
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
"Halo!" jawab suara di ujung sana.
Pendengaran Rio sangatlah tajam. Dengan sekali pengucapan, dia sudah tahu jika itu bukan Ericko. Dengan cepat dia mematikan panggilan itu. Merusak kartu perdana teleponnya dan membuang di sembarang tempat. Dia harus segera kembali ke markas dan menentukan langkahnya sendiri.
Dia sangat yakin bahwa Ericko tertangkap oleh kawanan itu. Dia duduk termenung di sofa berwarna coklat itu. Kedua tangannya bersidekap di depan dada. Kepalanya ditengadahkan ke langit-langit ruangan dengan mata terpejam.
Diam tak bersuara kini sedang Rio lakukan. Tik ... tik ... tik ... Terdengar detik jam bergerak memutar sesuai porosnya. Rio membuka matanya tetiba dan tersenyum penuh arti.
"Plan B!" katanya seraya beranjak menuju kamarnya.
Rio berganti baju dengan memakai kaos hitam dan celana jeans. Persis seperti pakaian yang dikenakan oleh para penjaga gudang tua itu. Dia mengirim pesan pada Komandan Bambang bahwa kawan-kawannya sedang dalam bahaya.
Me : Elang Jawa dan Black Forrest sedang dalam bahaya. Aku mencoba meminta bantuan pada Kapolres Doni, tapi sepertinya dia bukan berada di pihak kita. Jika dalam 24 jam aku tak memberimu kabar lagi, maka anggaplah kami sudah tamat.
Rio menelpon Naomi sebentar, meminta do'a dari istri tercinta. Mendengar suara Naomi sedikit membuatnya tenang. Meskipun tegang tengah mendominasi suasana hatinya.
"Oke, Abang harus segera bergerak. Kasihan mereka menunggu Abang terlalu lama. Abang pasti kembali untukmu, Sayang. I love you, Naomi." Rio memasukkan senpi ke belakang punggungnya.
"Do'aku selalu menyertaimu, Bang. Semoga semua sesuai rencanamu. Aku akan selalu menunggumu. Love you too, Bang." Rio tersenyum mendengar jawaban Naomi. Dia memutuskan panggilan itu bergegas meninggalkan markasnya.
Rio mulai mendekati gudang tua itu, mencari celah agar dirinya bisa masuk tanpa menimbulkan keributan. Dia memilih satu orang penjaga yang postur tubuhnya mirip dengannya. Lalu dengan cepat dia melumpuhkan penjaga itu dengan pukulan keras di tengkuk lehernya.
Berhasil! Rio menyuntikkan obat bius agar penjaga itu tidak bangun dengan segera. Mendudukkannya di kursi agar dikira tidur oleh yang lain. Rio langsung memakai masker agar tidak ketahuan oleh yang lain. Dia berpura-pura patroli di sekitaran gedung. Melihat arloji dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk bisa menyelesaikan misi dalam kurun waktu yang telah ditentukannya.
"Gue mau ke kamar mandi dulu, kebelet!" serunya saat bertemu dengan penjaga lain yang seperti mencurigai dirinya.
Dirinya segera mencari letak pintu rahasia yang menuju ruang bawah tanah. Dia mengendap dan mengawasi sekitar. Setelah hampir dua menit mencari dan tidak kunjung menemukannya, akhirnya ada orang yang keluar dari pintu rahasia itu.
"Allah memang Maha pemberi petunjuk!" ucapnya senang dan bergegas masuk ke ruang bawah tanah.
Rio sampai tidak tega melihat keadaan mereka yang bisa dikatakan pasti tertekan. Menghitung jumlah tawanan yang ada agar dirinya bisa menentukan langkah yang tepat membawa semuanya keluar. Rio menghampiri Dilan dan Ericko.
Rio memberikan Dilan dan Ericko sebuah plat tipis yang menyerupai jarum. Digunakan untuk membuka pintu sel mereka masing-masing.
"Plan B!" Mereka mengangguk mengerti. Dilan dan Ericko langsung beraksi.
Rika sampai heran melihat mereka bertiga. "Siapa sebenarnya kalian, ha?" tanya Rika.
Dilan hanya tersenyum sembari membuka pintu selnya. "Bukan siapa-siapa. Berdo'alah kita semua selamat dari sini!"
Rika tak ingin bertanya lagi. Dia menuruti ucapan Dilan. Lebih banyak membaca dzikir daripada harus menanyakan jati diri kawanan itu.
"Lan, gue pasrahkan semua tawanan ke lo! Gue dan Erick mau nangkap basah si penjual organ!" perintah Rio. Dilan mengangguk.
Ericko memberikan instruksi pada semua tawanan itu.
__ADS_1
"Keselamatan kalian ada pada diri kalian sendiri, ini adalah obat bius. Silahkan satu orang ambil satu per satu. Lumpuhkan penjaga yang mencoba menahan kalian, dan selalu bersama. Jangan sampai terpecah. Mengerti?" Semuanya mengangguk paham dengan penjelasan yang diberikan Ericko.
Saat akan membuka pintu, ternyata ada penjaga yang lebih dulu membukanya. Mengharuskan Dilan mau tak mau menggunakan obat bius itu.
Rio memberikan senpi yang diminta oleh Erick. Mereka bergegas menuju ruangan yang digunakan untuk melakukan pembedahan. Sungguh takjub mereka melihat ruangan itu. Persis seperti ruang bedah yang ada di rumah sakit.
"Siapa, kalian?" tanya Bang Jack yang mengetahui ada yang tidak beres.
Sebuah pemandangan yang miris dan tragis sedang tersaji di depan mereka. Seorang gadis sudah tidak sadarkan diri dengan alat bantu pernafasan terbaring di atas meja operasi. Beberapa orang lelaki dengan memakai baju khas operasi yang biasa digunakan dokter mengelilingi tubuhnya.
Bagian perutnya sudah menganga lebar. Darah segar bisa terlihat dengan jelas tanpa alat bantu. Bang Jack dan dua orang anak buahnya mendekati Ericko dan Rio. Selain dari mereka melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena kehadiran tamu tak diundang itu.
Rio dan Ericko tak memiliki waktu lama. Mereka harus segera menuntaskan yang ada dihadapan mereka. Rio melemparkan senjata pada Ericko. Membuat Bang Jack dan anak buahnya juga mengeluarkan senjata. Mereka saling todong senjata tak ada yang mengalah. Satu tarikan pelatuk akan mengakibatkan suara yang menggema.
Rio dan Ericko saling menyatukan punggung mereka. "Waktu kita mepet, Rick," kata Rio bergumam.
"Oke, kita tuntaskan yang sudah kita mulai." Ericko mulai menembakkan peluru biusnya. Tepat sasaran mengenai dada Bang Jack. Obat bius yang digunakan bisa membuat otot seketika menjafi lemas tak berdaya hingga membuat orang tersebut kehilangan kesadaran.
Begitu pula dengan Rio, melakukan hal yang serupa untuk melumpuhkan anak buah Bang Jack.
"Angkat tangan, kalian!" seru Ericko. Membuat dokter yang sedang melakukan tindakan pengangkatan organ itu menghentikan aktivitasnya.
Ginjal, jantung, dan hati sudah terangkat lebih dulu. Menyisakan paru-paru yang sudah berhasil dipisahkan dari tubuh gadis itu.
Sedangkan di luaran sana, Dilan memimpin operasi penyelamatan sendirian menghadapi penjaga gudang tua itu. Dia menyerukan kepada semua tawanan untuk menyuntikkan obat bius kepada orang yang mereka temui.
"Mengerti!" jawab semuanya.
Rombongan polisi baru datang saat mereka sudah berhasil melumpuhkan musuh-musuh mereka. Membuat Ericko dan Rio hanya geleng kepala. Masih di dalam plan b, Ericko dan Rio menggiring dokter itu untuk menunjukkan jalan bagi mereka bertemu dengan tangan penadah organ itu.
Mereka bergegas melakukan pengejaran dan mengupas tuntas misi mereka. Rio membuka pesan dari ponselnya. Pesan balasan dari Komandan Bambang.
Beruang lucu : Semua aman terkendali? Kupikir begitu. Kamu kan memang anak didik yang bisa selalu kuandalkan. Ingat, uang jajan dariku menanti kalian. Kuberi voucher berlibur kalau berhasil misi. Semangat anak-anakku sayang! Fighting!
Rio tertawa mendapatkan pesan balasan itu. Membuat Ericko meliriknya dengan bingung.
"Dasar komandan gelo! Anak buahnya dalam bahaya masih saja santai. Rick, sejak kapan penyamaran lo bisa kebongkar?" tanya Rio.
Ericko tersenyum geli membayangkan dirinya yang mudah dikenali oleh penjaga tadi. "Entah! Gue juga heran, Yo. Semenjak gue nolongin sepupu Naomi, kayaknya."
Rio mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengarahkan pembicaraan yang menyangkut Fennita. Tapi kenapa Ericko tiba-tiba membahasnya?
"Fennita? Kok jadi nyalahin dia, sih? Lo kangen sama dia, ya?" cecar Rio.
Ericko berdecak sebal mendengarnya. Salah dia sendiri harus beralasan seperti itu di depan Rio. "Nggak!"
"Iya juga nggak papa, kalian kan sama-sama bebas."
__ADS_1
"Mbuh Yo, sekarepmu! Dibilang nggak ya nggak. Lihat tampang gue kalau ada bohongnya!"
Rio tertawa cekikikan melihat wajah Ericko yang mengeluarkan semburat kemerahan di pipinya. Mereka telah sampai di sebuah rumah yang jauh dari keramaian.
"Kalau masih sayang sama nyawa lakukan peranmu dengan baik, dokter!" perintah Ericko pada dokter itu. Ericko memasangkan baju rakitan yang sudah dipasangi bom di tubuh dokter itu. Lalu melapisinya dengan jaket.
Dokter itu hanya mengangguk ketakutan. Turun dari mobil dengan membawa box freezer berisi organ manusia. Ericko dan Rio bersama beberapa anggota intel dari Polres turun dan bersembunyi di semak-semak. Ada dua orang penjaga disana. Dokter tersebut diantarkan masuk oleh salah satunya. Rio dan Ericko langsung menyerbu melumpuhkan sasaran mereka.
"Angkat tangan!" seru salah satu intel. Rio dan Ericko langsung menyisir seluruh ruangan yang ada di rumah itu.
Rio menemukan dokter itu tewas dengan luka di bagian leher. Sedangkan Ericko bermain kejar-kejaran dengan pria bercodet. Hingga Ericko berhasil mengejar pria bercodet itu.
"Menyerahlah!" seru Ericko.
Pria bercodet itu menyeringai kejam. Menyerah bukan kata yang ingin di dengarnya. Sama sekali tidak ingin mendengarkannya. Itu bukan pilihan yang bagus.
Terjadi baku hantam antara Ericko dan pria bercodet itu. Ingatan Ericko mulai terganggu dengan wajah pria itu. Seperti pernah melihat tapi tidak tahu dimana. Kesempatan bagi pria itu untuk lolos dari Ericko.
"Kematian Kalena karena siapa? Itu adalah sebab kelalaianmu menjaganya. Kamu seorang pembunuh, kamu adalah pembunuh Kalena!" Pria itu mencoba meracuni pikiran Ericko. Tujuannya adalah untuk memecah fokus.
Ericko sedikit limbung karena ucapan itu. Membuatnya berpikir, bagaimana bisa pria itu mengenal Kalena? Rio datang membawa bantuan. Dengan sekali tembak bius pria itu langsung tumbang.
"Are you okay, Broth?" tanya Rio. Ericko menggeleng.
Para intel itu membawa pria bercodet itu. Separuhnya lagi mengamankan barang bukti. Rio membantu Ericko untuk bangkit.
"Dia kenal Kalena, Yo." Ericko terengah-engah saat mengatakannya. Rio mengernyitkan kening sebentar lalu mengangguk tanda paham.
"Mungkin clue dari Komandan Bambang mulai terbuka gemboknya. Dia adalah mantan intel hantu seperti kita. Gue ingat wajah dia saat dirangkul di foto Komandan Bambang di ruangan. Sepertinya misi kita kali ini sangat panjang, bahkan perlu beberapa episode lagi."
"Pantas gue nggak asing sama wajah dia. Sialan!" sungut Ericko yang tidak mengingat wajah orang itu.
Rio menelpon seseorang dan memberitahukan keadaan mereka. "Plan B clear, satu gembok terbuka."
.
.
.
**Like
Vote
Komen
Tip**
__ADS_1