
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Perputaran waktu sangat cepat terjadi. Hingga mereka tidak menyadari bahwa sudah berada di akhir bulan. Zamroni dan David masih disibukkan dengan persidangan yang ada. Kesaksian Alex yang masih saja tidak mau jujur, membuat mereka berkali-kali harus menjalani persidangan.
Erick masih saja merindukan gadis agresif yang dikenalnya di bus. Selalu saja mengganggu kegiatannya saat sendirian. Kadang datang dengan membawa senyuman, kadang juga dengan tangisan. Apakah dia disana baik-baik saja? Hanya do'a yang bisa Erick udarakan kepada Allah SWT.
Rio dan Dilan dikejar oleh waktu karena harus membuat alat yang diminta oleh Ericko. Ukuran bom palsu yang diinginkan Erick sangat kecil, hingga membuat Rio harus jeli agar nampak seperti aslinya. Dilan menghubungkan remote laser buatannya dengan alat Rio. Membuat benda itu seakan-akan memang sebuah bom. Lampu merah khas detektor waktu meledaknya sebuah bom berfungsi dengan baik.
Erick hanya memantau sahabatnya yang sedang serius bekerja itu. Dia mengambil gitar dan mulai memainkan sebuah lagu. Lagu yang sangat familiar, milik Kerispatih Band dengan judul lagu rindu.
Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Bintang malam samapaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Tahukah engkau wahai langit
AKu ingin bertemu membelai wajahnya
Ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan
Tahukah engkau wahai langit
__ADS_1
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan
Ericko menumpahkan rasa yang membelenggu hatinya. Dilan dan Rio saling bertatapan menjadi saksi ungkapan rasa rindu yang tidak pernah sampai pada pemiliknya. Dimana tambatan hati sahabatnya itu berada sekarang? Mereka harus membantunya. Mereka tidak ingin melihat sang mata elang terus menangis meski air mata tidak pernah terlihat menetes.
Hampir lima jam mereka bekerja, berkutat dengan dunia perkabelan. Rio tersenyum senang dan lega bisa membuat alat yang diinginkan Ericko. Mereka menguji coba alat itu sebelum dipasangkan di tubuh Alex. Sempurna! Alat itu bekerja sesuai dengan ekspektasi Ericko.
Komandan Bambang datang untuk membahas rencana penjebakan Alex esok hari. Ericko memaparkan rencananya, membuat Komandan Bambang sedikit was-was. Pasalnya mereka tidak meminta izin ataupun melibatkan pihak stasiun televisi yang akan menayangkam debat presiden itu.
"Bukannya malah bagus, Ndan? Rating bisa naik tajam, lho!" ucap Dilan.
"Tumben, pinter!" sahut Ericko dan Rio bersamaan.
Komandan Bambang mempertimbangkan ucapan Dilan. Ada benarnya juga, masyarakat memang lebih menyukai hal-hal yang menjadi viral. Itu akan menjadi berita terpanas sepanjang abad pemilihan presiden. Cerdas juga calon mantu satu ini.
Dia setuju dengan susunan rencana yang diajukan oleh Ericko dan kawan-kawannya. Dia segera pamit ke kantor untuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Sebenarnya tanpa dimintapun, petugas kepolisian akan mengamankan keadaan disana. Tapi, itu hanya standar pengamanan biasa. Dia ingin diberikan petugas terbaik untuk mengawal satu orang yang masuk golongan untouchable.
***
Sementara di Windusari, hati Fennita tiba-tiba saja menjadi sendu dan sesak. Tidak tahu mengapa, saat ini dia ingin berteriak. Ada sesuatu yang membuatnya seperti ingin menangis. Dia mencoba mengendalikan dirinya tapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya dia berlari ke dalam kamarnya dan menangis disana.
Isnaeni yang melewati kamarnya mendengar isakan. Dia mengintip dan melihat putri semata wayangnya menangis. Kenapa dengan Fennita? Dia menghampirinya dan memeluknya. Tangis Fennita semakin tumpah dalam pelukan ibunya. Ingin mengutarakan sesuatu tapi tidak tahu apa.
"Kamu kenapa, Fen?" tanya Isnaeni.
Fennita menggeleng, dengan terbata-bata dia menjawab tidak tahu. "Fenni cuma pengen nangis aja rasanya, Mah."
"Kamu capek, Nak?"
"Tidak, Fenni tidak capek. Fenni sudah bisa menerima semuanya. Tapi ..., seperti ada sesuatu yang membuat Fenni sedih, Mah."
Isnaeni terdiam mendengar hal itu. Mungkinkah Fennita sedang terbelenggu oleh kerinduan? Sama halnya dengan dirinya?
__ADS_1
"Fen ..., kamu ..., sedang rindu sama Erick?" tanya Isnaeni ragu.
Deg!
Hati Fennita kembali berdesir mendengar nama lelaki itu disebut di hadapannya. Beberapa minggu ini dia berhasil untuk tidak mengingat apapun tentangnya. Dan sekarang, hatinya dipenuhi desiran lembut yang membuatnya sedikit sesak.
"Mah, Fenni ingin sendiri," pinta Fennita kepada Isnaeni. Mamahnya mengerti dan mengangguk. Dia meninggalkan Fennita sendiri di dalam kamar.
Apakah langkahnya untuk menjauhkan keduanya sudah benar? Jika sudah benar, mengapa Fennita tersiksa? Pertanyaan itu muncul di kepala Isnaeni. Dia harus membicarakan ini kepada suaminya. Karena hal itu menyangkut perasaan anak mereka, Fennita.
Dia berpamitan pada Mbah Am dan Mbah Jum untuk pergi menelepon sebentar. Menitipkan warung kepada dua orang tua itu. Dia menuju tempat prkatik Qory untuk meminjam telepon. Teleponpun tersambung, Isnaeni langsung mengungkapkan kegundahannya.
"Mah, kalau kamu tanya ke Papah langkahmu itu benar atau salah, tidak akan ketemu jawabannya," ucap Zamroni di ujung telepon.
"Terus Mamah mesti gimana dong, Pah?" kata Isnaeni sedikit frustasi.
"Mereka sudah sama-sama dewasa dan sudah bijak dalam mengambil keputusan. Kenapa tidak dicoba mengembalikan keputusan kepada mereka berdua? Kalaupun Fennita ditolak oleh ibunya Erick ya sudah, berarti memang bukan jodoh. Tapi, pernah nggak kamu mikir kemungkinan 0,001 persen itu menjadi keajaiban yang sangat besar?" kata Zamroni meyakinkan.
Isnaeni diam tidak menjawab. Beginilah jika mengobrol dengan seorang pebisnis. Hingga tentang perasaan juga diukur dengan kemungkinan terbaiknya.
"Coba dulu, kita tidak akan tahu sebelum mencoba. Biarkan mereka bertemu dan menemukan jalan untuk permasalahan yang ada. Bahkan Erick sampai sekarang belum tahu kamu ada dimana, kalau menurut Papah sih, itu adalah cara dia menghormati keinginanmu. Jadi, sekarang Papah minta, tolong dengarkan hati anak kita. Bisa kan, Mah?" ucap Zamroni kembali meyakinkan istrinya.
Tidak ada sahutan apapun dari Isnaeni. Dia harus cepat menentukan pilihan yang sangat sulit. Karena dia sekarang juga seorang pengusaha, maka dia akan mengikuti saran suaminya yang sudah berpengalaman.
"Ya sudah, Pah. Mamah akan serahkan semua keputusan pada Fennita. Papah disana sehat-sehat, ya?" pesan Isnaeni pada suaminya.
"Iya, Mamah dan Fenni juga. Oh ya Mah, besok malam adalah acara debat presiden. Kalau sempat nonton, tonton ya, Mah! Disana ada hasil kerja keras Erick untuk mengungkap kebenaran."
"Insya Allah Mamah tonton, Pah. Ya sudah, Mamah tutup dulu, assalamu'alaikum," ucap Isnaeni mengakhiri percakapan itu.
"Wa'alaikum salam," balas Zamroni.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Lemaprin mawar sama kopi buat othor yang sedang radang, Mas Erick, dan Mbak Fenni yang lagi tersiksa rindu dong gaes ..., makasih. 😘😘😘