
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Rio masih bersama dengan Komandan Bambang dan David untuk membicarakan lebih lanjut rencana penyergapan kawanan Red Fox itu. Komandan Bambang sudah mengirim pesan pada seluruh interpol yang ada di negara tentang rencana pertemuan Red Fox yang akan diadakan di Indonesia, lebih tepatnya di Balikpapan. Tidak mungkin nantinya mereka akan langsung menyergap kawanan itu. Mereka harus memiliki bukti digelarnya acara pelelangan senjata secara ilegal.
Rio masih mencoba menduplikasi wajah David dengan menggunakan bahan karet elastis. Dia menjiplak semuanya hingga mendetail. Komandan Bambang hanya melihatnya dalam-dalam.
David menarik sudut bibirnya sembari berkata, "Kenapa? Nyesel nggak dapat mantu ganteng dan jenius kayak aku, kan?"
Komandan Bambang langsung melemparkan kunci mobilnya ke arah David. Menyesal?
Rio langsung berdecak karena lemparan itu membuat David bergerak dan hampir mengacaukan jiplakannya.
"Gundulmu nyesel! Nggak nyesel sama sekali. Beruntung si Intan nggak cinta mati sama kau!"
Rio langsung menghentikan tangannya. Kini tatapan menyelidik darinya, ia arahkan ke Komandan Bambang. Dia benar-benar siap menginterogasi komandannya satu ini. Benar-benar hidup atasannya itu selalu mencuatkan teka-teki unik bagi mereka yang menjadi anak buahnya.
Sejak kapan Komandan punya anak?
Pertanyaan yang hampir sama mengelilingi otak Ericko setiap Komandan menyinggung tentang anaknya. Rio baru mendengar hari ini. Dan ini merupakan berita besar, ini akan menjadi berita fenomenal untuk kantor interpol Indonesia.
Dikenal sebagai jomblo abadi, malah gosip yang beredar adalah Komandan Bambang suka sesama. Kali ini berita tak kalah mengejutkan, Komandan punya anak!
Sebentar, tadi siapa namanya?
Intan?
Ini Intan yang mana? Intan temannya Fennita dan Naomi? Lah dalah ..., kalau benar itu adalah Intan yang sama, berarti selama ini mereka juga berteman dengan anak komandannya, dong!
Apakah Dilan sudah tahu hal ini?
"Yo, ngapain bengong?" tanya Komandan Bambang membuyarkan lamunan Rio.
Rio menjadi tersadar dan sedikit tergagap, "Oh anu, ini Ndan, kayak ada yang lupa gitu, apa ya?"
"Lhah! Malah tanya aku. Mana aku tahu? Kau pikirlah sendiri. Aku mau tidur. Aku pinjam kamar Erick saja lah yang jelas kebersihannya. Siapa tahu nanti kupakai bantalnya, wajahnya bisa bertukar denganku. Biar aku sebelas dua belas sama Daniel Craig!" Komandan Bambang berjalan meninggalkan David dan Rio.
Rio melanjutkan pekerjaannya, dengan sedikit leluasa ingin menginterogasi David soal kehidupan Komandan Bambang.
__ADS_1
"Bro, lo kok bisa jadi anggota Red Fox? Gimana ceritanya?" Rio memulai basa-basi penuh misteri itu.
"Saat aku sudah bertekad untuk menjadi pengkhianat, dari sana aku mendapatkan gelimangan harta. Aku dibantu oleh Alex Sanjaya saat masuk kesana. Kurasa dia sekarang sangat ambisius, hingga sahabat yang selalu bersamanya tidak diajak bergabung kali ini. Ya ..., tentu saja karena dia ingin meraup untung itu sendirian. Dasar manusia serakah!" umpat David menceritakan sosok Alex.
"Jadi lo bertahan hidup dari penjualan organ dan penjualan senjata secara ilegal? Lalu lo kemanakan uang itu?"
David tersenyum, "Aku gunakan untuk melindungi keluargaku. Karena dengan uanglah mereka yang mencoba menghancurkan keluargaku tidak berani mendekat."
"Oh, lo punya keluarga? Keluarga utuh? Istri dan anak maksud, lo?" tanya Rio semakin penasaran.
"Bukan, tapi keluarga inti, orang tua gue masih lengkap. Mereka dulunya orang susah, pernah menjadi pengemis dan pemulung di jalanan demi bayar sekolah gue. Saat gue udah jadi orang sukses, gue silau akan gelimang harta. Tapi suer, gue nggak pernah ngasih orang tua gue uang dari kerja nggak halal. Gue masih punya gaji dulu saat jadi intel. Gue gunakan uang itu untuk melindungi keluarga gue dari berbagai ancaman. Tahu sendiri lah bagaimana hidup seorang bandit seperti gue."
Rio merasa salut akan hidup David, dia hanya menggunakan uang yang dihasilkannya dari kerja curangnya itu untuk melindungi keluarganya dari orang-orang yang hendak melukai keluarganya. Fakta yang Rio dapat adalah David masih sendiri dan belum menikah. Jadi, siapakah Intan?
"Lhah, tadi kata Komandan Bambang lo batal jadi mantunya. Emang Komandan Bambang punya anak?" tanya Rio sambil melepas perlahan cetakan wajah David.
David tersenyum kecut, "Lo mau tahu rahasia Komandan Bambang? Lo dari tadi ngajakin gue ngobrol karena ini?"
Rio menyeringai lebar sambil menampilkan barisan giginya. "Namanya Intan, umurnya sama dengan Fennita. Dia teman Fennita. Yang sekarang lagi dideketin sama Dilan, itu Intan anaknya si Bambang."
Kini Rio menganga mendengarnya. Sebuah rahasia besar telah terungkap dengan sendirinya. Ternyata, Intan yang dikenalnya adalah anak komandannya sendiri. Sungguh terlalu dirinya, sampai hal mendetail seperti itu tidak tahu.
Rio semakin berdecak kagum dengan sosok Komandan Bambang. Dengan wajah pas-pasan dia bisa menaklukan hati seorang wanita dari India? Pantas saja wajah Intan seperti ada garis keturunan India. Ternyata memang dari ibunya.
"Untung Intan nuruni emaknya, coba kalau nuruni bapaknya. Waduh ..., bobrok!" celetuk Rio lalu menutup mulutnya takut komandannya mendengar apa yang baru saja dia ucapkan.
"Dulu kami sempat dekat, hampir jadian, tapi karena gue terlibat dunia pekerjaan yang kelam, gue memutuskan untuk menjauhi Intan. Dan gue masih nggak nyangka kalau Dilan yang berhasil membuat hatinya merekah lagi."
Ericko dan Dilan harus mengetahui hal ini. Rio sudah tidak bisa lagi menahan mulutnya agar tidak membicarakan fakta tentang Intan. Mereka harus dengar!
Dia mengetik sebuah pesan yang dikirimkan pada dua temannya itu.
Me : Rick, Lan, buruan balik basecamp! Ada rahasia besar yang harus kalian ketahui! Buruan!
Dilan : Lagi nganterin Intan beli make up. Nanti.
Ericko : Lagi makan sama Fennita, baru aja baikan gue. Nanti lah!
__ADS_1
Me : Apa? Balikan? Emang kalian pacaran beneran? Jangan pacaran, langsung nikahin aja!
Dilan : 🙄 mata lo rabun ya, Yo?
Ericko : 😌 Baikan Rio, bukan balikan! Ada apa sih?
Me : Oh, gue kira! Buruan ah ke basecamp!
***
Erick menyimpan kembali ponselnya di saku. Dia meninggalkan beberapa lembar uang di meja itu. Bangkit dan menyuruh Fennita segera beranjak.
"Ada apa?" tanya Fennita.
"Ada kerjaan dadakan, ayo aku antar pulang." Ericko merebut kunci mobil Fennita.
Yang punya mobil hanya pasrah dan mengikuti perintah.
Sama halnya dengan Erick, Dilan langsung menggandeng tangan Intan untuk keluar dari toko make up.
"Ada apa, Bang?"
"Panggilan pak bos! Beli make upnya besok saja ya? Abang keburu waktu nih!"
Intan hanya mengernyitkan dahinya. Dia tahu siapa yang dimaksud bos oleh Dilan. Tapi dia tidak bisa mengatakannya, maka dari itu Intan juga pasrah mengikuti langkah Dilan.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Good morning everybody ..., Jangan lupa permintaan othor di akhir tuh. Like, Komen, Vote, Tip, yang buanyak yak makasiiiihhhh .... hari ini double deh! tapi malam ya. hahaha