Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Rencana Perjodohan


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Dion gagal menemukan keberadaan Fennita. Sebetulnya, saat berjalan menyusuri trotoar kawasan rumah Fennita, dia seperti melihat bayangan Fennita. Tapi, setelah dipastikan terlebih dulu ternyata bukan.


Akhirnya dia kembali ke rumah Zamroni dengan membawa berita kekecewaan. Zamroni sampai menghela nafas berat mengingat kelakuan Fennita yang sering kabur-kaburan.


"Sepertinya rumahmu ini memang perlu penjaga, Zam. Perlu bodyguard yang bisa membantu keamanan dan bisa mengawasi Fennita," tutur pria setengah baya dengan rambut gondrong yang memutih itu.


Isnaeni mengerutkan dahinya cepat saat Alex mengatakan untuk mengawasi Fennita. Jika Fennita mengetahui hal itu, akan semarah apa dirinya nanti. Alex selalu saja menyetir pola pikir suaminya. Dan parahnya Zamroni selalu patuh dengan ucapan Alex bagaikan robot.


Isnaeni memberi isyarat lewat gelengan pelan agar Zamroni tidak menyetujui ucapan Alex. Namun sayang seribu kali sayang, Isnaeni kalah dengan rayuan Alex. Bak dia yang menjadi istri Zamroni, bukan dirinya.


"Ya sudah, tolong carikan bodyguard yang mumpuni. Aku percaya dengan pilihan mu, Lex!"


Alex mengu lum senyum dan mengangguk. Selanjutnya mereka memutuskan untuk makan malam bersama tanpa kehadiran Fennita. Cukup membuat hati Dion kecewa, karena tujuannya adalah ingin bercengkrama dengan gadis itu.


Isnaeni lebih banyak diam mendengarkan celotehan dua pria paruh baya itu. Hingga dirinya menghentikan makannya ketika Alex dan Zamroni menyinggung soal perjodohan.


"Kita tentukan saja tanggalnya setelah ini, Zam," terang Alex sambil mengunyah makanannya.


Zamroni mengangguk setuju dengan pertanyaan Alex. Namun tidak dengan Isnaeni.


"Pah, ada baiknya kita tunggu keputusan dari Fennita. Karena nantinya perjodohan ini melibatkan dua kepala yang berbeda. Dion dan Fennita harus terlibat dengan keputusan ini, Pah!"


"Diam, kamu! Aku tidak butuh saran mu. Simpan saja omelan dan nasihat mu untuk Fennita." Zamroni terang-terangan membentak Isnaeni di depan Alex dan Dion.


"Jadi, rencana perjodohan ini akan tetap berjalan, ya?" tanya Alex mencoba melerai pertiakaian yang terjadi diantara suami istri itu.


Zamroni mengangguk, "Ya, kita akan melanjutkan rencana perjodohan yang telah kita bicarakan. Dalam sebulan ke depan, aku sudah disibukkan dengan urusan pencalonan, jadi kalau bisa kita adakan sebelum pencalonan ku berlangsung."


Alex mengangguk setuju. Isnaeni memilih bungkam atas obrolan yang dia yakini akan sangat menyayat hati putrinya. Sementara Dion tersenyum penuh kemenangan.


"Ada untungnya juga Fenni lari, jadi gak perlu adu argumen untuk mencapai kesepakatan ini," batin Dion sembari mengulas senyum.


Akhirnya mereka sepakat bahwa rencana perjodohan itu akan terlaksana dalam waktu tiga minggu ke depan. Tepat satu minggu sebelum Zamroni maju dalam pemilihan presiden untuk periode mendatang.


Alex menyanggupi akan mengatur acara pertunangan Fennita dan Dion. Agar Zamroni bisa fokus untuk menata dirinya di pemilu nanti. Alex juga sudah mengerahkan orang kepercayaannya untuk mencari jasa bodyguard yang mumpuni untuk membantu Zamroni memperketat penjagaan rumah dan Fennita.


Alex dan Dion pamit pulang setelah tersusunnya rencana menjodohkan anak-anak mereka.

__ADS_1


*****


Ericko dan Dilan sedang bermain PS di rumah Rio. Mereka memang sedang menunggu Rio kembali dari aktivitasnya -menguntit seseorang. Naomi membiarkan dua pria dewasa itu meluapkan kegembiraan mereka yang sedang bermain game sampai berteriak tak jelas tak ingin jagoan mereka mati.


Naomi membawakan mereka cemilan -onion ring dan es teh kesukaan mereka berdua. Ralat, termasuk suaminya juga. Seseorang mengucap salam dan membuka pintu rumahnya. Rio sudah sampai di rumah dengan tatapan heran. Dan bersama seorang perempuan yang pastinya tak asing baginya -Fennita.


Naomi meraih tangan suaminya lalu mengecupnya. Fennita memeluk Naomi seolah ingin menumpahkan rasa penat bercampur kesal yang dirasakannya. Namun, Fennita kembali tertegun kala matanya menangkap sosok yang selalu membuat jantungnya mencelos.


Rio hendak memanggil Ericko tapi dicegah oleh Fennita. Dia mengulas senyum ketika mendapati ekspresi lain dari Ericko ketika bertemu dengannya. Pancaran kebahagiaan dan tawa riang itu begitu sumbang di telinganya. Pasalnya Ericko tak pernah tertawa semenyenangkan itu.


Hingga akhirnya dua pria dewasa yang tengah bermain PS itu sadar akan tiga orang yang tengah memerhatikan mereka di dekat pintu masuk. Dilan menyikut perut Ericko dengan sengaja.


"Itu cewek kayaknya beneran naksir lo deh, Rick. Eh, lebih tepatnya tergila-gila sama, Lo. Baru juga tadi siang Lo anterin, eh, udah nongol aja malam begini," terang Dilan.


Ericko hanya diam tak menanggapi ocehan Dilan. Dia membereskan stick PS milik Rio, karena mereka akan membahas tentang target operasi mereka selanjutnya. Namun sepertinya malam ini akan sangat lambat, karena ada seorang perempuan yang sejak kemarin mengusik hidupnya.


Rio langsung bergabung dengan teman-temannya. Sedangkan Naomi dan Fennita menuju dapur. Fennita merasa sangat lapar. Ponsel Naomi berdering, ia menjauh dari Fennita.


Dia sedang makan sendirian di dapur. Tiba-tiba saja tersedak karena kehadiran seseorang. Membuatnya salah tingkah karena isi piringnya sangat penuh. Ericko hanya meliriknya saat mengambil air putih dingin dari dalam kulkas.


Tak disangka-sangka, ternyata Ericko memberikan air itu pada Fennita. Membuat wajah Fennita dijalari semburat merah merona.


"Dia beneran ngomong sama, Gue? Ciyus? Miapa? Aiiih ... senangnya ..." batin Fennita dalam hati.


"Bisa tolong temani Aku, makan?"


Ericko yang hendak meninggalkan ruangan dapur menghentikan langkahnya. Menoleh dan berjalan ke arahnya. Menarik kursi tepat di samping Fennita dan memulai kebisuan yang akan tercipta.


Satu menit dua menit tiga menit tak ada yang ingin memulai percakapan diantara keduanya. Hanya dentingan sendok dan piring Fennita yang mengusik kesunyian yang diciptakan dua anak manusia ini.


"Butuh teman cerita?" pertanyaan Ericko meluncur begitu saja.


Fennita mengangguk dan meneguk air minum di depannya. Menyudahi acara makan malamnya yang sangat terlambat itu.


"Aku mau dijodohkan dengan seorang pria yang tidak aku cinta, bagaimana menurut Mas Erick dari sudut pandang seorang anak dan seorang, pria?"


Erick memandang datar lurus ke depan, "Jika aku menjadi seorang anak, aku tidak ingin membantah orang tua ku. Jadi ya, terima saja. Tapi jika sebagai seorang lelaki, aku tidak akan memaksa perempuan itu untuk menerima. Percuma bisa dapat raga tapi tak sepenuhnya dengan jiwa."


Fennita mengulas senyum ke depan. Tak menyangka Ericko akan menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Kamu rela aku dijodohkan dengan orang lain?" pertanyaan yang sangat teramat fatal diungkapkan. Mengapa dia menanyakan hal seperti itu? Jelas Ericko akan menjawab rela sekali. Dasar Fennita!


Ericko hanya memainkan gelas yang dipegangnya tak berniat menjawab pertanyaan konyol dari Fennita.


"Mengapa aku harus tak rela? Dasar cewek aneh!" batin Ericko heran.


Kesunyian kembali merambati ruangan itu. Fennita yang tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya memilih diam.


Fennita menghela nafasnya berat, seakan-akan tumpukan batu bata sedang dipikulnya sendirian.


"Andai saja ada keajaiban, aku ingin seseorang menyelamatkanku dari rencana perjodohan konyol ini. Tapi angan hanya tinggal angan, tak ada yang mau ataupun bisa membantuku."


Fennita beranjak meninggalkan dapur. Ericko merasa iba melihat gadis ceria itu sedih karena keegoisan orang tuanya.


Tunggu, apa dia baru saja merasa kasihan pada Fennita?


Mengapa dia harus kasihan?


Bukannya dari awal dia sudah bersikap seperti mayat hidup jika menghadapi Fennita?


"Ternyata di balik keceriaanmu, sejuta lara menghampiri hatimu. Wajahmu hanya menjadi topeng agar laramu terendap di dasar hati. Semoga kamu bisa kuat menghadapi ujian-Nya, Fennita"


Matanya membelalak tak percaya ketika mulutnya mengucapkan nama perempuan itu.


"Woy!"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2