
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Berita mengejutkan datang dari Dion Sanjaya. Pukul satu siang tadi, dirinya digelandang ke Mabes Polri karena terjerat kasus narkoba. Polisi melakukan operasi tangkap tangan di TKP, dan menemukan Dion sedang menghisap sa bu. Sekarang dirinya sedang menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui memang memakai atau tidak.
Tidak terdengar kabarnya bukan sibuk untuk membantu menjalankan bisnis keluarga. Melainkan sedang asik pindah diskotik setiap malam. Alex yang sedang bersiap untuk acaranya nanti malam juga terkejut mendengar berita tentang anaknya. Bagaimana tidak? Dia selalu mewanti-wanti Dion agar menjauhi benda itu. Alasannya karena bisa menghancurkan kesuksesan yang ada.
Semua orang terkejut akan berita itu. Mereka menyaksikan jumpa pers yang diadakan oleh pihak kepolisian. Mendengarkan dengan seksama penuturan yang diberikan oleh pria berseragan coklat itu.
"DS tertangkap tangan sedang memakai sa bu. Tes urin yang dilakukan menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemakai. Yang masih kami selidiki adalah, apakah dia hanya seorang pemakai saja atau juga sebagai pengedar?" ucap Komandan Polisi itu dengan tenang.
Ericko, Dilan, dan Rio sampai geleng kepala mendengar dan melihat berita yang ditayangkan. Apakah ini serangan balik dari Allah untuk Alex? Entahlah! Mereka tidak ingin ambil pusing dengan masalah Dion. Mereka segera menuju ruang peralatan untuk mempersiapkan semuanya.
Kabar itu membuat Alex diburu oleh wartawan. Sungguh, berita yang bisa menjatuhkan reputasinya. Dia menyuruh pengacaranya untuk membereskan semua hal tentang Dion. Dia tidak ingin acara nanti malam hancur karena ulah anaknya.
***
Windusari.
Fennita yang melihat berita tertangkapnya Dion ikut terkejut. Bagaimana tidak? Dia tidak menyangka bahwa Dion juga mendekati barang terlarang itu. Karena seingat Fennita, papahnya selalu menceritakan Dion yang doyan sekali bekerja. Dia mengikuti berita itu hingga berganti topik pembahasan lain.
Isnaeni datang sambil membawa tas berisi uang hasil jualannya. Ternyata memang benar ucapan Zamroni, dagangannya membutuhkan inovasi dan strategi pemasaran yang tepat. Hal itu terbukti dari pendapatannya akhir-akhir ini. Meskipun tidak sampai ludes terjual, tapi modal mereka kembali. Untung yang didapat tidak seberapa tapi mampu untuk mencukupi semuanya. Biaya listrik dan uang iuran warga mampu dibiayai dari keuntungannya berjualan.
"Kasihan om Alex ya, Fen? Padahal, nanti malam debat calon presiden dan wakil presiden, lho," ucap Isnaeni iba melihat Dion yang terjerat kasus narkoba.
Fennita mengernyitkan keningnya, "Ih, Mamah ngapain kasihan sama om Alex? Biarin aja, Mah! Mungkin itu karma buat dia karena nggak mau ngaku jadi anggota Red Fox!"
"Eh, nggak boleh begitu. Kita kan memang nggak tahu kebenarannya!" sanggah Isnaeni masih khusnudzon pada Alex.
__ADS_1
Fennita kesal dengan sikap mamahnya. Alex itu sudah berkhianat, tapi mamahnya masih saja baik terhadap sahabat papahnya itu. Fennita mengakhiri obrolan itu, bisa makan kesal jika diteruskan.
"Fen ...," panggil Isnaeni.
Fennita menoleh, "Ya, Mah? Kenapa?"
"Kamu ..., kemarin kenapa?" tanya Isnaeni mengulik kejadian dimana tiba-tiba Fennita menangis.
"Ng ..., Fenni nggak papa kok, Mah!"
Isnaeni tidak percaya begitu saja dengan penuturan putrinya. Dia ingin Fennita bisa jujur kepadanya. Menganggapnya layaknya seorang sahabat, yang bisa diajak berbagi cerita. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya dirasakan anaknya.
"Kamu ..., kepikiran sama Erick?" tanya Isnaeni karena Fennita bungkam.
Fennita mencoba menghindari obrolan itu. Dia tidak ingin melihat mamahnya terluka. Sudah cukup tempaan hidup yang saat ini mereka alami. Dia memilih pergi keluar rumah, menuju tempat Qory. Dia berjalan seorang diri menuju rumah sepupunya itu karena ingin menghindari obrolan tentang Erick.
***
Acara itu dihadiri oleh ketua KPU, ketua KPK, pakar tata negara, pakar hukum, dan ketua KomNas HAM. Komandan Bambang dan anak buahnya sudah berada di studio yang akan digunakan untuk acara debat terbuka itu. Dia mencoba bernegosiasi dengan Nahwa dan Prabu tentang pertanyaan yang akan diberikan kepada Alex.
"Itu melanggar aturan main, Pak!" tolak Prabu sedikit sarkas.
Komamdan Bambang sampai memijit pelipisnya agar ide anak buahnya bisa berhasil. Mereka sudah tidak memiliki waktu lagi. Dia mencoba bernegosiasi lagi, tapi Prabu keukeuh menolak. Dengan berat hati, Komandan Bambang harus menggunakan cara lain.
Dia menyuruh Rio untuk membuat Prabu pingsan sementara waktu dan menguncinya di kamar mandi. Jika Prabu setuju dengan idenya, maka hal itu tidak akan dia lakukan. Dia juga mengubah semua pertanyaan yang sudah diajukan oleh para pakar yang hadir. Terserah jika nanti dia dan anak buahnya terkena hukuman oleh ketua BIN. Yang saat ini di kepalanya adalah bagaimana membuat Alex mau mengungkapkan kejahatannya.
Dilan memakai maskernya untuk penyamaran, karena dia ditugasi untuk memasangkan microphone itu di tubuh Alex. Sedangkan Ericko berpura-pura menjadi kameramen. Komandan Bambang menggantikan Prabu mendampingi Nahwa. Bang Yus dan Zumarnis membantu aksi mereka dengan meyakinkan produser acara itu. Bahwa mereka akan memperoleh rating yang fantastis.
__ADS_1
Dilan memasang microphone itu dan berbisik kepada Alex, "Jawab semua pertanyaan dengan jujur, atau tubuhmu hancur." Dilan mengarahkan pandangannya kepada microphone itu.
Alex mengikuti arah pandangan Dilan. Tubuhnya seketika bergetar, ada lampu merah yang menyala kelap-kelip di saku jasnya. Dilan menoleh ke Ericko, dan Alex mengikuti pandangan itu. Ericko melambaikan tangannya dengan senyum kejam, dan menunjukkan sesuatu di tangan kirinya.
"Kalau kamu mencoba berbohong, maka ..., duar! Tubuhmu akan hancur!" terang Dilan.
Alex meremas tangannya sendiri, tidak tahu langkah apa yang harus dilakukannya. Acara debat dimulai. Nahwa dan Bambang membuka acara itu dengan sangat berkesan dan rapi. Sedikit melontarkan candaan saat menyapa para pakar sesuai bidang masing-masing. Ketegangan dimulai saat memasuki acara debat.
Pertanyaan pertama dilontarkan oleh ketua Komnas HAM. Dia melontarkan pertanyaan terkait hak anak mendapatkan pendidikan. Di Indonesia, masih banyak anak yang berada di pelosok negeri tidak dapat mengenyam pendidikan. Merupakan masalah serius terkait dengan HAM. Alex dan Yunus diberikan waktu dua menit untuk menjawab dan memaparkan strategi mereka. Tiba-tiba saja Bambang melontarkan pertanyaan susulan yang agak melenceng dari topik pembicaraan.
"Lalu, apakah Anda setuju dengan penjualan organ yang marak terjadi saat ini?" tanya Komandan Bambang langsung ditujukan pada Alex.
Tim kreatif mengingatkan Nahwa untuk menghentikan pertanyaan yang melenceng itu, tapi Nahwa justru tidak menggubrisnya. Dia juga ingin kebenaran terungkap. Para pakar yang hadir juga sedikit terkejut adanya pertanyaan susulan itu. Tapi mereka ingat, mereka sedang live dan tidak mungkin menghentikannya begitu saja.
Ericko menunjukkan lagi benda yang dipegangnya. Mulutnya mengisyaratkan bahwa Alex harus jujur, atau dia akan memencet tombol itu dan membuat bom itu meledak.
"Duar!" ucap Ericko dengan suara tak terdengar ke telinga Alex.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip