Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Restu Telah Diraih


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Sesuai permintaan Komandan Bambang, orang tua Dilan datang untuk melamar Intan. Berkas pindah nikah juga sudah selesai diurus. Pertemuan kedua keluarga berjalan lancar, hingga tinggal esok menuju akad nikah. Membuat Erick dan Rio disibukkan dengan semua persiapan yang ada.


Acara akan digelar dengan sangat sederhana. Hanya kerabat dan keluarga dekat yang hadir dalam acara itu nantinya. Dilan belajar mengucapkan ijab qabul agar tidak grogi nantinya. Ericko selalu menyuruh dia untuk mengulanginya karena Dilan belum selancar jalan tol.


Ketiga pria itu berkumpul dan saling tertawa. Tidak menyangka jomblo sejati akhirnya menemukan pasangan hidup.


"Ah, bentar lagi gue di basecamp sendirian, dong! Sedih banget sih nasib percintaan, gue!" ucap Ericko kesal.


Dilan dan Rio malah menertawakannya. Senang sekali mereka melihat Erick menderita seperti itu. Selalu tersiksa oleh rindu yang tidak pernah tahu kapan bertemu. Sekarang Erick benar-benar menyesal mengucapkan kalimat tadi. Dia malah menjadi bahan olok-olokan.


"Udah sih, Rick! Kalau jodoh nggak kemana! Rencana kita jadi kan, Yo?" tanya Dilan. Rio mengangguk karena baru saja mendapatkan persetujuan dari tantenya.


Erick mengernyit, rencana apa lagi? Bukankah mereka sedang libur panjang usai misi?


"Rencana apa?" tanya Erick penasaran.


"Kami mau ke Windusari, mau naik gunung Sumbing lewat jalur itu. Terus nanti pulangnya mau mampir Temanggung, ngerampok strawberry!" jawab Rio bersemangat.


"Lo mau ikut, nggak?" tanya Dilan.


Erick berdecak. Mana ada jalur pendakian lewat Windusari? Apa mereka mau membuat jalur sendiri? Mereka pasti akan membawa pasangan masing-masing. Nah, sedangkan dia? Hanya akan menjadi obat nyamuk bakar bagi mereka.


"Kagak ada jalur pendakian lewat Windusari, Yo, Lan! Jangan pada ngawur, ah!" bantah Erick.


Rio dan Dilan langsung saling toleh untuk memberikan alasan yang lebih masuk akal lagi. Mereka lupa untuk mengetahui rute naik Gunung Sumbing. Alasan yang sangat aneh Rio lontarkan agar rencana mereka tetap berjalan.


"Maksudnya, kita mau ke Windusari tuh nyobain mie ayam dan bakso setan yang lagi viral! Si Naomi ngebet pengen makan disono! Ayolah, Rick! Siapa tahu lo mau punya ponakan dari gue dan Naomi." Rio mengungkapkan alasan lain yang tidak ada kebenarannya sama sekali.


Erick tertawa, "Mie ayam kayak apa, sih? Nggak ah, gue nggak ikut! Mending gue nyari Fennita!"


"Ye ..., Fennita lagi! Udah sih, ntar kita bantu nyari! Tapi ikut dulu ke Windusari. Kan kasihan kalau Naomi nggak keturutan? Lo tega lihat Naomi ngeces ..., tiap hari?" Dilan mencoba membujuknya.

__ADS_1


Dengan berbagai paksaan dari segala penjuru mata angin, akhirnya Erick mau untuk ikut ke Windusari. Oke, langkah pertama berhasil. Tinggal langkah kedua dan ketiga yang nanti akan mereka lakukan saat bertemu dengan Fennita.


Erick bertanya pada Dilan, apakah mungkin Fennita datang di acara akad dia dengan Intan? Dilan menjawab tidak tahu. Dia menyuruh Erick untuk berdo'a saja yang kencang, siapa tahu ada keajaiban datang. Lalu mereka saling terdiam terhanyut dalam pikiran masing-masing.


***


Windusari.


Fennita sedang disibukkan oleh dua hal. Yang pertama adalah tugasnya menggantikan Qory yang sedang pelatihan di kota. Dan yang kedua adalah melayani pesanan mie ayam dan bakso untuk acara-acara yang ada. Sementara warung tutup karena mamahnya belum juga kembali ke Windusari.


Untung saja pemasok bahan untuk membuat mie dan bakso beserta sayurannya bisa mengantarkan hingga ke Windusari. Kalau tidak, badannya pasti remuk. Untuk urusan bumbu, Mbah Am dan Mbah Jum adalah juaranya. Dia hanya membantu untuk mengantarkan ke pelanggan yang memesan. Mereka tidak enak hati kalau sampai menolak pesanan orang.


Saat ada waktu luang, dia menghubungi mamahnya. Menanyakan kabar dan berbagi cerita keseharian. Isnaeni memberitahunya bahwa Intan akan akad nikah besok. Membuatnya menyesal karena tidak bisa ikut. Dia meminta tolong pada mamahnya agar bisa membelikan sesuatu untuk Intan.


"Iya, nanti Mamah minta tolong Naomi. Ya sudah, mamah bantu bibimu masak dulu. Assalamu'alaikum!" Isnaeni mengakhiri panggilan itu.


Fennita menghubungi Intan untuk mengucapkan selamat. Mereka bercengkrama lama untuk melepas kerinduan. Intan sedih karena sahabatnya tidak bisa menemani saat acara penting dan sakral dalam hidupnya. Fennita hanya tertawa mendengar rengekan Intan.


"Gue disini kerja cuy, nanti lah, kalau ada waktu gue main ke Jakarta." Fennita mengucapkannya dengan harapan memang ada waktu untuk kembali ke kota besar itu.


***


Erick menyempatkan berkunjung ke rumah tahanan untuk bertemu sekaligus berpamitan pada Zamroni dan David. Karena selesai akad, esok harinya dia akan langsung menuju Temanggung. Dia tersenyum dan memeluk David. Semakin hari makin bercahaya saja wajah pria bercodet itu.


Setelah mengobrol sebentar dengan David, kini gilirannya bertemu dengan Zamroni. Ia menyalami tangan Zamroni penuh takdzim. Menanyakan kabarnya, dan berpesan untuk selalu menjaga kesehatannya.


"Hari ini Intan nikah, Om. Besok Erick pulang ke Temanggung. Maaf belum bisa menemukan Fennita dan tante Is," ucapnya dengan wajah menunduk.


Zamroni tersenyum dan menyodorkan toples kaca berisi kacang mete itu. Erick menatapnya bingung. "Kamu pasti tahu itu dari siapa," ucap Zamroni kemudian.


Erick mencoba memikirkan jawabannya, "Apa ..., ini dari ..., tante Is?" tanya Erick ragu.


Zamroni mengangguk, Erick menanyakan keberadaan Isnaeni. Berharap ada Fennita juga bersama mamahnya. Zamroni mengatakan hal yang sebenarnya, Isnaeni hanya datang sendiri dan akan mengunjungi acara akad Intan dan Dilan. Membuat Erick ingin segera bergegas menemui wanita yang telah dianggapnya sebagai ibu sendiri.

__ADS_1


Zamroni tertawa melihat tingkah Erick yang sudah seperti cacing kepanasan, "Om titipkan keluarga Om sama kamu, Rick. Om restui jika kamu memang ingin melamar Fennita."


"Ha? Ini ..., ini ..., beneran, Om?" tanya Erick masih terkejut.


Zamroni mengangguk. Perasaan bahagia bercampur haru masuk memenuhi relung hati Ericko. Restu telah diraih dari lelaki yang masih bertanggung jawab atas diri Fennita. Membuatnya menyalami Zamroni penuh takdzim dan sedikit menangis.


Zamroni tersanjung melihat tangis itu. Karena air mata lelaki hanya akan keluar untuk orang yang benar-benar dia cintai. Dan sekarang dia tahu seberapa rasa cinta Ericko kepada Fennita. Erick segera pamit karena ingin menemui Isnaeni. Ia ingin memberitahu tentang penilaian ibunya. Berharap ada kesempatan untuk memenangkan hati Fennita lagi.


"Rick, apa kamu nggak malu punya mertua pembunuh?" tanya Zamroni sebelum Erick pergi.


Erick menggelengkan kepalanya, karena dia telah menerima semuanya dengan hati ikhlas. Dendamnya sudah hilang sejak hatinya kembali merasakan getaran cinta di hatinya. Erick bergegas ke acara Dilan dan Intan. Mencari keberadaan Isnaeni diantara orang-orang yang hadir.


Dia memang pantas disebut sang mata elang. Jeli sekali netra itu, menangkap sosok yang sedang dicarinya. Isnaeni sedang bersama Naomi menuju ruang pengantin wanita. Dia mencoba mengejarnya, tapi Rio memanggilnya.


"Bantuin gue ambil mas kawin di basecamp! Si Dilan kebangetan! Mas kawin sampai lupa!" ucap Rio kesal.


"Bentar, Yo. Gue mau nemuin tante Is dulu ...," jawab Erick hendak mengejar langkah Isnaeni.


"Nanti aja! Udah nggak ada waktu lagi, nih!" paksa Rio.


Dengan berat hati Ericko mengikuti permintaan Rio. Ingin rasanya dia mencekik Dilan, selalu saja melupakan hal yang penting.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Hihihi, kalian gedeg sama othor ya? Kalian gemes sama othor karena menunda pertemuan mereka ya? wkwkwk. Sabar! bentar lagi. Biar nggak jadi plot hole makanya harus runtut. peace 😅😅


__ADS_2