
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Fennita dan Ericko bangun kesiangan. Mereka berkejaran dengan waktu karena belum melaksanakan salat subuh. Membuat semuanya serba terburu-buru. Mereka kembali berebut kamar mandi karena perut mereka ingin buang hajat.
"Besok bikin kamar mandi lagi deh! Ribet kalau rebutan begini. Buruan, Yang! Nanti keluar di celana, nih!" teriak Erick mondar-mandir di depan kamar mandi.
Fennita yang sedang berusaha mengeluarkan beban tubuhnya, hanya tertawa cekikikan mendengar ocehan suaminya. Drama di pagi hari baru saja usai. Fennita memilih memasak nasi goreng sebagai menu untuk sarapan pagi ini. Selesai sarapan mereka langsung berkemas untuk pulang ke Windusari.
Mereka hanya membawa beberapa pakaian. Ericko menitipkan rumah pada tukang kebun kepercayaan Zumarnis. Rencananya nanti Ericko akan mencari satpam untuk menjaga keamanan rumah. Sebelum bertolak ke Windusari mereka menyempatkan mengunjungi Zamroni. Meminta do'a agar diberikan kelancaran untuk acara besok.
Zamroni terlihat senang melihat senyum Fennita mengembang lebar di bibirnya. Terlihat sangat kesulitan sekali anaknya berjalan. "Rick, berhasil jebol gawang?" tanya Zamroni menggoda kedua anaknya.
"Papah, ih!" jawab Fennita enggan menjawab.
"Berhasil dong, Pah! K.O dia Pah, Erick dong yang menang!" jawab Ericko tanpa malu sedikitpun.
Dia malah bangga berhasil membuat istrinya K.O hingga dua kali. Wajah Fennita sudah seperti udang rebus. Zamroni tertawa bahagia melihat romantisme yang diciptakan keduanya. Bersyukur bisa memiliki menantu yang menerima dia apa adanya.
Mereka berangkat ke Windusari bersama rombongan Dilan, Intan, dan Komandan Bambang. Zumarnis sekeluarga sudah berangkat ke Windusari kemarin, menyusul Rio dan Naomi. Dua mobil berjalan beriringan mulai menelusuri jalan tol.
Fennita lebih banyak tidur, karena dia merasa benar-benar lelah. Ternyata betul cerita Naomi dan Intan, tubuhnya serasa remuk setelah olahraga yang membangkitkan gairah itu. Ericko tersenyum kecil dan membelai kepala istrinya.
Setelah melewati perjalanan panjang, sampailah mereka di Windusari. Orang-orang sibuk memasang tenda dan mulai menghias pelaminan. Sambutan hangat diterima oleh Ericko dan Fennita dari Isnaeni dan keluarganya. Suasana ramai riuh karena tetangga datang membantu yang punya hajat.
Fennita dan Ericko menyapa mereka dengan hangat. Mempersilahkan mereka untuk memakan hidangan yang ala kadarnya.
"Bojone Fenni sumeh yo, Yu. Tak kiro ki amem, jebul kok sumeh. Wes ganteng, pawakane gagah, sumeh. Wes to, Fenni iku bejo intuk Erick!" kata seorang tetangga yang sudah berkenalan dengan Ericko.
(Suaminya Fenni mudah berbaur ya, Mbak. Aku kira dia sombong, ternyata kok mudah berbaur. Sudah ganteng, perawakannya gagah, mudah berbaur. Sudah lah, Fenni itu beruntung dapat Erick!)
__ADS_1
"Iyo, jo meneh nek iling bapake Fenni sing jebule mateni mantane Erick. Ya Allah, jodone wong kok apikan temen. Mugi anakku intuk sing koyok Erick, Gusti ...," sahut yang lainnya.
(Iya, apalagi kalau ingat bapaknya Fenni yang membunuh mantannya Erick. Ya Allah, jodohnya orang kok baik sekali. Semoga anakku dapat yang sepetti Erick, Gusti ...,)
"Aamiin ...," yang lain ikut mengamini do'a itu. Mereka tertawa bersama sambil melanjutkan pekerjaan mereka.
Isnaeni yang mendengar slentingan itu di telinganya mendadak menjadi haru. Dia tersenyum dan memandang anak menantunya. Memang benar apa kata tetangga, Ericko adalah pria yang baik. Yang dengan legowo melupakan dendam karena memperjuangkan cinta. Dia berjalan mendekati Erick dan Fennita.
"Wes madhang, Rick?" tanya Isnaeni. (Sudah makan, Rick?)
Ericko menoleh, "Dereng, Mah. Mangkeh mawon rak mpun. Dereng luwe!" (Belum, Mah. Nanti saja nggak papa. Belum lapar!)
"Ck! Madhang sek kono! Sing akih ben iso gaweke putu kanggo Mamah sing sholeh lan sholehah!" ucap Isnaeni yang terdengar sampai ke telinga Fennita. (Ck! Makan dulu sana! Yang banyak biar bisa membuatkan cucu buat Mamah yang sholeh dan sholehah!)
"Ih ..., Mamah ..., kan nikahnya baru kemarin, Mah!" protes Fennita. Ericko hanya tersenyum senang mendapati mertuanya menginginkan keturunan dari mereka berdua.
"Siap, Mah! Ericko bakalan tengokin dedeknya Dek Fenni tiap hari!"
***
Hari resepsi sudah akan dimulai. Ericko dan Fennita sepakat menggunakan paes ageng solo untuk acara itu. Mereka menjelma kembali menjadi raja dan ratu sehari. Siap menerima para tamu yang datang untuk memberikan do'a pada mereka.
Masakan sudah mulai ditata di meja. Menu yang tersedia seperti hajatan lainnya. Bakso, sate lontong, nasi pindang, nasi rames, bubur, es buah, dan es dawet sudah matang sesuai jamnya. Itu semua tidak lepas dari kerja keras pada tetangga mereka yang datang membantu. Jauh dari kata wedding organizer, tapi mampu menyaingi kinerja mereka. Itulah makna gotong royong yang sesungguhnya.
Paman Fennita mendampingi iparnya saat di pelaminan. Sedangkan ibu Ericko didampingi oleh adik kandungnya. Seperti adat jawa yang ada, resepsi itu dimulai dari upacara panggih, balangan suruh, menginjak telur, sindur, kacar kucur, sungkeman, saling menyuapi, dan terakhir adalah bubak kawah.
Suami Zumarnis yang menggantikan adik iparnya harus berjalan mengelilingi tamu sambil memikul peralatan dapur yang sudah tersusun rapi. Para ibu-ibu dengan cepat memburu barang-barang itu. Suasana sangat meriah disana. Satu per satu tamu yang hadir memberikan ucapan selamat kepada Ericko dan Fennita.
Tamu spesial datang dari Bandung, mamah dan papah Kalena datang memenuhi undangan Khotijah. Mereka ikut bahagia atas pernikahan Erick dan Fenni.
__ADS_1
"Papah? Mamah?" tanya Erick tidak percaya melihat siapa yang datang.
Orang tua Kalena tersenyum, mereka bersalaman dengan keluarga Ericko dan Fennita terlebih dahulu. Lalu menyalami pengantinnya.
"Kamu gimana sih, Rick? Mamah dan papah kan pernah bilang, kalau nikah undang kami. Kenalkan Fennita sebagai calon istrimu. Ini, dikenalkan tidak, ngasih kabar kalau sudah akad juga tidak, tahu-tahu sudah resepsi aja. Dasar!" Mamah Kalena memarahi Erick di atas pelaminan.
Ericko hanya tertawa mendapatkan omelan itu. Mereka berfoto bersama untuk dijadikan kenang-kenangan. Papah Kalena berpesan pada Ericko untuk berkunjung ke Bandung dan membawa Fennita sebagai istrinya. Ericko berjanji nanti setelah pulang bulan madu akan ke Bandung untuk bertamu.
Tiba-tiba saja dari jauh terlihat ada kerumunan dan tawa yang meledak-ledak. Ternyata ada tamu istimewa datang. Ericko tidak tahu siapa, mungkinkah atasannya? Tapi dia hanya mengundang beberapa orang kantor. Lalu siapa?
"Astaghfirullahal 'adzim ...," ucap Ericko melihat siapa yang datang mendekat.
Zulfikar, sepupunya sendiri, datang dengan gaya yang tidak biasa. Dia menggunakan batik panjang, celana hitam, peci hitam, dan kacamata hitam. Berjalan dengan dipayungi oleh ajudannya. Siapa yang menjadi ajudannya? Siapa lagi kalau bukan komandan somplak, iya, Komandan Bambang.
Tangan Zulfikar membawa sebuket alat kontrasepsi dan menyerahkannya pada Ericko. "Cah edan ..., ini lagi Komandan, ngapain sih?" tanya Ericko sewot.
"Tolong bicara yang sopan dengan lurah Banyumampet," kata Komandan Bambang.
Zulfikar meminta foto tapi tidak mau bersama Ericko. Dia hanya mau berfoto dengan kakak iparnya. Alhasil Ericko menyingkir, dan membiarkan lurah dan ajudan gila itu berfoto bersama istrinya.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip