
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Keterkejutan mereka tidak hanya sampai ucapan komandan yang mengatakan Ericko akan bertunangan dengan Fennita. Sekarang, mata mereka menangkap sosok yang mengganggu tidur mereka. David terbaring di sofa bertelanjang dada dengan balutan perban anti air.
Komandan Bambang menyeruput kopi hitam kesukaannya dengan tangan kiri berkacak pinggang. Mereka bersidekap menatap komandannya.
"Apa?" tanya Komandan Bambang santai sambil menikmati kopinya.
"Kalian sudah nggak pengen uang jajan? Menatapku seperti itu. Posisi plank!" perintahnya.
Ketiga pria itu memutar bola matanya malas. Meskipun begitu, mereka tetap melakukannya. Mereka mulai melakukan gerakan plank. Komandan tersenyum jahil melihat mereka. Dia sengaja tidak memberi perintah lebih lanjut lagi.
"Jaga dia, lindungi sebisa kalian. Aku tidak mau lagi kehilangan kesempatan untuk hal ini."
Mereka hanya diam mendengarkan ucapan komandannya. Kenapa harus dilindungi?
Kenapa tidak langsung diserahkan ke polisi saja?
Mereka bingung dengan cara pikir Komandan Bambang. Kadang begini kadang begitu. Seperti orang yang tidak punya pendirian. Tapi, mereka yakin dibalik keputusannya, komandan pasti sudah menimbang semuanya dengan matang. Itulah yang mereka anut dari komandannya. Menyembunyikan kenyataan untuk sementara waktu demi membuka kartu as yang ada tidaklah buruk.
"Kalian ngapain, sih? Pengen olahraga? Pengen perut makin rata? Kok plank terus. Eh, lupa kalau aku yang nyuruh. Ha-ha-ha. Bangun, gih!"
Mereka mencebik ucapan komandan. Mereka duduk di lantai dan menatap David dengan tatapan kasihan.
"Dia adalah junior yang paling bisa diandalkan. Entah apa yang membuatnya menjadi begitu, sekarang keadaannya menyedihkan. Aku menyelamatkannya kali ini, berharap dia akan balas budi dengan kita."
Ericko melirik ke arah komandan dengan tatapan menyelidik. Dia sangat ingin menanyakan hal ini.
"Ndan, apakah Komandan sudah tahu pelaku sebenarnya dari misi ini?" tanya Ericko sudah tidak tahan lagi.
Membuat Rio dan Dilan juga berpikiran hal serupa. Dari mulai pemberian tugas, mendatangi Ericko di hotel, dan penyelamatan David. Komandan Bambang selalu tahu dan selalu ada untuk membantu mereka.
Mereka menantikan jawaban yang keluar dari mulut komandan. Namun saat mulut komandan menjawab, ingin sekali mereka menyumpal mulut menyebalkan itu dengan batu bata. Sungguh menjengkelkan sekali jawabannya.
__ADS_1
"Itu karena aku, semakin di depan! Persis seperti sepeda motor Yamasasih, wkwkwk!"
Ericko menyesali mulutnya yang selalu saja tidak bisa diam dan keingintahuannya yang tinggi. Sudah berapa kali dia dikecoh oleh komandan? Harusnya dia belajar dari kesalahan yang dahulu. Ini malah diulangi kembali, dasar Erick!
Dilan dan Rio langsung bangkit dan menuju kamar mereka masing-masing. Membuat komandan merasa diabaikan.
"Mau kemana?" tanya komandan.
"Mau tidur! Percuma dengerin beruang ngomong! Kami nggak ngerti. Ngobrol noh sama Elang Jawa! Capek ah!" seru Dilan malas meladeni komandannya.
Ericko hendak mengikuti langkah teman-temannya, tapi dicegah oleh komandannya. Dia mengajak Ericko untuk membicarakan masalah pertunangannya dengan Fennita. Komandannya berpesan agar Ericko melaksanakan tugasnya dengan sempurna agar orang tua Fennita percaya bahwa dia memang orang biasa yang mencintai Fennita.
"Dilan ada, kenapa harus saya sih, Ndan?" tanya Ericko dengan bibir dimanyun-manyunkan.
"Nggak usah sok jelek! Kamu itu ganteng maksimal! Kalah ganteng aku kalau sama kamu, Rick! Pake skin care apaan? Aku nitip beli, dong?" jawab Komandan Bambang yang hendak mengalihkan pembicaraan.
Sayang, Ericko tidak mau terkecoh lagi. Dia memilih diam tidak menjawab pertanyaan tidak penting dari komandannya.
Keterangan yang dibeberkan oleh Komandan Bambang membuat darah Ericko mendidih kembali. Berarti benar kecurigaan Mas Jon? Kalena tidak bunuh diri? Melainkan dibunuh? Oleh David?
Sungguh! Saat ini Ericko ingin sekali mencekik leher David sampai dia tidak bisa bernapas dan meninggal. Membalaskan kematian Kalena. Namun tatapan mata yang dalam dari komandannya membawanya kembali ke alam sadarnya. Sekana-akan mata itu bicara bahwa kematian tidak harus dibalas dengan kematian.
"Balas dengan rasa yang lebih sakit, permalukan mereka hingga mereka tidak ingin hidup. Itulah pembalasan paling kejam untuk mereka. Berikan neraka sementara sebelum mereka merasakan neraka yang abadi." Komandan Bambang menepuk bahu Erick.
"Bukti apa yang Komandan punya?" tanya Ericko penasaran.
Komandan tahu perkacapan antara Alex dan Zamroni yang didengar oleh Kalena. Dia memiliki bukti fisik itu. Tetapi, sekarang belum berada di tangannya. Dia mendapatkan itu ketika bertemu dengan agen M. Dia menceritakan sebuah misi yang diturunkan oleh Kepala BIN untuk divisinya. Membuatnya harus mengurai benang merah satu per satu agar menjadi gulungan yang menyajikan suatu peristiwa.
Misi yang berawal dari peredaran jual beli senjata api ilegal, yang merujuk pada dua orang itu. Yaitu Alex dan Zamroni. Mereka selalu bisa berkelit dan lolos dari jerat hukum ketika akan tertangkap. Membuatnya stress dan hampir menyerah saat melaksanakan misi itu. Kehilangan anak buah karena kematian dan pengkhianatan adalah konsekuensi yang dia terima saat menerima misi itu. Hingga dia bertemu kembali dengan agen M.
Agen M adalah salah seorang agen angkatan pertama satu letting dengannya. Dia mendengarkan dengan seksama dan berjanji akan membantu temannya itu. Lalu agen M memasang sebuah alat penyadap di perusahaan Malik group. Agen M meletakkannya di tempat yang tidak terduga. Yaitu di bawah sofa. Kamera berukuran mini tidak ketinggalan, letaknya ada di kelopak bunga plastik yang sengaja diletakkan di meja sudut. Merekam semua kejadian yang ada di ruangan itu.
"Kenapa Komandan tidak menolong Kalena waktu itu?" tanya Ericko menahan emosinya.
__ADS_1
Komandan Bambang menghela napas berat. Kesalahan yang harusnya bisa dia cegah, tapi terlambat. Dia siap menerima kemarahan Ericko akan hal ini.
"Waktu aku hendak menolong Kalena karena aku tahu dia diikuti, aku juga mengalami keadaan yang sama. Anak perempuanku diikuti oleh anak buah Alex. Dan saat itu aku lebih memilih menolong anakku, ketimbang Kalena. Maafkan aku, Rick. Silahkan marah jika itu bisa meluapkan emosimu."
Ericko hanya terdiam mendengar penjelasan komandannya. Ingin marah percuma, nyawa Kalena tidak akan bisa kembali.
"Saat itulah aku tahu bahwa David, masih hidup," lanjut Komandan Bambang.
"Aku minta maaf karena tidak bisa menolong Kalena. Aku sungguh menyesal, Rick!"
Ericko menatap komandannya lalu tersenyum, "Itu adalah takdir hidup Kalena, Ndan. Mau bagaimana lagi? Saya percaya, dia lebih bahagia di surga. Mari kita usut satu per satu benang kusut ini. Apa yang Kalena dengar tentang rencana Alex dan Zamroni?"
"Nanti kamu akan mendengar sendiri, besok akan ku kenalkam dengan agen M. Kamu yakin tidak tertarik sama sekali dengan, Fennita?"
Ericko berdecal sebal saat diberikan pertanyaan itu. Harus berapa kali dia mengulangi jawaban yang sama? Tidak tertarik! Itulah jawaban Ericko.
"Nggak! Kenapa sih pada hobi banget tanya begitu?"
"Karena mata kamu mengatakan hal lain, Rick!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1