Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Zombie


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Alex kembali meremas tangannya sendiri. Geram dengan keadaan yang ada. Tidak ada satu orangpun yang dapat membantunya. Dia menjadi gamang ingin menjawab apa. Jika dia berbohong, maka tubuhnya akan menjadi potongan puzzle. Jika dia jujur semuanya juga akan hancur, rasanya hidup tapi rasanya sudah mati.


Karir, bisnis, dan harta adalah tiga hal yang mati-matian dia pertahankan selama ini. Dan hari ini, dia akan kehilangan ketiganya sekaligus. Dia menatap tajam pada Komandan Bambang, tersirat akan adanya dendam. Bagaimana dia bisa terjebak dengan keadaan ini? Ini pasti hanya mimpi!


Komandan Bambang mengulangi kembali pertanyaannya. Mendesak Alex agar segera menjawab. Ericko memainkan stik yang bentuknya seperti pulpen itu, ingin segera memencet tombol itu. Alex melirik microphone yang terpasang pada saku jasnya. Ingin melepas alat itu dan melemparkannya ke sembarang arah.


"Jadi, bagaimana Pak Alex Sanjaya?" tanya Komandan Bambang dengan senyum terbaiknya.


Mbak Nahwa juga ikut mendesak Alex, "Seorang pemimpin itu harus bisa jujur terhadap dirinya sendiri dan masyarakat. Nah, sekarang anggap saja Pak Alex sedang diberikan kesempatan untuk menunjukkan bahwa Bapak memang orang jujur, silahkan dijawab Pak Alex!"


"Ah, mungkin Pak Alex terlalu sulit untuk setuju atau tidak ya, Pak? Baiklah, kita berikan bantuan untuk Bapak. Semoga ini bisa membantu anda untuk menjawab!" ucap Bambang dengan senyum menghakimi.


Zumarnis menyuruh orang yang bertugas di audio untuk memutar rekaman antara Zamroni dan Alex. Semuanya jelas diperdengarkan disana. Rencana jahatnya terungkap sudah. Memporak-porandakan mimpi dan harapan. Dia bagaikan dihempas ke dasar jurang dari ketinggian dua puluh meter.


"Negara Indonesia, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila. Yang mana salah satunya berhubungan dengan peri kemanusiaan. Jika ini menyangkut penjualan organ, bukankah hal itu sudah melanggar sila kedua ini, Pak Alex? Lalu bagaimana dengan pemenuhan HAM disini?" cecar Bambang.


"Tolong konfirmasinya, Pak! Apakah rekaman ini benar atau palsu?" desak Nahwa.


Alex menatap tajam satu per satu orang yang menjatuhkannya. "Ya! Rekaman itu benar!" jawab Alex dengan tertekan.


Yunus sampai menganga mendengar lawannya itu. Sekeji itu Alex melakukan hal untuk mendapatkan sesuatu yang dinamakan kekayaan dan jabatan? Sampai tidak punya hati ingin melegalkan aturan tentang penjualan organ. Terbuat dari apa hati Alex?


"Di dalam rekaman itu anda meminta pak Zamroni untuk melegalkan aturan tentang penjualan organ, apakah anda sudah atau akan memiliki usaha itu, Pak Alex?" cecar Bambang layaknya pemburu berita.


Alex ingin menyumpal mulut Bambang dengan sesuatu. Pria tua itu benar-benar ingin melucuti dirinya di depan umum.


"Ya," jawab Alex ambigu.


"Ya apa, Pak? Ya karena sudah punya?" tanya Nahwa.

__ADS_1


Alex mengangguk. Dia tidak bisa mengelak lagi. Komandan Bambang juga mengaitkan Alex dengan David. Semua terungkap sendiri dari mulut Alex. Kasus Red Fox juga terungkap jelas disana. Komandan Bambang benar-benar menguliti targetnya dengan sangat sempurna.


"Ah, satu lagi, apakah korban penjualan organ pertama anda adalah saudara anda sendiri? Anak kandung dari pemilik Sanjaya yang sebenarnya? Supaya anda bisa mendapatkan kekayaannya?" imbuh Komandan sebelum menutup acara itu.


Alex benar-benar sudah ingin mengubur dirinya. "Ya."


Jawaban penutup yang luar biasa. Nahwa menerangkan bahwa bukan satu stasiun televisi saja yang menayangkan acara live itu. Bambang dan Nahwa menutup acara itu dengan sangat berkesan. Ya, meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi orang-orang yang terlibat.


Erick mendekati Alex dan tersenyum penuh kemenangan. Dia melepaskan microphone itu dan memperagakan cara meledakkan bom palsu itu. Tidak meledak! Membuat Alex tercengang. Jadi dia ditipu? Good job, Rick! Dia memang masih memiliki rasa takut akan kematian.


"Kalian mempermainkanku?" tanya Alex menahan marah.


Erick menyeringai lebar dan mengangguk, "Ah, aku lupa! Bom yang sebenarnya tidak jadi aku buat. Ini cuma mainan laser, kenapa anda harus takut wahai calon presiden yang terhormat?"


Sialan! Alex telah tertipu oleh Ericko dan kawan-kawannya. Komandan Bambang datang membawa borgol dan menggelandang Alex untuk segera diserahkan kepada polisi. Malam ini dia akan reuni bersama Zamroni dan juga David. Mereka pasti senang mendapatkan teman baru, eh ralat! Bukan teman baru, tapi kedatangan kawan lama.


Erick, Rio, dan Dilan tersenyum puas karena rencana mereka telah berhasil. Tapi Rio melupakan sesuatu, dia belum membebaskan Prabu.


Mereka dipanggil ke markas besar untuk mendapatkan hadiah dari kerja kerasnya. Dilan dan Rio menyuruh Erick untuk pergi terlebih dahulu ke markas besar. Ada sesuatu yang harus diurus oleh mereka.


"Bareng aja, sih!" ucap Ericko ingin mengikuti dua sahabatnya itu.


"Kagak bisa! Lo mau jadi nyamuk diantara kami? Kami mau ketemu belahan jiwa kami lho!" seru Rio melarang Erick untuk ikut.


Erick berdecak sebal. Sial sekali hidupnya, sahabatnya dikelilingi oleh pujaan hati mereka, lah dirinya? Harus gigit jari menahan kerinduan yang ada. Akhirnya Erick berangkat sendiri ke markas besar. Meninggalkan dua pria yang ingin menemui pujaan hatinya.


Rio mengenali junior Erick yang datang untuk mencari seniornya itu. "Ada apa?" tanya Rio.


"Mau menyampaikan hasil pengintaian, Ndan!" jawab lelaki itu.


"Bilang saja pada kami, biar nanti kami sampaikan padanya." Dilan menjadi penasaran debgan informasi yang dibawa oleh junior Erick.

__ADS_1


Lelaki itu menceritakan hasil pencarian dan pengintaiannya. Menunjukkan hasil jepretan yang menampilkan gambar dua orang wanita. Yang satu sudah separuh baya, dan yang satunya masih muda. Dilan dan Rio mengenali mereka, Fennita dan Isnaeni. Mereka berada di sebuah desa dan sedang berjualan mie ayam dan bakso.


"Pulanglah, terima kasih atas informasinya. Jika Erick menghubungimu jangan dijawab. Dia lagi kena sindrom zombie bucin. Bisa kumat sewaktu-waktu, dan kalau udah kumat bahaya! Pacarmu bisa dicaplok!" ucap Rio menakuti lelaki itu.


Membuat lelaki itu sedikit takut, ya, takut kalau pacarnya dicaplok oleh si zombie Erick. Dia berpamitan dengan Dilan dan Rio. Baru saja dua langkah pergi dari hadapan dua senior jahil itu, dia berbalik lagi. "Tolong sampaikan sama bang Erick, kekurangan biayanya buat berobat saja. Daripada nyaplokin pacar orang, nggak baik dan nggak sehat, Ndan!"


Dilan dan Rio menahan tawanya. Mereka mengangguk bersamaan. Dan ketika junior Erick menghilang, mereka tertawa puas. Mereka mengurungkan rencana mereka karena sudah tahu dimana keberadaan Fennita dan Isnaeni. Awalnya mereka ingin mengunjungi Zamroni dan menanyakan keberadaan keluarganya.


Mereka tahu dan paham, Erick tidak menanyakan hal itu kepada Zamroni karena menghormati keinginan Isnaeni. Keinginan seorang ibu yang mengutamakan kebahagiaan anaknya.


"Habis ini gue halal, ihir! Yo, ajarin gue!" seru Dilan.


Rio tidak paham dengan keinginan Dilan, "Ajari apa?" tanya Rio.


"Ajari gue soal ilmu itu ..., main manja-manjaan di ranjang! Hi-hi-hi ...," jawab Dilan cekikikan.


Rio menjitak kepala Dilan dengan keras. Ijab saja belum sudah minta ilmunya. Dasar Dilan!


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2