
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Erick mencoba untuk tidur kembali, namun sekarang matanya malah tidak mengantuk. Ia merasa lapar, melihat isi kulkas tapi tidak ada apa-apa disana. Dengan berat hati dan langkah yang malas, dia keluar dari basecamp untuk mencari sesuap nasi. Ia mengemudikan mobilnya menuju warung makan yang pernah mempertemukannya dengan Fennita.
Dia tidak langsung turun, hanya diam melihat ramainya orang disana. Membuat dia teringat kembali dengan Fennita. Hatinya terasa perih, tidak bisa makan disana lagi dengan Fennita. Akhirnya dia memutar mobilnya menuju tempat lain. Menjatuhkan pilihannya untuk makan di mall.
Pilihan yang tepat karena dia jarang mengajak Fennita ke mall. Jangankan mengajak masuk mall, niat kencan saja tidak terlaksana. Dia berjalan sendirian dan duduk di salah satu food court. Memesan makanan dan menikmatinya seorang diri. Beberapa pasang mata menatapnya, kebanyakan dari kaum hawa. Membuatnya risih dan segera mengakhiri makan malamnya.
Dia berjalan mengelilingi mall. Melihat semua yang dipajang di etalase toko. Entah kenapa kakinya berhenti di toko perhiasan. Matanya menatap ruangan toko itu. Salah satu karyawan mempersilahkannya masuk.
"Oh, nggak, saya ..., cuma lewat aja kok, Mbak!" tolak Erick sopan.
Dia kembali berjalan menyusuri mall itu, tapi baru beberapa langkah, dia memutar badannya dan masuk ke toko perhiasan itu. Entah apa yang dicarinya, tapi hatinya mengatakan untuk memilih sesuatu dari toko itu. Seorang karyawan toko mendatanginya dan menanyakan keperluannya. Dia tidak bisa menjawab, karena memang sebenarnya dia tidak berniat membeli perhiasan.
"Cincin mungkin?" ucap karyawan toko itu. Erick tertawa garing mendengar hal itu. Untuk siapa dia beli cincin? Fennita saja sampai sekarang belum ditemukan olehnya!
Sekali lagi, dia mengikuti kata hatinya. Dia mengikuti arah tangan karyawan itu. Di dalam kotak kaca panjang itu berjajar cincin eksotik nan cantik dengan sorotan lampu sebagai aksen penambah keindahan. Mata Erick selalu dijuluki mata elang oleh para sahabatnya, jadi tidak begitu sulit menemukan cincin yang cocok dengan seleranya.
"Ukuran berapa, Pak?" tanya karyawan itu memastikan ukuran jari orang yang akan memakai cincin itu.
Erick menggaruk tengkuknya dan tersenyum simpul, dia tidak tahu ukuran jari perempuan yang akan menerima cincin itu. Bagaimana ini? Dia kebingungan. Erick mencoba menghubungi Dilan, bertanya tentang ukuran jari Fennita. Ternyata oh ternyata, cincin itu akan dipakai Fennita? Oke Rick, Mak Othor dukung! Lanjutkan!
Dilan tidak mengangkat panggilan itu. Erick menghubunginya kembali. Diangkat, kata-kata yang terdengar seperti dari mbak-mbak operator, tapi suaranya laki-laki.
"Maaf, pemilik nomor yang anda tuju sedang belah duren. Mohon tidak mengganggu dan coba hubungi kembali besok. Terima kasih." Dilan menirukan suara operator yang biasa mereka dengar ketika nomornya tidak bisa dihubungi.
Erick berdecak sebal. Salah kamu sendiri, Rick! Orang lagi belah duren kamu ganggu. Nasib jadi jomblo ya begitu, Rick! Sabar.
Akhirnya Erick memilih ukuran cincin sendiri. Dia memilih ukuran tujuh belas, sesuai saran karyawan toko. Dia meminta diletakkan di kotak berwarna hitam dan berpita emas. Ia menyelesaikan pembayaran dan segera keluar dari toko itu.
__ADS_1
"Semoga pas di jari kamu, Fen. Entah kapan kita akan bertemu, tapi aku berjanji akan menemukanmu. Jika ada yang mencoba merebut hatimu, aku sendiri yang akan mengusiknya untuk menjauh darimu." Erick meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa menemukan Fennita.
Ia kembali mengemudikan mobil menuju basecamp. Kembali berteman dengan sahabat sejati, yaitu sepi. Rio mengirim pesan padanya, mengingatkannya agar besok pagi dia siap pukul lima subuh. Mereka akan melakukan perjalanan ke Windusari menggunakan mobil Panjeri milik Rio.
Dia hanya membaca pesan itu dan tidak mau membalasnya. Dia memasukkan kotak hitam itu di saku jaketnya. Mengecek kembali perlengkapan yang harus ia bawa saat naik gunung.
Pagi menjelang, seperti kebiasaan Erick, ia akan mandi sebelum subuh. Hampir saja ia telat tahajud tadi malam. Sepertinya keimanan Erick perlu proses upgrading. Entahlah, mungkin dia kelelahan dan banyak pikiran.
Rio, Naomi, Dilan, dan Intan sudah siap di luar basecamp. Mereka menunggu Ericko yang hendak turun. Mereka akan berangkat ke Windusari sesuai jadwal yang mereka sepakati. Alasan keberangkatan mereka adalah karena Naomi mengidam mie ayam dan bakso setan yang ada disana. Ericko tidak mau ambil pusing dengan alasan itu. Dia hanya menuruti keinginan teman-temannya.
Ia memasukkan carrier bag miliknya di bagasi belakang sama seperti yang lain. Tapi ada yang aneh, yang akan naik gunung berjumlah lima orang. Tapi kenapa jumlah carrier bag itu ada enam?
"Kok tasnya ada enam? Yang satu isinya apaan, nih!" tanya Erick penasaran.
Dengan tenang Intan menjawab, "Gue bawa dua, yang satu isinya makanan semua."
"Buju buset! Tas segede gini lo isi makanan semua, Tan? Lan, perut bini lo terbuat dari karet?" jawab Ericko.
Dilan melotot ke arah Erick. Menyuruhnya untuk mengalah. Bukannya mau mengalah, Erick malah semakin mengolok-oloknya.
"Tan, semalem dihajar berapa ronde sama Dilan? Tapi kok lo bisa jalan sih? Atau jangan-jangan Dilan gagal belah duren kali nih, pisaunya perlu diasah kali!" ucap Erick penasaran.
Dilan menjawab dengan bangga. Mengatakan bahwa dirinya bermain dengan lembut. Rio dan Naomi menggodanya habis-habisan.
"Udah! Jangan pada pamer ke gue! Nggak kasihan apa sama gue? Jomblo nih!"
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Erick. Rio menyuruh Dilan untuk menjadi sopir bagi mereka. Tapi Dilan menolak, alasannya masih mengantuk dan mempersiapkan tenaga untuk serangan selanjutnya. Mereka semua masuk ke dalam mobil.
Rio bertugas untuk menyetir pagi ini. Naomi duduk di depan menemani suaminya. Dilan dan Intan yang notabene pengantin baru pastilah selalu nempel seperti perangko. Erick memilih duduk di kursi belakang dan mendengarkan lagu dari ponselnya. Dia memutar lagu milik Armada yang berjudul apa kabar sayang.
__ADS_1
Rio memang pengemudi handal. Kecepatannya selalu tinggi, tapi tidak membuat mabuk penumpangnya dan tidak membuat mereka ngeri merasakan laju mobil. Mereka menempuh perjalanan itu sekitar enam jam lamanya. Melewati beberapa jalan tol yang memang sangat membantu untuk memangkas jarak tempuh. Rio hanya mampir di rest area untuk buang air kecil dan isi bensin. Selanjutnya mereka mengejar waktu agar sampai tepat waktu.
Erick memilih memejamkan matanya saat memasuki tol Pejagan-Pemalang. Dia sangat mengantuk karena semalam baru bisa tidur saat tengah malam. Sesuai perkiraan Dilan dan Rio, mereka sampai di Magelang sekitar pukul setengah satu siang. Rio dan Naomi mencari dimana rumah tantenya.
"Lan, Erick masih tidur?" tanya Naomi.
Dilan menoleh ke belakang dan mengangguk. "Iya, masih."
Naomi menghubungi tantenya. Ia diberitahu bahwa masih butuh waktu setengah jam untuk mencapai Windusari. Naomi meminta tantenya untuk share location, tapi beliau bilang tidak punya kuota. Alhasil mereka harus mencari sendiri dimana letak warung yang sekaligus menjadi rumah Isnaeni sekarang.
Tiba-tiba saja Rio menginjak rem mendadak. Membuat semua orang mengumpat padanya. Itu karena dia melihat penjual mie ayam dan bakso setan. Mereka bersiap untuk turun. Begitu juga dengan Erick yang baru bangun dari tidurnya.
Erick menggeliat dan menguap. Dia meminum sebotol air terlebih dahulu. Melihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Dia tidak ingin melewatkan salat lagi. Ia berpamitan pada sahabatnya untuk menunaikan kewajibannya terlebih dahulu.
"Gue nyari mushola deket sini dulu, deh! Takut nanti waktu salatnya habis," terang Erick. Semua mengangguk. Lalu dia berjalan lurus dari arah jalan itu. Berharap memang menemukan mushola disana.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Mau up berapa? Mumpung othor baik hati nih! Bantuin othor promo dong, promoin karya othor ke temen2 kalian. Sebagai balasannya, othor kasih dobel hari ini. Yang satu nanti malam jam 9