereka saat ini adalah menjadi pemeran pendukung bagi Zumarnis. Mereka patut memberikan tepukan tangan yang meriah untuk akting yang sangat natural itu.


"Apa jabatannya?" tanya Zamroni.


Zumarnis memasukkan buah jeruk yang telah dikupasnya. Sedangkan Isnaeni mengingat nama yang baru saja diajukan untuk menjadi calon menantunya.


"Kamu itu masih saja bodoh ya, Zam? Cari orang biasa agar nantinya bisa kamu suruh ini itu. Pangkat nggak perlu dipermasalahkan! Yang penting bisa setia sama Fenni. Kamu itu calon presiden, kalau dalam pencalonan kali ini kamu menang, itu artinya kamu butuh orang untuk memimpin perusahaan. Aku tidak segan-segan mengambil sahamku dari perusahaan jika kamu salah pilih orang! Memang kamu nggak curiga sama Alex dan Dion? Siapa yang tahu tentang maksud hati? Kalau mereka hanya mengincar hartamu bagaimana?" gertak Zumarnis.

__ADS_1


Zamroni mulai memikirkan ucapan kakaknya itu. Selama ini dia tahu kinerja Dion seperti apa. Banyak proyek yang awalnya gagal itu adalah ulah Dion, dan Alex lah yang senantiasa membereskan masalah itu. Zumarnis benar, Zamroni membutuhkan sosok yang disebutkan Zumarnis.


"Kak, Ericko pernah nganterin Fenni pulang, tidak?" tanya Isnaeni.


"Nah! Kamu dulu ketemu? Kamu masih ingat orangnya, Is?"


Isnaeni mengangguk, lalu menyebutkan ciri-ciri Ericko. Sedangkan Zamroni sudah tidak ingat lagi yang mana yang namanya Ericko. Zamroni tidak mengatakan penolakan ataupu menyetujui usul Zumarnis. Membuat Zumarnis memiliki kesempatan menanyakan pendapat Fennita.


"Fen, sini sayang," kata Zumarnis melambaikan tangannya ke arah Fenni.


Fennita segera menjawab panggilan itu. Dia menghampiri keluarganya dan duduk di sebelah Zumarnis.


"Kamu cinta nggak sama, Dion?"


Fennita menggelengkan kepalanya, "Fenni tidak bisa jatuh cinta sama seorang playboy, Bi. Nggak ada yang istimewa dari Dion. Beda kalau Fenni lagi sama Mas Erick, ada gelenyar gimana ... gitu."


"Alah, dulu Papah sama mamah juga tidak cinta. Kami menikah karena paksaan, tapi nyatanya sekarang kami saling mencintai," elak Zamroni.


Bibi Mar berdecak. "Beda! Jangan samakan kamu sama Dion, Zam. Memang dulu kamu playboy? Nggak kan?"


Zamroni menggeleng.


"Oke, aku setuju dengan kesepakatan ini. Aku yakin Dion bisa berubah menjadi lebih baik!"


***


Kamar hotel


Ericko masih memandangi jendela kamar hotel itu. Kaca yang terbentang luas menyajikan pemandangan kerlap-kerlip lampu di malam hari. Tiba-tiba saja ada bayangan Komandan Bambang lewat di hadapan kaca itu. Hingga dia mendekatkan kepalanya ke jendela untuk memastikannya. Nihil, tidak ada siapapun.


Terdengar suara pintu diketuk, membuat Ericko menoleh ke arah pintu itu. Ericko berjalan mendekati pintu itu.


"Siapa?" tanya Ericko untuk berjaga-jaga.


"Room service," jawab orang itu dari luar kamar.


Ericko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perasaan dia ataupun yang lain tidak memesan layanan kamar. Tapi kenapa ada layanan kamar datang ke tempatnya?


"Saya tidak pesan," jawab Ericko lagi.

__ADS_1


"Ini gratis untuk para jomblo!"


Ericko semakin mengernyitkan dahinya. Suaranya mirip seperti waria, membuat Ericko ragu untuk membuka pintu. Dengan sikap siap siaganya, Ericko membuka pintu kamar itu perlahan. Seseorang masuk mendorong troli, Ericko berada di belakang pintu langsung menodongkan senjata ke kepala orang itu.


"Kau masih belum bisa mengenali komandanmu sendiri? Anak buah macam apa kau ini?"


Ternyata yang datang adalah Komandan Bambang. Ericko langsung menyimpan kembali senjatanya. Sejenak dia memandangi penampilan komandannya, lalu tergelak tawa keras.


Komandannya memakai wig panjang berwarna pink, mini dress warna ungu yang menunjukkan paha hitamnya, serta betisnya yang kekar tersaji sempurna. Kumisnya yang tebal masih setia melekat di bawah hidung dekat bibirnya.


"Nyamar jadi apa sih, Ndan? Cobalah itu kumis tadi dikerok! Semalam berapa?" ejek Ericko.


"Iii ... akika tak mau sama you!" Ericko semakin tertawa lepas mendengar ucapan komandannya yang sudah sangat menjiwai itu.


"Komandan ngapain nyusulin kesini?"


Ericko menebak pasti ada misi baru lagi untuk mereka. Komandan Bambang tersenyum penuh arti lalu membuka tutup makanan steinless itu. Ada sebuah surat yang tergeletak di piring. Ericko langsung mengambilnya.


"Misi baru untuk kalian. Kali ini kamu menjadi pemeran utamanya. Misi ini akan sangat menguntungkan banyak pihak, jadi kumohon bawa keberhasilan sampai padaku. Jika kita gagal dalam misi kali ini, maka kemungkinan besar kita mengungkap kasus lain akan semakin kecil. Paham?"


"Siap, paham!" jawab Ericko lantang.


"Baca suratnya," perintah Komandan Bambang.


Ericko langsung membuka kertas itu. Membacanya dengan perlahan dan mengulangi kalimat yang tertera disana. Membuat matanya melotot tidak percaya misinya kali ini sangat aneh!


"Menjadi tunangan palsu Fennita Malik?"


.


.


.


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Tip


__ADS_2