
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Zamroni sangat semangat hari ini. Dia bersama orang kepercayaannya melangkah mantap masuk ke sebuah hotel. Senyum sumringah mengembang sempurna di kedua sudut bibirnya. Penuh percaya diri hingga memancarkan aura positif dari dalam dirinya.
Dia sudah sampai di lobi hotel. Dia menuju resepsionis dan menyebutkan keperluannya. Lalu seorang bellboy meminta kartu tanda anggota itu. Setelahnya, Zamroni diarahkan untuk masuk ke sebuah lorong yang menghubungkan ke aula hotel. Disanalah nantinya tempat itu akan digelar.
Tampak pengamanan yang ketat disana. Dia dihadapkan lagi dengan seorang resepsionis yang meminta kartu tanda anggota. Resepsionis itu mencocokkan data yang ada dengan wajah orang yang absen.
"Maaf, Tuan. Anda bukan tuan Alex Sanjaya," terang resepsionis wanita itu.
Zamroni dengan angkuhnya menyerahkan surat kuasa yang sudah ditandatangani Alex. Resepsionis itu menerima dan membacanya. Lalu mengambil gagang telepon. Menghubungi Alex Sanjaya untuk memastikan bahwa tanda tangan yang dibubuhkan adalah benar.
Hal itu membuat Zamroni sedikit gugup. Orang kepercayaan Zamroni meyakinkannya agar lebih tenang. Resepsionis itu menutup teleponnya dan tersenyum pada Zamroni.
"Maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi, Tuan." Resepsionis itu menyerahkan sebuah tablet dengan layar pipih dan sebuah souvenir yang isinya ternyata emas batangan.
"Ingat peraturan yang sudah ditetapkan, Tuan. Jika sudah deal membeli artinya harus langsung melunasi saat selesai acara."
"Iya, cerewet!"
Zamroni meninggalkan resepsionis itu. Memilih untuk kembali ke hotelnya dan mempelajari alat yang akan dilelang besok.
Sementara itu, Ericko dan kawanannya masih menunggu kepergian Zamroni dari hotel itu. Dia tidak ingin kedatangannya sebagai David palsu membuat Zamroni murka. Maka, lebih baik menghindar untuk sementara waktu.
Rio menggunakan teleskopnya untuk memantau pergerakan Zamroni. Sedangkan Dilan dan Intan sama-sama sibuk untuk memanas-manasi dua pria yang ada di depan mereka.
"Om Zam keluar dari hotel," terang Rio sambil masih menempelkan teleskop itu di matanya.
Ericko yang sedari tadi jengah melihat keromantisan kedua orang itu, langsung fokus pada target mereka. Kawanan itu melihat beberapa mobil yang berhenti dalam waktu bersamaan. Dilan segera mengambil gambar orang-orang yang turun.
"Apakah mereka anggota Red Fox juga?" tanya Dilan.
Ericko dan Dilan menggelengkan kepala mereka. Tanda tidak tahu, tapi kemungkinan besar adalah iya. Karena mereka terlihat begitu akrab saat turun dari mobil yang mereka tumpangi.
"Apa semua badan intelejen sudah datang seperti ucapan Komandan Bambang?" tanya Dilan lagi.
__ADS_1
"Ya Allah, Ya Karim ..., banyak mulut sekali anak ini! Itu bukan urusan kita, Lan! Biar komandan yang urus hal itu. Kita fokus pada target kita! Mengerti?" hardik Rio meminta Dilan fokus pada tugas mereka.
"Iya deh, iya. Maaf," balas Dilan.
Ericko melepas seatbeltnya. Melihat ke cermin akan dandanannya. Memberikan kartu tanda anggota itu kepada Intan. Agar nantinya dia tidak perlu banyak bicara. Ericko mengajak Intan untuk turun dan masuk ke dalam hotel. Mungkin saja mereka bisa mengetahui sesuatu di dalam sana.
"Tan, aktifkan penyadap yang ada di dompetmu." Ericko memerintah Intan layaknya sebagai bawahan.
Seperti saat Zamroni masuk, Ericko juga mengalami proses absen yang serupa. Bedanya adalah, saat ini dia beruntung bisa mengetahui bahwa yang tadi turun dari mobil adalah anggota Red Fox. Dia membuka kancing kemejanya satu, lalu mengeluarkan liontin kecil itu.
Ya, dia sedang merekam wajah anggota Red Fox yang hadir disana. Kini Ericko telah mendapatkan rekaman wajah beberapa anggota Red Fox yang hadir untuk absensi. Tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggil nama David Anandito.
"Hey, David Anandito! How are you, broth? You're death, aren't you? (Hei, David Anandito! Bagaimana kabarmu, bro? Bukankah kamu mati?)"
Ericko awalnya tidak merespon karena bukan namanya yang disebut, melainkan David. Untung saja Intan mengingatkannya, bahwa saat ini dia sedang melakukan penyamaran dan identitasnya sekarang adalah David Anandito. Tidak fokus sekali dirinya. Maklumkan saja pemirsa, badannya memang di Balikpapan, tapi hatinya masih tertinggal di Jakarta. Ericko hendak menjawab, tapi sudah dijawab lebih dulu oleh Intan.
"No-no-no, he still life ..., he just amnesia, and yesterday he was operated to repture his brain, now he used camel' brain. amazing! (Tidak-tidak-tidak, dia masih hidup kok, dia hanya amnesia, dan kemarin dia baru saja operasi pengangkatan otak, dan sekarang dia memakai otak unta. Keren, kan!)"
"That's just hoax, he can loose by the police attack, but his head shocked to the wall. There fore he got amnesia, how amazing? (Kabar yang kalian dengar itu hanya bohong, dia bisa lolos dari polisi, tapi kepalanya terbentur tembok. Makanya sekarang dia amnesia. Bukankah dia keren?)"
"Ha?" jawab orang bule itu.
"Aha-ha-ha ..., just kidding, Mister ..., (Aha-ha-ha ..., aku hanya bercanda, Tuan ...,)"
"Justin!"
"Aaa ..., Mister Justin. My name Intan, I'm secretary Mister David. (Aaa ..., Tuan Justin. Nama saya Intan, saya sekretaris Tuan David)."
Ada seseorang yang memanggil Justin. Membuat kesempatan bagi Intan dan Ericko secepatnya pergi dari sana setelah mendapatkan tablet untuk acara besok. Ericko dan Intan langsung melangkahkan kaki secepat kilat agar tidak terlihat mencurigakan bagi sebagian anggota Red Fox yang mengira bahwa David sudah meninggal.
Setelah di dalam mobil, "Edan si Intan! Gila kamu, Tan!" seru Ericko tidak terima otaknya dikatakan sebagai otak unta.
Dilan dan Rio hanya mendengarkan percakapan mereka.
"Ha-ha-ha. Kamu kan lagi jadi David, Bang Rick! Jangan ngamuk, dong! Kalau aku tadi nggak ngomong begitu, pasti semuanya bakalan curiga. Dan seumpama tadi kamu yang jawab, suaranya bukan suara David, makin nambah kerjaan kita, dong? Cerdas dikit napa? Oh, aku tahu nih, nggak fokus ya? Karena hatinya ada di Jakarta? Cie yang udah bucin sama sahabat aku ...," ucap Intan membeberkan alasannya.
__ADS_1
"Emang tadi kamu ngapain dia, Tan?" tanya Rio.
"Aku cuma ngomong, kalau David masih hidup. Kemarin habis operasi pengangkatan otak, otaknya diganti dengan otak unta,"
Dilan dan Rio langsung terbahak-bahak mendengarkan cerita Intan. Pantas saja Ericko langsung ngamuk begitu.
"Itu mau nolongin sekalian balasin dendam Fennita kayaknya, Rick!" terang Dilan semakin membuat Ericko kesal.
***
Pesawat yang ditumpangi Fennita dan Isnaeni sudah lepas landas meninggalkan Jakarta menuju Balikpapan. Ini adalah perjalanan terberat yang pernah dijalani oleh Fennita. Pikirannya penuh akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Bagaimana jika nanti papahnya terbukti bersalah?
Bagaimana nanti keadaan mamahnya?
Lalu bagaimana nanti jika dia bertemu dengan Ericko?
Haruskah dia marah karena ini semua ada kaitannya dengan Ericko?
Atau haruskah dia berterima kasih karena Ericko mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya meskipun itu menyakitkan?
Hatinya benar-benar gundah. Kepalanya pusing tidak tahu bagaimana cara mengurai satu per satu masalah pelik itu. Hingga dia memilih memejamkan matanya dan tertidur dalam perjalanan.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip