
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Fenni mengambil tas yang ada di atas nakas tanpa berbicara apapun. Tidak menyangka Erick bisa sepicik itu berpikiran tentang dirinya. Apa salah dia sampai Erick mengulangi pembicaraan yang sama?
"Aku, balik!" pamit Fenni singkat.
Ericko langsung bangun dan menarik tas milik Fenni. Mencoba menahan kepergiannya. Dia hanya mencoba bercanda, tapi sepertinya Fenni menganggapnya serius. Dia tidak bermaksud untuk mengatakan hal yang menyakitkan pada Fenni.
"Mau kemana?" tanya Ericko.
"Balik! Disini sudah ada dokter dan perawat sesungguhnya yang akan membantumu. Jadi dokter jadi-jadian ini mau balik!" kata Fenni dengan begitu kesalnya. Matanya tiba-tiba saja menganakkan air mata.
Dia segera mengusapnya sebelum isaknya pecah. Sakit sekali hatinya dikatakan begitu oleh Erick. Dia tidak mau bekerja ada alasannya. Dia memang dilarang oleh papahnya untuk bekerja di rumah sakit sesuai profesinya. Dia malah dipaksa untuk belajar tentang ilmu ekonomi agar nantinya bisa meneruskan perusahaan Malik Grup.
Erick menarik lengan Fenni dan membalikkan tubuhnya. Dia melihat mata Fenni sedikit sembab. Rasa bersalah merajai hatinya. Dia menjadi tidak enak hati mengatakan hal itu. Dia menggeser tubuhnya sedikit menepi di bed itu. Lalu menepuk sisanya agar Fenni duduk di sampingnya
Fenni hanya menuruti keinginan Erick. Entah apalagi yang akan dikatakannya. Dia hanya diam.
"Maaf," kata Erick.
Fenni memilih diam tidak menjawabnya. Wajahnya tidak menghadap ke arah Erick.
"Aku cuma bercanda,"
Fenni langsung menoleh dengan tatapan tajam dan dingin. Membuat Erick kaget dengan mimik wajah yang baru dilihatnya itu. Karena biasanya, mimik yang ditunjukkan Fenni adalah sedih dan gembira. Jarang sekali dia melihat mimik kesal itu. Tapi hatinya senang melihat Fenni dengan wajah yang cemberut seperti itu. Menurutnya lebih cute dan menggemaskan.
Rick! Menggemaskan dan cute? Memang ada yang salah sama otak kamu, nih. Batin Erick.
"Maaf, aku cuma bercanda ngomong begitu. Aku nggak ada niatan sama sekali bikin kamu kesal."
"Nggak ada niatan? Wah, hebat sekali anda! Dah lah! Aku mau balik!"
Ericko tertawa dan mencubit pipi Fennita karena gemas. Membuat pipi mulus milik Fenni memerah dan membuat dia semakin cemberut. Tapi dia juga senang, Ericko menyentuhnya meskipun itu hanya cubitan.
"Eh, sorry, sorry, nggak maksud ..., aku minta maaf ya? Bisa kan dimaafkan?" Ericko mengerlingkan matanya.
Membuat hati Fenni berdesir hebat hingga membuatnya ingin terbang melayang.
"Ini kamu lagi pura-pura apa beneran godain aku sih?" tanya Fenni dengan menahan senyumnya.
Erick baru sadar jika sejak tadi dirinya terlalu bermain-main dengan perasaan Fennita. Dia harus bisa mengendalikan perasaannya. Apa karena tubuhnya sakit makanya otaknya ikut sakit?
__ADS_1
Tapi ini masalah main perasaan lho, bukankah hati yang selalu berperan dalam urusan perasaan?
"Seneng kan kamu tak godain? Tumben kamu kalem seharian ini, salah makan?" cela Ericko lagi. Membuat Fennita langsung menjambak rambut Ericko. Ericko berpura-pura mengerang pelan.
"Gayanya aja ngejambak .... Niatnya mau ngelus rambut aku kan?"
"Ih! Ge Er!" Fennita langsung melepaskan tangannya dari rambutnya.
Wajah Ericko sudah tidak sepucat tadi, mungkin karena cairan infus yang masuk ke tubuhnya. Atau karena kehadiran Fennita yang menghangatkan hatinya? Tanya sendiri sama Ericko.
"Fen, tolong tanyakan sama dokter kapan aku boleh pulang."
"Baru juga tiga jam disini, palingan besok," jawab Fennita.
Ericko berdecak dan memelototi Fennita, "Tanyain aja kenapa, sih?"
"Iya deh, iya! Sabar!"
Fennita memencet bel pasien, langkah paling mudah memanggil perawat dan dokter tanpa harus berjalan keluar ruangan. Ericko hanya geleng kepala melihatnya. Tidak lama kemudian, seorang pria dengan jas putihnya dan seorang perawat mengenakan seragam ungu masuk ke ruangan Ericko. Pria itu menunjuk Fennita agak ragu lalu mengembangkan senyumnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Fennita terhadap pria yang memakai jas putih itu. "Bang Farel?" sapa Fennita.
"Hai, Fen. Apa kabar? Lama ya kita nggak ketemu?"
Ericko hanya menyaksikan pemandangan itu dengan tatapan tajam. Dia tidak berkomentar apapun dan membiarkan mereka bercengkrama. Perawat lah yang menghentikan obrolan mereka.
"Ada yang Bapak butuhkan?" tanya perawat itu setelah selesai melakukan pengecekan suhu tubuh, tekanan darah, pernapasan, dan nadi.
"Tolong tanyakan dokter lain, apakah saya hari ini juga boleh langsung pulang? Saya nggak tahan dengan bau rumah sakit! Dokter yang ini lagi asyik ngobrol kayaknya," kata Ericko sedikit keras.
Membuat Farel dan Fennita menoleh. Farel meminta maaf karena lalai terhadap tugasnya. Lalu menanyakan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan perawat. Dia juga memeriksa suara paru, jantung, tenggorokan, dan lambung Ericko.
Menemukan fakta bahwa Ericko sedang mengalami peradangan di tenggorokannya. Kembung di perutnya juga mengakibatkan dia mual dan muntah. Farel mengabulkan keinginannya untuk bisa pulang, karena kondisi Ericko yang tidak begitu mengkhawatirkan.
Fennita perlu ikut ke nurse station untuk melakukan penyelesaian administrasi. Farel dan perawat itu kembali terlebih dahulu. Ericko memberikan kartu ATM nya pada Fennita agar membayar tagihan rumah sakit menggunakan itu. Dia memberitahukan pin dari ATM itu.
Pintu kembali terbuka, Rio dan Dilan muncul dari pintu itu. Mereka sudah siap menghajarnya dengan hujatan karena berduaan dengan Fennita.
"Mau kemana, Fen?" tanya Rio.
"Ke administrasi, tuh temenmu minta pulang!"
__ADS_1
"Lhah, kita baru datang malah dia minta pulang. Bagaimana, sih?" timpal Dilan.
"Nggak tahan sama bau rumah sakit, gue. Makanya minta balik cepet," tutur Ericko.
Dilan dan Rio mencebik ucapannya, "Nggak tahan sama baunya, atau nggak tahan berduaan sama Fennita takut tergoda?" tanya mereka dengan begitu kompaknya.
Fennita melirik ke arah Ericko ingin tahu jawaban dari pria itu, tidak disangka Ericko juga meliriknya. Jadilah mereka berdua bulan-bulanan bagi Dilan dan Rio. Mereka seperti anak remaja yang baru belajar suka-sukaan. Baru belajar cinta-cintaan, padahal Ericko sudah punya pengalaman sebelumnya.
Fennita segera pergi meninggalkan mereka sebelum dirinya meledak karena rasa senang. Ya Fennita malah senang diolok-olok Dilan dan Rio.
"Setan emang lo pada! Kasihan man anak gadis orang, lho!" ucap Ericko kesal dengan tingkah teman-temannya.
"Tumben dia agak ...," kata Rio berpikir kata yang cocok untuk melengkapinya.
"Kalem," sahut Ericko cepat.
Tidak berselang lama, Fennita telah kembali dan menyerahkan ATM milik Ericko. Seorang perawat datang dan melepas selang infusnya.
"Aku balik duluan, Bang!" pamit Fennita.
"Aku antar," cegah Ericko yang langsung menggamit tangan Fennita.
Dilan dan Rio memperagakan gerakan yang baru saja dilakukan Ericko. "Dah lah! Kita disini malah jadi nyamuk aides ai lop yu! Balik lah, gue mau lanjutin senam aerobik yang menguras tenaga dan perasaan!" kata Rio.
"Gue juga mau ketemuan sama intan lah, malas gue jadi nyamuk malarindu. Emang bener kata pak bos nih, Erick itu sakitnya merindukan kasih sayang dari Fennita!"
Mereka berdua melirik ke arah Fennita dan Ericko, lalu lari dengan kencang. Erick hanya menggelengkan kepalanya.
"Dasar dua pria ababil!" teriak Ericko yang masih menggamit tangan Fennita. Dia baru sadar saat Fennita menatapnya heran.
"Eh, maaf!" ucapnya
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip