
Rafa tidak lagi memperdulikan Sasa yang meninggalkan rumah nya dia lebih memilih untuk membawa Ara ke rumah sakit, karena Darah nya tidak mau berhenti, jika terjadi sesuatu dengan Ara Rafa juga yang akan disalahkan oleh kedua orang tua nya dan ke dua mertua nya.
"Endang cepat ikut aku"
"Iyah tuan"
Endang mengikuti langkah tuan muda nya membawa nona nya yang berjalan menuruni anak tangga untuk ke lantai satu. Rafa yang menggendong Ara berjalan keluar rumah, Endang yang ada dibelakang nya segera membuka pintu belakang agar Nona nya bisa masuk ke dalam mobil.
Endang ikut masuk di kursi penumpang memangku kepala Ara, sedangkan Rafa masuk ke dalam kursi pengemudi. Rafa melajukan mobil nya membela jalan malam yang lumayan ramai, Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib nya jika ke dua orang tua nya tau.
Setelah tiga puluh menit Rafa memarkirkan mobil nya di parkiran rumah sakit, Rafa keluar dari dalam mobil lalu membuka pintu belakang, Rafa menggendong Ara masuk ke dalam rumah sakit.
Para perawat yang melihat Rafa menggendong Ara yang berdarah langsung menyuruh Rafa memasukan Ara ke ruang IGD agar Ara segeran di tangani.
Setelah Rafa menidurkan Ara di ranjang IGD, salah satu perawat menyuruh Rafa keluar dari ruang IGD, agar tidak mengganggu pemeriksaan Pasien. Rafa dengan patu keluar dari dalam IGD, dia mondar mandiri di depan pintu IGD.
Tidak lama Ara masuk perawat keluar dari dalam, Rafa dengan sangat tidak sabar menanyakan keadaan Ara, Perawat menjelaskan bahwa Ara kehilangan banyak Darah dan perlu Darah.
"Saya akan melihat stok Darah di rumah sakit tuan!!"
"Baik Sus"
Perawat itu pergi dari hadapan Rafa, Rafa tengah menjambak rambut nya dengan sangat kasar, dia bingung harus mengatakan apa kepada keluarga nya, apalagi dengan mertua nya jelas mereka akan marah besar, dan tentu saja mereka Akan melaporkan kejadian ini ke kekantor polisi.
Sudah setengah jam perawat tadi belum kembali, dan itu sukses membuat Rafa semakin Frustasi. "Bagaimana ini???"
Rafa terus menjambak rambut nya dengan mondar mandir di pintu ruang IGD, Sesekali Rafa mengintip dari pintu kaca yang menutup ruangan, dia melihat Istrinya tenga di infus dan ada selang oksigen di hidung nya.
"Permisi tuan"
Rafa melihat perawat tadi tenga membawa kantung darah ditangannya, Rafa menepi membiarkan Perawat masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Setelah satu jam berlalu perawat keluar mencari Rafa yang tenga duduk di kursi tunggu samping ruang IGD. perawat itu menghampiri Rafa.
"Tuan"
Rafa mendongak menatap perawat yang ada didepan nya. "Iyah"
"Istri anda sudah baik baik saja, sebentar lagi Istri anda akan dipindah ke ruang rawat"
"Iyah Sus"
"Oh yah Tuan apa tuan membawa baju ganti untuk istri Anda kalau belum tolong belikan atau di ambilkan pak, karena jilbab nya banyak noda Darah"
"Saya sudah ada Sus, saya akan mengambil nya"
Rafa keluar dari dalam rumah sakit mengambil Baju Ara yang selalu ada di mana mana didalam mobil nya terutama, karena Ara selalu berpergian tanpa pulang lebih dahulu. Menjadikan Ara membawa baju ganti saat kemana mana.
Setelah mengambil baju Ara, Rafa kembali masuk ke dalam Rumah sakit, Rafa memberikan baju Ara kepada salah satu perawat yang menangani Ara sejak tadi, perawat menerima paper bag yang diberikan Rafa setelah itu dia kembali masuk ke dalam ruang IGD.
Endang membersihkan kamar Ara yang berantakan karena ula Sasa yang mengobrak abrik kamar Ara, karena ingin mencari kunci mobil Sport yang Rafa berikan pada nya. Sasa mengambil apa yang harus nye menjadi milik nya, Sasa sungguh tidak tau diri, memasuki rumah orang dengan lancang apa lagi mengobrak abrik kamar Ara.
Meninggalkan Endang yang menjalankan pekerjaan nya, kini Rafa ada di kamar rawat Ara, Ara sudah dipindah dari Igd ke kamar rawat, Rafa duduk di samping ranjang menatap Ara yang masih memejamkan mata nya.
Dia hanya bisa melihat mata nya saja yang terpejam, karena Ara menggunakan Cadar untuk menutupi wajah nya. Rafa yang penasaran dengan wajah Ara pun dengan menguatkan hati nya Rafa membuka Cadar yang menutupi wajah cantik Ara.
Rafa menatap wajah Ara tanpa berkedip karena dia terpesona dengan kecantikan Ara yang sangat luar biasa. Bulu mata yang lentik, hidung kecil dan mancung, bibir tipis pink alami, wajah nya mulus tanpa ada nya noda.
"Jadi kamu menyembunyikan wajah cantik mu dibalik cadar ini???" Batin Rafa setelah menutup kembali cadar Ara
Rafa terus menatap wajah cantik Ara yang membuat nya terpesona, apalagi mata indah Ara bisa membuat orang terjatuh ke dalam pesona Ara.
"Pantas Mama sanga menyayangi kamu dan selalu membandingkan kamu dengan Sasa, perbedaan kalian ternyata sangat banyak" Batin Rafa yang masih menatap wajah Ara yang tertutup Cadar
__ADS_1
Rafa yang menatap Ara dengan pandangan yang sulit di artikan kini sudah memejamkan mata nya di samping ranjang Ara, Rafa duduk kursi yang ada disamping ranjang Ara, Rafa menundukkan kepala nya dengan tangan yang menjadi bantal nya.
Jika di rumah sakit Ara dan Rafa sudah tertidur dengan sangat lelap, berbeda dengan Aisya yang tenga bangun dari tidur nya karena bermimpi Ara jatuh dan berdarah. Zeufa yang ikut terbangun dari tidur nya karena mendengar suara isak tangis yang dia kenali.
"Kenapa Sayang???"
"Aku mimpi buruk Pi"
"Kamu kelelahan samapi bermimpi"
"Tapi ini tentang Ara Papi"
"Itu hanya bunga tidur, jangan kamu pikirkan lebih baik kamu kembali tidur"
Aisya dengan sangat patuh kembal merebahkan dirinya dengan memeluk Zeufa untuk mencari ketenangan dalam diri Zeufa. .
Tidak lama Aisya kembali terlelap dalam mimpi nya begitupun dengan Zeufa yang sudah kembali tidur, menyusul sang Istri ke alam mimpi.
Ditempat Lain Sasa sedang mengelilingi kota Jakarta dengan mobil yang dia rampas paksa sampai melukai Ara, Sasa tertawa lepas di dalam mobil nya, Sasa sangat bahagia karena memiliki mobil impian nya sejak dahulu. Dan kini sudah memiliki nya.
"Akhir nya aku punya mobil mewah"
"Huuuuuuuu"
Sasa terus berteriak sampai dia memasukkan mobil mewah nye kedalam parkiran sebuah klub malam, untuk mencari pria hidung belang menjadikan mesin nya malam ini.
Sasa mengobral tubuh nya dengan diskon karena hati nya sangat bahagia karena sudah mendapatkan mobil yang dia inginkan dari dahulu, Sebelum Sasa mengenal Rafa, Sasa sudah mempunyai keinginan untuk membeli nya tapi dia belum bisa karena terlalu boros apa lagi mobil nya dengan harga yang sangat mahal.
Sasa duduk di salah satu kursi yang ada di klub malam ingin menjajakan apa tubuh nya, adai Rafa tau apa dia masih mau dengan Sasa yang suka bergonta ganti dengan pria.
Bukan hanya pria muda, matang atau tua yang terpenting untuk Sasa ada uang, dan isi dompet atau kartu nya tidak kosong. Padahal selama ini Rafa selalu memberi Sasa uang bulanan tapi entah kemana uang yang selama ini dia dapat dari Rafa.
__ADS_1