
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Pukul enam, mereka membereskan tenda. Fennita, Naomi, dan Naomi berfoto-foto ria dengan latar langit cerah itu. Masing-masing pasangan mengabadikan momen mereka dengan berfoto bersama pasangan masing-masing. Setelah puas menikmati keindahan alam itu, mereka segera turun.
Erick tetap menjadi orang terakhir dari barisan itu. Dia menoleh ke belakang dan tersenyum. Dia bersyukur memiliki kenangan indah disini. Fennita menarik jaketnya agar Erick tidak ketinggalan rombongan.
Rute yang mereka lewati sama seperti saat mereka berangkat. Suasana pagi membuat energi positif menghampiri mereka. Semuanya terlihat sumringah dan tidak mengeluh capek. Jika waktu berangkat Fennita dan Ericko seperti tembok dan kulkas, kini mereka lebih hangat.
Perjalanan untuk turun lebih cepat daripada ketika naik. Mereka hanya berhenti di pos pemantauan sebentar, dan melanjutkan perjalanan mereka lagi. Setelah sampai di basecamp Cepit, Erick kembali menemui pak RT guna melapor dan mengambil KTP.
Fennita ingat dia harus membeli sesuatu untuk ibu Erick. Tidak mungkin dia kesana hanya membawa tangan kosong. Ada beberapa rumah yang menjajakan oleh-oleh. Kebanyakan adalah manisan dan buah-buahan. Karena Fennita tidak memiliki ide apapun untuk membawa sesuatu, maka dia hanya membeli buah dan manisan.
Setelah proses laporan selesai, Ericko dan kawan-kawannya langsung menuju Banyuurip. Di dalam mobil Fennita lebih banyak diam. Dia sedang gugup karena akan bertemu dengan ibunya Ericko.
"Kenapa sih kok diam terus? Hmm?" tanya Ericko mesra. Membuat yang mendengarnya ingin muntah.
"Mentang-mentang udah baikan, terus pamer kemesraan!" protes Rio.
"Kemarin-kemarin kan gue yang jadi korban lihat kemesraan kalian, sekarang gantian dong!" balas Ericko tidak ingin kalah.
"Kenapa, Yang?" tanya Ericko pada Fennita.
Fennita hanya tersenyum dan menggeleng. "Nggak papa kok, Mas!"
Ericko melihat mimik wajah Fennita yang sepertinya gelisah. Dia juga menggosok-gosokkan tangannya di paha. Erick menghentikannya dan menggenggamnya. Dingin. Ericko sadar bahwa Fennita sedang gugup.
Dia menyuruh Fennita untuk tenang dan mengatur napasnya. Menyuruhnya untuk memikirkan hal-hal baik saja. Dan membuang semua pikiran negatif yang coba menakutinya. Fennita sedikit tenang setelah mengikuti saran Erick.
"Sudah beli oleh-oleh buat ibu, Yang?" tanya Ericko.
"Sampun, Yang." Fennita memanggil Ericko dengan sebutan 'yang'. Semuanya langsung menyoraki mereka. Macam anak SMA yang baru jadian, mereka sangat romantis.
Perjalanan cukup singkat, hanya memakan waktu tiga puluh menit. Dan kini, mobil Panjeri itu sudah memasuki gerbang kelurahan Banyuurip. Dilan yang sudah hapal luar kepala tidak perlu bertanya lagi dengan Erick arah rumahnya.
Fennita kembali didera badai gugup. Hingga kini, dia merasa mual. Erick memberikannya minum terlebih dahulu. Lalu semuanya turun dari mobil. Erick masuk terlebih dahulu dan mencari ibunya. Bukan ibunya yang keluar, tapi seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan. Dia merapikan rambutnya yang ala-ala boyband korea. Lalu tersenyum penuh semangat pada tiga orang wanita di depannya.
__ADS_1
Zulfikar, adalah sepupu Erick. Dari kecil hidup bersama budhenya karena ibunya menjadi TKW di Malaysia. Dia membantu bibinya di kebun dan menjadi pengantar strawberry kepada konsumen. Tiga orang pria yang berdiri di belakangnya siap menghajarnya. Dilan menepuk bahunya. Zulfikar menoleh.
"Aha-ha-ha, cuma bercanda lah Bang! Ini pasti Mbak Intan, kan? Suamimu kalau sama aku gantengan mana, Mbak?" tanya Zul pada Intan.
"Bocil masih bau jahe, awas aja ya kau!" jawab Dilan.
"Mbak Nomi, apa kabar? Zul kangen lho!" Zul kini beralih bertanya pada Naomi.
Rio menjewer telinga Zul. Pemuda itu sok tebar pesona pada para wanita yang ada di rumah Erick. Belum sampai Zul menggoda Fennita, dia sudah dijitak terlebih dahulu oleh Erick.
"Sing sopan karo calon ipemu!" kata Ericko tegas. (Yang sopan sama calon iparmu!)
"Iyo-iyo! Mbak, asmane sinten?" tanya Zul. (Iya-iya! Mbak, namanya siapa?)
Erick menarik tangan Fennita untuk pergi dari rumah. "Kalian istirahat dulu di dalam. Zul, siapin tiga kamar!" teriak Erick.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Fennita.
"Ketemu ibu, lagi di kebun. Nggak jauh kok dari sini. Nanti lewat makam ayah, mampir bentar nggak papa, kan?" tanya Ericko meminta persetujuan Fennita.
Mereka sudah sampai di perkebunan strawberry. Fennita sedikit terkejut bahwa kebun yang dimaksud Erick adalah kebun strawberry. Dan dia menepuk jidatnya.
"Mas, ini kebun buah strawberry?" tanya Fenni pada Erick.
"Kenapa?" jawab Erick dengan pertanyaan.
"Ah, nggak, nggak papa. Cuma ..., kaget aja!"
Erick menggenggam kembali tangan Fennita dan menyuruhnya untuk tersenyum. Dia mengucapkan salam dengan lantang hingga semua orang yang sedang ada di kebun menoleh.
"Weh, Mas bos mulih!"
"Piye kabare, Nang?"
"Sopo iku sing ning sandinge?"
__ADS_1
Beberapa orang melontarkan pertanyaan untuk Erick. Dia hanya menjawabnya dengan seringaian manis yang menampilkan giginya. Bu Khotijah yang sedang mengawasi penimbangan menoleh dan melihat buah hatinya berjalan dengan menggandeng seorang wanita.
Bu Khotijah memperhatikan setiap gerak-gerik Fennita. Dari cara berjalannya saja memperlihatkan dia adalah seorang wanita yang tegas. Pandangannya lurus ke depan dengan mengembangkan senyum di bibirnya. Pundaknya tegap, tetap tenang meski banyak yang menggodanya.
Berjalan berdampingan bersama Erick membuat bu Khotijah berpikiran bahwa, Fennita adalah sosok yang bisa mendampingi anaknya dalam segala hal. Kini Ericko dan Fennita sudah sampai di depan ibunya. Erick mengenalkan bu Khotijah kepada Fennita, dan sebaliknya. Fennita menyalami bu Khotijah dan menanyakan kabarnya.
"Niki calon mantu Mak Jah, piye Mak? Ayu, kan?" ucap Erick sambil mengerlingkan matanya. (Ini calon mantu Mak Jah, gimana Mak? Cantik, kan?)
Bu Khotijah menjewer telinga Ericko. "Jangan godain calon mantu, Mak! Gantikan Ibu dulu. Ibu mau ajak Fennita keliling kebun." Bu Khotijah lalu menggandeng tangan Fennita, mengajaknya melihat kebun strawberry yang luas.
Fennita sangat senang sekali melihat hamparan strawberry yang siap petik. Dia menyentuh buah itu.
"Cobain, Fen." Bu Khotijah mengambilkan gunting untuk memotong tangkai buah strawberry.
Fennita mengangguk. Dia mencobanya buah itu. Rasanya manis, berbeda dengan buah yang dijual di pasaran. Ukurannya pun lebih besar.
"Manis, Bu. Kok beda ya sama yang dijual di pasar?" tanya Fennita.
Bu Khotijah tersenyum senang hasil panennya dipuji. Dia mengajak Fennita berkeliling lagi. Sekarang mereka menyapa yang masih hijau. Ada juga yang warnanya sudah putih. Bu Khotijah menjelaskan perawatan kebunnya agar bisa menghasilkan buah dengan kualitas sempurna.
"Ibu capek, nggak? Mau Fenni ambilkan minum?" Fennita menawarkan bantuan ketika melihat peluh di dahi Khotijah.
"Ibu sudah biasa dengan hal ini, Fen. Kita duduk sana, yuk!" Bu Khotijah mengajak Fennita duduk di sebuah saung.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip