
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Mereka berdua jadi bahan sorotan Dilan, Rio, Naomi, Intan, Isnaeni, dan juga Qory. Pasalnya, yang wanita sedang menarik kaos si pria. Sedangkan sang pria cengengesan seenaknya. Fennita tidak tahan dengan tatapan itu. Membuatnya seperti tersangka yang akan disidang.
Semua bertanya-tanya apa yang telah mereka lakukan. Mulut Dilan memang perlu difilter. Dengan gamblang dia melontarkan pertanyaan yang membuat semua orang tercengang mendengar hal itu. Mereka dituduh melakukan hal tidak seno noh di kamar mandi hingga membuat Fennita marah dan Erick hanya cengengesan senang.
Erick menggunakan tangan kirinya untuk menjitak kepala Dilan. "Gue masih tahu batasan, man! Lo kira gue cowok me sum?" protes Erick tidak terima.
Berbeda halnya dengan Fennita, dia mengibaskan tangannya karena panas mendengar ucapan Dilan. Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus, entah kenapa dia malu sendiri.
"Wajah lo kenapa, Fen?" tanya Intan sudah siap untuk menggodanya.
"Ng-ng-nggak papa kok!" jawab Fennita tergagap.
"Terus kenapa lama di toilet, Rick?" tanya Dilan dan Rio bersamaan.
"Yaelah, segala barengan lagi ngomongnya! Diajak ngobrol sama Mbah Am dan Mbah Jum." Ericko melihat wajah Fennita yang masih memerah.
"Belum bisa pendekatan sama pujaan hati ya deketin dulu para simbahnya!" imbuh Ericko yang berhasil membuat jantung Fennita seakan ikut lomba lari marathon.
Semua orang menggoda mereka. Erick santai saja digoda seperti itu. Tapi tidak dengan Fennita, dia semakin malu hingga harus menutup wajahnya. Ada seorang pembeli datang, menyelamatkan Fennita dari olok-olokan para sahabatnya. Ia langsung melayani pembeli itu sebelum mamahnya beranjak.
Pembeli tersebut hanya ingin membeli es teh. Jadi tidak perlu waktu lama untuk melayani pesanannya. Hal itu mengharuskan Fennita kembali bergabung dengan sahabatnya. Intan dan Naomi tetap membujuk agar Fennita ikut naik ke puncak Gunung Sumbing.
"Gue disini aja deh, kalian aja yang ke puncak. Lagian, gue nggak pernah naik gunung. Jadi gue disini aja." Fennita mencari berbagai alasan agar dia tidak ikut naik ke Gunung Sumbing.
"Nggak sampai puncak kok, Fen. Cuma di pos tiga aja, terus nanti turun." Rio menjelaskan rencananya.
Fennita ragu untuk ikut. Itu karena keberadaan Erick. Ia takut akan membuat suasana menjadi canggung.
"Kamu nggak mau ikut karena ada aku, ya?" tanya Ericko langsung los seakan bisa membaca pikiran Fennita.
__ADS_1
"Ya ..., ya bukan gitu ...," ucap Fennita mencoba menjelaskan alasannya.
"Ya udah, gampang sih. Kalian naik gunung, aku balik Temanggung." Ericko berpura-pura tersinggung dengan keinginan Fennita.
"Ck! Bukan gitu maksudnya ...,"
"Terus gimana maksudnya? Kamu beneran nggak seneng ketemu sama aku ya, Fen? Maaf kalau aku ada salah, eh bukan kalau ada lagi, memang ada salah. Pernah bikin kamu kecewa, maaf banget! Yo, Lan, gue pamit, nanti kalau kalian balik dari Sumbing, mampir aja ke Temanggung nggak papa." Ericko langsung menyalami Isnaeni dan keluar dari warung.
Setelah keluar dari warung dia menyeringai. Akankah marah bohongannya berhasil? Sedangkan di dalam, Fennita disalahkan oleh sahabatnya. Dipaksa untuk mengejar Erick dan meminta maaf.
"Fen, nggak sopan ah begitu sama tamu. Sana minta maaf!" perintah Isnaeni.
Fennita hendak membantah, tapi semua menatap kesal padanya. Oke, dia mengalah. Dia berjalan ke luar warung dan melihat Ericko bersandar pada mobil. Ia mendekatinya dengan ragu.
"Mas ...," panggil Fennita lembut.
Ericko tidak menjawab panggilan itu. Dia bersandar di mobil sambil memalingkan wajah. Tangannya bersedekap di depan dada. Keduanya kembali diam dan menciptakan kesunyian yang berselimutkan desiran lembut di hati mereka.
"Mas ...," panggil Fennita lagi.
"Mas Erick ..., Mas ..., ih, kalau ada orang ngomong dijawab dong, Mas!"
Ericko menoleh secepat kilat dan menatapnya penuh penghakiman. Ingin mencari sesuatu yang disebut dengan rindu. Terlihat jelas dari mata Fennita bahwa rasa rindu itu ada dan begitu kentara. Mereka sama-sama memalingkan wajah. Genderang di hati sudah ditabuh berkali-kali. Mengisyaratkan mereka harus meruntuhkan benteng kecanggungan yang ada.
Fennita kembali memanggil namanya. Mengutarakan maksud dan tujuannya menghampiri Erick. Dia meminta maaf karena telah menyinggung perasaan Erick. Bukan maksud dirinya membuat Erick marah begitu.
"Mas, aku minta maaf. Bukan maksudku untuk membuatmu marah. Bisa kan aku dimaafkan?" pinta Fennita menggigit bibir bawahnya
"Oke, aku maafkan. Terus kamu maunya gimana?" tanya Erick lagi.
"Ya ..., ya kamu ..., ikut naik ke Sumbing. Udah ah! Terserah kalau kamu nggak mau. Yang penting aku udah minta maaf dan bilang bukan maksud aku begitu." Fennita hendak pergi meninggalkan Erick dengan bibir yang manyun.
__ADS_1
Erick tersenyum melihat wajah Fennita yang kusut akibat ulahnya. Sungguh menggemaskan sekali melihat Fenni memanyunkan bibirnya seperti itu. Jika mereka sudah halal, jangan ditanya lagi apa yang terjadi. Berhubung belum ada ikatan halal, maka Erick hanya mengabadikannya lewat kamera ponsel.
Fennita terkejut karena Erick mengambil foto dirinya. Ia merengek minta dihapus, tapi Erick enggan melakukan hal itu. Kecuali jika Fennita melakukan satu hal untuknya.
"Maaf, Neng! Ada syaratnya!" seru Ericko.
"Apa?" tanya Fennita.
Erick menyodorkan ponselnya, "Tulis nomor baru kamu disitu. Gampang, kan?"
Fennita tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, suka tidak suka, terpaksa ataupun ikhlas, dia harus menuliskan nomor ponselnya yang baru. Modus baru ya Rick untuk mendapatkan nomor telepon seorang wanita. Fennita menyerahkan kembali ponsel Erick.
Erick mencoba menghubungi nomor tersebut, dan tersambung. Dia mematikannya, memberikan nama kontak untuk Fennita, Bidadari Windusari. Nama kontak yang bagus. Dia menepati janjinya untuk menghapus foto itu disaksikan sendiri oleh mata Fennita.
Erick memberitahunya sesuatu, "Tahu nggak, Fen? Mas tadi cuma bohongan kok. Ha-ha-ha. Makasih ya nomor teleponnya. Awas! Jangan coba memblokir nomor Mas atau kamu akan kena teror dari Pangeran Banyuurip!"
Fennita menganga mendengar pengakuan Erick. Ternyata Erick tidak marah padanya, itu semua hanya akal-akalan si pria freezer! Fennita mengambil sandalnya untuk menimpuk Erick. Sayangnya meleset karena Erick berlari menjauh.
Mereka kembali ke dalam warung. Seperti sebelumnya, keduanya akan disorak sorai oleh semua yang ada disana. Naomi menanyakan kembali kepada tantenya, apakah memberikan izin bagi Fennita naik gunung bersama mereka?
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Hari ini cukup satu ya, othor masuk pagi dan jaga cuma 3 orang. Bisa dipastikan nggak bisa nulis di sela-sela jaga. Selamat pagi ..., semangat pagi