Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Ha? Anak?


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Ericko meninggalkan Komandan Bambang yang memilih menjaga David daripada memakai kamarnya untuk istirahat. Dia tersenyum kecil mengingat ucapan komandannya. Menurutnya, komandannya itu sok tahu. Memang dia pernah jatuh cinta? Setahu Ericko dan kawan-kawannya Komandan Bambang adalah seorang single. Lebih tepatnya jomblo abadi karena di umurnya yang sudah mencapai kepala lima, dia masih sendiri.


Namun Ericko juga masih ingat sekali alasan Komandan Bambang tidak bisa menolong karena anaknya dalam bahaya.


Ha?


Anak?


Bagaimana seorang jomblo bisa punya anak?


Apakah Komandan Bambang mengadopsi seorang anak?


Kenapa mereka tidak tahu kalau komandan mereka memiliki seorang anak?


Entahlah, banyak pertanyaan yang langsung muncul ke permukaan berebut untuk diberikan jawaban. Ericko memejamkan matanya sebentar dan berbicara pada otaknya.


"Enyahlah kalian wahai pertanyaan konyol!"


Ericko keluar lagi dari kamarnya dan menghampiri Komandan Bambang yang ternyata sudah tertidur pulas di kursi. Batal niatnya untuk menanyakan perkara anak yang mengitari pikirannya. Dia kembali ke kamar dan menjatuhkan dirinya di ranjang empuk dengan sprei warna coklat itu.


Tangan dan kakinya mengusap-usap permukaan kasur itu, "Emmm ... nyamannya ...."


Dia memejamkan matanya sebentar. Terlintas bayangan Fennita lewat di dalam pikirannya. Membuatnya segera sadar dan bangkit. Dia duduk bersila dengan wajah serius.


"Kok jadi kebayang dia, sih?" tanyanya.


"Tadi komandan bilang mataku menyiratkan hal yang berbeda? Coba ah!" Dia bangkit dan menuju ke cermin panjang yang menempel di lemarinya. Menelengkan kepalanya sembari mencari sesuatu di dalam netra itu.


"Nggak ada apapun! Komandan ngarang, ih! Lagian kenapa aku percaya, sih? Erick, Erick, Erick ... sadar man! Bapaknya ada sangkut pautnya sama kematian Kalena. Huft ..., tapi kan ..., belum tentu dia terlibat."


Ericko sibuk bicara dengan dirinya sendiri. Hingga tidak menyadari waktu sudah akan memasuki subuh. Belum juga matanya terpejam, cicitan burung sudah mulai mengusik kesunyian malam. Akhirnya Ericko memilih untuk mandi terlebih dahulu.


Dia tidak ingin berlama-lama untuk mandi, badannya merasakan hal yang lain. Dia menjadi kedinginan. Padahal, biasanya dia sangat menyukai mandi sebelum subuh. Karena itu akan membuatnya menjadi lebih bugar dan segar. Saat sedang berganti baju, dia mendengar langkah seseorang yang terseok menuju kamarnya.


Dengan sigap dia langsung mengambil senjatanya dan bersembunyi di balik pintu kamarnya yang memang tidak tertutup rapat.


Seseorang memegang gagang pintu kamar dan mendorong ke arah dalam. Ericko langsung menodongkan senjata di kepala orang tersebut. Membuat orang itu refleks mengangkat tangannya ke atas.


David sedang berhadapan dengan Ericko. Kepalanya sedang didekati oleh senjata api milik Ericko. Sedang Ericko menahan jarinya agar tidak menarik pelatuk pistol itu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyapa dan mengucapkan terima kasih," terang David akan kedatangannya.


Ericko mengernyitkan dahinya. Kenapa David harus mengucapkan terima kasih padanya? Dia belum melakukan apapun, yang menolongnya adalah Komandan Bambang sendiri. Bukan dirinya, jadi dia tidak pantas menerima pernyataan terima kasih itu.


Ericko menurunkan senjata itu dari kepala David. Lalu meletakkannya kembali di laci. "Bukan aku yang menolongmu, tapi komandan sendiri."


"Ha? Kau tidak bisa memecahkan sandi yang kukirimkan padamu? Atau kau memang tidak tahu aku memberikan suatu sandi padamu?" tanya David dengan nada merendahkan.


"Cih, kamu menggerakkan tanganmu di bawah meja. Mana aku tahu, untung saja Dilan tahu ada yang aneh dengan dirimu!" balas Ericko tidak ingin direndahkan.


David malah terkekeh mendengarnya, "Kau ini sudah berapa lama menjadi agen hantu? Masa untuk sandi seperti itu kau tidak tahu? Dan hanya mengandalkan orang lain?"


"Dih! Ketutupan meja tahu!"


David memilih duduk di kursi Ericko, "Harusnya kau sadar memang begitulah cara kita bekerja. Semua tentang menjaga rahasia. Jadi kau memang tidak memberitahu Komandan?"


Ericko menggeleng.


"Dia memang dari dulu selalu menjadi misteri, bahkan untuk anak buahnya sendiri." David tersenyum kecut mengingat Komandan Bambang.


Ericko tidak banyak bicara. Dia juga memilih duduk di ranjangnya dengan posisi bersila.


"Aku minta maaf atas kematian Kalena," ujar David dengan penuh penyesalan.


Enak sekali mengatakan maaf setelah menghilangkan nyawa orang lain. Ericko mencoba menahan amarahnya. Dia membiarkan David terus berbicara. Tanpa merespon apapun terhadap ucapan David.


"Aku diperintah oleh Zamroni untuk membunuh Kalena. Tapi, aku tidak tahu apa alasannya. Aku hanya menerima perintah tanpa ingin membantah."


"Kenapa kamu menjadi pengkhianat?" tanya Ericko ingin tahu lebih dalam sosok David.


"Alasanku hanya satu, yaitu uang. Gaji kalian jika dibandingkan dengan penghasilanku adalah sepuluh kali lipatnya," terang David.


"Tapi aku sekarang menyesalinya, bahwa uang tidak bisa menggantikan kepercayaan. Aku menyia-nyiakan kepercayaan Komandan Bambang." David mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.


Ericko menangkap bayangan penyesalan yang dalam pada diri David. Ternyata memang benar, silauan harta akan membutakan seseorang hingga jatuh ke jurang penyesalan. Uang adalah alat yang kita butuhkan untuk memenuhi semua kebutuhan, tapi jangan sampai salah arah dan malah menjadikan kita budak uang.


"Hukuman apa yang pantas kamu terima? Kamu sudah mengambil banyak nyawa, bukan cuma satu bahkan belasan atau ratusan. Apakah hukum pidana akan cukup untuk menebus semuanya?" tanya Ericko.


David hanya diam tidak mampu menjawab segala pertanyaan yang Ericko lontarkan padanya. Adzan Subuh memecah kesunyian bercampur ketegangan itu. Ericko menyuruhnya keluar dari kamarnya karena ia akan menunaikan sholat.


"Bagaimana rasanya dekat dengan-Nya?" tanya David kembali.

__ADS_1


"Siapa?"


"Allah," jawab David.


"Menenangkan." Ericko menjawab sesuai dengan apa yang dirasakannya.


"Apakah kalau aku ...." David tidak melanjutkan kalimatnya.


"Ah, sudahlah."


"Bertaubatlah, mau diterima ataupun tidak, tugas kita hanya melaksanakan. Biar Allah yang tentukan," jawab Ericko seakan tahu kalimat yang hendak diutarakan oleh David.


David hanya terdiam dan menghilang dari kamarnya. Saat sedang menggelar sajadah, Komandan Bambang memberitahunya bahwa nanti akan ada pertemuan dengan Fennita. Dia hanya mengangguk dan segera melaksanakan sholat.


Ericko merasa badannya semakin meriang. Dia tidak melakukan olah fisik seperti biasanya. Dia langsung bergabung dengan Dilan dan Rio di meja makan. Sedangkan Komandan Bambang makan di ruang tamu bersama David.


"Lo kenapa, Rick?" tanya Rio.


"Nggak tahu nih, rasanya nggak enak banget badan gue."


Ericko duduk dan mengambil nasi goreng entah siapa yang membuatnya. Dia makan hanya sedikit, tidak berselera sama sekali.


"Busyet! Dikit amat makannya! Lo kenapa sih? Meriang?" tanya Dilan.


Ericko hanya mengangguk lesu. Komandan Bambang yang mendengarnya langsung berteriak dengan keras ikut dalam obrolan itu.


"Merindukan kasih sayang dari Fennita tuh! Iya deh iya yang hari ini mau ketemuan, terus pura-pura sakit biar dapat perhatian. Modus kau, Rick!"


Ericko langsung tersedak mendengarnya. Bagaimana tidak? Dia dianggap pura-pura, padahal memang badannya sedang lelah. Apakah dia memang tidak pantas untuk sakit? Dasar komandan! Suka sekali ikut membulinya.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2