Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Ngajak Kamu Kencan


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Ericko segera bergegas untuk menuju keberadaan Fennita. Hingga dia lupa bahwa dia belum menanyakan dimana kafe yang dikunjungi Fennita. Meskipun sebenarnya dia sudah tahu keberadaan Fenni.


Dia meminta bantuan Dilan untuk diantar ke kafe itu. Dilan bersedia dengan syarat dirinya dibelikan sepatu branded keluaran terbaru. Ericko tidak ingin banyak tawar menawar karena berburu dengan waktu. Dia menyetujui apapun syarat yang diajukan Dilan.


"Sampai segitunya mengejar maaf dari Fennita, Rick?" tanya Dilan saat sudah melaju cepat meninggalkan basecamp.


Ericko hanya diam sambil mengirim pesan pada Fennita untuk menunggunya. "Ini mengejar maaf saja atau ada yang lain?" cecar Dilan lagi.


"Nggak usah berisik deh, Lan!"


"Dih! Nanya doang juga, lo tahu dari siapa kalau Fenni di kafe x?" tanya Dilan seakan menyadarkan Erick tentang kecerobohannya.


Ericko langsung menepuk jidatnya, "Lupa gue pura-pura nanya dia di kafe mana."


Dilan tertawa mendengarnya. Bisa-bisanya Ericko melupakan hal kecil tapi sangat fatal jika tidak pandai berkelit. "Dan sekarang juga lo lupa kalau kalian sedang pura-pura. Panah si cupid tepat sasaran nih kayaknya!"


Ericko tertawa mendengarnya. Dia tidak peduli lagi dengan ucapan Dilan. Kini dia sibuk mengetik pesan pada Fennita.


Me : Lupa nanya, di kafe mana? 😁


Fennita : kafe x, cari di maps aja. Kamu mau ngapain sih kesini?


Me : Ngajak kamu kencan, 😊


Fennita : 🙄


Me : Udah sih, tungguin aja. See you, Yang.


Tak berselang lama. Kini mereka sudah sampai di kafe x. Dilan menepikan mobil tanoa berniat ingin parkir, dan mengusir Ericko untuk segera turun.


"Jangan lupa sepatu gue!"


"Cerewet! Sana balik!" jawab Ericko meninggalkan Dilan dan masuk ke dalam kafe.


Dia mencari keberadaan Fennita, mengedarkan pandangannya di sekitar sudut-sudut ruangan. Matanya memang pantas disebut mata elang. Dengan cepat dia menemukan keberadaan Fennita di tengah keramaian pengunjung itu. Dia melambaikan tangan, tapi Fennita tidak merespon keberadaannya.


Dia harus bersabar, harus memiliki stok sabar yang banyak. Karena memang itulah salahnya. Dia yang mengubah Fennita menjadi dingin dan beku seperti itu. Dia seperti sedang mendapatkan karma. Jika dulu dia yang dingin dan beku terhadap Fennita, kini berbalik Fennita yang dingin dan beku terhadapnya.


Ericko berjalan mendekat ke arah Fennita duduk. Dengan senyum sumringah dia duduk di samping Fennita.


"Ketemuan sama siapa?" tanya Ericko langsung pada intinya dan tanpa kalimat pembuka.


Fennita hanya mengaduk-aduk minumannya malas menjawab pertanyaan Ericko. Menurutnya itu bukan urusan Ericko, toh mereka hanya pura-pura. Jadi tidak perlu sampai tahu urusan yang menyangkut pribadi masing-masing.


"Yang, eh salah. Maksud aku, Fen," terang Ericko meralat ucapannya.


Fennita menyandarkan bahunya pada sandaran kursi. Dengan jari-jemarinya aktif mengetik pesan. Ericko dengan tidak sabar merebut ponsel itu.


"Ih! Balikin, Mas!" gerutu Fennita dengan wajah sudah sangat kesal.


"Aku harus melakukan apa biar kamu bisa maafin aku?" tanya Ericko.


"Aku udah maafin, balikin hp aku, Mas Erick!" Fennita mencoba merebut kembali ponselnya.

__ADS_1


Ericko menggeleng, "Kamu itu bohong, Fen. Aku tahu ucapanku memang menyakitkan buat kamu. Tapi, tadi kan aku sudah bilang. Mas Erick ini masih bingung sama perasaannya." Erick menunjuk dirinya sendiri.


"Hati aku juga bukan mainan kali, Mas. Kemarin kamu minta aku lupain tentang perasaan aku. Sekarang kamu bilang kamu bingung sama perasaanmu, jadi aku harus gimana? Coba terangkan sama aku, aku harus bersikap bagaimana sama kamu?"


Erick menggigit bibir bawahnya. Benar juga kata Fennita, dia malah menjadi pria ababil. Tidak konsisten dengan ucapannya, sehingga membuat Fennita menjadi bingung.


"Bersikap seperti biasanya," jawab Ericko ambigu.


"Biasanya yang seperti apa? Aku menjadi dingin juga seperti biasanya, kan?"


"Nggak, maksud aku jadi Fennita yang ..., perhatian."


Fennita tertawa mendengar pengakuan Ericko. Kemarin kemana saja, Rick?


"Kita butuh komunikasi yang lebih baik dari ini, Fen. Aku nggak mau dikejar terus menerus dengan rasa bersalah itu. Aku mau kamu tulus maafin aku," tutur Ericko sambil mengembalikan ponsel Fennita.


Fennita menghela napasnya dalam-dalam dan membuanganya perlahan. "Iya, udah dimaafin kok, tolong mulutnya dipasangi rem."


Ericko tertawa sekilas mendengarnya, membuat Fennita mencuri-curi pandang kepada Ericko. Dia juga ikut mengulum senyum.


"Aku pesen makan, ya?" tanya Erick seperti orang yang tidak membawa dompet.


"Terserah, bayar sendiri." Fennita hendak meminum jus alpukat miliknya. Tapi tangannya kalah cepat dibandingkan dengan tangan Erick.


Erick seperti orang yang benar-benar kehausan. Dia langsung meminum jus alpukat dengan campuran susu coklat itu.


"Ih! Kok diminum, sih?" gerutu Fennita tidak terima.


"Pesen lagi, pesenin Mas makan sekalian ya, sayang?" rayu Ericko.


"Suka aja manggil kamu, sayang."


Fennita menganga mendengarnya. Apa coba maksud ucapan Ericko? Ingin membuatnya terbawa perasaan lagi? Aduh! Sekarang kepala dan hati Fennita berdenyut hebat. Tapi dia tidak mau memperlihatkannya pada Ericko. Bisa-bisa Erick akan besar kepala jika mengetahuinya.


"Buaya mau makan apa, buaya? Nggak usah gombal mulu, buaya! Makan dulu biar nggak lapar, buaya." Fennita mengatakan itu dengan menyerahkan menu untuk Ericko.


"Buaya ganteng mah nggak ada yang nolak," jawab Erick sambil mengerlingkan mata lirinya.


"Dih! Itu matanya kenapa, buaya?"


"Ih, panggil yang bener dong, Fennita sayang. Mas Erick, atau balik manggil sayang juga boleh," goda Ericko yang berhasil membuat pipi Fennita dijalari semburat merah muda.


Fennita berpura-pura menyibukkan diri dengan ponselnya. Untung saja Ericko bisa menahan jemarinya agar tidak mencubit pipi Fennita seperti saat di rumah sakit. Dia harus bisa menahannya.


"Mau makan apa, Mas?" Fennita kembali bertanya.


Ericko membaca menu yang ada. Dia memilih steak wagyu yang dimasak dengan saus blackpaper. Ericko juga tidak lupa memilih minuman, dia memilih es lemon tea. Fennita memanggil pelayan dan memesan menu yang telah dipilih oleh Erick.


"Kamu nggak makan?" tanya Ericko setelah pelayan itu pergi dari meja mereka.


Fennita menggeleng, "Kan tadi aku sama temen aku udah makan."


"Siapa sih temenmu? Aku kenal?"


"Kepo! Kenapa? Cemburu? Nggak enak kan rasanya?"

__ADS_1


Ericko tergagap memberikan jawaban untuk Fennita. Iya juga ya? Kenapa juga dia sampai harus repot ingin tahu siapa teman Fennita? Sampai harus menyusul Fennita ke kafe. Erick menjawab dengan alasan paling konyol yang pernah ada.


Dia memberikan jawaban bahwa tadi dia disuruh Naomi membeli pembalut dan tersasar ke kafe itu. Membuat Fennita tidak dapat lagi membendung tawanya. Sejak kapan Erick menjadi pesuruh Naomi? Memangnya Rio mau dikemanakan?


Erick memukul-mukul bibirnya yang selalu keliru saat berhadapan dengan Fennita. Entah ada apa dengan dirinya, dia mengira bahwa otaknya sudah konslet seperti ucapan Dilan.


"Temen kamu cowok?"


"Memangnya kenapa? Salah kalau aku ketemuan sama temen cowok?" balas Fennita.


"Nggak suka aja lihat cewek friendly ke cowok lain,"


"Ini kamu lagi pura-pura, kan? Ya maksud aku, ini kamu udah melebihi batas wajar lho. Kamu masuk ke ranah pribadiku lho, mau aku ketemuan sama siapa aja kan bukan urusan kamu, Mas Erick."


Pelayanan datang dan menyajikan makanan di meja mereka. Membuat obrolan mereka terhenti sejenak. Erick sibuk memotong-motong daging wagyu itu. Lalu menyodorkan garpu ke mulut Fennita.


"Jawab dulu, tadi perginya sama temen cewek atau cowok?"


"Cewek!" jawab Fennita menerima suapan itu.


Ericko menyeringai lebar karena jawaban Fennita. Lega hatinya mendengar bahwa Fennita tidak pergi dengan teman prianya. Ada rasa tidak ikhlas dan tidak suka jika Fennita pergi dengan pria selain dirinya dan orang tuanya.


"Oke, Mas lapar, mau makan dulu," jawab Erick.


"Dasar curang, bilang aja kamu cemburu."


"Anggap aja begitu. Biar hatimu senang, iya kan?" goda Ericko.


Fennita langsung mencubit lengan Ericko yang kekar itu. Yang dicubit malah tertawa senang mendapatkannya. Dia sudah lupa untuk menjaga batasan dengan Fennita. Toh Fennita yang mencubitnya. Bukan dia yang memegang Fennita.


"Nyebelin!"


"Tapi ngangenin iya, kan?" goda Erick lagi.


Fennita hanya tertawa mendengarnya. Karena memang betul yang dikatakannya. Diam-diam dia mencuri foto Erick yang tengah menikmati makanannya.


"Mau makan lagi nggak, Yang?"


Fennita menggeleng. Akhirnya mereka berbaikan kembali. Hmm, cinta itu baru bisa kita rasakan saat orang yang mencintai kita hendak pergi menjauh. Pertahankan selagi ada, jangan sia-siakan jika dia sudah di samping kita.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Pagi gengs! Othor hari ini dan besok super duper sibuk. Pelatihan MU gelombang 3 udah dimulai.

__ADS_1


__ADS_2