
...โCerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembacaโ...
Isnaeni heran dengan kedatangan Fennita yang mencoba membantunya. Meninggalkan Erick yang sangat ingin bertemu dengannya. Fennita memintanya untuk menemui mereka terlebih dahulu. Akhirnya Isnaeni menemui sahabat Fennita. Ia bercengkrama dengan keponakannya. Lebih banyak melepas senyum ketika ada cerita lucu.
Fennita tidak berani mencuri-curi pandang. Takut ketahuan oleh Erick. Fennita melayani pembeli satu per satu. Memang pengunjung hari itu agak ramai. Isnaeni menyuruh mereka menikmati makanan itu dan dia harus membantu Fennita yang agak kewalahan. Erick menunggu pesanannya dengan sabar. Memperhatikan setiap gerak-gerik Fennita yang sangat luwes meracik makanan itu. Sangat berbeda dengan Fennita yang dia kenal sebelumnya.
Rio dan yang lain heran dan bengong melihat tingkah Erick. Harusnya dia menggunakan kesempatan itu untuk saling bercakap-cakap dengan Fennita. Tapi ini tidak, dia membiarkan Fennita pergi begitu saja. Dilan sampai harus mengingatkan ucapannya, kalau sudah bertemu dengan Fennita mau diapakan?
Jawaban Erick saat itu adalah mengajaknya menikah. Tapi kenyataan yang terjadi adalah dia dan Fennita sama-sama canggung dan malu untuk melepas kerinduan.
"Lo gimana sih, Bang Rick? Katanya kangen!" ucap Intan protes.
"Ajakin ngobrol kek, Rick! Sumpah ya, kita bela-belain kemari biar lo bisa ketemu sama Fenni, melepas rindu sama dia. Giliran udah sampai sini lo malah diem-diem bae! Gimana sih?" kesal Rio.
"Tahu nih si Erick!" sahut Naomi.
Tidak hanya mereka yang gemes sama Erick, mak othor juga ikut kesal dengan sikap yang ditunjukkan Erick. Erick mengeluarkan ponselnya dan menyentuh ikon kamera. Dia mengambil foto Fennita dari sisi samping.
"Mata kalian pada rabun ya? Dia lagi bantuin mamahnya." Ericko mengamati hasil jepretannya. Sangat sempurna! Dia berhasil mendapatkan senyuman tulus yang dihasilkan oleh bibir Fennita.
"Yaelah, gunakan kesempatan dengan sebaik mungkin dong, ah! Ya kan bisa lo pura-pura bantuin dia disana. Bantu bikin es kek, atau bantu dia nganterin pesenan kek! Ih ..., jadi gue kan yang kesel! Mak Othor, gimana ini mereka berdua?" sahut Dilan.
"Gue lagi speechless ketemu dia yang sekarang, man! Gue kayak nggak ada bahan untuk ngobrol gitu. Kok gue merasa ada yang beda ya? Beda tahu nggak, sih? Aura sikap dewasanya tuh memancar keluar."
Semuanya melemparkan beberapa barang kepada Ericko. Tisu, sumpit, sendok, garpu dan tusuk gigi, mengenai wajah Erick. Dia tertawa melihat kekesalan teman-temannya. Entahlah! Dia juga inginnya mengajak Fennita berbincang-bincang seperti keinginan mereka. Tapi dia bingung, tidak tahu harus memulai dari mana.
Dia melihat wajah ayu itu dari samping. Sungguh, hatinya adem nyes seperti terkena air pegunungan. Tidak ada yang berubah dari fisik Fenni. Wajahnya masih mulus dan bersih seperti dulu.
"Ada yang berubah nggak Bang Rick dari, Fenni?" tanya Intan.
__ADS_1
Ericko tersenyum, "Banyak yang berubah dari dia. Tapi perasaanku tetap sama untuknya."
Semuanya bersorak atas gombalan Erick. Membuat Fennita menoleh sebentar. Dan benar saja, matanya langsung bertatapan dengan Erick yang sedang tertawa lepas. Ah, tawa itu. Tawa yang selalu berhasil membuat Fennita ikut tersenyum.
"Cie ..., yang lagi usaha merayu hati yang sedang sama-sama menahan rindu," ucap Dilan yang melihat mereka berdua saling bertatapan secara tidak sengaja. Fennita secepat kilat mengalihkan pandangannya. Desiran hebat itu hinggap lagi menyapa hatinya yang kemarin hampa.
Naomi melihat jam tangannya. Waktu dzuhur hampir habis. Rio dan yang lain pamit untuk salat terlebih dahulu. Meninggalkan Erick seorang diri di bangku itu. Isnaeni menyuruh Fennita untuk menemani Erick. Membuat Fennita keheranan. Kenapa sikap mamahnya berubah?
"Kamu ngapain disini? Bukannya kemarin habis ada yang nangis gara-gara rindu seseorang?" tanya Isnaeni dengan suara keras. Membuat Ericko bisa mendengarnya.
"Mamah, ih! Pelan-pelan dong, ngomongnya! Kedengeran sama orang kali, Mah! Nih pesenan dia, tolong Mamah aja yang ngantarkan." Fennita menaruh mangkuk berisi mie ayam dan bakso dengan level pedas itu.
"Ih, kok Mamah! Habis ini dia pulang lho, beneran nggak mau nemuin dia? Nggak nyesel buang-buang kesempatan? Sana temui!" perintah Isnaeni.
Fennita mengernyit, dia bingung kenapa sikap mamahnya berbeda sekali. Kemarin mamahnya keukeh mengekangnya tidak boleh bersama Erick. Dan sekarang malah menyuruhnya untuk menemani Erick. Isnaeni mengulangi perintahnya kepada Fennita. Membuat Fennita terpaksa mengantarkan makanan itu.
Fennita membawa nampan berisi es teh dan semangkuk mieso setan level tiga. Dia mencoba untuk tidak gugup, jika dia tidak bisa mengatasinya maka bisa dipastikan makanan itu akan tumpah. Ia menghidangkan makanan itu di depan Erick. Si pria dingin itu kembali mengeluarkan aura beku dalam dirinya. Menyuruh Fennita duduk dan menemaninya makan. Kini kaki Fennita tidak bisa diajak kompromi, membuatnya duduk berhadapan dengan Erick.
"Mienya enak. Bumbunya mantap. Baksonya juga kenyal. Pantas jadi viral!" ucap Ericko di sela-sela makan.
Fennita mengalihkan pandangannya ketika Erick mendongak untuk menatapnya. Dia belum bisa mengendalikan diri jika netra itu menatap penuh damba akan dirinya. Erick sengaja untuk menatapnya, agar tanpa mengungkapkan perasaannya bisa tersampaikan. Hati yang saling bergemuruh riuh sudah ingin saling bersua. Tapi masih saja ada sekat gengsi diantara keduanya.
"Aku nggak nanya pendapatmu," jawab Fennita datar.
Tidak perlu waktu lama untuk melahap habis makanan itu. Kini Ericko menyeruput es tehnya. Fennita bersiap untuk membuka obrolan. Dia tidak tahan untuk saling diam. Dia mengatur napasnya dan berdahem.
"Mau ..., tambah lagi?" tawar Fennita.
Erick menggeleng, "Nggak usah, makasih. Jadi selama ini kamu ada di dekatku?" tanya Erick.
__ADS_1
Fennita tidak paham maksud pertanyaan Erick. Mereka itu berjauhan, kenapa Erick bilang dekat? Seakan tahu isi hati Fennita, dia membuka mapsnya. Memperlihatkan desa kelahirannya dan desa Fennita berada sekarang.
Banyuurip, adalah salah satu kelurahan yang masuk di kecamatan Temanggung. Disanalah Ericko menghabiskan masa kecilnya. Tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu. Fennita tertawa melihatnya.
"Jauh kali dari Windusari ke Banyuurip!" jawab Fennita menggebu-gebu. Memang terbentang jarak yang luas antara kedua desa itu. Erick saja yang menganggapnya dekat.
"Mau kenal kelurahan Banyuurip nggak?"
"Mak-maksudnya?" tanya Fenni ragu.
Belum sampai Ericko menjawab, para peracau alias pengganggu hadir kembali meramaikan suasana. Naomi dan Rio meminta Isnaeni untuk duduk bersama mereka. Mereka saling bercerita kejadian yang sudah lewat. Erick lebih banyak diam dan menikmati tawa Fennita. Kenapa jika berbincang dengan dirinya Fennita tidak tertawa? Apa dia membosankan?
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Minta double lagi? sumpah, mak othor gemes sama Erick ๐
"Selamat Hari Ibu"
__ADS_1
Jadilah tangguh tanpa mengeluh. Makasih mak-mak onlenkuuu ๐๐๐