
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Ericko dan Dilan bermain kejar-kejaran dengan waktu. Rio menyuruh mereka untuk segera kembali ke basecamp, itu artinya memang ada sesuatu yang urgent yang perlu disampaikan. Tapi mereka juga tidak tahu hal apa yang akan disampaikan. Dilan mengemudikan mobil Rio dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Ericko mengendarai motor milik ojek online dengan kencang.
Pengemudi ojek online itu sampai mendekap tubuh Ericko dengan sangat erat. Takut jika dirinya terbang terkena angin. Perjalanan yang harusnya memakan waktu lima puluh menit bisa dipangkas dan hanya menjadi tiga puluh menit. Bayangkan sendiri kecepatan motor itu. Saat sampai di kawasan basecamp, Ericko turun dari motor dan menyeringai pada pengemudi ojek online itu.
Tubuh pengemudi itu bergetar karena takut. Ulah Ericko memang meresahkan. Sampai membuat orang ketakutan seperti itu. Dia menepuk bahu pengemudi itu, lalu berkata.
"Maaf ya Mas, membuat Anda takut. He-he-he. Nggak ngompol, kan? Anggap saja tadi diboncengin Valentino Rossi. Makasih sudah diantar, semangat kerjanya ya!"
Ericko langsung berjalan meninggalkan pengemudi itu. Melihat keadaan sekitar basecamp, lalu masuk ke dalam basecamp itu. Ternyata Dilan sudah sampai disana. Ericko langsung duduk di samping Dilan.
"Mana sepatu gue?" tagih Dilan akan janji Ericko.
Ericko berdecak, "Sabar lah Lan, nanti gue orderin online aja."
"Nggak! Disini ada storenya, kok! Ngapain online? Biar gue bisa milih yang harganya mahal dong, ah!"
Ericko memutar bola matanya malas dan jengah. "Mana nih, Rio? Dia nyuruh kita cepat-cepat datang, eh malah dia sendiri yang nggak ada!"
"Hadir!" seru Rio di belakang sofa dengan sangat keras. Hingga memekakkan telinga Ericko dan Dilan.
Dilan dan Ericko refleks menjambak rambut Rio. Bukan refleks, mereka memang sengaja melakukannya.
Rio duduk di tengah-tengah mereka. Wajahnya sudah sangat serius. Membuat Dilan dan Ericko bertanya-tanya.
"Ih, nungguin ya?"
Ericko dan Dilan langsung bangkit hendak pergi. Malas dengan sikap Rio yang seperti ini.
"Yakin pada nggak mau tahu rahasia besar ini?" sambung Rio lagi.
Dilan dan Ericko akhirnya duduk kembali. Rio bersedekap dengan tatapan tajam.
"Buruan, Yo!" bentak Ericko.
"Intan anaknya Komandan Bambang!" tutur Rio tegas.
"What?" tanya Dilan dan Ericko bersamaan. Wajah mereka benar-benar terkejut dengan apa yang mereka dengan barusan.
"Intan mana? Intan gue?" tanya Dilan.
"Intan temennya Fenni dan Naomi? Jawab, Yo!" cecar Ericko tidak sabar.
__ADS_1
Rio memejamkan matanya dengan tetap bersidekap. Mendengarkan semua pertanyaan yang keluar dari dua mulut sahabatnya. Rio memberikan jawaban tanpa suara, yaitu melalui anggukan kepalanya. Semuanya menjadi jelas sekarang. Dilan dan Ericko masih tidak percaya bahwa Intan adalah anak Komandan Bambang.
"Padahal gue yang tahu duluan kalau Komandan punya anak. Eh, si Rio yang mecahin teka-tekinya. Tahu dari siapa, Yo?" tanya Ericko penasaran.
"David! Oh ya Lan, David mantan saingan lo. Kalau lo nggak bisa mempertahankan Intan, habis dia direbut sama David!" Rio menggoreskan ibu jarinya ke lehernya sendiri.
"Duh, dek! Gue harus jadi paling cerdas dong, ya? Gue gak boleh kalah dari si David!
Rio menceritakan semua yang diceritakan oleh David tanpa kurang satu katapun. Plek ketiplek dengan penuturan David.
Teka-teki anak Komandan Bambang sudah diketahui oleh Ericko dan Dilan. Dan hal itu membuat Ericko sudah tidak tertarik lagi. Dia ingin melakukan suatu yang lain. Sesuatu yang bisa membuat otot wajahnya selalu kencang karena pasti dia akan menarik sudut-sudut bibirnya.
Dia meninggalkan Dilan dan Rio yang masih semangat membahas Intan. Ericko masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Dia yang sedari masuk ke kamar sambil mengetik pesan di ponsel, tidak tahu jika kamarnya sedang digunakan oleh Komandan Bambang.
Entah apa yang ditulisnya pada pesan itu, hingga membuat Komandan Bambang yang baru saja membuka matanya langsung menggodanya.
"Cie ..., cie ..., cie ..., ahaide! Yang sekarang manggilnya pake yang-yang an, itu maksudnya sayang atau kepala Fennita peyang, Rick?"
Ericko langsung menjatuhkan ponselnya ke lantai karena kaget ada suara di dekat telinganya. "Komandan! Sejak kapan di kamar saya?"
"Sejak tadi, bahkan waktu kau masuk kamar cengar-cengir juga aku tahu. Cie ..., yang bentar lagi menemukan tambatan hati yang baru ...." Komandan Bambang turun dari ranjang dan menyenandungkan lagu Jodohku, milik Anang Hermansyah.
"Jodohku ..., maunya ku dirimu, kalau nggak kamu ..., pokoknya harus kamu ..., cie ..., ahaide!"
Komandan Bambang datang dengan menguap lebar. Dia menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Dia duduk di sofa bersama para anak buahnya. Heran melihat tatapan menyelidik dari anak buahnya.
"Apa?" tanyanya.
"Intan anak Komandan, bukan?" tanya Rio cepat.
Komandan Bambang yang sedang meneguk kopi yang ada di meja, entah milik siapa langsung tersedak. Hingga hidungnya beraroma khas kopi hitam.
"Uhuk!"
"Nah, kan! Kalau Komandan tersedak karena kaget berarti benar. Lan, selamat kawan, lo dapat calon mertua yang hobinya ngasih perintah nggak jelas. Itu artinya spek otak lo harus di upgrade biar nggak kena hukuman mulu." Rio mengambil kopi dari tangan komandannya dan menyesapnya.
Dilan mengerlingkan kedua matanya sangat menggemaskan. Membuat Komandan sedikit risih dengan tatapan itu.
"Wahai calon mertua, saya akan bekerja keras untuk membahagiakan anak calon mertua. Mohon restui lah kami!" Dilan meraih tangan Komandan dan mengecupnya.
"Iuh, akika masih normal yes ..., so please jangan cium tangan akika," kata Komandan menirukan gaya waria.
Rio tertawa menyaksikannya. Baru kali ini dia melihat komandannya begitu. Ah, mungkin penyamaran terbaru komandannya adalah waria.
__ADS_1
"Kalian pasti tahu dari David, kan?" tanya Komandan.
Mereka berdua mengangguk. "Udah selesai itu jiplakan wajah, Yo?"
"Beres, Ndan!"
Komandan mengangguk puas dengan kinerja anak buahnya. Kini Dilan ingat harus segera merancang sebuah alat untuk misi mendatang. Membuatnya undur diri dari perkumpulan itu.
"Lan, aku nggak melarang kau deketin Intan, asal jangan kau mainkan hatinya. Kalau kau berhasil menciptakan alat yang dapat membantu Erick, selesai misi langsung akad! Siap?"
Dilan langsung memberi hormat patuh, "Siap, Ndan! Eh, siap, Pah!"
"Sana kerja!" perintah Komandan Bambang. Dilan langsung pergi dengan semangat. Beruntung sekali dia langsung mendapatkan restu dari calon mertuanya.
"Itu si Erick bakalan beneran jatuh cinta sama Fennita deh, Yo," kata Komandan.
Rio mengernyitkan dahi tidak paham, "Ini bukan dalam keadaan misi lho, dia wa pake yang-yangan. Parah itu anak!" imbuh Komandan Bambang lagi.
"Ya bagus kalau gitu, Ndan. Sambil menyelam minum air soda warna merah, dikasih es batu, kasih su*su putih biar tambah manis. Kan seger! Istri Komandan kenapa balik ke India?" tanya Rio penasaran.
"Dia nggak mau pindah islam, kami menikah dengan beda keyakinan, saat Intan umur delapan tahun, aku minta dia untuk pindah agama, tapi dia tetap pada pendiriannya. Tetap ingin berpegang teguh pada keyakinannya. Ya makanya kami memutuskan untuk cerai saja. Eh, balik ke Ericko lagi. Bayangin dia minta restu beneran ke Zamroni yang notabene pembunuh Kalena. Bakalan bisa mulus nggak sih, Yo?"
Rio berpikir sebentar. Benar juga ucapan Komandan Bambang. Bagaimana jika memang tidak mudah mendapatkan restu itu? Haduh! Sepertinya kisah cinta Erick dan Fennita tidak akan bisa bersatu.
"Yang aku takutkan adalah Fennita membenci dirinya. Udah itu doang," tutur Komandan lagi. Rio tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia juga tidak tahu bagaimana nanti hancurnya perasaan sepupunya itu.
Entahlah. Untuk hal yang masih menjadi misteri seharusnya tidak usah dirisaukan. Karena belum tentu seperti perkiraan mereka. Bukankah Allah SWT yang maha tahu akan segala hal?
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Lunas yak janji othor. Othor mau tidur gaes. See you
__ADS_1