
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Isnaeni membangunkan putrinya dengan lembut. Tidak ingin membuat Fennita terkejut karena mereka telah sampai dan mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan, Balikpapan. Bandara ini memiliki luas 300 hektar dan merupakan bandar udara ke-empat terbesar dari 13 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I. Rencana pengembangan pada lahan-lahan yang tersedia di sekitar bandara ini terus dilaksanakan, antara lain hotel transit meeting room, restoran dan mini market.
Bandara ini selalu disinggahi oleh maskapai penerbangan ternama yang ada di Indonesia. Ucapan perpisahan dari pramugari maskapai membuat mereka tersenyum puas atas pelayanan yang diberikan. Fennita dan Isnaeni adalah dua orang terakhir yang turun dari pesawat.
"Mah, coba hubungi papah, sekarang dimana? Biar kita yang nyusul kesana," pinta Fennita setelah berhasil mengambil koper mereka.
Isnaeni memilih duduk di ruang tunggu dan mencoba menghubungi suaminya. Namun, ponsel Zamroni tidak aktif. Dan dia tidak tahu nomor asisten yang ikut bersama suaminya. Dia memang terlalu tidak peduli dengan urusan pekerjaan suaminya. Hingga hal kecil seperti itu saja tidak tahu.
"Nomor papah nggak aktif, sayang. Gimana, dong?"
Fennita ikut duduk di samping mamahnya. Dia menghembuskan napas kesal karena tidak dapat menemukan keberadaan papahnya untuk sekarang. Yang artinya dia harus menunggu lagi untuk mendapatkan kejelasan berita itu.
Tiba-tiba saja otaknya memikirkan Ericko yang katanya hendak ke Balikpapan. Perlukah dia bertanya pada Ericko dimana papahnya sekarang? Pasti Ericko tahu, tidak mungkin tidak! Dia kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa masih memikirkan Ericko yang jelas-jelas membohongi dirinya?
Fennita mengutak-atik ponselnya. Berselancar di dunia maya untuk mencari hotel. Tidak mungkin mereka akan terus menerus menunggu di bandara padahal belum mendapatkan kabar dimana keberadaan papahnya.
"Ya sudah Mah, kita ke hotel aja dulu. Sambil nunggu kabar dari papah. Mamah pasti capek, kan?"
Isnaeni menggenggam tangan anaknya, layaknya seorang ibu yang bisa membaca pikiran anaknya, kini Isnaeni mendesak Fennita untuk berterus terang.
"Jujur sama Mamah, ada apa?" tanyanya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.
Fennita menunduk melihat keramik bandara yang memantulkan wajahnya. Ingin jujur, tapi takut melihat hati mamahnya terluka. Ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya telah diketahuinya, tapi belum mampu membuktikan kebenarannya. Itulah yang membuatnya bingung, gamang, dan galau.
"Apa ini ada hubungannya dengan Ericko?"
"Kita harus ketemu papah terlebih dahulu, Mah. Fenni juga masih bingung tentang hal ini. Fenni tidak tahu apakah ini memang nyata atau hanya fitnah belaka," terang Fennita menatap dalam netra Isnaeni.
__ADS_1
Isnaeni tidak tega memaksa anaknya untuk bercerita, sepertinya memang Fennita belum siap untuk jujur padanya. "Ya sudah, kita istirahat dulu di hotel. Makan siang, sholat, istirahat. Nanti sore kita coba hubungi papah lagi."
Fennita mengangguk. Lalu mereka menaiki taksi yang sudah disediakan oleh pihak bandara untuk mengantarkan ke hotel. Namun, sampai malam menjelang, ponsel Zamroni belum juga aktif. Membuat kepala Fennita semakin sakit, karena tidak menemukan cara untuk mengetahui keberadaan papahnya.
***
Komandan Bambang dan Zumarnis sudah sampai di Balikpapan. Ikut bergabung dengan anak buah mereka. Dua orang itu meninggalkan satu masalah yang masih diselidiki oleh agen mereka. Ya, tentang satpam itu. Zumarnis ikut juga karena khawatir akan keadaan adik ipar dan keponakannya itu. Dia baru mengetahui itu dua jam sebelum Bambang berangkat ke bandara.
Semua anggota interpol dari berbagai negara berkumpul di sebuah ruang meeting hotel. Mereka mengadakan rapat terbatas untuk membahas target incaran mereka. Ericko yang berhasil mendapatkan gambar beberapa orang memperlihatkan hasil kerjanya. Beberapa negara sudah mencocokkan foto dengan data diri warga negaranya masing-masing.
Mereka juga membahas langkah yang harus mereka lakukan saat akan menyergap forum yang merugikan negara itu. Ericko juga memaparkan senjata yang besok akan dilelang. Sebagian negara menyatakan bahwa memang itu senjata mereka yang terbaru, belum resmi diluncurkan. Tapi sudah bocor ke Red Fox.
Setelah rapat itu selesai digelar, Komandan Bambang mengajak para anak buahnya makan malam bersama di sebuah restoran. Mereka saling bersenda gurau melepas kepenatan yang terjadi. Agar siap bertempur untuk esok pagi.
"Rick, kamu tahu nggak kalau Fennita dan mamahnya nyusulin papahnya kesini?" tanya Zumarnis saat mereka sedang menyantap makanan masing-masing.
Ericko langsung terbatuk mendengar nama Fennita disebut. Dia sama sekali tidak tahu jika Fennita ikut ke Balikpapan. Apa yang mau dilakukannya disini? Batin Ericko.
"Sabar, memaafkan dan mengikhlaskan itu pekerjaan hati, Rick. Kalau hatinya saja masih sakit, bagaimana dia bisa memaafkanmu?" kata Komandan Bambang yang kali ini membuat semuanya bertepuk tangan.
Hingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke meja mereka. Jarang sekali komandan mereka dapat mengucapkan kata penuh makna itu. Ya, tapi yang diucapkan Komandan Bambang memang benar adanya, biarkan rasa sakit itu mendera terus menerus, hingga nanti akan disembuhkan sendiri oleh waktu. Kuncinya adalah belajar memaafkan dan mengikhlaskan, dan itu sulit. Mereka berdua adalah ujian tingkat akhir untuk hati. Pasrah dan berbaik sangka kepada Allah adalah cara yang tepat.
"Ndan, izin membagikan rekaman Zamroni dan David tentang kematian Kalena di situs mbak Nahwa."
Komandan Bambang mengangguk yang artinya memberikan izin atas hal itu. Berbeda dengan Zumarnis, dia takut hal ini akan membuat keadaan semakin rumit. Ada Isnaeni dan Fennita yang akan semakin terluka jika bukti itu diviralkan.
"Mau ditayangkan atau tidak, lambat namun pasti, mereka akan tahu, Mar," terang Komandan Bambang.
Zumarnis mengalah, berdebat dengan Bambang pun percuma. Tidak akan ada yang mengalah. Dia harus mengetahui keberadaan ipar dan keponakannya saat ini. Jadi jika nanti terjadi sesuatu, dia tidak kelabakan mencari lokasinya.
__ADS_1
Makan malam berakhir. Semua kembali ke hotel dan mengistirahatkan diri di tempatnya masing-masing. Ericko tidak bisa tidur. Hatinya benar-benar dipenuhi kebimbangan. Haruskah dia membatalkan niatnya? Tapi, Zamroni perlu diberikan efek jera untuk mentalnya.
Dia mengambil kembali ponsel yang telah dimatikannya. Mengaktifkannya kembali dan mengirim pesan untuk Fennita.
Me : Assalamualaikum, apa kabar Fen? Mas harap kamu baik-baik saja. Tolong maafkan kesalahan, Mas.
Ericko mengirim pesan itu. Berharap ada balasan yang masuk. Status WA Fennita online, tetapi tidak membalas pesannya. Dia mengirim pesan lanjutan. Pesan yang mengutarakan isi hatinya. Desiran lembut itu kembali menyapanya kala ia mengetik pesan itu.
Me : Yank
Me : Mas
Me : Kangen sama kamu
Me : I love you, Fen. Masmu, Erick.
Dia memejamkan matanya. Pedih merasakan gejolak itu muncul di saat yang tidak tepat. Buliran bening itu meluncur turun membasahi pipinya. Baru kali ini dia merindukan seseorang hingga berat sekali untuk meluapkan rasa itu.
"Mas kangen sama semuanya, tentang kamu, Fen."
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip