
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Dilan mulai menyusuri ruangan itu. Berjalan mengendap tanpa suara apapun adalah keahliannya. Dia membuka pintu pun tak ada suaranya, persis seperti hantu. Dia melihat sisi kanan dan kirinya kosong tanpa penjaga. Dilan mulai mengambil kamera kecil yang dijadikannya liontin lalu merekam seluruh ruangan yang dilewatinya.
Rio menerima video yang terekam oleh kamera Dilan. Mimik wajahnya sangat serius melihat video tersebut. Hingga terdengar suara jeritan perempuan lagi. Ericko dan Rio saling pandang mendengar dengan jelas suara itu. Tiba-tiba saja kamera Dilan mati.
"Bergerak, sekarang?" tanya Ericko. Rio menggeleng mengisyaratkan mereka harus menunggu petunjuk lebih dari Dilan.
Sedang di dalam sana, Dilan sedang berhadapan dengan dua orang pria bertubuh besar dan bermuka garang. Keduanya menatap Dilan curiga.
"Kenapa lo bisa sampai sini?" tanya salah satu dari kedua pria itu.
Dilan berpura-pura takut, kakinya gemetaran jemarinya saling meremas.
"Gue tanya kenapa lo bisa sampai sini?" tanya pria itu lagi.
"Eng ... anu, Bang ..."
"Ona anu ona anu! Jawab! Siapa lo?" bentak pria yang satunya.
Dilan berpura-pura pingsan karena dibentak orang tersebut. Dan itu membawanya pada sebuah jalan. Jalan itu terletak di bawah tanah. Dengan gerakan cepat, Dilan mengaktifkan kembali kameranya. Tangannya bergerak cepat agar orang tersebut tak curiga.
Rio menerima informasi yang dikirimkan oleh Dilan. Baik Ericko maupun Rio diam dan memerhatikan dengan sungguh-sungguh informasi itu. Rio tak ingin gegabah, dia ingin benar-benar memastikan bahwa ada proses pengambilan organ vital dari orang yang hilang. Meskipun itu artinya nyawa Dilan sedang dipertaruhkan dalam misi kali ini.
"Kira-kira senpi apa yang bakalan lo keluarin kali ini?" tanya Rio dengan mata tak lepas dari layar ponselnya.
Ericko mengerutkan keningnya dan berpikir tentang koleksinya. Lalu mengulas senyum sambil menepuk bahu Rio.
"Kenapa?" tanya Rio.
"Aku butuh senapan angin isi obat bius. Karena mengingat clue yang lo kasih, itu artinya tidak boleh memakan banyak korban!" serunya sambil menyeringai.
Rio mengangguk setuju dengan ide Ericko, "Oke, aku akan merakitnya. Awasi nyawa teman kita itu. Aku akan segera kembali."
Rio menyerahkan ponselnya pada Ericko. Bergegas kembali ke basecamp sementara mereka dan mulai merakit senjata yang diinginkan oleh Ericko. Tak butuh waktu lama bagi Rio merakitnya, karena dia ahlinya. Rio menelepon kepolisian dan meminta bantuan untuk menyediakan obat bius dalam jumlah banyak.
Sementara itu, kamera Dilan aktif kembali. Ericko masih memantau keadaan Dilan melalui kamera itu. Dalam kamera itu jelas terlihat banyak kamar saat Dilan dibawa melintasinya. Membuat kerutan di kening Ericko muncul kembali.
Dilan dimasukkan dalam salah satu kamar kosong disana. Dinding yang lembab, aroma yang begitu menyengat hidung hingga menjadi pekak, lampu yang kurang terang alias temaram membuat ruangan itu mencekam.
__ADS_1
Dilan masih berpura-pura pingsan hingga orang-orang yang membawanya pergi. Ericko melakukan komunikasi dengan Dilan lewat chip kecil di belakang telinganya.
"Gimana rasanya disana?" tanya Ericko dengan nada mengejek.
Dilan berdecak sebal, "Buruan sergap, ah!"
"Kata Rio tunggu. Tunggu sampai kita mendapatkan bukti bahwa memang ada proses pengambilan organ disana,"
"Gila, kalian! Nyawa gue gimana?"
Ericko terkikik mendengar kekhawatiran Dilan, "Tenang nyawa lo kan ada, sembilan?"
"Muke gile, lo! Lo kira gue kucing dengan sembilan nyawa? Buruan tolongin, gue!" geramnya pelan.
"Iya, ah! Bawel!" Ericko terpaksa mengakhiri komunikasinya dengan Dilan saat melihat seorang pria dengan potongan cepak dan memiliki codet di pipi kirinya.
"Kayak pernah lihat itu orang, tapi dimana ya?" tanyanya dalam hati.
Pria itu sangat disegani oleh penjaga yang berada disana. Sementara Ericko masih sibuk mengingat siapa gerangan pria yang baru saja dilihatnya. Namun nihil, Ericko sama sekali tak bisa mengingatnya.
*****
"Ada tawanan baru masuk, Bang!" lapor salah seorang pria berwajah menakutkan itu.
Pria dengan codet itu pun mengangguk. Lalu minta diantarkan ke ruang bawah tanah. Tempat orang-orang yang diculik di kurung. Dia tersenyum senang saat melihat penjara kecilnya penuh dengan tawanan. Berjalan menuju ruangan Dilan. Pria bercodet itu pun tersenyum puas dengan hasil kerja anak buahnya.
Dilan berpura-pura ketakutan dengan terlebih dulu mengkaktifkan kamera hanya untuk merekam suara tanpa bisa menunjukkan gambar otang tersebut.
"Besok bawakan aku jantung dan ginjal. Dari seorang perempuan, berat badan minimal 55 kilogram. Pastikan dia benar-benar sehat. Aku tidak mau mengecewakan pelanggan, mengerti?" katanya.
Pria yang berada di sebelah kirinya mengangguk, "Ya, Bang. Mengerti. Kami antar jam berapa?"
"Antarkan jam dua belas malam. Ku tunggu di tempat biasanya," jawabnya lalu berjalan meninggalkan ruangan bawah tanah itu.
Setelah kepergian pria bercodet itu, pria yang biasa dipanggil Bang Jack kembali menyambangi ruangan itu. Melihat satu per satu ruangan yang dihuni oleh gadis korban penculikan. Lalu berjalan mendekati salah satu penjara yang dihuni oleh seorang gadis dengan rambut pirang.
"Tolong, jangan saya ... jangan bunuh saya ... hiks hu-hu-hu ... ampun, Bang?" pintanya sungguh memelas.
"Timbang!" bentak Bang Jack pada gadis itu. Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil bercucuran air mata dan keringat ketakutan.
__ADS_1
"Timbang!"
"Jangan saya, Bang?"
Bang Jack kehilangan kesabarannya. Dia langsung menyeret gadis itu menuju pojok ruangan. Melewati Dilan yang tengah duduk termenung. Gadis itu hanya bisa pasrah dan menangis. Dilan menyaksikannya dipaksa untuk menimbang berat badannya.
"Buat apa dia disuruh menimbang berat badan?" tanya Dilan dalam hati.
"Dia yang akan menjadi sasaran berikutnya," kata seorang gadis tepat di samping ruangan Dilan.
Dilan menoleh dan mengerutkan dahi, "Maksudnya?"
"Dia yang akan diambil organnya, orang yang datang bersama Bang Jack adalah seorang yang menjual organ. Kami yang ditahan disini adalah para penunggu giliran. Giliran untuk mati dengan mengenaskan."
"Apa maksud mu mereka adalah jaringan penjual organ?" tanya Dilan. Gadis itu mengangguk.
"Dilarang saling mengobrol!" bentak Bang Jack pada mereka berdua. Dilan mendapatkan titik terang dari misinya. Tak harus menunggu sampai ada korban yang dimuti*lasi.
Bang Jack mengembalikan gadis tadi ke dalam penjara ruangannya. Lalu Dilan mengulik informasi lagi dari gadis di ruangan sampingnya.
"Sudah berapa lama kamu, diculik?" tanya Dilan mencoba membuka percakapan.
"Dua bulan lebih," jawabnya.
"Apa tidak ada yang bisa mengungkap kejahatan mereka?"
"Aku tidak tahu. Saat aku tahu kenyataan bahwa mereka adalah jaringan penjual organ, disitu aku hanya bisa pasrah menunggu giliranku."
.
.
.
**Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip**