
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Zamroni kembali mendapatkan tamu yang ingin menjenguknya. Hingga David mengejeknya. Layaknya seorang artis yang terkenal, kini Zamroni memiliki banyak fans yang datang menjenguknya. Itulah yang diucapkan David. Zamroni hanya diam tidak menggubris ucapan David.
Dia keluar lagi dari dalam tahanan untuk menemui tamu tersebut. Yang pertama dia kenali adalah wajah Ericko. Setelahnya dia tidak tahu wajah wanita dan laki-laki yang umurnya hampir sama dengannya. Ericko tetap menyalami Zamroni, lalu mengenalkan kedua orang tua Kalena padanya.
Zamroni terkejut mendapati tamunya saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka akan dipertemukan dengan orang tua Kalena, mantan sekretaris yang telah dibunuhnya, secepat ini. Ingin memulai obrolan dari segi manapun sepertinya tidak akan pantas bagi dirinya berbicara.
"Bagaimana kabar, Bapak?" tanya Papah Kalena membuka obrolan.
Zamroni semakin tercengang mendengarnya. Masih pantaskah kabarnya ditanyakan oleh orang tua Kalena? Bukankah seharusnya mereka mencaci maki dirinya? Bukankan seharusnya orang tua Kalena marah dan menghujatnya seperti masyarakat lain? Tapi, mengapa sekarang malah kebalikannya? Malah bersikap hangat dan penuh perhatian.
"Ba-baik, Pak. Kalian sendiri bagaimana kabarnya? Ah, saya tidak pantas menanyakan hal ini. Seharusnya saya sekarang sedang berlutut di depan kalian, meminta ...," ucapan Zamroni terpotong oleh papah Kalena.
"Pak ..., kami sudah memaafkan, Bapak." Papah Kalena menggenggam tangan Zamroni.
Begitu hangat, tidak ada rasa dendam yang menjalari sentuhan itu. Hanya rasa ingin berdamai dan saling merangkul. Memaafkan adalah jalan terbaik untuk hal ini. Meskipun kematian sudah dialami oleh Kalena.
Zamroni menangis karena mendengar ucapan orang tua Kalena. Seharusnya dia mendapat perlakuan kasar. Seharusnya dia tidak mendapatkan maaf dengan semudah itu. Terbuat dari apa hati orang tua Kalena?
"Mengapa Bapak semudah itu memaafkan saya?" tanya Zamroni.
"Kami tidak mau jalan anak kami terganggu karena dendam. Biarlah dia tenang disana. Urusan hukuman kami serahkan kepada pengadilan dan Allah," tutur Mamah Kalena.
Zamroni sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia kehabisan kata untuk hal ini. Wajahnya benar-benar malu menemui orang tua Kalena. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, orang tua Kalena pamit.
Orang tua Kalena keluar terlebih dulu. Tinggal Erick bersama Zamroni. Ericko menyalami tangan Zamroni seperti sebelumnya.
"Rick, maafkan kesalahan, Om," ucap Zamroni sesaat sebelum kembali ke ruang tahanannya.
Ericko hanya mengangguk dan tersenyum. "Rick ..., tolong ..., jaga Fenni dan mamahnya. Terima kasih."
Zamroni langsung berjalan kembali ke ruang tahanannya. Sedangkan Erick diam mematung, mencerna ucapan Zamroni. Apakah ini artinya dia mendapatkan restu? Dia tersadar saat ada yang menepuk bahunya. Mengatakan bahwa dia sudah ditunggu oleh orang tua Kalena di luar.
Ericko mengantarkan orang tua Kalena ke terminal bus. Mereka ngotot ingin kembali ke Bandung hari itu juga. Membuat Erick hanya bisa pasrah.
"Rick, gadis tadi cantik, ya?" tanya Mamah Kalena tetiba.
"Ha? Gadis yang mana, Mah?"
__ADS_1
"Ck, anaknya pak Zamroni, siapa tadi namanya?"
"Fennita," jawab Papah Kalena. "Kalau Papah lihat mata kamu saat melihat dia tuh, ada rasa cinta untuknya, Rick. Kalian ..., ada hubungan spesial?"
"Ha? Spe-spesial gimana maksudnya ..., Pah?" jawab Ericko tidak enak hati.
"Kalian pacaran?"
Ericko menggeleng dan tersenyum malu mendengarnya, "Erick maunya langsung nikah aja, Pah."
"Wah! Laki-laki sejati ini! Papah dukung! Jangan lupa undang kami saat kamu nikah! Nanti Papah yang bayarin, deh!"
Mamah Kalena bingung dengan ucapan suaminya, "Bayarin apanya?"
"Bayarin makanannya ..., satu piring saja!"
Mereka bertiga tertawa karena jawaban Papah Kalena. Obrolan ringan tapi mampu membawa energi positif dan membuat sekitar juga ikut bahagia.
Mamah Kalena tersenyum dari kursi belakang. Memberikan wejangan bagi Erick dalam menentukan tambatan hatinya. Layaknya orang tua kandung sendiri yang memberikan wejangan pada anaknya. Mereka telah sampai di terminal, Erick mengantarkan mereka hingga naik ke dalam bus.
Dia menyalami orang tua Kalena. Berharap ada waktu panjang untuk berlibur dan menghabiskan waktu untuk bercengkrama.
Erick tersenyum bahagia mendengarnya. Dia harus segera menuntaskan kasus ini. Dan datang menemui orang tua Fennita, guna menyampaikan maksud hatinya. Sekarang dia harus menyusun langkah untuk menjebak Alex. Orang yang paling susah sekali ditangkapnya karena selalu lolos dari jebakan yang telah direncanakan.
Ericko kembali ke mobil dan mengutak atik ponselnya. Mengirim pesan untuk Fennita. Berniat mengajaknya bertemu di sebuah tempat. Dimabuk cinta ya kamu, Rick? Baru saja kalian bertemu, dan sekarang minta bertemu lagi?
Me : Fen,
Fennita : Assalamu'alaikum.
Me : Wa'alaikum salam, hehehe. Lupa! Lagi apa?
Fennita : Ada apa?
Me : Ketus amat, sih! Ketemuan yuk!
Fennita : Nggak bisa.
Me : Kenapa? 😢
__ADS_1
Fennita : Karena kita harus saling menjauhi, bukan saling mendekat kembali.
Me : Semakin kamu menjauh, semakin aku mengejarmu! Tanggung jawab! Kamu yang udah bikin aku bucin sama kamu! Jadi sekarang kamu harus dekat sama aku, bukan malah menjauh! Ngerti?
Fennita : 🙄 maksa! Posesif!
Me : Klop, dong! Aku posesif, kamu agresif. Cocok, kan?
Tidak ada balasan lagi dari Fennita. Membuat Ericko tidak sabar dan menghubunginya. Bukan suara Fennita yang didengarnya, tapi suara wanita yang penuh kewibawaan. Suaranya tenang, namun penuh penekanan.
Membuat Ericko sungkan untuk tidak menuruti permintaannya. Namun, jika dia menuruti ucapan wanita itu maka hatinya yang akan tersiksa. Sungguh berat memang kisah cinta Ericko. Bagaikan sebuah jalan, banyak sekali tikungan curam.
"Tante rasa kamu itu pria cerdas, Rick. Cukup jelas ucapan Tante saat di rumah sakit. Omongan Tante itu bukan hanya omongan belaka, tapi Tante minta dengan sungguh ke kamu, supaya bisa memikirkan kebahagiaan Fennita. Jangan hanya memikirkan keinginan kamu, Rick. Tapi tolong pikirkan Fennita. Kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Fennita, Rick. Tante do'akan supaya kamu cepat menemukannya," ucap Isnaeni dari ujung telepon itu.
Erick tertunduk kecewa mendengarkan permintaan Isnaeni. Sangat berat baginya, dan dia juga seratus persen yakin bahwa Fennita mengalami hal yang sama. Kesal, ingin marah, ingin teriak, dan ingin menghancurkan sesuatu kini yang Erick ingin lakukan.
Terdengar suara salam mengakhiri panggilan itu. Hatinya didera kembali oleh rasa kecewa. Mengapa dia tidak diberikan kesempatan untuk menampik semua pikiran yang belum tentu terjadi? Apakah kesempatannya memang sangat tipis? Apakah salah jika dia terlalu memaksa hatinya?
Dia lupa akan sesuatu. Yang paling berkuasa dan pemilik hati yang sebenar-benarnya.
"Astaghfirullahal 'adzim, maafkan hamba ya Allah. Hamba lupa untuk meminta pada siapa, karena Engkau adalah Yang Maha Pemilik Hati."
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
pernahkah kau merasa hatimu hampa?
pernahkah kau merasa hatimu kosong?
__ADS_1
Eaaaa, Mas Erick makin galon! Setelah ini tegang lagi yak, abis itu manis-manis, terus end deh 😜