Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati
Bertemu kembali


__ADS_3

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...


Awal mula pertemuan mereka adalah karena perekrutan yang diselenggarakan oleh Badan Intelejen. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda.


Ericko, datang dari keluarga militer, dia adalah seorang anggota Kopassus. Pangkatnya saat itu adalah Letnan Satu, yang memiliki ketangkasan dalam hal membidik dan memanah. Ya, Ericko memang seorang snipper handal dan juga seorang pemanah. Tingkat konsentrasi Dilan dan Rio kalah jauh dibandingkan Ericko.


Dilan Dharmawangsa, seorang lulusan sekolah tinggi intelejen negara atau biasa disingkat dengan STIN. Dia direkrut oleh BIN karena kemampuannya dalam bidang teknologi. Salah seorang hacker kesayangan BIN.


Anggrio Ibrahim, mantan anggota kesayangan Densus 88. Dia adalah seorang negosiator bom terbaik yang dimiliki oleh tim itu. Dapat menjinakkan bom hanya dengan sentuhan khas darinya. Perakit bom terbaik dan pengatur strategi yang matang.


Mereka direkrut oleh BIN dalam angkatan yang sama. Dalam pelatihan, mereka selalu bersama-sama, sehingga muncul dan tumbuh rasa pertemanan. Rasa pertemanan itu semakin akrab, dan menjadikan mereka seperti sahabat dan keluarga.


Dilan mengorek informasi sebanyak-banyaknya tentang Intan. Rio menjawab setiap pertanyaan yang Dilan lontarkan padanya. Hingga, tiba-tiba muncul ide di otak Rio untuk mengenalkan Ericko kepada Fennita.


"Gila, Lo! Gak!" tolak Ericko enggan dikenalkan dengan Fennita.


Rio berdecak, "Gak ada salahnya, Rick. Gue pengen Lo segera move on dari Kalena. Bagaimanapun, hidup terus berjalan kawan. Bolehlah hari ini kamu menangisinya, tapi esok, pastikan air mata itu tak lagi keluar agar orang tak menertawakan kelemahanmu. Mau, ya?"


Ericko menggeleng mantap. Dilan membalasnya dengan anggukan. Ericko menggeleng lagi, dan Dilan mengangguk lagi. Membuat kepala Rio menoleh ke kanan dan kiri.


"Stop! Pusing kepala Gue!" bentak Rio membuat Dilan dan Ericko menoleh padanya. "Oke, kawan. Kali ini Gue akan jadi mak comblang untuk kalian. Dilan dengan Intan, dan Ericko dengan Fennita."


"Gue gak mau, Yo. Dilan aja tuh yang sudah ngebet sama si Intan-Intan itu. Pokoknya Gue ogah, apalagi mak comblangnya, Lo. Pasti banyak permintaan!" cerocos Ericko dan segera pergi meninggalkan mereka berdua.


Dilan dan Rio tertawa. Mereka berdua membiarkan Ericko berada dalam sarangnya. Tapi, mereka melanjutkan rencana mereka tanpa mengindahkan penolakan dari Ericko.


"Gak usah dikenalin juga, Gue udah tahu namanya." Ericko naik ke ranjangnya dan menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


Mencoba kembali tahapan untuk tidur. Mulai membaca do'a, memejamkan mata, dan perlahan mulai terkulai lemas. Matanya semakin berat untuk terbuka. Seluruh tubuhnya semakin tak memiliki daya. Dia sudah tertidur, mengistirahatkan raganya.


Kring ...


Perputaran waktu tak dirasa oleh Ericko, tubuhnya menggeliat. Tangannya meraba jam alarm yang berada di samping lampu tidurnya. Dengan satu gerakan, dia mematikan bunyi yang memekakkan telinganya itu.


Ericko menguap lebar sambil mengucek matanya. Melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam yang dipegang oleh tangan kanannya. Sudah masuk Subuh ternyata, sayup-sayup terdengar qiro'ah. Ericko segera menyingkapkan selimut yang masih setia melindunginya dari rasa dingin.


Tak lupa membawa handuk yang berada di belakang pintu kamarnya menuju kamar mandi. Ericko memang sudah biasa mandi saat Subuh. Meskipun dingin, tapi itu menyegarkan baginya.


Dia sudah melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Menyalakan shower dan guyuran air dari atas membasahi seluruh tubuhnya. Dingin dan segar, itulah yang dirasakannya. Selepas mandi, Ericko mengambil wudhu untuk segera menunaikan sholat Subuh.


"Ayshadu An-la Ilaha Illallah Wa Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah."

__ADS_1


Syahadat terucap dari mulut Ericko. Sangat khusyu' bacaan sholatnya. Dua raka'at Subuh telah ditunaikannya. Dia duduk di kursi kamarnya dan meraih mushaf kecil yang selalu berada di dekatnya. Mulai membaca ayat demi ayat dan membaca tafsirannya.


Rio mengetuk pintu kamarnya, Ericko segera membukanya.


"Apa?" tanya Ericko.


"CFD yuk, kita pakai sepeda ke GBK."


Ericko mengangguk dan menutup pintu kamarnya kembali, "Jangan pake lama!"


"Iya, tahu!" jawab Ericko dari dalam kamarnya.


Rio tersenyum senang dan menghampiri Dilan kembali. "Gimana?"


"Setuju dong dia, ha-ha-ha. Kabari Naomi dulu." Rio mengetik pesan untuk Naomi. Dan balasan pun diterima oleh Rio.


(Intan dari semalam gak bisa dihubungi, Sayang. Fennita juga sama. Nanti ketemu di GBK saja lah)


Rio menunjukkan balasan dari istrinya kepada Dilan. Wajah Dilan langsung murung, tak bersemangat lagi seperti tadi. Ericko telah siap dan berkumpul bersama kawanannya. Kini mereka bertiga sudah mengenakan pakaian khusus untuk bersepeda.


Mereka mulai melaju mengikuti rute jalanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menuju Gelora Bung Karno. Salah satu destinasi yang digemari para anggota CFD. Gelora Bung Karno dibangun tanggal delapan Februari 1960 hingga 21 Juli 1962. Pertama kali digunakan untuk perhelatan akbar, yaitu Asian Games, di GBK ini bisa menampung hingga 110.000 penonton. Gelora Bung Karno juga pernah berganti nama menjadi Stadion Utama Senayan.


Naomi telah sampai lebih dulu dibandingkan Rio dan para sahabatnya. Dia celingukan mencari keberadaan Rio yang katanya baru saja sampai. Naomi tersenyum lebar kala melihat wujud sang suami. Dia melambaikan tangannya menyambut kedatangan ketiga pria itu.


Rio memeluk Naomi dan mendaratkan kecupan hangat di kening Naomi. "Jangan pada baper, ya?" kata Naomi.


Ericko hanya tersenyum tipis, sedangkan Dilan sudah mewek. "Ih, kenapa nangis? Tenang, nanti kalau Naomi ketemu Intan, Naomi salamin deh," tutur Naomi menenangkan Dilan.


"Ih Nom-Nom, Dilan kan pengen ketemunya sekarang,"


"Ya gimana dong? Intan sama Fennita suka ngilang tiba-tiba," terang Naomi.


Ericko mulai paham kemana arah pembicaraan mereka. "Pantes semangat banget mau C**FD, ternyata niatan jadi mak comblang masih membara."


Rio meringis menampilkan deretan giginya yang putih. "Masa iya Nom-Nom gak tahu Intan dimana?"


Naomi mengangguk, "Serius! Naomi gak tahu. Coba Naomi telpon lagi ya?"


Naomi mencoba menghubungi nomor dua perempuan yang kini tengah berada di kamar hotel. Mereka baru saja bangun dan sekarang sedang sarapan di kamar. Intan mengangkat panggilan dari Naomi. Percakapan singkat terjadi diantara keduanya.


"Ke GBK," perintah Intan.

__ADS_1


"Ngapain?" tanya Fennita.


Intan mengedikkan bahunya, "Naomi yang nyuruh kesana. Ya sekalian saja lah kita checkout."


Fennita mengangguk setuju. Mereka segera bersiap dan menuju ke GBK. Sedangkan di GBK, Dilan bagai disuntik semangat membara. Dia sangat senang sekali akhirnya akan bertemu dengan Intan. Ericko hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah Dilan.


Naomi merogoh tas selempangnya guna mengangkat panggilan masuk. "Gue di sayap kiri. Iya, tempat biasa."


"Dari Intan, Nom?" tanya Rio, Naomi mengangguk.


"Hi-hi-hi, bentar lagi ketemu calon bidadari masa depan!" teriak Dilan membuat beberapa orang menoleh padanya. Rio dan Naomi tertawa kecil menanggapi kegembiraan Dilan.


Ericko memilih untuk mendengarkan musik lewat earphone sambil selonjoran dan menyandarkan bahu ke tembok. Tak mempedulikan kegiatan teman-temannya yang lain.


Dua orang perempuan dengan mengenakan celana legging berwarna hitam, kaos panjang berwarna maroon, dan memakai topi hitam datang menghampiri gerombolan Rio.


Dilan begitu terkesima dengan pesona yang dikeluarkan oleh Intan. Rambut panjang sebahu yang dikuncir kuda, ditambah topi hitam itu makin menambah nilai kecantikan Intan.


"Eh, Abang yang kemarin di Bank X, kan? Ketemu lagi kita," sapa Intan terlebih dahulu.


"Iya, Bang Dilan!" jawab Dilan semangat.


"Ooo ... ternyata ada yang sudah saling kenal, to?" goda Naomi dan Rio bersamaan. Intan dan Dilan hanya tersenyum malu.


Fennita masih terpaku pada seorang pria yang masih saja tak mempedulikan dirinya, dari awal bertemu hingga kini dipertemukan lagi. Rio dan Naomi menangkap tatapan Fennita dengan cepat. Rio sengaja menarik earphone Ericko sehingga membuat Ericko tersadar bahwa ada perempuan yang tengah berdiri di hadapannya dan menatapnya penuh makna.


"Ganggu aja sih, Lo!" protes Ericko pada Rio.


"Hai, kita bertemu kembali, bukan?"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2