
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Erick langsung melepaskan tangannya. Bodohnya dia! Kenapa sampai lupa bahwa dia telah memegang tangan Fennita. Sudahlah, dia terlalu tidak fokus untuk hari ini. Dia turun dari bed pasien dan merapikan bajunya. Fennita hanya berdiri dan menunggunya.
"Ayo!" kata Erick.
Fennita mengangguk dan berjalan sejajar dengannya. Mereka saling diam kembali, seperti orang yang sedang marahan. Hingga mereka berdiri di depan lift yang masih tertutup, mereka masih saling diam. Oh, tidak! Mereka tidak akan bisa melakukan peran mereka dengan baik kalau seperti ini. Mereka pasti akan mudah ketahuan.
Kebohongan itu pasti akan cepat terungkap. Tidak bisa! Mereka harus lebih hangat satu sama lain. Mereka harus sering berinteraksi. Erick menerima panggilan masuk dari Komandan Bambang. Jadi dia berpamitan kepada Fenni untuk sedikit menjauh.
"Aku terima telpon dulu, ya?" tanya Ericko.
Fenni mengangguk, Erick segera menjauh dari Fenni dan mengangkat panggilan itu.
"Siap, 86!" jawabnya.
"Ha? Komandan tahu darimana kalau aku dan Fennita ada di depan lift?" tanyanya.
Dia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. Fennita yang melihatnya ikut menoleh ke kanan dan ke kiri. Mereka tidak menemukan siapapun. Sepi!
"Haish, Komandan lebih cocok jadi penguntit ketimbang jadi atasan," kata Erick lirih.
"Siap! Maaf, Ndan!" katanya menyesal. Lalu dia kembali berjalan menuju Fennita.
Tepat sekali, pintu lift sudah terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam lift itu. Fennita dan Ericko sama-sama bersidekap dan kembali diam.
"Itu tadi dari bos aku," terang Ericko.
"Ha? Oh ..., kayaknya aku nggak nanya deh, Mas."
"Cuma mau ngasih tahu aja sih, he-he-he,"
Mereka kembali bisu, Ericko bisa kena semprot Komandan Bambang kalau terus seperti ini. Komandannya berpesan agar dia lebih hangat dalam bersikap pada Fennita. Mereka telah sampai di lantai dasar dan segera keluar dari rumah sakit. Ericko meminta kunci dari Fennita, tapi Fennita enggan memberikannya.
"Biar aku yang nyetir, kamu baru saja pulih. Malah menurutku kamu itu harusnya menginap sehari disini, Mas." Fennita membuka pintu mobil.
"Aku nggak tahan sama bau rumah sakit, bikin makin mual nanti." Fennita hanya mengangguk menanggapi ucapan Ericko.
Fennita melajukan mobil ke jalan raya. Kembali menyambangi kemacetan yang selalu terjadi di Jakarta. Volume kendaraan yang padatlah yang sering menyebabkan kemacetan itu.
"Kamu jangan kecapekan lagi, Mas. Sayangi diri sendiri, besok ada waktu nggak? Bi Mar nyuruh kamu ketemu sama papah. Bisa?" tanya Fennita.
Ericko menurunkan sandaran kursinya sedikit lebih rendah, "Iya, tahu. Bisa. Jam berapa?"
"Nanti dikabari bibi lagi. Kamu pusing masalah kerjaan? Sampai kecapekan begitu?"
"Iya, biasa, deadline."
"Sampai lupa makan dan tidur?" tanya Fennita lagi.
__ADS_1
"Iya, cerewet banget sih!"
"Ya bukan cerewet, berapa sih gajimu sampai bisa mengabaikan kesehatanmu begitu? Udah dewasa harusnya bisa lebih mengatur waktu dong, mana saatnya jam makan, saat jam istirahat, dan saat jam kerja. Apa perlu aku atur schedulemu?"
"Iya sayang, iya! Besok aku lebih jaga kesehatan!"
Fennita menginjak rem mendadak, membuat dirinya diklakson oleh mobil-mobil di belakang. Ericko langsung sadar dengan ucapannya barusan. Kata yang biasa dia gunakan untuk Kalena ketika sedang marah, mencelos begitu saja dari mulutnya untuk Fennita.
Fennita menjalankan mobilnya lagi. Mencari jalan pintas agar lebih lama di jalan. Dia masih belum ingin pulang.
"Kamu panggil aku sayang itu sengaja apa nggak sengaja?" tanya Fenni.
Ericko memilih diam dan memejamkan mata. Fennita hanya bisa mendengus sebal karena tidak mendapatkan jawaban. Hatinya benar-benar sedang dipenuhi rasa suka cita. Bisa berdua dengan Erick adalah anugerah yang patut disyukurinya.
Erick sedikit menarik sudut bibirnya ketika melihat Fenni masih sibuk memikirkan panggilan sayang itu. Dia tidak ingin mengonfirmasi apapun. Entah kenapa, tapi yang jelas Ericko tidak ingin melihat Fenni kecewa.
Hatinya juga berdesir ketika melihat Fennita tertawa. Dia tidak tahan lagi, bisa sesak napas kalau dia terus berpura-pura tidur begitu. Karena sekarang, hati Ericko benar-benar sedang berdenyut hebat. Nyut ..., nyut ..., nyut ....
"Eh, bangun dia! Ketawaku membuat kamu bangun?"
"Iya, mode kalem mu sudah habis baterainya apa gimana?"
"Kamu tadi manggil aku apa?"
"Sayang,"
"Itu sengaja apa nggak?"
"Oh, gitu. Masih mual nggak sayang?" tanya Fenni.
Dada Erick dipenuhi gelenyar seperti sengatan listrik. Kata itu sungguh lembut dan tulus didengar oleh gendang telinganya. Fennita sangat tulus saat mengucapkannya.
"Udah nggak, kamu bisa ngerokin aku nggak?"
"Nggak bisa, mau aku suruh mamah buat ngerokin kamu?"
"Suruh! Suruh! Sama orang tua nggak boleh main perintah, Fennita. Minta tolong!"
"Iya itu maksudnya, Mas. Mau?"
Erick mengangguk, dia memang butuh dikerok. Itulah yang selalu ibunya lakukan saat dirinya terkena masuk angin. Dengan sekali kerokan dirinya bisa menjadi sedikit bugar.
Fennita memutar jalur untuk kembali ke rumahnya. Tidak berselang lama, mobil pun memasuki halaman rumah Fennita. Suasana tampak sepi. Hanya ada tiga buah mobil yang terparkir rapi di garasi.
Fennita dan Ericko segera turun. Lalu masuk ke dalam rumah. Isnaeni yang mengetahui kedatangan Ericko langsung tersenyum menyambutnya. Seperti biasa, Erick akan menunjukkan rasa hormatnya pada Isnaeni. Dia mencium tangan Isnaeni.
"Nak Erick apa kabar?" tanya Isnaeni.
"Alhamdulillah, baik Tante."
__ADS_1
"Baik apanya? Mas Erick baru saja keluar dari RS, Mah. Dia minta dikerok, Mamah bisa tolongin, kan?"
"Sakit apa? Kok sampai masuk rumah sakit Tante nggak tahu?"
"Cuma kecapekan, Tan. Dia aja yang lebai masukin Erick ke RS!"
"Dih! Udah ditolongin juga!"
Isnaeni menangkap kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata anaknya. Pancaran yang sudah lama menghilang dari diri Fennita. Tapi, kembali hadir karena keberadaan Ericko. Andaikan suaminya bisa melihatnya sekarang.
Isnaeni tersenyum dan meninggalkan mereka sejenak. Mengambil sebuah koin dan minyak angin untuk kerokan. Tak lama, Isnaeni kembali dan memberikannya pada Fennita.
"Kamu saja yang kerokin Erick, latihan jadi istri siaga kalau suami masuk angin," ucapnya penuh pengharapan.
Fennita dan Ericko saling pandang dan hanya bisa tersenyum. Bagaimana kalau Isnaeni tahu bahwa hubungan mereka adalah settingan? Ericko menolaknya, tidak enak karena dia belum halal dengan Fennita. Isnaeni tetap keukeuh yang mengerok adalah Fennita. membuatnya pasrah dan langsung membuka bajunya. Isnaeni menyuruh Fennita segera mengerok punggung Erick dengan koin kecil itu.
"Caranya gimana, Mah?" tanya Fennita.
"Mulai dari pundak dulu, Fen." Isnaeni memberikan instruksi pada Fennita.
"Kurang keras, Fen. Kerasin dikit biar merah!" protes Ericko.
"Iya," jawab Fennita singkat.
Isnaeni tetap memberikan instruksi bagian mana saja yang harus dikerok. Hingga semua punggung dan leher Ericko menjadi bertato garis merah. Erick segera memakai bajunya.
Lalu Isnaeni masuk ke dalam dapur untuk mengambil sesuatu dan memberikannya kepada Erick.
"Itu air jahe merah, biar imun kamu tetap terjaga. Jaga kesehatan, Nak."
"Iya Tante, terima kasih. Erick pamit pulang dulu, Tan. Nanti kalau ada waktu, Erick mampir kesini lagi."
"Iya, hati-hati di jalan. Fen, antarkan Mas mu ke depan," perintah Isnaeni pada Fennita.
"Iya, Mah."
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Pagi epribadeh! Mana nih vote, like, dan hadiah untuk Mas Erick dan Mbak Fenni???