Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Ada Apa?


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Fennita menoleh sebentar ke arah Erick, melihat Ericko sedang mengulum senyum. Entah harus bagaimana dirinya sekarang, disaat dia sudah bertekad untuk melupakan perasaannya terhadap Ericko, kesempatan malah seperti sedang terbuka lebar untuknya.


Haruskah dia mengubah pendiriannya lagi? Tidak, tidak, tidak! Biar Ericko merasakan sebuah perjuangan untuk mendapatkan maaf dari perbuatannya terlebih dulu.


Ericko menawarkan kembali kacang mete itu pada Fennita. Dia menggeleng pelan.


"Kenapa? Nggak suka sama kacang mete?"


"Lagi nggak pengen ngemil, Mas."


Ericko hanya mengangguk, tiba-tiba saja dia ingin membahas syarat menjadi istri dari seorang Ericko Juanda.


"Aku nggak mau pacaran, kalau udah nemu yang pas ya ..., nikah!"


"Sama almarhumah? Kenapa mau pacaran?" tanya Fenni penasaran.


"Itu sebenarnya aku udah mau melamar dia, tapi Allah berkehendak lain." Ericko berbicara dengan mengunyah kacang mete itu.


"Jadi istri aku tuh syaratnya banyak! Wajib nurut omongan suami, wajib menutup aurat ketika pergi, wajib bisa menjaga rahasia, wajib bisa masak, wajib bisa apalagi ya?" Ericko berpura-pura berpikir.


Tetap saja, Fennita tidak terpancing dengan pertanyaannya. Sepertinya permintaan maaf ini akan memakan waktu yang lama. Bagaimana lagi cara yang harus ditempuh Ericko supaya Fennita benar-benar bisa memaafkannya?


"Kamu nggak pengen gitu jdadi istri, aku? Uhuk!" Ericko tersedak makanannya sendiri. Stok kepercayaan dirinya memang segudang. Fennita hanya diam tidak merespon apapun.


Mereka hampir sampai di restoran x. Setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, Fennita segera mematikan mesin mobilnya. Erick merapikan penampilannya, seperti akan bertemu calon mertua yang sesungguhnya.


"Udah ganteng maksimal belum, yang?" kata Ericko sungguh luwes saat mengatakannya.


Fennita menghela napas panjang, harus sadar bahwa semua yang dikatakan Ericko hanya untuk pura-pura. Jadi dia tidak ingin terbawa perasaan alias baper. Sudah cukup dia sakit hati karena ucapan Ericko.


Fennita hanya mengangguk, Erick mencegah tangan Fennita yang sudah membuka pintu mobilnya.


"Kamu mau ini berhasil, kan?"


"Iya," jawab Fenni malas.


"Tunjukkan rasa yang seharusnya seperti pasangan kekasih, stop rasa marahmu, bisa kan, sayang?"


Sepasang netra mereka saling bertemu. Fennita menangkap penyesalan dalam mata Ericko. Dia memejamkan matanya, mengambil napas panjang beberapa kali dan tersenyum.

__ADS_1


"Suka sekali kamu manggil aku dengan sebutan itu. Baiklah, calon bojo mari kita masuk!" kata Fennita dengan senyum mengembang di bibirnya. Dia mengatakannya agar segera keluar tanpa ada drama di dalam mobil.


Ericko mengulum senyumnya karena Fennita yang ceria sudah mulai kembali. Mereka turun dari mobil dan segera memasuki restoran. Disana sudah ada Zumarnis dan Naomi, melambaikan tangan ke arah Fennita dan Erick. Mereka bercengkrama sebentar sembari menunggu Zamroni datang.


"Rick, harus berhasil lho ya! Kalau Fenni sama yang lain, kamu ikhlas nggak Rick?" tanya Naomi mulai usil menggoda Erick.


"Kalau dia senang ya, silahkan aja!"


"Yakin? Kok Tante nggak yakin ya sama ucapanmu?" sahut Zumarnis.


"Fenni udah nggak mau menumbuhkan rasa itu di hati Fenni, Bi. Sakit. Belum apa-apa aja udah disuruh mundur." Fennita mengatakan hal itu sambil memandang kosong ke arah meja.


Gelenyar itu hinggap lagi menghampiri hati Erick. Sumpah! Dia tidak suka melihat Fenni sedih seperti ini. Yang dia inginkan, hanya melihat senyuman termanis dari bibir Fenni, pancaran mata yang selalu mendamba akan dirinya, dan perhatiannya yang begitu lazim tapi mampu membuatnya seperti memiliki orang terkasih. Sungguh egois sekali kamu, Rick!


Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Zamroni datang. Namun, Zamroni tidak datang sendirian. Dia datang bersama Alex dan Dion Sanjaya. Dia juga memesan ruang yang berbeda dari yang dipesan Zumarnis. Membuat Erick dan Zumarnis mengernyitkan dahi.


Ada apa ini?


Begitulah pertanyaan yang menggelayuti Zumarnis dan Ericko. Zamroni juga meminta hanya Ericko dan Fennita yang masuk bersama dirinya, juga bersama Alex dan Dion. Kepala Zumarnis langsung berdenyut, rencananya sudah dianggap gagal total. Padahal dia dan Bambang sudah memasang penyadap agar bisa tahu obrolannya dengan Erick nantinya.


Mau tidak mau, Ericko harus mengikuti keinginan Zamroni. Fennita juga tidak mau membantah sesuai instruksi bibinya. Mereka masuk ke dalam ruangan yang dimaksud oleh Zamroni.


"Coba sebutkan namamu!" perintah Zamroni.


Ericko menjawab setiap pertanyaan yang mereka lontarkan dengan jawaban yang konsisten. Itu dia lakukan agar mereka percaya bahwa dia memang benar-benar orang biasa, bukan intel.


Zamroni bercengkrama dengan Alex dan Dion, membiarkan Erick seperti orang asing di dalam sana. Erick hanya bisa bersabar dengan keadaan itu, jika dia sampai terpancing emosi, maka misinya akan gagal.


Dia mendengarkan semua obrolan mereka dengan seksama. Tapi, tidak ada yang penting dalam obrolan mereka itu. Sedangkan Fennita diam sejak tadi tanpa berbicara sepatah kata. Dia mengingat pesan bibinya yang mengatakan bahwa ucapan mereka berdua harus sama. Jadi dia memutuskan untuk diam dan membiarkan Ericko yang menjawab semia pertanyaan.


"Kenal Fennita dimana?" tanya Dion.


"Di bus," jawab Ericko jujur. Dia memang pertama kali bertemu dengan Fennita di bus.


"Apa kamu menjampi-jampi Fennita?"


Pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut Dion membuatnya tersenyum kecut. Buat apa? Tidak usah dijampi-jampi juga Fennita yang mendekat sendiri padanya. Bagaikan magnet yang bertemu dengan kutub-kutubnya.


"Apa yang menjadi kelebihanmu?" kini Alex ikut bertanya.


"Saya tidak memiliki kelebihan apapun, tapi saya mencintai Fennita dengan tulus." Ericko mengatakannya dengan lantang. Fennita mengulum senyum saat Ericko mengatakannya. Seketika senyum itu sirna, karena dia sadar bahwa ini hanyalah pura-pura.

__ADS_1


Zamroni, Alex, dan Dion twrtawa mendengarnya. Zaman sekarang yang didahulukan bukan cinta.


"Mau kamu kasih makan apa anak saya nanti?" tanya Zamroni.


"Memberinya makan dari hasil keringat saya yang benar-benar halal agar tidak menjerumuskan Fennita dalam jurang neraka, Om."


Zamroni langsung menghentikan makannya, pertama kali dia mendengar jawaban yang begitu dalam dari seorang pria yang begitu mencintai anaknya. Hingga tidak ingin menjerumuskannya ke jurang neraka. Bahkan, selama ini dia memberi makan anak dan istrinya dari uang haram. Hasil menggelapkan senjata secara ilegal, adalah salah satunya.


Dion malah tertawa mendengar jawaban Ericko.


"Ada model pria begini di zaman serba keras. Bahkan kamu nggak akan bisa membelikan bedak untuk Fennita, bro!"


Ericko tersenyum mendengarnya. Ingin sekali dia menyumpal mulut Dion. Jangankan bedak, Fennita minta shoping setiap hari dia masih mampu.


"Yang, berapa harga bedakmu?" tanya Ericko dengan begitu mesranya.


Fennita hampir tersedak, "Murah kok Mas, nggak sampai lima ratus ribu."


Zamroni menangkap ketulusan dari mata sepasang kekasih bohongan itu. Dia juga menangkap raut bahagia dari Fennita. Alex yang melihat tatapan dalam dari Zamroni sudah mulai kelimpungan. Takut jika Zamroni berubah pikiran dan malah merestui hubungan mereka.


Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Dion harus menikah dengan Fennita bagaimanapun caranya. Dion harus bisa menguasai Malik Grup untuk ke depannya. Dan dia harus bisa menjadikan Zamroni boneka mainan yang bisa dia mainkan kapanpun.


Makan siang telah usai, mereka kembali ke tempat kerja masing-masing. Zamroni mendapatkan telepon yang membuat hatinya memanas. Hingga dia mengepalkan tangannya dan meninju tembok restoran.


Ericko merasa ada sesuatu yang bisa melancarkan misinya. Instingnya selalu tepat jika soal tebak menebak, tapi bukan soal hati Fennita. Dengan cepat dia menghampiri Zamroni dan bertanya.


"Ada apa, Om?" tanya Erick.


Zamroni menarik tangan Erick menjauh dari Fennita. Lalu mengatakan sesuatu, "Jika kamu bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik, maka kamu akan saya nikahkan dengan Fennita!"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2