
...βCerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembacaβ...
Zamroni merasakan dadanya sakit, dia mencoba menahannya. Ternyata dia dikhianati oleh dua orang yang telah dipercayainya. Yang pertama adalah oleh sahabatnya sendiri, yaitu Alex Sanjaya. Dan yang kedua adalah oleh pemuda yang telah ia percaya untuk menjaga putrinya di masa tua nanti.
Zamroni tidak bisa berkata-kata melihat Ericko tega menjebaknya. Dia sudah sangat bingung. Saat akan diborgol, Zamroni memberontak dengan cara menendang alat vital salah satu anggota intel. Membuat yang lainnya juga melakukan hal serupa. Dengan cepat mereka menuju pintu lain untuk keluar dari tempat penyergapan itu. Namun, ada anggota intel yang berani menembakkan pelurunya ke atap ruangan. Membuatnya mengenai bohlam lampu, dan suasana menjadi riuh dan sedikit temaram.
Kesempatan bagi para target itu untuk meloloskan diri dari cengkraman hukum. Terjadi aksi kejar-kejaran di ruangan itu sampai keluar melewati lobi hotel. Para target menyebar ke segala penjuru, mambuat para intel itu sedikit kelimpungan. Karena mereka bergabung dengan tamu hotel lainnya.
Erick mengejar Zamroni yang berlari menuju arah restoran hotel. Melewati dapur hingga saat Zamroni sudah berhasil memegang gagang pintu, Erick langsung menembakkan pistol obat bius. Membuat Zamroni terjungkal ke depan dan dengan kondisi setengah sadar. Ericko meminta maaf kepada semua karyawab bagian dapur karena membuat kegaduhan disana. Lalu menghampiri Zamroni yang kini sudah tidak sadarkan diri.
Sedangkan Intan dan Komandan Bambang masih mengejar Mr. Justin yang lari hingga ke basement hotel. Rio yang melihat itu membantu mereka untuk mengejar bule itu. Dilan mendapatkan panggilan dari Ericko, yang meminta bantuan untuk membawa Zamroni kembali ke aula hotel.
Dor! Satu kali meleset nyaris melukai kaki Mr. Justin
Dor!
Tepat sasaran! Timah panas milik Rio melesat menembus paha Mr. Justin. Si bule langsung ambruk ke depan dan mengerang kesakitan. Dengan napas terengah-engah, Komandan Bambang langsung memborgol pria bule itu.
"Kerja bagus, boy!" seru Intan menepuk pundak Rio.
Membuat pria itu langsung melayangkan jitakan pada kepala Intan. Komandan Bambang langsung menggeram melihat putri kesayangannya disakiti oleh anak buahnya.
"Ampun, Ndan," kata Rio sambil menyeringai.
"Bantuin!" jawab Komandan Bambang.
Para target yang hendak meloloskan diri dan berhasil tertangkap dikumpulkan menjadi satu di aula hotel. Mereka dikumpulkan berdasarkan asal negaranya. Lalu Komandan Bambang datang bersama Kapolresta Balikpapan. Mereka berunding tentang tata cara serah terima tersangka. Kapolresta meminta semua target yang berhasil ditangkap dibawa ke Polresta Balikpapan untuk diproses lebih lanjut. Komandan Bambang setuju dengan hal itu.
Komandan Bambang memimpin semua anggota intel itu untuk membawa targetnya keluar dari hotel itu. Segera memproses berkas dari polresta setempat untuk segera dilimpahkan ke masing-masing negara.
Zamroni yang berpapasan dengan Ericko menatapnya tajam. Seakan-akan ingin menghajar Erick saat itu juga. Bagaimana bisa dia tertipu oleh pesona sholeh Erick?
__ADS_1
"Jangan dekati putriku lagi! Aku tidak sudi punya mantu sepertimu!"
Zamroni keluar dengan digandeng oleh Rio dan Dilan. Kakinya dibebat oleh kain agar perdarahannya berhenti. Selanjutnya yang terluka dibawa ke rumah sakit bhayangkara, yang sehat wal afiat langsung meluncur ke Polresta Balikpapan.
Ericko yang mendengar ucapan Zamroni kembali merasakan ngilu yang sangat menggores hatinya. Alih-alih bisa mendapatkan restu, kini harapannya untuk bisa bersanding dengan Fennita juga pupus.
"Banyak banget masalah gue, maaf dari Fennita aja belum gue raih. Sekarang, bapaknya ikutan nggak ngasih restu. Belum nanti Tante Isnaeni. Pengen kabur aja gue, sumpah! Hati gue juga sakit!" ungkap Ericko yang masih bisa didengar oleh Intan.
Intan yang berada di belakangnya menepuk bahunya seraya berkata, "Tenang, gimana kalau besok ada keajaiban? Om Zam tiba-tiba merestui, lo?"
Ericko hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan Intan. Tapi jika itu kehendak Allah, kun fayakun! Jadi, maka jadilah! Semua hal yang tidak mungkin, akan menjadi pasti. Dan tidak ada satu orangpun yang dapat mengubahnya.
Intan keluar menuju lobi hotel, langkahnya terhenti ketika melihat sosok sahabatnya sedang bertanya di resepsionis. Membuatnya putar arah agar tidak berpapasan dengan Fennita.
Berbeda dengan Ericko, dia berjalan menuju lobi hotel dengan langkah berat dan kepala menunduk ke bawah. Entah apa yang membuat dia tega membalaskan dendam dengan begitu sadisnya. Hingga memviralkannya di stasiun tv. Langkahnya terhenti ketika netranya menangkap sosok yang dirindukannya.
Fennita, berdiri lima langkah di depannya. Tangisnya meleleh begitu saja di pipi mulusnya. Dunia seakan berhenti berputar, Erick tidak suka melihat tangis itu. Fennita melangkah maju ke arahnya, menyerahkan sesuatu yang dipegangnya.
Erick menerimanya, "Itu milikmu yang tertinggal di ruang kerja papah, sampai jumpa."
"Apa? Haruskah kamu memviralkan papah sebagai pembunuh Mbak Lena? Haruskah kamu mengumbarnya? Tidak bisakah kamu ..., hiks ..., tidak bisakah kamu memberitahukannya pada polisi dan pengadilan saja? Apa perlu dunia tahu kalau papahku seorang pembunuh, Mas?"
"Yank ...,"
"Hiks ..., coba sekarang, kita nalar pakai logika. Siapa disini yang jahat? Kamu atau papah? Kamu telah membuat seorang istri jatuh dan syok berat karena mengetahui kenyataan yang ada! Kamu telah menghancurkan hati seorang istri yang sangat percaya dengan suaminya! Kamu jahat! Kamu jahat!"
Fennita memukul keras dada bidang Erick. Hingga Erick tidak tahan dan merengkuhnya dalam pelukan. "Maaf jika membuat kalian terluka, maaf."
Fennita mendorong Erick dengan sekuat tenaga. Hingga dia terlepas dari pelukan itu. Dia menghapus air matanya, "Terima kasih atas kado yang sangat indah untuk keluarga kami, semoga hidupmu bahagia dengan terbalaskannya dendammu."
Fennita berbalik arah pergi meninggalkan Erick, baru beberapa langkah dia kembali balik badan. "Oh ya, selamat atas keberhasilan misi kalian. Semoga kalian bisa naik pangkat karena memecahkan kasus internasional!"
__ADS_1
Ericko tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kakinya membeku tidak bisa bergerak untuk mengejar Fennita. Mulutnya bungkam tidak dapat berbicara. Lidahnya kelu bagaikan ada duri yang menancap hingga dia merasa sakit. Dadanya dipenuhi oleh desiran hebat karena melihat orang yang dia cinta terluka oleh ulahnya.
Intan yang sedari tadi belum menemukan cara untuk keluar, melihat pemandangan itu juga ikut merasakan suasana yang sedih bercampur dengan amarah. Dia ingin mencoba menenangkan Ericko, tapi sepertinya percuma.
Zumarnis menelpon Intan dan memberitahukan bahwa kondisi Isnaeni sampai sekarang belum sadarkan diri. Meminta bantuan Intan untuk mencari keberadaan Fennita.
Intan memberikan informasi tentang Fennita. Membuat Zumarnis sedikit lega. Intan menanyakan rumah sakit tempat Isnaeni dirawat. Dan berniat untuk membesuk jika keadaannya sudah terkendali.
" Bang Rick ...," sapa Intan dengan hati-hati.
"Gue mau ngasih tahu, kalau tante Is masuk rumah sakit X. Tante Isnaeni sampai sekarang belum sadarkan diri. Lo mau menjenguk, nggak?" tawar Intan sebelum dia berangkat.
Ericko menggelengkan kepalanya, dia tahu suasananya sangat kacau. Dia tidak ingin membuat Fennita semakin terluka akibat kehadirannya.
"Gue butuh sendiri, Tan. Gue pamit ke hotel." Ericko berjalan meninggalkan Intan.
Intan melihat kepergian Ericko seperti memikul beban berat di pundaknya. Tidak memiliki semangat. Dia berjalan mencari keberadaan Fennita. Yang ternyata dia berada di samping halaman hotel. Menangis sambil berjongkok, tersedu-sedu hingga beberapa orang yang melihat merasa kasihan dengan keadaannya.
Intan ingin sekali memeluknya, tapi dia takut jika Fennita bertanya kenapa dia bisa ada disini. Karena Fennita belum tahu tentang siapa dirinya. Dia akan jujur nanti setelah kembali ke Jakarta. Dia juga takut jika Fennita marah kepadanya dan merusak persahabatan mereka.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Awal bulan, kejar laporan πββπββπββ