Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Mencintai adalah Takdir


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Fajar menyingsing menggantikan kesenyapan malam dengan keriuhan kicauan burung. Seperti biasa, Ericko selalu mandi sebelum adzan Subuh. Dia mengerjakan dua raka'at sebelum Subuh terlebih dahulu. Saat adzan berkumandang, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dia segera membukanya.


David sedang berdiri di depan pintu kamarnya, sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Dilan yang biasanya masih tidur, kini terlihat sedang memakai sarung sambil berjalan ke arah kamar Erick.


"Aku mau ikut ..., shalat," ucap David pelan dan tenang.


Ericko menarik kedua sudut bibirnya, "Sudah wudhu?"


David menggeleng, "Aku lupa niatnya, tolong ajari."


Erick mengangguk lalu keduanya menuju kamar mandi. Erick melafalkan niat wudhu dan diikuti oleh David. Setelahnya Dilan meminjamkan sarungnya pada David dan memberikan sajadah. Mereka sholat di ruang tamu yang cukup luas untuk mereka bertiga.


Erick menjadi imam untuk kedua temannya itu. David yang sudah lupa semua bacaan shalat, hanya mengikuti gerakan Erick dan Dilan. Dia tidak tahu apa yang harus dibacanya. Dia masih mempelajari buku yang sempat diberikan Erick padanya.


Selesai dua raka'at mereka sepakat untuk olahraga ringan di dalam basecamp. Lalu Dilan mendapatkan tugas untuk memasak sarapan. Erick sedang duduk di ruang tamu dan masih mencoba menghubungi Fennita. Ternyata masih sama, panggilannya diabaikan.


David duduk di sampingnya dan memberikan sebuah catatan untuknya. Erick menerimanya dan membacanya. Semua tentang Zamroni Malik, lengkap seperti sebuah buku biografi.


"Rebut hati Zamroni dengan menguasai hobinya. Tunjukkan bahwa kamu lebih baik dibandingkan Dion. Jangan pernah membantah apapun yang dia perintahkan untukmu. Dia itu sebelas dua belas seperti Alex Sanjaya. Akan lebih mudah mengambil hati Zamroni daripada Alex." David hendak berdiri meninggalkan Erick.


"Makasih, Bro."


"Sama-sama. Kalau kamu keluar, tolong belikan aku baju dalam dan sesuatu yang bisa aku baca."


Erick mengangguk, "Oke, butuh yang lainnya?"


"No, thanks!"


Dilan selesai memasak nasi goreng, lalu menghidangkannya di meja. David langsung menghampiri makanan yang telah tersaji itu. Dilan mengambilkan makanan untuk Erick dan menyerahkannya pada sahabatnya itu.


"Pagi-pagi itu muka bete amat, sih!" seru Dilan.


"Fenni marah ke gue!"


"Lo apain lagi anak gadis orang?"


"Semalam gue anterin dia pulang, dia cemburu karena gue sempat bahas sedikit tentang Kalena. Dia tahu dari siapa, ya? Lo pasti, kan? Nah, gue nggak tahan dia diem, gue bentak sambil ngomong yang intinya kami itu cuma pura-pura, dan gue melarang dia supaya nggak jatuh cinta sama gue."


Dilan langsung menyentil dahi sahabatnya itu. "Otak lo konslet? Bisa ya ngomong gitu? Dasar! Menikah adalah nasib, Rick. Mencintai adalah takdir. Lo bisa berencana menikah dengan siapa, tapi lo nggak bisa merencanakan dengan siapa lo jatuh cinta! Kalau Fenni bisa milih, dia nggak mau takdir cintanya begini. Gemes gue, ah!"


Erick menyentuh dahi Dilan dengan telapak tangannya. Tidak hangat, tapi kalimat Dilan yang baru saja dilontarkannya adalah bukan ciri khas Dilan.


"Lo dikasih pelet apa sama Intan sampai bisa ngomong puitis dengan lancarnya?" tanya Erick.


Sedang David terbatuk-batuk entah karena apa. Mereka hanya menoleh dan membiarkan hal itu begitu saja tanpa ingin tahu kenapa David tersedak.

__ADS_1


"Bantuin mikir dong, Lan. Dari semalam gue hubungi dia nggak diangkat juga, padahal hari ini gue ketemuan sama bokapnya."


Dilan mengangkat tangannya, dia tidak ingin membantu Ericko. Membuat Ericko semakin kesal. Dia harus mencari cara agar Fennita memaafkannya. Dia harus bisa meluluhkan hati Fennita kembali.


Setelah selesai sarapan, dia langsung tancap gas meninggalkan basecamp menuju rumah Fennita. Dia benar-benar menyesal mengatakannya. Dia mulai meresapi perkataan Dilan, cinta adalah sebuah takdir. Dia tidak akan bisa memilih kepada siapa dia akan menetapkan pilihannya.


Dia sudah berada di pintu gerbang rumah Fennita. Ada suasana yang berbeda dari biasanya, sekarang rumah Fennita dijaga oleh beberapa orang. Semacam bodyguard, yang berpakaian serba hitam dengan tampang yang sangar. Ericko harus bisa bertemu dengan Fennita, bagaimanapun caranya.


Dia mengamati situasi yang ada, sambil berpikir caranya masuk ke dalam rumah Fennita tanpa harus menunjukkan identitasnya. Keberuntungan memang selalu berpihak kepadanya. Ada sosok yang dikenalnya sedang berjalan keluar dari gerbang rumahnya. Erick segera keluar dari mobil dan menyapanya.


"Assalamualaikum, Tan." Ericko menyalami Isnaeni yang melintas melewati mobilnya.


Isnaeni menoleh dan tersenyum, "Eh, waalaikum salam. Erick? Pagi sekali kesininya, Fenni belum bangun."


Ericko mengangguk dengan wajah kecewa, "Tante mau kemana?"


"Mau belanja di tukang sayur langganan. Di gerbang kompleks."


"Jauh lho, Tan. Ayo, Erick antar saja pakai mobil." Erick langsung membukakan pintu sebelah kiri mobil.


Isnaeni tersenyum dan masuk ke dalam mobil Ericko. Mereka bercengkrama seperti layaknya seorang anak dan ibu. Erick dengan sabar menunggu Isnaeni selesai berbelanja.


"Maaf ya, Rick. Tante lama belanjanya. Ayo kita bangunkan Fenni," kata Isnaeni saat selesai meletakkan belanjaan di dapur.


Kesempatan emas bagi Ericko untuk mengamati bagian rumah Zamroni. Satu kamar utama, satu kamar Fennita, dan satu ruangan yang disebut Isnaeni sebagai ruang kerja Zamroni. Dia mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru arah, mencari cctv yang mungkin terpasang disana.


Ericko langsung menutup matanya dan berbalik badan. Membuat Isnaeni bingung, Fennita langsung menutup pintunya kembali.


"Suruh dia ke ruang kerja papah, Mah! Fenni ganti baju dulu. Takut ada yang sawan!" teriak Fenni dari dalam kamarnya.


Isnaeni tertawa kecil, dia tidak menyangka di zaman yang serba modern ini masih ada pemuda yang menjaga pandangannya. Isnaeni menyuruh Erick untuk menunggu Fenni di dalam ruang kerja Zamroni.


Fenni sudah berganti baju, sekarang dia mengenakan setelan baju tidur dengan lengan panjang dan celana panjang.


"Kok pakai baju tidur?" tanya Isnaeni.


"Fenni nggak punya baju yang nutup aurat!"


"Ya sudah, Mamah buatkan minum dan cemilan dulu. Sana temenin!"


Fennita mengangguk dan segera masuk ke ruangan kerja papahnya. Erick tersenyum menyapanya. Fenni memilih duduk di depan Erick, dia bersedekap dan membuang pandangannya. Masih sakit hati dengan ucapan Ericko.


"Assalamualaikum," sapa Erick.


Salam pembuka yang pasti akan mendapatkan balasan jawaban dari Fennita. Erick memang selalu tahu cara untuk membangun komunikasi.


"Waalaikum salam." Fennita menjawabnya dengan datar.

__ADS_1


"Aku mau minta maaf sama kamu," kata Ericko dengan wajah penuh penyesalan.


Fennita mengangguk, sekarang malah Ericko yang bingung.


Benar sudah dimaafkan?


Semudah itu?


"Segampang itu?"


Fennita mengangguk.


"Kita nanti ketemuan sama papah kamu, kan?"


Fennita kembali mengangguk.


"Fen, bisa dijawab pakai kata nggak? Jangan cuma diam seperti itu. Kamu nggak ikhlas nih maafinnya!"


Erick menghela napasnya agar bisa mengontrol emosinya, "Coba ceritakan tentang papah kamu, Fen."


"Tanya sama bi Mar saja, Mas. Urusan kamu sudah selesai, kan? Nanti kita bertemu di restoran saja."


Fennita beranjak dari duduknya, "Oh ya, kamu tenang aja, aku sudah membuang jauh rasa cintaku sama kamu. Kali ini aku akan melakukan peran tanpa melibatkan perasaan. Sampai jumpa nanti siang, Mas."


Fennita pergi meninggalkan ruangan itu, sungguh kali ini Ericko merasa sangat menyesal dengan ucapannya. Dia benar-benar telah melukai hati Fennita. Hingga sikap yang ditunjukkan oleh Fennita adalah dingin dan tidak peduli.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Blais lho, Rick! Fenni ngambeknya bakalan lama nggak ya?


Othor baru dapat hasil SKD. Sakit lihat hasilnya, astaghfirullah ..., mau nangis tapi kok ya malu sama anak. Yawes lah, disyukuri saja. Allah lebih tahu apa yang othor butuhkan, bukan yang othor inginkan.


Semangat pagi, kawan!


__ADS_1


__ADS_2