
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Fennita dan Erick mengantarkan orang tua mereka hingga masuk ke mobil. Berpesan pada Rio untuk berhati-hati saat berkendara. Erick dan Fennita harus memindahkan beberapa barang mereka ke rumah hadiah dari Zumarnis. Tidak banyak barang yang mereka pindahkan ke rumah itu, hanya beberapa keperluan penting yang mereka bawa.
Fennita membersihkan kamar mandi, dapur, menata tempat tidur, dan menata bajunya dan baju Erick di lemari. Dia tersenyum malu saat menata baju-baju itu. Dia memisahkan antara baju dinas dan baju sehari-hari. Erick menata beberapa perabotan dengan cantik di rak kayu besar yang sudah ada di rumah itu. Mencoba menata perkabelan dan mengganti beberapa bohlam lampu yang mati.
Tidak ada yang namanya santai untuk hari itu. Mereka hanya beristirahat untuk salat dan makan. Butuh waktu hampir seharian sendiri untuk membersihkan rumah. Maklum, rumah itu dulunya dikontrak orang dan yang mengontrak tidak pandai beberes. Adzan Maghrib terdengar di telinga mereka, lantas mereka segera mandi bergantian dan menunaikan salat Magrib. Ada yang berbeda dari keseharian mereka.
Jika biasanya mereka salat sendiri-sendiri, kini mereka menjadi imam dan makmum. Jika kemarin yang menyahut aamiin adalah Dilan ataupun David, kini suara merdu dari sang bidadari yang terdengar pelan di telinganya. Jika dulu hanya tangan yang saling menyambut, kini ada yang saling mengecup. Ah, bahagianya mereka berdua saat ini.
Fennita memasak makanan yang dibawa mertuanya. Ada sayur pare, wortel, tempe, tahu, dan bakso hasil buatan mamahnya. Dia yang dulu tidak bisa apa-apa, kini menunjukkan kepiawaiannya pada Erick.
"Widih ..., istriku bisa masak sekarang? Eh, status kita baru ya? Aku suami dan kamu istri! Ahay!" kata Erick semangat.
"Ya bisa lah! Orang udah belajar. Mau bantuin apa ngrecokin?" tanya Fenni yang asyik mengiris bawang merah dan putih.
"Bantuin lah! Mas laper! Seharian beberes menghabiskan tenaga. Apalagi nanti ya?"
Fennita tiba-tiba menjadi gugup. Semburat merah muda menjalar ke pipi putihnya. Erick cekikikan melihat ekspresi istrinya.
"Udah nggak usah malu-malu, udah jadi suami istri juga masih aja merona kalau digodain! Sini, Mas yang goreng tahu dan tempenya. Ini baksonya mau dipotong lalu dioseng sama sayurnya kan?" tanya Erick cekatan memainkan pisau dapur.
"Iya, tolong ambilkan gula dikit dong, Sayang!" ucap Fennita menadahkan tangannya meminta barang yang dibutuhkannya.
Wajah Erick terlihat girang mendengar panggilan itu. Bukan gula yang Fennita terima, tapi kecupan lembut di tengkuknya. Fennita kaget bukan main. Bulu kuduknya sampai berdiri. Wajahnya kembali merona akibat ulah Erick.
"Mas! Kaget aku tuh ...," ucap Fennita sambil menahan senyum.
"Ha-ha-ha. Gimana rasanya?" tanya Erick merangkul pundak Fenni.
"Geli! Kamu mending nonton tv aja sana! Bukannya bantuin biar cepat selesai malah gosong semua nanti!" Fenni mendorong tubuh Erick keluar dari dapur hinga ke depan ruang tv.
__ADS_1
Erick hanya tertawa melihat istrinya yang bersungut-sungut kesal karena digoda olehnya. Dia harus lebih sedikit bersabar dan menahan hasratnya. Ia memilih menyalakan tv dan menonton berita yang ada. Dion Sanjaya ditetapkan sebagai pemakai sekaligus pengedar narkoba. Pengadilan akan mulai persidangannya minggu depan. Dia memindah channel tv, malas untuk mengetahui kabar Dion.
Berita lain yang disiarkan adalah tentang persidangan Alex. Dia masih saja berkelit ketika ditanya oleh hakim. Hingga persidangannya diundur dan harus dijadwalkan ulang. Dia memberikan kesaksian yang berbeda ketika dijebak oleh Erick dan kawan-kawan dibandingkan dengan kesaksiannya di pengadilan.
"Ih, beritanya bikin badmood deh!" Dia memilih untuk menyusul kembali istrinya di dapur. Kali ini dia duduk dengan tenang di meja makan dan mengambil beberapa foto Fennita yang piawai memainkan kedua tangannya untuk memegang sutil.
Dia tersenyum dan sedikit cekikikan melihat hasil jepretannya. Fennita mematikan kompor tanda memasak telah usai. Erick dengan sigap mengambil dua buah piring dan gelas lalu mengelapnya dengan tisu. Fennita meminta untuk diambilkan sendok sayur dan centong nasi.
"Nasinya seberapa, Mas?" tanya Fennita.
"Satu centong penuh ya, Yang! Kan habis ini tempur!" jawab Erick sambil cengengesan.
Fennita hanya menahan tawanya dan menggelengkan kepalanya. Suaminya sudah sangat ingin menyalurkan hasratnya. Mereka makan dengan tenang. Sesekali bercanda mengingat kejadian dulu waktu belum menikah. Fennita yang menemaninya makan waktu di warung dan basecamp, mengingatkannya dengan malam ini. Suasana sangat berbeda dengan dulu, kali ini lebih romantis karena Erick menyuapi Fennita, dan sebaliknya.
Mereka bersantai sebentar di teras samping rumah. Erick mencoba menggoda kembali istrinya. Dia mengeluarkan rokok yang entah dia dapat dari mana. Meletakkannya di meja dan membuat mata Fennita langsung menyorot benda itu.
"Satu batang ya, Yang?" tanya Erick.
Erick berdecak mendengar jawaban itu dari fennita. Niatnya mau membuat Fennita bersungut-sungut malah dia yang dibuat kesal. "Buang sana!" Erick menyuruh Fennita membuangnya.
Fennita tersenyum penuh kemenangan. Adzan Isya' terdengar dengan merdunya. Mereka menikmati panggilan salat itu. Sangat merdu dan membuat nyes di hati. Erick dan Fennita segera berwudhu ketika adzan berhenti. Fennita menggelar sajadah untuknya dan Erick dan bersiap menjadi makmum. Selesai salat wajib, Erick dan Fennita melaksanakan salat sunnah dua raka'at untuk pengantin baru. Fennita tersenyum senang mendapati sosok suami yang bisa membimbingnya.
"Mas ...," panggil Fenni saat Erick melepas sarungnya.
"Dalem, Sayang?" jawab Erick begitu manja.
"Mmm ..., mau ..., itu ..., sekarang?" tanya Fenni dengan wajah yang sudah memerah.
Erick mengernyitkan dahinya. Berpura-pura tidak paham dengan pertanyaan Fennita. "Itu? Itu apa sih?"
"Ih ..., jangan berlagak polos deh, Mas!"
__ADS_1
Ericko tertawa melihat wajah Fennita yang kembali bersungut-sungut. Fennita melepas mukenanya lalu menggantungkannya. Dengan gerakan cepat tanpa suara Erick memeluknya dari belakang. Fennita sampai terjengkit kaget.
"Bersiaplah! Mas kunci pintu dan tutup jendela dulu." Erick melepaskan pelukannya dan bergegas melakukan apa yang dia katakan.
Fennita bernapas lega. Sungguh! Suara Erick benar-benar mendamba dirinya. Dia segera bergegas ke kamar. Membuka lemari pakaian dan mengambil baju dinasnya. Dia segera berganti pakaian, memakai parfum di area tertentu, dan memakai make up. Itu semua dia ketahui dari sepupu dan sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Naomi dan Intan?
Fennita telah selesai bersiap. Dia langsung masuk di balik selimut. Erick yang baru saja datang tersenyum penuh makna ke arahnya. Erick melepas bajunya dan melemparkannya ke sembarang arah. Dia berjalan menuju ranjang, yang disana Fennita panas dingin menyambutnya.
"Dingin?" tanya Erick mencoba melihat suhu AC kamar.
"Ng-nggak!" jawab Fenni.
"Lha terus kenapa pakai selimut sampai leher?" tanya Erick. Belum sampai Fennita menjawab, Erick menyuruhnya untuk mengambilkan minum.
"Kan lebih dekat ke kamu, Sayang ..., tolong ambilkan dong! Nggak boleh lho membantah perintah suami!" kata Erick sambil menaik turunkan alisnya. Terpaksa Fennita turun dari ranjang. Erick terpana melihat pemandangan nan menyejukkan hati itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
hari ini dua, 🤕🤧🤧😷
__ADS_1